Silver Antam Anjlok Tajam pada 31 Januari 2026: Penyebab, Dampak, dan Prospek ke Depan

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 31 January 2026

Judul:

“Silver Antam Anjlok Tajam pada 31 Januari 2026: Penyebab, Dampak, dan Prospek ke Depan”


1. Ringkasan Peristiwa

Tanggal Harga Antam (Rp/gram) Pergerakan
29 Jan 2026 Rp 72.900 ATH (All‑Time‑High) – naik Rp 2.200
30 Jan 2026 Rp 72.750 Turun Rp 150
31 Jan 2026 Rp 54.750 Turun Rp 18.000 (≈ –24 %)
  • Harga spot dunia: turun 28 % menjadi US$ 83,45/troy oz (Sabtu, 31 Jan 2026).
  • Futures: anjlok 31,4 % ke US$ 78,53/troy oz – penurunan terburuk sejak Maret 1980.

Penurunan tajam ini terjadi bersamaan dengan pengumuman calon Ketua Federal Reserve (Fed) Kevin Warsh oleh Presiden AS Donald Trump, yang mengguncang ekspektasi kebijakan moneter global.


2. Analisis Penyebab Penurunan

2.1 Faktor Makro‑Ekonomi Global

Faktor Dampak pada Silver Penjelasan
Kebijakan Fed Negatif Penunjukan Kevin Warsh (mantan Fed Governor yang cenderung hawkish) memicu ekspektasi kenaikan suku bunga lebih cepat. Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan imbal hasil obligasi AS, mengurangi daya tarik aset safe‑haven seperti perak.
Penguatan Dolar AS Negatif Suku bunga lebih tinggi memperkuat dolar, menurunkan harga komoditas yang diperdagangkan dalam dolar (silver).
Inflasi Ambivalen Data inflasi yang masih tinggi biasanya mendukung perak, namun ekspektasi kebijakan Fed yang agresif menggerus sentimen inflasi sebagai “penopang” perak.
Geopolitik Positif → Negatif Pada awal 2026 terdapat ketegangan geopolitik (mis. konflik energi). Namun, fokus pasar lebih pada kebijakan moneter AS daripada geopolitik, sehingga efek safe‑haven tidak terealisasi.

2.2 Faktor Spesifik Pasar Indonesia

  1. Ketergantungan pada Harga Internasional

    • Harga Antam hampir bergerak searah dengan price index perak dunia karena Antam mengacu pada standar harga internasional (spot + biaya logistik).
  2. Volume Produksi & Persediaan

    • Antam tidak mengalami gangguan produksi signifikan pada awal 2026; penurunan harga bukan akibat kelebihan pasokan domestik, melainkan penurunan permintaan (terutama industri elektronik & fotovoltaik yang menunda investasi).
  3. Sentimen Investor Ritel

    • Masyarakat Indonesia masih menganggap perak sebagai investasi alternatif. Namun, turunnya harga spot global menyebabkan panic selling di bursa logam mulia lokal, memperparah penurunan harga Antam.

2.3 Faktor Teknikal

  • Support Kunci: Rp 55.000/gram (level terdekat di belakang penurunan).
  • Resistance: Rp 70.000/gram (tingkat sebelumnya pada akhir Januari).
  • RSI (Relative Strength Index): berada di sekitar 30, menandakan kondisi oversold.
  • Moving Averages: Harga berada di bawah SMA‑50 dan SMA‑200, menandakan trend bearish jangka menengah.

3. Dampak bagi Pemangku Kepentingan

3.1 Investor Ritel

  • Kerugian Realisasi: Investor yang membeli pada puncak ATH (Rp 72.900) mengalami kerugian > ≈ 25 % bila menjual pada 31 Jan.
  • Opportunitas Beli: Bagi yang memiliki likuiditas, level Rp 55.000–Rp 60.000 dapat menjadi entry point dengan potensi rebound jika kebijakan Fed melunak atau permintaan industri meningkat kembali.

3.2 Institusi Keuangan & Dana Investasi

  • Posisi Hedging: Banyak dana yang menggunakan futures silver (CME) sebagai hedging. Penurunan futures lebih tajam (31,4 %) memberikan margin call pada trader yang tidak memiliki posisi short yang memadai.
  • Rebalancing Portofolio: Beberapa manajer aset mungkin mengalihkan alokasi dari logam mulia ke aset berbunga (obligasi pemerintah AS) yang kini lebih menarik karena yield yang naik.

3.3 PT Aneka Tambang Tbk (Antam)

  • Pendapatan Penjualan Logam: Penurunan harga perak menurunkan margin per unit. Namun, Antam masih dapat menstabilkan pendapatan melalui penjualan volume (produksi tetap).
  • Strategi Harga: Antam dapat memperkuat kebijakan price floor melalui kontrak jangka panjang dengan industri manufaktur, mengurangi volatilitas harga spot.

3.4 Pemerintah Indonesia

  • Cadangan Devisa: Cadangan logam mulia (perak) menurun nilai pasar, mempengaruhi neraca cadangan devisa secara marginal (perak bukan konstituen utama).
  • Kebijakan Makro: Pemerintah dapat meninjau insentif produksi atau dukungan logistik untuk mendorong permintaan domestik (mis. skema tax holiday pada industri panel surya).

4. Outlook & Proyeksi Harga Silver Antam

Skenario Keterangan Target Harga (Rp/gram) dalam 3‑6 bulan
Bullish (Fed melunak, inflasi tetap tinggi, pemulihan industri hijau) Sentimen safe‑haven kembali, permintaan industri naik Rp 65.000‑70.000
Neutral (Kebijakan Fed stabil, dolar moderat) Harga berfluktuasi dalam range teknikal Rp 58.000‑62.000
Bearish (Fed terus Hawkish, ekonomi AS melambat, dolar menguat) Penurunan lanjutan, kemungkinan dibawah support penting < Rp 55.000

Catatan: Proyeksi di atas mengasumsikan tidak ada kejutan geopolitik besar atau kebijakan fiskal Indonesia yang mengubah supply‑demand fundamental.


5. Rekomendasi Praktis untuk Investor

  1. Evaluasi Posisi Saat Ini

    • Jika Anda memiliki posisi long sejak akhir Januari, pertimbangkan partial profit taking atau stop loss di sekitar Rp 55.000 untuk melindungi modal.
  2. Strategi Dollar‑Cost Averaging (DCA)

    • Bagi investor jangka panjang yang percaya pada fundamental perak (inflasi, diversifikasi), lakukan pembelian berkala di level Rp 55.000–Rp 60.000.
  3. Gunakan Instrumen Derivatif Secara Hati‑Hati

    • Futures atau options dapat menjadi alat hedging, namun pastikan margin yang cukup dan pahami risiko pada volatilitas tinggi.
  4. Pantau Kalender Ekonomi

    • Rilis keputusan Fed, data inflasi AS (CPI), dan indikator PMI akan menjadi katalis utama.
  5. Diversifikasi Portofolio

    • Memperkuat eksposur ke emas, obligasi pemerintah, atau saham sektor teknologi hijau dapat mengurangi risiko konsentrasi pada perak.

6. Kesimpulan

Penurunan harga perak Antam pada 31 Januari 2026 bukanlah fenomena yang terisolasi. Ia merupakan konvergensi antara:

  • Kebijakan moneter AS yang lebih hawkish (pengumuman Kevin Warsh),
  • Penguatan dolar serta penurunan permintaan industri,
  • Sentimen pasar global yang mengalihkan dana ke aset berbunga.

Bagi investor ritel, situasi ini membuka peluang entry point pada level teknikal yang oversold, namun harus diimbangi dengan manajemen risiko yang ketat. Bagi Antam dan pemerintah, tantangannya adalah menjaga stabilitas pendapatan melalui kontrak jangka panjang dan mendukung permintaan domestik.

Dengan memperhatikan indikator makro, analisis teknikal, serta kebijakan moneter yang akan datang, para pelaku pasar dapat menyiapkan strategi yang lebih terukur dalam menghadapi gelombang volatilitas di pasar perak global dan lokal.


Semoga analisis ini memberi gambaran yang jelas mengenai dinamika harga perak Antam serta membantu Anda membuat keputusan investasi yang lebih informasional.