Aksi Beli Bersih Investor Asing di BEI: BBCA, EXCL, dan DSSA Memimpin, Namun Pasar Tetap Tertekan oleh Sentimen Regional

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 2 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Ringkasan Peristiwa

Pada Senin 2 Februari 2026, investor asing mencatatkan net‑buy sebesar Rp 654,9 miliar di seluruh segmen Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari total tersebut, Rp 593,3 miliar berasal dari pasar reguler.

  • Saham dengan net‑buy terbesar:

    • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – Rp 439,5 miliar
    • PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) – Rp 158 miliar
    • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) – Rp 123,7 miliar
  • Saham dengan net‑sell terbesar:

    • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) – Rp 475,9 miliar
    • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) – Rp 310,8 miliar
    • PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) – Rp 142,79 miliar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup turun 4,88 %, berada di 7.922,7. Penurunan dipicu oleh:

  1. Gejolak ultimatum MSCI (penurunan alokasi dana indeks global ke pasar emerging).
  2. Pengunduran diri mendadak pejabat OJK dan BEI, menambah ketidakpastian regulasi.
  3. Kelemahan regional – Korea Selatan (KOSPI turun 5,4 %), Hong Kong, India, Singapura, dan China juga mencatatkan penurunan.

Meskipun demikian, konsumen institusional (Friderica Widyasari Dewi) menekankan bahwa aksi beli bersih asing merupakan “berita bagus” setelah empat hari berturut‑turut net‑sell.


2. Analisis Dampak Net‑Buy Terhadap Sentimen Pasar

Aspek Penjelasan
Reaksi psikologis Net‑buy asing, terutama pada saham blue‑chip seperti BBCA, memberi sinyal kepercayaan “fundamental” terhadap likuiditas dan profitabilitas perusahaan. Ini dapat menurunkan tingkat fear‑of‑missing‑out (FOMO) di kalangan investor domestik.
Aliran dana Penempatan Rp 439,5 miliar di BBCA (≈ 66 % total net‑buy reguler) memperlihatkan kecenderungan foreign investor mencari eksposur pada sektor perbankan yang stabil, meskipun bank lain (BMRI, BBRI) mengalami net‑sell. Hal ini mengindikasikan rebalancing portofolio, bukan sekadar “sell‑off”.
Pengaruh likuiditas Net‑buy meningkatkan depth order book pada saham target, menurunkan spread bid‑ask, dan memperbaiki price impact – kondisi yang menguntungkan trader dan market maker.
Keterbatasan efek Nilai net‑sell tahunan Rp 9,2 triliun masih jauh lebih besar daripada net‑buy harian. Oleh karena itu, pergerakan harga jangka pendek masih tertekan oleh sentimen negatif akumulatif.

3. Mengapa BBCA Menjadi Fokus Utama Asing?

  1. Fundamental Kuat – ROE konsisten > 20 %, rasio NPL rendah, dan pangsa pasar terbesar di perbankan ritel.
  2. Eksposur Internasional – BBCA mulai mengembangkan produk digital yang dapat menarik investasi lintas‑batas (misalnya, platform fintech).
  3. Stabilitas Kebijakan – Meskipun ada pergantian pejabat OJK/BEI, BBCA telah lama memiliki hubungan baik dengan regulator, sehingga dianggap “low‑risk”.

4. Mengapa Sektor Telekomunikasi (EXCL) dan Consumer Goods (DSSA) Juga Mendapat Net‑Buy?

  • EXCL (XL Smart Telecom)

    • Penurunan tarif data dan 5G rollout memperbesar prospek pertumbuhan pendapatan.
    • Valuasi relatif murah (PE ≈ 10×) dibandingkan peers regional, sehingga menarik bagi “value‑oriented” foreign funds.
  • DSSA (Dian Swastatika Sentosa)

    • Produsen produk konsumen (salah satu produsen bumbu dapur dan barang rumah tangga) memiliki ketahanan permintaan meski ekonomi melambat.
    • Margin laba kotor stabil, serta eksposur ekspor ke pasar ASEAN meningkatkan diversifikasi risiko.

5. Dampak Negatif: Net‑Sell pada Bank Besar & Telkom

  • BMRI, BBRI, TLKM – Net‑sell signifikan dapat menandakan re‑allocation ke saham yang dianggap lebih “under‑priced” (BBCA, EXCL, DSSA) atau ke kelas aset lain (obligasi, cash).
  • Implikasi: Jika net‑sell berlanjut, likuiditas pada saham‑saham ini dapat mengencangkan spread dan memperparah volatilitas pada sesi‑sesi berikutnya.

6. Perspektif Regional & Global

  1. Ultimatum MSCI
    • MSCI mengumumkan penyesuaian weight pada indeks Emerging Markets (EM), mengurangi alokasi ke Indonesia karena kriteria governance dan valuasi. Ini memicu sell‑off global pada saham‑saham EM, termasuk Indonesia.
  2. Gejolak Asia
    • KOSPI jatuh 5,4 % setelah trading halt; pasar Hong Kong, India, dan China juga berjatuhan. Tekanan ini menambah risk‑off sentiment global, menyebabkan investor asing berpindah ke safe‑haven (USD, Treasury).
  3. Faktor Domestik
    • Pengunduran diri mendadak pejabat OJK/BEI menimbulkan ketidakpastian regulasi yang biasanya dihindari oleh institusi asing yang mengutamakan transparansi.

7. Apa yang Dapat Diperoleh Investor Domestik?

Peluang Cara Memanfaatkannya
Rebalancing Portofolio Mengikuti jejak foreign investor dengan menambah eksposur pada BBCA, EXCL, dan DSSA yang kini berada pada level support teknikal kuat.
Strategi Pair‑Trade Menjual (short) saham BMRI/BBRI/TLKM yang net‑sell, sambil membeli BBCA/EXCL yang net‑buy, memanfaatkan perbedaan aliran dana.
Dividen & Yield BBCA, BBRI, dan TLKM memiliki yield dividend yang relatif tinggi. Jika investor lebih mengutamakan cash flow, tetap dapat mempertahankan sebagian posisi sambil menunggu rebound.
Diversifikasi Regional Mengingat kelemahan pasar Asia, pertimbangkan alokasi sebagian ke ETF regional (misalnya MSCI Asia ex‑Japan) atau mata uang kuat sebagai hedge.

8. Outlook Jangka Pendek (1‑3 Bulan)

Skenario Probabilitas Gambaran Harga
Stabilitas/Recovery 40 % IHSG kembali menguji level 8.100‑8.200, didorong oleh net‑buy berkelanjutan pada sekuritas blue‑chip.
Koreksi Lanjutan 35 % Penurunan lanjutan hingga 7.400‑7.600 bila MSCI menurunkan alokasi EM lebih jauh dan sentimen risk‑off berlanjut.
Volatilitas Tinggi 25 % Fluktuasi harian > 2 % karena data ekonomi global (inflasi AS, kebijakan Fed) dan berita politik domestik.

Catatan: Kunci utama adalah memantau data aliran dana OJK/Bursa (net‑buy/net‑sell) dan keputusan MSCI yang akan diumumkan pada akhir kuartal. Setiap perubahan signifikan dapat memicu pergeseran cepat pada IHSG.


9. Rekomendasi Strategis

  1. Posisi Fokus pada BBCA

    • Buy‑and‑Hold: Target harga jangka menengah Rp 11.200 (≈ +8 % dari harga penutupan).
    • Stop‑Loss: Rp 9.800 (≈ -7 %).
  2. Eksposur pada EXCL

    • Swing Trade: Manfaatkan penurunan teknikal ke level support Rp 1.950, target Rp 2.300 dalam 4‑6 minggu.
  3. DSSA sebagai “Value Play”

    • Long Term: Karena fundamental defensif, pertimbangkan akumulasi pada zona Rp 550‑580.
  4. Hedging pada Bank‑Bank yang Net‑Sell

    • Short‑Term Hedge: Gunakan futures index atau opsi put pada BMRI/BBRI untuk melindungi portofolio dari penurunan lebih lanjut.
  5. Pantau Risiko Makro

    • USD/IDR: Depresi rupiah dapat menambah tekanan pada earnings perusahaan import‑oriented.
    • Kebijakan Fed: Kenaikan suku bunga AS > 5 % dapat memperparah aliran keluar dari emerging markets.

10. Kesimpulan

Aksi net‑buy investor asing pada 2 Feb 2026 menunjukkan ketertarikan kembali pada ekuitas Indonesia, terutama pada BBCA, EXCL, dan DSSA. Namun, sentimen pasar tetap tertekan oleh faktor eksternal (ultimatum MSCI, gejolak regional) dan internal (pergantian pejabat regulator).

Bagi investor domestik, memanfaatkan aliran dana dengan menyesuaikan alokasi (menambah BBCA/EXCL/DSSA, mengurangi exposure pada BMRI/BBRI/TLKM) sambil menggunakan instrumen hedging dapat meningkatkan peluang profit di tengah volatilitas.

Kunci selanjutnya adalah mengikuti data aliran dana harian, berita kebijakan MSCI, serta perkembangan politik/regulasi di dalam negeri. Dengan strategi yang disiplin, investor dapat menavigasi penurunan pasar yang masih bergejolak namun tetap menangkap poin‑poin “silver lining” yang tersembunyi di balik aksi beli bersih asing.