Reli Harga Emas 2025-2026 Mengguncang Pasar Perhiasan Singapura: Dari Penurunan Penjualan Retail ke Lonjakan Permintaan Bullion Investasi
Tanggapan Panjang
1. Ringkasan Situasi Saat Ini
- Kenaikan Harga Emas yang Luar Biasa: Harga spot emas naik 1,93 % menjadi US $5.056,66 per ons pada 10 Februari 2026, sementara futures April US $5.079,40 (+2 %). Secara tahunan, emas mencatat kenaikan > 60 % sejak akhir 2024.
- Penurunan Penjualan Perhiasan: World Gold Council (WGC) melaporkan penurunan volume penjualan perhiasan sebesar 8 % pada Q3 2025 di Singapura.
- Lonjakan Permintaan Bullion: Penjualan emas batangan dan koin naik 47 % pada periode yang sama, dipicu oleh preferensi konsumen beralih ke “store of value” alih‑alih barang mode.
- Pengaruh Kebijakan GST: Logam mulia investasi dikecualikan dari Goods & Services Tax (GST), menjadikannya instrumen yang lebih murah dibandingkan perhiasan yang dikenai pajak 7 %.
2. Analisis Penyebab Perubahan Pola Konsumen
| Faktor | Dampak pada Pasar Perhiasan | Dampak pada Bullion |
|---|---|---|
| Kenaikan Harga Spot | Harga perhiasan menjadi lebih mahal; margin retailer tertekan bila tetap menjual pada price‑point lama. | Nilai intrinsik bullion naik seiring harga spot, meningkatkan potensi capital gain. |
| Ketidakpastian Global (geopolitik, inflasi, suku bunga) | Konsumen menunda pembelian barang mewah yang tidak esensial. | Emas dipandang “safe‑haven”, permintaan spekulatif meningkat. |
| Pengecualian GST | Perhiasan tetap dikenai GST, mengurangi daya tarik relatif. | Bullion bebas GST, menurunkan total cost of ownership. |
| Preferensi “Ringan & Praktis” | Konsumen mencari produk dengan harga lebih rendah dan desain simpel. | Bullion tidak terpengaruh, karena fokus pada nilai, bukan estetika. |
| Ketersediaan Alternatif Investasi (ETF emas, tokenisasi) | Persaingan menambah pressure pada penjualan fisik. | Bullion tetap relevan sebagai aset fisik yang likuid. |
3. Dampak pada Pelaku Ritel
- Margin Profitabilitas Menurun
- Harga jual turun karena konsumen menuntut diskon; biaya bahan baku (emas) naik, menciptakan gap margin.
- Inventaris Berlebih
- Stok perhiasan yang tidak terjual mengikat modal dan meningkatkan biaya penyimpanan.
- Pengalihan Fokus ke Layanan
- Penjualan “gold‑exchange” (trade‑in) menjadi penting untuk memanfaatkan inventory lama.
- Kebutuhan Inovasi Desain
- Konsumen menginginkan produk “ringan, minimalis, dan terjangkau” (mis. emas 10‑15 karat, potongan geometris).
- Digitalisasi dan Omnichannel
- Platform e‑commerce, virtual try‑on, dan layanan konsumen jarak jauh dapat memulihkan penjualan yang menurun selama musim liburan.
4. Perspektif Investasi Bullion
- Likuiditas Tinggi: Bullion dapat dijual kembali dalam hitungan hari di pasar spot atau melalui dealer resmi.
- Diversifikasi Portofolio: Menjadi aset non‑korosif yang tidak berkorelasi kuat dengan ekuitas atau obligasi.
- Pengaruh Kebijakan Moneter: Jika bank sentral melanjutkan kebijakan pelonggaran, emas kemungkinan tetap kuat; sebaliknya, kenaikan suku bunga signifikan dapat menurunkan permintaan.
- Risiko Keamanan & Penyimpanan: Biaya asuransi, safe‑deposit box, atau vault private harus dimasukkan dalam perhitungan total return.
5. Implikasi Kebijakan Pemerintah
- Peninjauan GST
- Pemerintah dapat mempertimbangkan penyesuaian tarif GST pada perhiasan agar tidak terlalu memberatkan konsumen akhir, atau memperluas pengecualian ke perhiasan “investment‑grade”.
- Program Edukasi Keuangan
- Kampanye yang menjelaskan perbedaan antara perhiasan konsumsi vs. logam mulia investasi dapat membantu konsumen membuat keputusan yang lebih rasional.
- Inisiatif untuk Pengrajin Lokal
- Dukungan subsidi bahan baku atau insentif pajak untuk perancang yang mengembangkan produk “affordable luxury” dapat menjaga keberlangsungan industri perhiasan tradisional.
6. Rekomendasi Praktis untuk Retailer
| Area | Aksi Konkret |
|---|---|
| Produk | • Luncurkan koleksi dengan emas 10‑15 karat, desain minimalis, serta paket bundling (mis. cincin + ear‑stud dengan harga paket). • Perkenalkan layanan trade‑in dengan penilaian transparan dan kredit toko. |
| Harga | • Gunakan dynamic pricing: diskon musiman, voucher “cashback GST”, atau program loyalitas yang memberi poin dapat ditukar dengan bullion kecil. |
| Channel | • Perkuat platform online (AR try‑on, live chat). • Integrasikan click‑and‑collect dengan toko fisik untuk meningkatkan foot‑traffic. |
| Marketing | • Fokus pada narasi “Nilai Jangka Panjang”: edukasi pelanggan tentang amortisasi nilai emas dalam perhiasan vs. bullion. • Kolaborasi dengan influencer keuangan untuk menyoroti “gold as an investment”. |
| Operasional | • Optimalkan inventaris dengan sistem ERP yang memantau pergerakan barang real‑time, meminimalkan over‑stock. • Negosiasikan harga beli dengan supplier berdasarkan volume dan eksposur pasar spot. |
| Layanan Pelanggan | • Sediakan konsultasi keuangan gratis (mis. perencana keuangan) di toko untuk membantu konsumen menggabungkan perhiasan dan bullion dalam strategi aset. |
7. Outlook 2026‑2027
- Kenaikan Harga Gold Berlanjut: Selama risiko geopolitik dan inflasi tetap tinggi, gold diprediksi tetap berada di atas US $5.000/oz.
- Stabilisasi Penjualan Perhiasan: Jika retailer berhasil mengadopsi model “affordable luxury” dan memanfaatkan program trade‑in, volume penjualan dapat kembali naik sekitar 3‑5 % per tahun.
- Dominasi Bullion sebagai Investasi: Permintaan bullion diproyeksikan tumbuh 30‑35 % YoY hingga 2027, terutama dari kelas menengah atas yang mencari aset safe‑haven.
- Pengaruh Teknologi: Tokenisasi emas (digital gold) dapat menambah kompetisi pada bullion fisik, namun tetap memberi peluang bagi retailer untuk menjadi issuer atau partner platform tokenisasi.
Kesimpulan
Reli harga emas yang kuat selama 2025‑2026 telah mengubah lanskap pasar perhiasan di Singapura secara fundamental. Sementara penjualan perhiasan turun, permintaan bullion melambung, didorong oleh:
- Kenaikan tajam harga spot yang membuat emas lebih berharga sebagai penyimpan nilai.
- Kebijakan GST yang menambah biaya relatif pada perhiasan.
- Ketidakpastian ekonomi global yang mengarahkan konsumen ke aset safe‑haven.
Retailer perhiasan harus menyesuaikan strategi produk, harga, dan kanal penjualan, serta memanfaatkan peluang trade‑in dan layanan nilai tambah untuk tetap relevan. Pemerintah, di sisi lain, dapat meninjau kebijakan pajak dan menawarkan edukasi agar konsumen dapat menilai perbedaan antara barang konsumsi dan investasi.
Jika langkah‑lakukan tersebut diimplementasikan secara konsisten, industri perhiasan Singapura dapat memulihkan margin, menjaga relevansi, dan berkolaborasi dengan pasar bullion untuk menciptakan ekosistem emas yang berkelanjutan dan menguntungkan bagi semua pemangku kepentingan.
Ditulis oleh: Tim Analisis Pasar Emas & Perhiasan – Februari 2026