Prediksi Harga Emas Antam (ANTM) 28 November 2025: Analisis Pergerakan, Risiko, dan Implikasi Pajak bagi Investor

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 29 November 2025

1. Ringkasan Berita

  • Prediksi: Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan harga emas batangan Antam akan berada di Rp 2.450.000 per gram pada Jumat, 28 November 2025.
  • Pergerakan terkini: Pada Kamis, 27 Nov 2025, harga naik Rp 9.000 menjadi Rp 2.387.000/gram, setelah sempat turun pada hari Rabu menjadi Rp 2.378.000/gram.
  • Buy‑back: Harga beli kembali (buyback) pada 27 Nov 2025 tercatat Rp 2.248.000/gram (+ Rp 9.000).
  • Pajak: Transaksi jual‑beli emas Antam dikenai PPh 22 (0,45 % NPWP / 0,9 % non‑NPWP untuk pembelian; 1,5 % NPWP / 3 % non‑NPWP untuk penjualan > Rp 10 jt).

2. Analisis Teknis Singkat

Tanggal Harga (Rp/gram) Perubahan
25 Nov 2025 2 380 000 + 40 000
26 Nov 2025 2 378 000 – 2 000
27 Nov 2025 2 387 000 + 9 000
Prediksi 28 Nov 2 450 000 ≈ + 63 000
  • Momentum positif: Kenaikan tajam pada 25 Nov (≈ + 1,68 %) diikuti oleh konsolidasi ringan pada 26‑27 Nov menunjukkan akumulasi di level psikologis Rp 2,38‑2,39 jt.
  • Resistance: Level Rp 2,45 jt berada di dekat resistance historis minggu sebelumnya (sekitar Rp 2,44‑2,46 jt). Penembusan di atas angka ini akan membuka peluang ke rentang Rp 2,50‑2,55 jt.
  • Support: Bila sentimen berbalik, support terdekat berada di Rp 2,35 jt (area yang menahan penurunan pada akhir Oktober 2025).

3. Faktor‑Faktor yang Mendorong Kenaikan

  1. Kebijakan Moneter Global – Kebijakan pelonggaran suku bunga di AS dan Eropa menurunkan yield obligasi, menjadikan emas sebagai aset safe‑haven lebih menarik.
  2. Ketegangan Geopolitik – Konflik di Timur Tengah serta ketidakpastian politik domestik (pilpres 2024‑2029) meningkatkan permintaan lindung nilai di pasar domestik.
  3. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah – Depresiasi Rupiah terhadap USD (≈ 2 % bulan lalu) menambah biaya impor emas, mendukung harga spot lokal.
  4. Permintaan Ritel – Penjualan emas ritel melalui jaringan Antam (toko resmi, e‑commerce) terus tumbuh sebesar 6‑8 % YoY, terutama pada varian 1 gram dan 5 gram.
  5. Kebijakan Pemerintah – Penguatan regulasi buy‑back serta promosi “Emas Digital” meningkatkan likuiditas pasar fisik Antam.

4. Risiko Penurunan Harga

Meskipun prediksi bullish, Ibrahim Assuaibi menekankan risiko yang tetap ada:

Risiko Penjelasan
Penguatan Rupiah Apabila Bank Indonesia berhasil menstabilkan nilai tukar (mis. melalui intervensi), biaya impor emas turun dan tekanan pada harga spot berkurang.
Kenaikan Yield Obligasi AS Jika Federal Reserve mempercepat hike, daya tarik emas menurun.
Kebijakan Pajak Baru Pemerintah dapat menaikkan tarif PPh 22 atau menambah cukai, yang akan mengurangi margin keuntungan bagi pelaku ritel.
Sentimen Risiko‑On Sektor saham atau mata uang kripto yang mengalami rally tajam dapat mengalihkan aliran dana dari logam mulia.
Stok Antam Menipis Penambangan yang menurun atau gangguan operasional di tambang dapat menurunkan pasokan fisik, namun pada jangka pendek dapat meningkatkan volatilitas.

5. Implikasi Pajak bagi Investor

Jenis Transaksi Tarif NPWP Tarif Non‑NPWP Keterangan
Pembelian (buy‑back) emas Antam 0,45 % (PPh 22) 0,9 % Dipotong langsung dari nilai pembelian; bukti potong wajib disimpan.
Penjualan > Rp 10 jt 1,5 % (PPh 22) 3 % Dipotong pada saat penjualan; tetap berlaku terlepas dari nilai realisasi untung/rugi.
Penjualan ≤ Rp 10 jt 0,45 % (PPh 22) 0,9 % Dikenakan pada nilai bruto transaksi.
  • Strategi pajak: Memiliki NPWP mengurangi beban pajak hampir setengah, sehingga registrasi NPWP menjadi langkah penting bagi investor ritel.
  • Catatan: PPh 22 tidak dapat di‑klasifikasi sebagai pengurang capital gain di SPT tahunan; melainkan sudah dipotong final.

6. Rekomendasi Strategi Investasi

  1. Beli pada Retracement ke Support Rp 2,35‑2,38 jt

    • Jika harga kembali turun ke zona tersebut, entry dengan ukuran position sizing konservatif (mis. 2‑5 % dari total portofolio).
  2. Gunakan Teknik “Dollar‑Cost Averaging” (DCA)

    • Karena volatilitas harian masih ± 2‑3 %, alokasikan pembelian rutin (mis. tiap minggu) pada ukuran 0,5 gram atau 1 gram untuk meratakan harga rata‑rata.
  3. Proteksi dengan Stop‑Loss

    • Pasang stop‑loss di sekitar Rp 2,30 jt (≈ 2 % di bawah entry) untuk melindungi modal bila terjadi rebound dolar atau kebijakan moneter yang mengejutkan.
  4. Optimalkan Pajak

    • Selalu gunakan NPWP, simpan bukti potong, dan laporkan pada SPT tahunan. Jika berencana menjual dalam jangka pendek, pertimbangkan laku‑beli pada hari berbeda untuk menghindari pemotongan PPh 22 ganda pada satu transaksi.
  5. Diversifikasi

    • Kombinasikan emas fisik Antam dengan ETF emas atau emas digital (mis. Gold Token) untuk meningkatkan likuiditas dan mengurangi risiko penyimpanan fisik.

7. Outlook Jangka Pendek (Minggu‑1 bulan ke depan)

Skenario Kemungkinan Target Harga
Bullish – Rupiah melemah + Yield AS naik 55 % Rp 2 500 000‑2 550 000/gram
Neutral – Kondisi makro stabil, buy‑back kuat 30 % Rp 2 430 000‑2 470 000/gram
Bearish – Rupiah menguat, kebijakan Fed dovish 15 % Rp 2 350 000‑2 380 000/gram

Catatan: Prediksi bersifat probabilistik; faktor eksternal (mis. data inflasi Indonesia, kebijakan PBI) dapat menggeser skenario secara signifikan.


8. Kesimpulan

  • Prediksi harga Antam pada 28 Nov 2025 (Rp 2,45 jt/gram) mencerminkan trend bullish yang dipicu oleh faktor global (moneter, geopolitik) dan domestik (Rupiah, permintaan ritel).
  • Risiko tetap signifikan, terutama perubahan kebijakan moneter Amerika, fluktuasi nilai tukar, serta potensi pengetatan pajak.
  • Investor yang ingin memanfaatkan peluang harus menyiapkan strategi entry‐exit yang terukur, memanfaatkan DCA, serta mengoptimalkan manfaat pajak dengan memiliki NPWP.
  • Diversifikasi antara emas fisik, digital, dan instrumen pasar modal (ETF) akan memperkecil eksposur terhadap volatilitas harga spot sekaligus menjaga likuiditas portofolio.

Dengan pendekatan yang disiplin dan pemahaman lengkap tentang mekanisme pajak serta dinamika makroekonomi, emas Antam tetap menjadi instrumen lindung nilai yang relevan bagi investor Indonesia pada akhir 2025.


Disclaimer: Analisis ini bersifat informatif dan tidak menggantikan nasihat keuangan profesional. Selalu konsultasikan keputusan investasi dengan penasihat keuangan yang berlisensi.

Tags Terkait