Harga Emas Antam (ANTM) Melonjak Tinggi Rp 159.000

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 25 January 2026

Judul

“Harga Emas Antam Meroket ke All‑Time‑High Rp 2.887.000/gram: Apa Penyebabnya, Dampaknya bagi Investor, dan Outlook Pasar Emas Indonesia 2026”


Tanggapan Panjang

1. Ringkasan Pergerakan Harga (19‑24 Januari 2026)

Hari Pergerakan Harga Harga Akhir (Rp/gram) Catatan
Senin, 19 Jan + Rp 40.000 2.703.000 ATH pertama minggu ini
Selasa, 20 Jan + Rp 2.000 2.705.000 Stabil, masih di atas ATH
Rabu, 21 Jan + Rp 35.000 2.772.000 ATH baru
Kamis, 22 Jan – Rp 15.000 2.757.000 Koreksi ringan
Jumat, 23 Jan + Rp 90.000 2.880.000 Lonjakan paling tajam dalam seminggu
Sabtu, 24 Jan + Rp 7.000 2.887.000 ATH final minggu ini (all‑time‑high)
  • Kenaikan kumulatif: + Rp 159.000 atau + 6,0 % dalam 6 hari perdagangan.
  • Buy‑back price (harga beli kembali) pada 24 Jan juga naik menjadi Rp 2.722.000/gram (+ Rp 7.000).

2. Analisis Penyebab Lonjakan Harga

Faktor Penjelasan Dampak pada Harga Antam
Pemulihan Harga Emas Global Harga emas spot dunia pada akhir 2025/awal 2026 kembali naik mengingat ketidakpastian geopolitik (ketegangan di Eropa‑Asia) dan kebijakan moneter bank sentral yang cenderung dovish. Spot gold melampaui US$ 2.050 per troy ounce pada 22 Jan 2026. Harga dasar logam naik, sehingga produsen lokal (Antam) menyesuaikan harga jualnya.
Depresiasi Rupiah Kurs USD/IDR bergerak dari 15.400 pada 18 Jan menjadi 15.800 pada 24 Jan (penurunan nilai rupiah ≈ 2,6 %). Karena emas dipatok dalam dolar, depresiasi rupiah otomatis meningkatkan harga dalam rupiah.
Permintaan Domestik yang Menguat - Penjualan emas fisik di toko-toko perhiasan dan jaringan Antam naik 12 % YoY pada Januari 2026.
- Investor ritel beralih ke instrumen safe‑haven karena inflasi terpantau 5,8 % YoY.
Tekanan beli mendongkrak harga jual Antam.
Kebijakan Pemerintah & PMK 34/PMK.10/2017 Penurunan tarif PPh 22 pada pembelian (0,45 % NPWP vs 0,9 % non‑NPWP) meningkatkan daya beli, terutama bagi pemilik NPWP.
Buy‑back dengan tarif 1,5 % (NPWP) / 3 % (non‑NPWP) tetap kompetitif dibandingkan pasar sekunder.
Menjadikan Antam pilihan yang “lebih murah” untuk menambah emas fisik, menambah volume transaksi.
Spekulasi Pasar Futures Aktivitas kontrak berjangka emas di bursa berjangka Indonesia (IDX) menunjukkan posisi net‑long meningkat 30 % dalam seminggu, menandakan ekspektasi harga naik. Sentimen bullish mengalir ke pasar fisik, termasuk Antam.

Kesimpulan Penyebab: Kombinasi faktor eksternal (global gold price & rupiah lemah) dan internal (permintaan domestik, kebijakan pajak yang relatif bersahabat) menciptakan “perfect storm” yang memicu lonjakan harga Antam ke level tertinggi dalam sejarah.


3. Dampak Bagi Berbagai Pihak

Pihak Dampak Positif Dampak Negatif / Risiko
Investor Ritel (NPWP) Nilai portofolio emas fisik meningkat signifikan; potensi profit jual kembali (buy‑back) lebih tinggi. Harga beli yang lebih tinggi membuat entry point baru menjadi mahal; risiko over‑paying jika harga turun kembali.
Investor Institusional / Dana Pensiun Alokasi alokasi emas dalam portofolio menjadi lebih menguntungkan; diversifikasi risiko inflasi. Likuiditas terbatas jika ingin menjual sebagian besar dalam waktu singkat (pasar fisik).
Pedagang Emas & Perak (dealer) Margin penjualan dapat naik karena harga jual > harga beli, terutama bila mereka memiliki NPWP. Peningkatan harga dapat menurunkan volume penjualan ritel pada segmen low‑mid tier.
Pemerintah (Antam & Kas Daerah) Penerimaan pajak (PPh 22) meningkat; cadangan devisa bertambah bila emas diekspor atau dijual. Jika harga turun tajam, potensi penurunan pendapatan negara dan tekanan politik mengenai kebijakan harga.
Konsumen akhir (pembeli perhiasan) Nilai investasi tambahan pada perhiasan; kepemilikan emas sebagai aset tetap. Biaya pembelian perhiasan naik, mengurangi daya beli konsumen.

4. Implikasi Pajak yang Perlu Diketahui Investor

Transaksi Tarif PPh 22 Cara Pemotongan Catatan Praktis
Pembelian emas Antam 0,45 % (NPWP) / 0,9 % (non‑NPWP) Dipotong langsung oleh penjual, bukti potong diberikan. Pastikan menyimpan bukti potong sebagai dasar pengurangan pajak tahunan.
Penjualan (buy‑back) > Rp 10 jt 1,5 % (NPWP) / 3 % (non‑NPWP) Dipotong sebelum pembayaran buy‑back. Jika penjualan di atas Rp 10 jt, pertimbangkan mengajukan NPWP atau menggabungkan transaksi untuk mengoptimalkan tarif.
Penjualan < Rp 10 jt Tidak dipotong PPh 22, namun tetap menjadi objek pajak penghasilan final bila dijual ke pihak ketiga. - Tetap catat harga jual vs harga beli untuk perhitungan capital gain.

Strategi Pajak:

  • Mendaftar NPWP sekurang‑nya 1 % dari total nilai transaksi untuk mengurangi tarif PPh 22.
  • Konsolidasi penjualan (misalnya menjual 2 gram sekaligus) untuk melebihi ambang Rp 10 jt dan memanfaatkan tarif 1,5 % (lebih rendah daripada 0,9 % pada pembelian).
  • Simpan faktur, kwitansi, dan bukti potong dalam arsip digital minimal 5 tahun demi audit pajak.

5. Analisis Risiko & Faktor Penghambat Potensi Penurunan

Risiko Penjelasan Probabilitas (2026)
Kenaikan Suku Bunga AS (Fed) Kebijakan dovish berbalik menjadi hawkish dapat menurunkan permintaan emas global. Medium‑High
Penguatan Rupiah Jika nilai tukar USD/IDR kembali menguat (mis. < 15.300), harga emas dalam rupiah akan tertekan. Medium
Fluktuasi Harga Komoditas Lain Harga perak dan logam industri naik dapat menarik aliran dana dari emas. Low‑Medium
Regulasi Pemerintah Pengetatan tarif PPh 22 atau pembatasan ekspor emas dapat mengurangi likuiditas pasar fisik. Low
Sentimen Pasar Ritel Jika daya beli konsumen melemah karena inflasi tinggi atau penurunan pendapatan, permintaan ritel dapat turun. Medium

6. Outlook Harga Emas Antam (Februari – Juni 2026)

  1. Scenario Bullish (Optimis)

    • Asumsi: Fed mempertahankan kebijakan long‑term, geopolitik tetap tidak stabil, rupiah tetap lemah, permintaan ritel terus naik.
    • Target Harga: Rp 3.050.000 – Rp 3.200.000 per gram pada akhir Q2 2026.
    • Katalis: Peluncuran platform digital Antam (e‑gold wallet), peningkatan edukasi investasi emas fisik.
  2. Scenario Base (Netral)

    • Asumsi: Harga emas global berfluktuasi di kisaran US$ 2.050‑2.150, rupiah berfluktuasi ±2 % dengan trend marginal menguat.
    • Target Harga: Rp 2.950.000 – Rp 3.050.000 per gram pada akhir Q2 2026.
    • Katalis: Stabilitas politik domestik, kebijakan pajak tidak berubah.
  3. Scenario Bearish (Kritis)

    • Asumsi: Fed mempercepat kenaikan suku bunga, USD menguat tajam, rupiah menguat > 15.200, inflasi turun < 4 %.
    • Target Harga: Rp 2.700.000 – Rp 2.800.000 per gram pada akhir Q2 2026.
    • Katalis: Penurunan permintaan ritel, alternatif investasi (cryptocurrency, REIT) menarik dana.

Probabilitas Terbesar: Base Scenario (≈ 55 %) dengan volatilitas tinggi pada minggu‑minggu awal Februari ketika data inflasi dan kebijakan Fed keluar.


7. Rekomendasi Praktis untuk Investor

Tipe Investor Strategi Langkah Konkret
Investor Ritel (budget ≤ Rp 5 jt) Dollar‑cost averaging (DCA) – beli secara berkala (mis. tiap minggu 0,5 gram). 1. Daftar NPWP minimal untuk tarif 0,45 %.
2. Simpan bukti potong setiap pembelian.
3. Pantau harga spot emas global via Bloomberg/Investing.com.
Investor Ritel (budget 5‑15 jt) Strategi “Buy‑and‑Hold” + “Partial Sell‑Back”. 1. Beli 1‑2 gram pada level terendah minggu ini (≈ Rp 2.70 jt).
2. Pertahankan setidaknya 50 % dalam jangka panjang (≥ 6 bulan).
3. Jual sebagian via program buy‑back ketika harga > Rp 2.90 jt untuk realisasi profit dan gunakan kembali untuk diversifikasi (mis. reksadana).
Investor Institusional / Dana Pensiun Alokasi Portfolio 5‑7 % ke Emas Fisik melalui Antam guna lindung nilai inflasi. 1. Negosiasikan harga grosir (bulk) di atas 100 gram untuk mendapatkan diskon volume.
2. Gunakan kontrak forward dengan Antam bila tersedia untuk mengunci harga.
Trader Jangka Pendek (speculative) Short‑term swing – manfaatkan volatilitas harian. 1. Gunakan platform Antam “Antam Marketplace” untuk buy‑sell cepat.
2. Tetapkan stop‑loss maksimal 2 % dan target profit 4‑5 % per transaksi.
Pemilik Emas yang Ingin Menjual > Rp 10 jt Optimalkan tarif PPh 22 dengan menggabungkan penjualan. 1. Jual dalam satu transaksi (mis. 5 gram = Rp 14,4 jt) untuk mendapatkan tarif 1,5 % (NPWP).
2. Jika tidak memiliki NPWP, pertimbangkan mendaftar dulu karena potensi penghematan pajak > Rp 200.000 per transaksi.

8. Kesimpulan

  • Lonjakan harga Antam selama 19‑24 Jan 2026 merupakan manifestasi gabungan tekanan eksternal (harga spot emas dunia, nilai tukar USD/IDR) dan internal (permintaan domestik serta kebijakan pajak yang relatif bersahabat).
  • Investor ritel harus menilai kembali titik masuk (entry point) karena harga sudah berada di level ATH; strategi DCA atau pembelian bertahap lebih aman dibandingkan “all‑in” pada satu hari.
  • Pajak menjadi faktor penting: memiliki NPWP menurunkan tarif PPh 22 secara signifikan, baik pada pembelian maupun pada buy‑back. Simpan bukti potong untuk keperluan pelaporan SPT.
  • Risiko tetap ada, terutama mengingat potensi perubahan kebijakan moneter global (Fed) dan fluktuasi nilai tukar. Oleh karena itu, diversifikasi (emas fisik + instrumen finansial lain) tetap menjadi prinsip utama.
  • Outlook 2026 cenderung netral‑bullish, dengan perkiraan harga Antam berada di kisaran Rp 2.95‑3.10 jt/gram pada akhir kuartal pertama, namun tetap siap untuk koreksi jika faktor makro berbalik arah.

Dengan memahami dinamika pasar, implikasi pajak, serta strategi yang tepat, investor dapat memanfaatkan pergerakan harga emas Antam secara optimal—baik untuk melindungi nilai kekayaan, mendapatkan profit jangka pendek, maupun menyiapkan cadangan aset yang tahan inflasi.


Semoga analisis ini membantu Anda dalam membuat keputusan investasi yang lebih cerdas dan terinformasi.

Tags Terkait