Dian Swastatika Sentosa Tbk Umumkan RUPSLB 2026: Stock-Split 1:25 untuk Membuka “Pintu” Investor Ritel dan Memperkuat Likuiditas Saham di Level Rp 90-Ratus-Ribu-an

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 16 February 2026

Tanggapan Panjang dan Analisis Komprehensif

1. Gambaran Umum Keputusan RUPSLB

Pada tanggal 16 Februari 2026, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), anak perusahaan Grup Sinar Mas, mengirimkan panggilan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang akan dilaksanakan pada 11 Maret 2026. Agenda utama RUPSLB adalah:

  1. Persetujuan rencana stock‑split dengan rasio 1 : 25 (satu saham lama menjadi dua puluh‑lima saham baru).
  2. Penyesuaian Anggaran Dasar sehubungan dengan pelaksanaan stock‑split.

Keputusan ini disampaikan secara terbuka dalam berita resmi dan sekaligus dijadikan bahan komunikasi bagi para pemangku kepentingan.

2. Apa Itu Stock‑Split dan Mengapa DSSA Memilih Rasio 1:25?

  • Definisi dasar: Stock‑split tidak mengubah nilai total ekuitas pemegang saham, melainkan membagi satu lembar saham menjadi beberapa lembar dengan nilai nominal yang lebih kecil. Misalnya, seorang pemegang 1 .000 lembar saham dengan harga Rp 2.500.000 per lembar (total nilai Rp 2,5 miliar) akan memiliki 25 .000 lembar setelah split 1:25, dengan harga per lembar menjadi sekitar Rp 100.000.

  • Tujuan utama:
    a. Mengurangi harga per lembar sehingga menjadi “terjangkau” bagi investor ritel yang memiliki dana terbatas.
    b. Meningkatkan likuiditas melalui peningkatan volume perdagangan – lebih banyak lembar beredar biasanya menurunkan spread bid‑ask.
    c. Mendorong partisipasi pasar: Saham yang berada pada level harga “psikologis” (misalnya, di atas Rp 150.000) seringkali menjadi penghalang bagi pembelian kecil; penurunan harga mempermudah akumulasi posisi.

  • Mengapa 1:25? Rasio ini cukup agresif namun masih realistis. Dengan harga tutup terakhir sekitar Rp 94.325 pada 13 Februari, hasil split akan menurunkan harga menjadi ≈ Rp 3.773 per lembar (asumsi nilai pasar tetap). Ini menempatkan saham dalam kisaran Rp 3.000‑4.000, sekira‑sekira setara dengan harga “lot‑lot” yang sering diperdagangkan di pasar modal Indonesia.

3. Dampak Potensial pada Harga Saham

Faktor Bagaimana Pengaruhnya Catatan
Sentimen Pasar Positif pada jangka pendek karena persepsi “murah” dan peluang beli yang lebih luas. Butuh dukungan fundamental agar tidak terjadi “volatility‑spike” semata.
Volume Perdagangan Peningkatan signifikan karena naiknya jumlah lembar yang dapat diperdagangkan. Likuiditas yang lebih baik dapat menurunkan biaya transaksional bagi investor institusional dan ritel.
Valuasi (PER, PBV) Nilai relatif tetap (karena kapitalisasi tidak berubah). Analisis harus mengacu pada angka‑angka pasca‑split dengan menyesuaikan denominasi.
Likuiditas Spread bid‑ask biasanya menyempit, memudahkan eksekusi order. Peluang bagi market‑maker untuk menambah likuiditas pada level harga baru.
Manipulasi Pasar Risiko “pump‑and‑dump” lebih kecil karena lebih banyak lembar beredar, tapi tetap perlu pengawasan. Regulator (OJK) biasanya mengawasi perilaku abnormal pasca‑split.

Secara keseluruhan, dalam 3‑6 bulan ke depan, harga DSSA dapat mengalami penyesuaian naik apabila volume perdagangan meningkat dan investor institusional menambah posisi. Namun, jika fundamental (pertumbuhan pendapatan, margin, prospek sektor) tidak mendukung, efek “price‑compression” bisa menyebabkan koreksi setelah hype awal mereda.

4. Implikasi bagi Berbagai Kelompok Investor

a. Investor Ritel

  • Aksesibilitas: Harga per lembar di kisaran Rp 3.000‑4.000 memungkinkan pembelian dengan modal Rp 10‑20 ribu (lot 1).
  • Diversifikasi: Ritel dapat menambah eksposur ke sektor pertambangan/konstruksi (DSSA bergerak di bidang tambang, logistik, dan properti) tanpa harus menunggu akumulasi dana besar.
  • Kewaspadaan: Perlu mengecek dilusi kepemilikan – walaupun proporsi kepemilikan tidak berubah, penambahan likuiditas dapat memicu fluktuasi harga yang lebih cepat.

b. Investor Institusional (Dana Pensiun, Reksadana, Hedge Fund)

  • Likuiditas penting bagi strategi execution (misalnya, strategi “buy‑the‑dip” atau “grid”).
  • Pengukuran Nilai: Karena kapitalisasi tidak berubah, institusi dapat tetap fokus pada fundamental (EBITDA, free cash flow, ROIC).
  • Tata Kelola: Penyesuaian Anggaran Dasar yang mengacu pada stock‑split menunjukkan niat manajemen untuk meningkatkan governance—aspek yang dipertimbangkan dalam penilaian ESG.

c. Analisis & Penilai Valuasi

  • Model DCF/FCFF harus menyesuaikan jumlah lembar dalam perhitungan nilai per lembar.
  • Multiple Valuation (PER, EV/EBITDA) tetap dapat dibandingkan dengan peers, asalkan denominasi di‑normalisasi.

5. Konteks Makro‑Ekonomi & Sektor

  • Sektor Pertambangan & Properti di Indonesia sedang berada pada fase recovery setelah perlambatan global 2024‑2025. Harga komoditas (batubara, nikel, batu bara, pasir) menunjukkan tren naik, yang mendukung pipeline pendapatan DSSA.
  • Kebijakan Pemerintah: Program “Indonesia Investment” dan insentif bagi industri penambangan meningkatkan daya tarik bagi investor.
  • Suku Bunga: Kebijakan moneter OJK yang tetap pada tingkat tinggi (5‑6 % dalam 2025‑2026) menurunkan daya beli ritel pada aset berisiko, namun stock‑split dapat membuat saham “lebih terjangkau” dan menetralkan sebagian efek tersebut.

6. Risiko yang Perlu Diperhatikan

Risiko Keterangan Mitigasi
Risk of Dilution Perception Meskipun tidak ada penambahan modal baru, investor dapat menganggap “pengenceran” harga per lembar sebagai sinyal negatif. Edukasi via IR (Investor Relations) tentang sifat non‑dilutif stock‑split.
Volatilitas Pasca‑Split Volume tinggi + harga rendah dapat memicu pergerakan harga tajam. Penetapan circuit breaker dan monitoring OJK selama 2‑3 minggu pertama.
Fundamental Pressure Jika pendapatan tidak tumbuh sesuai harapan, likuiditas tinggi tidak akan menahan penurunan harga. Fokus pada eksekusi proyek tambang, diversifikasi bisnis, dan pembaruan strategi operasional.
Regulasi & Compliance Penyesuaian AD/ART harus melewati OJK; potensi penundaan dapat menunda manfaat split. Persiapan dokumen lengkap dan koordinasi intensif dengan notaris serta regulator.

7. Strategi Trading & Investasi Pasca‑Split

  1. Entry Strategi “Buy‑the‑Dip”

    • Jika harga mengalami penurunan > 5 % dalam 3‑5 hari pertama setelah split, dapat dipertimbangkan entry sebagai “value pick”, terutama bila fundamental tetap kuat.
  2. Swing Trade pada Volume Spike

    • Pantau average daily volume (ADV) pre‑ dan post‑split; biasanya terjadi increased ADV pada minggu pertama. Trader dapat memanfaatkan volatilitas untuk scalp atau swing.
  3. Long‑Term Holding

    • Investor yang mengedepankan fundamental dapat menambah posisi secara dollar‑cost averaging (DCA) pada level “stabil” (setelah volatilitas mereda).
  4. Short‑Term Hedging

    • Bagi institusi yang memiliki eksposur signifikan, penggunaan options (jika tersedia) atau futures pada indeks LQ45 dapat menjadi alat lindung nilai terhadap pergerakan harga DSSA.

8. Kesimpulan & Rekomendasi

  • Stock‑split 1:25 DSSA adalah langkah taktis yang sejalan dengan strategi brand‑building dan market‑making di pasar modal Indonesia.
  • Manfaat utama: peningkatan aksesibilitas bagi investor ritel, likuiditas yang lebih baik, dan potensi peningkatan volume perdagangan yang dapat menurunkan biaya transaksi.
  • Namun, manfaat tersebut tidak otomatis menghasilkan apresiasi harga; kunci tetap pada kinerja operasional DSSA (pertumbuhan produksi, margin, cash‑flow).
  • Rekomendasi:
    1. Investor ritel sebaiknya menunggu konfirmasi volume dan stabilitas harga (sekitar 2‑3 minggu pasca‑split) sebelum menambah posisi, guna menghindari efek “flash‑crash”.
    2. Investor institusional dapat memanfaatkan likuiditas yang lebih tinggi untuk melakukan rebalance portofolio tanpa mengganggu pasar secara signifikan.
    3. Analis dan tim IR harus menyediakan model valuasi yang ter‑adjust (lembar saham baru) serta menyoroti prospek bisnis (proyek tambang, aset properti) untuk menjaga kepercayaan pasar.

Dengan demikian, stock‑split DSSA bukan sekadar “move kosmetik” melainkan bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang yang menargetkan basis investor yang lebih luas, meningkatkan tata kelola, serta memperkuat posisi perusahaan di pasar modal Indonesia. Sukses implementasinya akan sangat bergantung pada sinergi antara komunikasi transparan manajemen, kinerja fundamental, dan dukungan regulatori.


Catatan: Analisis di atas bersifat edukatif dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi pribadi. Setiap keputusan investasi harus didasarkan pada penilaian risiko individu dan konsultasi dengan penasihat keuangan yang berlisensi.