Lonjakan Harga CPO di Bursa Malaysia (Februari 2026): Dampak Penurunan Produksi RI, Kebijakan B50, dan Prospek Pasar Global

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 28 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Ringkasan Pergerakan Harga CPO

Data Bursa Malaysia Derivatives (BMD) menunjukkan bahwa pada 27 Februari 2026 semua kontrak berjangka CPO (Maret‑Agustus 2026) melambung hampir seragam – kenaikan 34‑40 RM/t sehingga menembus zona 4.000 RM/t.

  • Maret: 3.989 RM/t
  • April: 4.030 RM/t
  • Mei: 4.042 RM/t
  • Juni: 4.046 RM/t
  • Juli: 4.043 RM/t
  • Agustus: 4.038 RM/t

Penembusan 4.000 RM/t menandai batas support terdekat, sementara 4.100 RM/t menjadi level resistance pertama yang harus diuji untuk melanjutkan rally.

2. Penyebab Utama Kenaikan

Faktor Penjelasan Pengaruh pada Harga
Proyeksi Penurunan Produksi RI (‑5‑6 %) Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) memperkirakan turunnya produksi 2026 akibat konversi lahan sawit menjadi hutan dan kendala perizinan. Menurunkan pasokan global, menaikkan ekspektasi harga.
Mandatori B50 (Semester II 2026) Pemerintah Indonesia menegakkan kebijakan B50 (biofuel 50 % dari CPO) lebih ketat, memperketat aliran CPO ke pasar ekspor. Mengurangi ekspor riil, meningkatkan tekanan pada harga spot dan futures.
Sentimen Bullish Global Permintaan dari India, China, dan Uni Eropa tetap kuat, sementara stok strategis (SSM) menurun. Memperkuat momentum bullish di futures BMD.
Fluktuasi Nilai Tukar RM‑IDR Ringgit melemah sedikit terhadap Rupiah, meningkatkan nilai nominal CPO dalam RM. Menambah tekanan ke atas pada harga futures BMD.

Kombinasi faktor fundamental (penurunan pasokan) dan teknikal (level support/resistance) mengakibatkan gap naik yang cukup tajam dalam satu hari perdagangan.

3. Analisis Teknikal Singkat

  • Support Kunci: 4.000 RM/t (level yang diuji beberapa minggu lalu). Bila teruji, kemungkinan terjadinya double‑bottom dan pergerakan ke arah 3.800‑3.900 RM/t.
  • Resistance Kunci: 4.100 RM/t (zona historis di mana volume jual meningkat). Penembusan di atas level ini dapat membuka jalur ke 4.250‑4.300 RM/t.
  • Moving Averages (MA): 20‑MA berada di sekitar 3.950 RM/t, sementara 50‑MA mendekati 3.880 RM/t; keduanya kini berada di bawah harga, menandakan trend bullish jangka pendek.
  • RSI: 62 (masih di atas 50, belum overbought).
  • Volume: Peningkatan volume +20 % dibanding rata‑rata 10 hari terakhir, memperkuat sinyal bull.

4. Dampak Kebijakan B50 Terhadap Rantai Pasok

Dampak Implikasi Jangka Pendek Implikasi Jangka Panjang
Kepatuhan Produsen Produsen wajib mengalokasikan 50 % CPO untuk biodiesel domestik → berkurangnya CPO tersedia untuk ekspor. Peningkatan kapasitas refining biodiesel di RI, potensi penurunan margin eksportir bila dunia menurunkan permintaan biodiesel.
Penyesuaian Harga Domestik Harga CPO domestik (IDR/ton) cenderung naik karena tekanan pada pasokan internal. Insentif bagi petani kecil untuk memperluas area tanam, tetapi risiko deforestasi meningkat.
Pengaruh pada Pasar Global Mengurangi volume CPO RI di pasar dunia → penyesuaian harga spot di pasar Malaysia, Singapore, India. Jika kebijakan berlanjut, RI berpotensi kehilangan pangsa pasar >3 %, memberi peluang bagi Papua Nugini, Thailand.

5. Prospek Produksi Sawit Indonesia 2026‑2028

Tahun Proyeksi Produksi (juta ton) Faktor Penentu
2025 71,5 Kondisi cuaca normal, lahan tetap
2026 ≈68,0 (‑5 % dari 2025) Konversi lahan, pembatasan ekspor, kendala logistik
2027 70,2 Pemulihan lahan setelah re‑forestation, adopsi varietas tinggi produktivitas
2028 71,8 Implementasi teknologi Precision Agriculture dan digital tracking

Jika penurunan 2026 memang terjadi, pembentukan cadangan stok (SSM) di level ≥10 M ton menjadi krusial untuk menstabilkan harga. Pemerintah harus menyeimbangkan antara kebijakan biofuel dan kestabilan industri ekspor.

6. Rekomendasi untuk Pelaku Pasar

Pemangku Kepentingan Tindakan yang Disarankan
Investor Futures - Jaga posisi long di kontrak Maret‑Juni sambil menunggu breakout di atas 4.100 RM/t.
- Set stop‑loss di 3.950 RM/t untuk melindungi dari koreksi cepat.
Pedagang Spot - Manfaatkan selisih price differential antara RM dan IDR; jual spot ketika nilai tukar RM menguat.
Produsen Sawit - Diversifikasi ke produk turunan (palm kernel, biodiesel, oleochemical) untuk mengurangi exposure pada harga CPO mentah.
- Pertimbangkan kontrak hedging jangka menengah (6‑12 bulan) guna mengunci margin.
Pembuat Kebijakan - Evaluasi dampak mandatori B50 terhadap balance of trade.
- Siapkan insentif bagi penanaman kembali lahan yang dialihkan ke hutan, guna menjaga citra keberlanjutan.
Analyst & Peneliti - Lakukan model skenario (best‑case, base‑case, worst‑case) dengan variabel: produksi, stok SSM, nilai tukar, permintaan biodiesel.
- Publikasikan early‑warning jika produksi turun lebih dari 6 % yang diproyeksikan.

7. Kesimpulan

Lonjakan harga CPO di Bursa Malaysia pada akhir Februari 2026 merupakan manifestasi dari gabungan tekanan fundamental (penurunan produksi Indonesia, kebijakan B50) dan teknikal (breakout di atas level 4.000 RM/t).

  • Support 4.000 RM/t masih menjadi zona berisiko; pelanggaran di bawahnya dapat memicu koreksi kembali ke 3.800‑3.900 RM/t.
  • Resistance 4.100 RM/t menjadi target pertama untuk melanjutkan rally. Jika level ini terjaga, potensi kenaikan ke 4.250 RM/t dalam 2‑3 minggu ke depan menjadi realistis, terutama bila stok strategis global tetap rendah.

Bagi pelaku industri, kebijakan B50 menjadi pedang bermata dua: meningkatkan nilai tambah domestik namun sekaligus menyusutkan pasokan ekspor yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan negara. Penyusunan strategi hedging, diversifikasi produk, serta monitoring kebijakan secara real‑time akan menjadi kunci untuk mengelola volatilitas harga CPO yang kini berada di zona bullish.

Dengan memantau indikator produksi, stok global, dan pergerakan nilai tukar RM‑IDR, pasar dapat lebih siap menghadapi dinamika harga CPO ke depan, baik dalam skenario rebound maupun penurunan yang dipicu oleh faktor eksternal (mis. kebijakan perdagangan internasional, gangguan cuaca).


Catatan: Analisis ini didasarkan pada data yang tersedia per 27 Februari 2026 dan asumsi pasar yang berlaku saat itu. Perubahan kebijakan, cuaca, atau kejadian geopolitik dapat mengubah prospek secara signifikan.

Tags Terkait