ANTM dan NCKL Jadi Primadona di Sektor Pertambangan Logam: Analisis Komprehensif Riset BRI Danareksa 13 Februari 2026
1. Ringkasan Riset BRI Danareksa
| Item | Penjelasan |
|---|---|
| Sektor Fokus | Logam‑logam utama: emas, nikel, timah, dan logam lainnya. |
| Pandangan Overweight | Rekomendasi overweight untuk seluruh sektor karena margin diproyeksikan membaik pada Q4‑2025 (4Q25) dan profitabilitas yang lebih kuat menjelang 2026. |
| Penggerak Utama |
|
| Prioritas BUMN & Integrated Players | RKAB (Rencana Kerja & Anggaran Biaya) lebih condong ke BUMN (ANTM) dan perusahaan terintegrasi (NCKL). |
| Urutan Pilihan Saham | ANTM > NCKL > TINS > INCO |
| Target Harga (TH) | ANTM: Rp 4.800; NCKL: Rp 1.800; TINS: Rp 4.100; INCO: Rp 7.500 |
| Rekomendasi | Buy untuk keempat saham, dengan ANTM & NCKL sebagai “top picks”. |
2. Mengapa ANTM & NCKL Menjadi Pilihan Utama?
2.1. ANTM – Stabilitas BUMN dengan Diversifikasi Produk
- Profitabilitas Solid – Laba diproyeks mencapai 109 % dari estimasi BRI Danareksa, 110 % dari konsensus. Ini menandakan bahwa perusahaan akan melampaui ekspektasi pasar.
- Kontribusi Nikel – Meskipun volume penjualan emas diperkirakan melemah, segmen nikel tetap menjadi pendorong utama margin karena:
- ASP nikel naik sejalan dengan ekspektasi defisit pasokan global (‑705 kt pada 2025‑2026).
- Kapasitas produksi yang terintegrasi (penambangan, smelting, refinery) mengurangi exposure pada fluktuasi harga bahan baku perantara.
- Kendali Harga Bijih – Sebagai BUMN, ANTM memiliki akses ke harga batuan dasar (bijih) yang relatif lebih stabil dibanding player swasta, memberi keunggulan kompetitif pada margin.
- Dukungan Kebijakan – Pemerintah menekankan “strategi mineral vital” (emas & nikel) sehingga ANTM berpotensi mendapatkan prioritas dalam alokasi anggaran proyek (RKAB), subsidi energi, atau insentif tax.
2.2. NCKL – Integrated Nickel Player dengan Kendali Rantai Nilai
- Integrasi Vertikal – NCKL mengelola seluruh rantai nilai: mining → pelatihan → produksi nickel matte → penjualan yang menghasilkan margin lebih tinggi dibanding perusahaan yang hanya menambang.
- ASP & Cost Advantage – Proyeksi peningkatan ASP nikel sekitar 5 % YoY serta penurunan biaya tunai 9 % YoY memberikan ruang margin yang cukup besar.
- Pasokan Logam Strategis – Dengan proyeksi defisit nikel global, NCKL berada pada posisi “seller” yang dapat menegosiasikan harga jual lebih premium.
- Keterlibatan dalam Bisnis Battery Materials – NCKL sedang mempersiapkan “strategic partnership” dengan produsen baterai domestik, yang dapat membuka premium tambahan lewat kontrak jangka panjang.
3. Analisis Saham Pendukung: TINS & INCO
| Saham | Posisi | Kelebihan | Risiko |
|---|---|---|---|
| TINS (Timah) | Naik peringkat (setelah sebelumnya “neutral”) | • Reformasi kualitas bahan baku • Momentum harga timah positif (kebutuhan elektronik, EV) |
• Volatilitas harga timah global • Ketergantungan pada pasar ekspor (Asia) |
| INCO (Vale Indonesia) | “Taktis” – bukan prioritas | • Eksposur ke nikel LME • Produksi berukuran besar |
• Volatilitas pasokan (tingginya exposure ke stok batuan dasar) • Risiko ESG & regulasi pertambangan Indonesia |
Catatan:
Meskipun TINS dan INCO tetap berada dalam rekomendasi “Buy”, mereka tidak masuk dalam urutan “top pick” karena potensinya lebih mengandalkan faktor‑faktor eksternal (harga komoditas, kebijakan ekspor, ESG) dibandingkan keunggulan struktural internal seperti ANTM dan NCKL.
4. Faktor‑Faktor Makro yang Memperkuat Outlook 2025‑2026
- Defisit Global Nikel – Penurunan produksi batuan dasar (dari Korea Selatan, Kanada, dan Brazil) diperkirakan menurunkan pasokan nikel sebesar ~705 kt pada akhir 2025, menciptakan tekanan naik pada harga LME.
- Pengembangan Kendaraan Listrik (EV) – Pemerintah Indonesia menargetkan 20 % kendaraan listrik pada 2025, meningkatkan kebutuhan nikel bersih (high‑grade nickel) untuk baterai.
- Kebijakan Harga Emas – Harga emas diproyeksikan tetap di atas USD 2,200/oz mengingat inflasi global, safe‑haven demand, dan pelonggaran kebijakan moneter di beberapa negara maju.
- Stabilitas Nilai Tukar Rupiah – Proyeksi BRI Danareksa mengasumsikan Rupiah / US$ stabil pada 15 000 ke atas, yang mengurangi risiko konversi bagi perusahaan yang memiliki eksposur impor (mesin, bahan kimia).
- Dukungan Pemerintah terhadap BUMN – Prioritas alokasi RKAB ke BUMN memperkuat likuiditas dan kapasitas investasi ANTM, serta mempermudah proses perizinan.
5. Risiko‑Risiko Utama yang Perlu Dipertimbangkan
| Risiko | Dampak Potensial | Mitigasi |
|---|---|---|
| Volatilitas Harga Komoditas (emas, nikel, timah) | Penurunan ASP dapat erode margin. | Hedging price via kontrak forward; meningkatkan cost efficiency. |
| Regulasi Lingkungan & ESG | Penundaan izin, denda, atau penutupan operasi sementara. | Investasi pada teknologi rendah emisi, transparansi ESG, sertifikasi ISO 14001. |
| Fluktuasi Kurs Rupiah | Peningkatan biaya impor input produksi. | Monitoring kebijakan moneter, alokasi sebagian biaya dalam mata uang lokal. |
| Geopolitik & Pasokan Batuan Dasar | Gangguan pasokan nikel dari luar negeri (mis. Australia, Kanada). | Diversifikasi sumber bijih lewat kerja sama dengan pelaku domestik & regional. |
| Persaingan dari Produksi daur ulang | Penurunan demand logam primer. | Pengembangan unit daur ulang internal (terutama nikel & timah). |
6. Take‑away untuk Investor Institusional & Ritel
- ANTM & NCKL – Kedua saham menawarkan profil growth‑plus‑value: margin yang terus menguat, eksposur ke logam strategis, dan dukungan kebijakan pemerintah. Target harga yang diberikan (Rp 4.800 & Rp 1.800) memberikan upside ≈30‑35 % dari level harga penutupan akhir 2023‑2024.
- TINS – Pilihan yang menarik bila investor ingin menambah eksposur ke logam “light” (timah) dengan momentum harga yang bullish. Namun, alokasi sebaiknya ≤15 % dari total bobot logam logam.
- INCO – Lebih cocok untuk strategi taktis atau “pair‑trade” dengan exposure ke nikel global yang lebih volatile. Hanya alokasikan ≤10 % dari portofolio metal mining.
- Diversifikasi – Mengingat risiko makro (kurs, ESG, geopolitik), rekomendasi alokasi yang seimbang antara BUMN (ANTM), pemain terintegrasi (NCKL), dan perusahaan non‑BUMN (TINS, INCO) tetap menjadi strategi defensif sekaligus upside‑oriented.
7. Kesimpulan
Riset BRI Danareksa 13 Februari 2026 menegaskan bahwa sektor pertambangan logam Indonesia berada pada titik keseimbangan antara fundamental kuat dan prospek pertumbuhan yang tajam. Kenaikan ASP logam strategis (emas, nikel, timah) diperkirakan akan mendorong margin expansion pada Q4‑2025, sementara kebijakan pemerintah yang memprioritaskan BUMN dan integrasi rantai nilai memperkuat moat (perlindungan kompetitif) bagi ANTM dan NCKL.
Bagi investor yang mencari eksposur jangka menengah‑panjang dengan potensi upside signifikan, posisi Buy pada ANTM dan NCKL dengan target harga masing‑masing Rp 4.800 dan Rp 1.800 tampak rasional. Saham TINS dan INCO tetap dalam radar, namun dengan bobot yang lebih kecil karena volatilitas dan faktor eksternal yang lebih tinggi.
Akhir kata, monitoring berkelanjutan terhadap harga komoditas, kebijakan RKAB, serta perkembangan ESG akan menjadi kunci untuk menilai apakah profil risiko‑reward tetap sejalan dengan ekspektasi investasi. Investor disarankan melakukan due diligence internal, menyesuaikan eksposur dengan toleransi risiko masing‑masing, dan mempertimbangkan strategi hedging bila diperlukan.
Disclaimer: Analisis ini bersifat informatif dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi jual/beli khusus untuk individu. Setiap keputusan investasi harus didasarkan pada pertimbangan pribadi, tujuan investasi, dan konsultasi dengan penasihat keuangan yang berlisensi.