Harga CPO Terserak Akibat Pukulan Ganda: Profit-Taking Investor dan Penguatan Ringgit Menggoyang Momentum Pasar
Tanggapan Panjang
1. Gambaran Umum yang Terjadi di Pasar CPO
Pada penutupan Bursa Malaysia Derivatives (BMD) pada Jumat 23 Januari 2026, kontrak berjangka Crude Palm Oil (CPO) mengalami penurunan harga yang signifikan pada semua bulan delivery dari Februari sampai Juli 2026. Penurunan tertinggi tercatat pada kontrak Juni dan Juli 2026 – masing‑masing turun 24 Ringgit Malaysia (RM) atau hampir 0,6 % per ton.
Meskipun data mingguan masih menunjukkan kenaikan untuk pekan ketiga berturut‑turut, terdapat dua tekanan utama yang melumpuhkan reli harga:
- Profit‑taking menjelang akhir pekan – trader‑trader di KL menutup posisi panjang untuk mengamankan keuntungan setelah kenaikan sebelumnya.
- Penguatan Ringgit – Ringgit Malaysia menguat 0,87 % terhadap dolar AS, yang menaikkan harga CPO dalam mata uang asing dan menurunkan daya beli pembeli luar negeri.
Kedua faktor tersebut berinteraksi, menimbulkan “pukulan ganda” terhadap harga CPO.
2. Analisis Penyebab Penurunan
a. Profit‑Taking Investor
- Sentimen teknikal: Sejak awal tahun, CPO telah mencatat tren naik yang stabil. Pada level resistance teknikal di RM 4,15‑4,20/ton, banyak pedagang menganggap harga sudah “overbought”.
- Countdown to weekend: Karena pasar CPO di Malaysia tidak beroperasi pada akhir pekan, trader cenderung menutup posisi pada Jumat untuk menghindari overnight risk.
- Volume likuiditas menurun: Data TradingView menunjukkan penurunan volume transaksi pada jam‑jam terakhir sesi, menandakan kepanikan minoritas yang berujung pada penurunan tajam.
b. Penguatan Ringgit
- Fundamental makro: Bank Negara Malaysia melaporkan surplus neraca berjalan yang kuat serta inflasi yang tetap terkendali, memberi ruang bagi bank sentral menahan suku bunga.
- Arus modal: Permintaan global terhadap aset safe‑haven (USD) berkurang karena peredaran kebijakan moneter AS yang lebih dovish, sehingga Ringgit menguat.
- Dampak terhadap CPO: Karena CPO diperdagangkan dalam Ringgit, setiap penguatan mata uang lokal membuat CPO tampak lebih mahal bagi importir yang membayar dalam dolar atau euro. Ini menurunkan permintaan luar negeri, terutama di pasar utama seperti India, China, dan Uni Eropa.
c. Pengaruh Harga Minyak Mentah Dunia
- Geopolitik: Ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Iran meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak mentah. Harga minyak mentah global naik, yang pada umumnya meningkatkan daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel karena relatif lebih murah.
- Kontradiksi: Walaupun ada dorongan positif dari harga minyak mentah, efeknya belum cukup kuat untuk menetralkan tekanan profit‑taking dan penguatan Ringgit pada periode pendek.
3. Implikasi Bagi Pemangku Kepentingan
| Pemangku Kepentingan | Dampak Langsung | Dampak Tidak Langsung |
|---|---|---|
| Petani & Produsen CPO (Indonesia & Malaysia) | Penurunan pendapatan per ton, tekanan pada margin operasional | Kewaspadaan dalam perencanaan produksi, potensi penundaan panen atau penyesuaian varietas |
| Eksportir | Nilai ekspor menurun bila dibayar dalam USD/EUR karena konversi Ringgit | Mungkin beralih ke kontrak hedging yang lebih agresif (forward, futures) |
| Pengolah Biodiesel | Harga bahan baku (CPO) yang lebih tinggi pada mata uang asing dapat mengurangi profitabilitas biodiesel | Memicu pencarian alternatif feedstock (biji kedelai, canola) |
| Investor Komoditas | Peluang spekulasi jangka pendek (short position) | Perlu menyesuaikan alokasi portofolio antara CPO, minyak kedelai, dan minyak mentah |
| Konsumen akhir (pabrik makanan, kosmetik, dll.) | Biaya produksi dapat naik jika harga CPO diteruskan ke pasar | Potensi kenaikan harga produk akhir bagi konsumen di pasar impor |
4. Prospek Harga CPO ke Depan
| Faktor | Outlook | Catatan |
|---|---|---|
| Fundamental permintaan global | Stabil‑tinggi | Pertumbuhan ekonomi Asia‑Pasifik diproyeksikan 4‑5 % p.a., yang berarti permintaan minyak sawit sebagai bahan baku makanan dan biodiesel tetap kuat. |
| Stok dan penawaran | Menipis | Musim panen di Indonesia & Malaysia diperkirakan mulai akhir Maret‑April 2026; stok global diproyeksikan turun ~5 % dibandingkan akhir 2025. |
| Kebijakan pemerintah | Berisiko | Potensi tarif atau pembatasan ekspor di Indonesia (mis. “export tax”) dapat memicu volatilitas. |
| Nilai tukar Ringgit | Tidak pasti | Jika Ringgit terus menguat, tekanan harga turun akan berlanjut; sebaliknya, pelemahan Ringgit (mis. akibat kebijakan moneter AS lebih ketat) dapat memulihkan harga CPO. |
| Geopolitik minyak mentah | Positif untuk CPO | Bila konflik di Timur Tengah terus meningkatkan harga minyak mentah, CPO dapat mendapat dukungan sebagai alternatif biodiesel. |
Secara keseluruhan, jangka pendek (minggu‑ke‑dua minggu) masih dipengaruhi oleh dinamika teknikal dan mata uang, sementara jangka menengah‑panjang (3‑6 bulan ke depan) lebih dipengaruhi oleh fundamental pasokan‑permintaan serta kebijakan perdagangan.
5. Rekomendasi Strategis
-
Hedging Mata Uang
- Eksportir sebaiknya mengunci nilai tukar Ringgit–USD dengan kontrak forward atau opsi, untuk melindungi margin dari fluktuasi ringgit yang masih volatile.
-
Diversifikasi Portofolio Komoditas
- Investor mikro‑makro sebaiknya menyebar eksposur antara CPO, minyak kedelai, dan minyak mentah, mengingat korelasi positif‑negatif yang kadang berubah tergantung pada sentimen pasar global.
-
Monitoring Kebijakan Pemerintah
- Pantau regulasi ekspor di Indonesia (mis. export tax atau kuota) serta kebijakan dukungan biodiesel di UE dan Amerika Latin, yang dapat memicu lonjakan permintaan tak terduga.
-
Pencarian Pasar Alternatif
- Produsen CPO dapat menggali pasar baru, seperti Timur Tengah (untuk industri makanan halal) atau Afrika (biodiesel), guna menurunkan ketergantungan pada pasar tradisional yang sensitif terhadap nilai tukar.
-
Penggunaan Teknologi Prediktif
- Mengintegrasikan data alternatif (satellite imagery, cuaca, dan pola panen) untuk mengantisipasi perubahan stok fisik lebih awal, sehingga keputusan produksi dapat dioptimalkan.
6. Kesimpulan
Penurunan harga CPO pada Jumat 23 Januari 2026 tidak sekadar terjadi karena satu faktor tunggal. Profit‑taking yang intens pada akhir pekan menambah tekanan jual, sementara penguatan Ringgit menurunkan daya beli pembeli luar negeri, mengakibatkan “pukulan ganda” pada harga.
Namun, fundamental jangka menengah tetap kuat: permintaan global tumbuh, persediaan global menipis, dan geopolitik minyak mentah memberikan dorongan tidak langsung pada daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel.
Bagi semua pemangku kepentingan—petani, eksportir, produsen biodiesel, dan investor—strategi yang memadukan hedging mata uang, diversifikasi risiko, dan monitoring kebijakan akan menjadi kunci untuk menavigasi volatilitas harga CPO yang masih tinggi ini.
Dengan langkah-langkah yang tepat, pasar CPO dapat kembali menemukan keseimbangan antara kekuatan teknikal jangka pendek dan fundamental struktural jangka panjang, sehingga menjaga stabilitas pendapatan produsen sekaligus mendukung kebutuhan energi terbarukan global.