Rupiah Melemah Meski Suku Bunga BI Tetap 4,75 %: Analisis Dampak Geopolitik, Kebijakan AS-Fed, dan Prospek Kebijakan Moneter Indonesia

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 19 February 2026

1. Pendahuluan

Pada sesi perdagangan sore Kamis, 19 Februari 2026, nilai tukar rupiah (IDR) kembali mencatat pelemahan, menutup sesi 10 poin di bawah level sebelumnya (Rp 16.884/USD). Penurunan ini terjadi meskipun Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga suku bunga acuan (BI‑Rate) pada 4,75 % dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18‑19 Februari 2026.

Kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures, menyoroti bahwa faktor geopolitik (ketegangan di Timur Tengah dan Eropa Timur) serta sinyal kebijakan moneter Federal Reserve (Fed) menjadi pendorong utama pelemahan tersebut. Artikel ini akan mengupas secara mendalam penyebabnya, menilai implikasi kebijakan moneter domestik, serta memberikan prospek dan rekomendasi bagi pelaku pasar di tengah volatilitas yang semakin tinggi.


2. Faktor Eksternal yang Menekan Rupiah

2.1 Ketegangan di Timur Tengah

  • Kegagalan negosiasi AS‑Iran: Pernyataan VP AS JD Vance mengenai kegagalan Iran memenuhi tuntutan utama AS menimbulkan ekspektasi akan pengetatan lebih lanjut sanksi ekonomi, yang biasanya meningkatkan permintaan safe‑haven (biasanya dolar AS).
  • Dampak pada pasar energi: Ketidakpastian pasokan minyak mendorong harga Brent kembali naik (sekitar USD 84‑88 per barel pada 19 Februari 2026). Negara‑negara importir energi, termasuk Indonesia, menghadapi penyusutan neraca perdagangan dan tekanan pada cadangan devisa.

2.2 Konflik Rusia‑Ukraina & Harapan Pelonggaran Sanksi Energi

  • Stagnasi diplomatik: Upaya perdamaian masih belum menunjukkan kemajuan signifikan, membuat pasar memperkirakan lanjutan sanksi Barat terhadap Rusia.
  • Energi Rusia: Harapan pelonggaran sanksi pada ekspor energi Rusia memudar, memicu kepanikan pada pasar energi global, yang kembali mengalihkan aliran modal ke dolar.

2.3 Kebijakan Moneter Federal Reserve

  • Risiko inflasi tetap tinggi: Risalah FOMC menegaskan pandangan mayoritas bahwa inflasi “ke atas” masih menjadi ancaman, sekaligus menyoroti perbedaan pandangan tentang durasi kebijakan suku bunga tinggi.
  • Penurunan ekspektasi penurunan suku bunga Fed: Futures Fed menunjukkan probabilitas penurunan suku bunga pada bulan Juni hanya 30‑35 %, jauh di bawah perkiraan awal 2024. Penurunan ekspektasi ini memperkuat dolar sebagai mata uang acuan global.

Ringkasnya, kombinasi gejolak geopolitik dan kebijakan moneter AS yang tetap hawkish menghasilkan aliran masuk dana ke dolar, menurunkan permintaan IDR di pasar spot.


3. Faktor Internal yang Membatasi Respons Kebijakan BI

3.1 Kebijakan Suku Bunga Tetap pada 4,75 %

  • Tujuan stabilisasi inflasi: BI memprioritaskan pencapaian target inflasi jangka menengah (2‑4 %). Dengan tekanan inflasi global yang masih tinggi, penurunan suku bunga dapat memicu inflasi domestik.
  • Keseimbangan ekspor‑impor: BI menilai bahwa penurunan nilai tukar dapat membantu meningkatkan daya saing eksportir, namun efeknya terbatas karena struktur perdagangan Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.

3.2 Cadangan Devisa dan Intervensi Pasar

  • Cadangan devisa pada 19 Feb 2026 tercatat sekitar USD 138 miliar (sekitar Rp 2.1 pkr). Cadangan masih kuat secara historis, namun penarikan dolar secara berkelanjian dapat menurunkan buffer untuk intervensi.
  • Keterbatasan intervensi: Meskipun BI memiliki mandat untuk menstabilkan nilai tukar, frekuensi intervensi cenderung menurun karena kebijakan “leaning against the wind” yang mengandalkan sinyal suku bunga lebih dari penjualan spot.

3.3 Kondisi Ekonomi Domestik

  • Pertumbuhan Q1 2026 diproyeksikan 5,2 % YoY, menurun dibanding Q4 2025 (5,7 %).
  • Inflasi CPI bulan Januari 2026 tercatat 4,3 % YoY—masih di atas target.
  • Konsumsi rumah tangga dan investasi sektor manufaktur masih dipengaruhi oleh ketidakpastian global, menurunkan permintaan domestik.

4. Implikasi Kebijakan Moneter dan Nilai Tukar

Aspek Implikasi Jangka Pendek Implikasi Jangka Menengah
Suku Bunga BI Menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali; risiko “overshoot” pada kurs jika tekanan eksternal meningkat. Jika inflasi global melunak, terdapat ruang bagi penurunan bertahap (mis. ke 4,5 % pada H2‑2026).
Cadangan Devisa Dapat dipakai untuk intervensi spot bila kurs melewati level “critical” (mis. Rp 17.200/USD). Mempertahankan cadangan tinggi meningkatkan kredibilitas BI, menurunkan risiko spekulasi.
Kebijakan Moneter AS Dolar kuat menekan IDR; investor mengalihkan alokasi ke aset berdenominasi dolar. Jika Fed mulai mengurangi suku bunga pada 2027, arus balik ke emerging market dapat menguatkan rupiah.
Geopolitik Risiko konflik meningkatkan premi risiko, menurunkan likuiditas IDR. Penyelesaian atau de‑eskalasi konflik dapat memberi “risk‑off” yang memperlemah dolar, sehingga menguatkan rupiah.

5. Outlook Nilai Tukar Rupiah 2026‑2027

  1. Skenario Baseline (kondisi saat ini berlanjut)

    • Kurs spot diperkirakan berfluktuasi antara Rp 16.800‑17.300/USD selama 2026.
    • Volatilitas harian diperkirakan meningkat 15‑20 % dibanding rata‑rata 2024‑2025.
  2. Skenario “Geopolitik Memperburuk”

    • Jika ketegangan Timur Tengah eskalasi atau sanksi energi Rusia diperketat, dolar dapat menguat hingga USD 1,02‑1,03 per EUR, mendorong rupiah turun ke Rp 17.500‑18.000/USD.
  3. Skenario “Dampak Kebijakan Fed Long‑Run”

    • Jika Fed memulai pelonggaran pada Q4 2026, ekspektasi penurunan suku bunga global dapat mengurangi daya tarik dolar, memungkinkan rupiah naik kembali ke Rp 16.400‑16.600/USD.

6. Rekomendasi untuk Pelaku Pasar

Pemangku Kepentingan Rekomendasi Strategis
Investor Institusional - Diversifikasi portofolio ke aset berbasis dolar (mis. obligasi AS) untuk melindungi nilai pada periode volatilitas tinggi.
- Tambahkan eksposur komoditas (emas, energi) sebagai hedge terhadap gejolak geopolitik.
Perusahaan Importir Energi - Gunakan forward contract atau FX options untuk mengunci kurs pada level Rp 17.000/USD, mengurangi risiko peningkatan biaya impor.
Bank dan Lembaga Keuangan - Tingkatkan monitoring hedging ratio nasabah korporat untuk memastikan coverage yang memadai.
- Siapkan cabang likuiditas dalam USD untuk memenuhi permintaan spot jangka pendek tanpa mengorbankan cadangan.
Bank Indonesia - Pertimbangkan intervensi bersifat “preemptif” pada saat kurs menembus level psikologis Rp 17.000‑17.200/USD, sambil menjaga pesan kebijakan yang konsisten.
- Komunikasikan rencana penyesuaian suku bunga (mis. “rate‑cut in the second half of 2026 if inflation eases”) untuk mengurangi ketidakpastian pasar.
Pemerintah - Percepat program diversifikasi energi (biofuel, PLTU berbasis batubara bersih) untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak.
- Dukung ekspor non‑migas melalui insentif pajak dan fasilitas pembiayaan guna memperkuat neraca perdagangan.

7. Kesimpulan

Rupiah mengalami pelemahan pada 19 Februari 2026 meskipun BI mempertahankan suku bunga acuan pada 4,75 %. Penurunan ini dipicu oleh gabungan faktor eksternal: ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kebuntuan diplomasi Rusia‑Ukraina, serta sinyal kebijakan moneter hawkish dari Federal Reserve yang menegaskan risiko inflasi tinggi di AS.

Secara internal, kebijakan suku bunga tetap mencerminkan prioritas BI pada stabilitas inflasi domestik, sementara cadangan devisa yang cukup tetap menjadi penyangga utama. Namun, keterbatasan ruang gerak intervensi dan ketergantungan Indonesia pada impor energi membuat rupiah tetap rentan terhadap tekanan eksternal.

Outlook 2026‑2027 menunjukkan range Rp 16.800‑17.300/USD dalam skenario baseline, dengan potensi pergerakan ke lebih tinggi bila gejolak geopolitik atau kebijakan Fed tetap ketat, atau lebih rendah bila Fed melonggarkan kebijakan moneter.

Bagi pelaku pasar, langkah paling bijak saat ini adalah diversifikasi risiko nilai tukar, penggunaan instrumen hedging yang tepat, serta pemantauan terus‑menerus terhadap perkembangan geopolitik dan sinyal kebijakan moneter global. Bagi otoritas, transparansi dalam prospek kebijakan suku bunga dan kesiapan intervensi strategis akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian yang masih tinggi.

Tags Terkait