Gelombang Penjualan Besar-Besaran Investor Asing di BEI: BBCA, BBRI, dan BUMI Jadi Korban Utama, Sementara Sektor Komoditas dan Teknologi Memimpin Penguatan

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 9 February 2026

1. Ringkasan Peristiwa (9 Februari 2026)

Posisi Nilai (Rp miliar) Saham Utama
Net sell total pasar 721,7
Akumulasi net sell YTD 11.700
Net sell terbesar (reguler) 714,7 BBCA
Net sell lainnya 263,6 (BBRI)
181,59 (BUMI)
Net buy terbesar 117 (ANTM)
Net buy selanjutnya 84,9 (BUVA)
IHSG penutupan 8.031,8 (↑ 96,61 poin / +1,22 %)
Volume transaksi 17,2 triliun
Sektor terkuat Barang baku (+4,4 %)
Sektor terlemah Kesehatan (‑0,2 %) & Keuangan (‑0,19 %)
Saham “Top Cuan” PURI (+34,5 %), YELO (+33,8 %), LINK (+24,7 %), IFSH (+24,6 %), ALKA (+24,4 %)
Saham terpuruk REAL (‑14,29 %), SSTM (‑12,27 %), KJEN (‑12 %), SOTS (‑9,8 %), SONA (‑9,8 %)

2. Analisis Data Transaksi Asing

2.1. Skala Penjualan Besar

  • BBCA (Bank Central Asia) mencatat net sell Rp 714,7 miliar, hampir setara dengan total net sell semua saham di pasar reguler pada hari itu.
  • BBRI (Bank Rakyat Indonesia) dan BUMI (Bumi Resources) menambah beban penurunan, masing‑masing Rp 263,6 miliar dan Rp 181,59 miliar.
  • Jika dijumlahkan, tiga saham ini menyumbang ≈ 1,16 triliun atau ≈ 16 % dari total net sell harian, menandakan konsentrasi tekanan pada sektor keuangan dan energi/pertambangan.

2.2. Net Buy di Sektor Komoditas & Teknologi

  • ANTM (Aneka Tambang) menjadi satu‑satunya saham dengan net buy signifikan (Rp 117 miliar), mengindikasikan optimisme terhadap logam dasar (tembaga, nikel) dalam rangkaasi transisi energi.
  • BUVA (Bukit Uluwatu Villa), walaupun bukan “blue‑chip”, mencatat net buy Rp 84,9 miliar, menandakan ketertarikan pada sektor properti/rekreasi yang diperkirakan akan bangkit pasca‑pandemi.

2.3. Pergerakan IHSG dan Sektor

  • Meskipun terjadi net sell besar di saham-saham besar, IHSG tetap naik 1,22 % berkat penguatan kuat di sektor barang baku (+4,4 %), energi (+2,9 %), dan konsumen primer (+2 %).
  • Penguatan sektor tekno (0,8 %) dan infrastruktur (1,2 %) memberi sinyal pergeseran alokasi modal ke bidang yang diharapkan mendapatkan dukungan kebijakan (mis. infrastruktur “Southern Development” dan penerapan 5G).
  • Sektor keuangan dan kesehatan menjadi pengecualian, menurun tipis meski tidak seburuk yang diprediksi.

3. Penyebab Utama Penjualan Asing

Faktor Penjelasan
Kebijakan Moneter Global Kebijakan suku bunga acuan The Fed yang masih tinggi menekan aliran “carry trade” ke pasar emerging, termasuk Indonesia. Investor asing cenderung mengalihkan dana ke aset berbunga lebih tinggi (USD, obligasi AS).
Sentimen Risiko Geopolitik Ketegangan di Asia‑Pasifik (mis. kebijakan perdagangan China‑AS, ketegangan di Laut China Selatan) menambah “risk‑off” sentiment, memicu penjualan aset berisiko menengah seperti saham perbankan.
Kinerja Laporan Keuangan Q4 2025 Laporan kuartal terakhir menunjukkan margin net interest perbankan sedikit menurun karena penurunan spread dan peningkatan provisi pada BBCA & BBRI, menurunkan daya tarik bagi investor institusional.
Fluktuasi Harga Komoditas Harga nikel dan batu bara mengalami koreksi setelah puncak akhir 2025, sehingga investor yang sebelumnya “long” pada sektor pertambangan (mis. BUMI) menutup posisi.
Penguatan Rupiah Rupiah menguat beberapa sen terhadap USD sejak awal Januari 2026 (USD/IDR ≈ 14 500), menurunkan keuntungan konversi bagi investor asing yang memegang aset berdenominasi rupiah.
Strategi Rebalancing Portofolio Fund institusional (mis. sovereign wealth funds) biasanya melakukan rebalancing tahunan pada kuartal pertama, mengalihkan eksposur ke ETF global atau aset alternatif.

4. Implikasi bagi Pelaku Pasar Indonesia

4.1. Bagi Investor Ritel

  • Kesempatan beli dipatok: Penurunan tajam BBCA, BBRI, dan BUMI dapat membuka peluang buy‑the‑dip bagi investor jangka panjang yang menganggap fundamental perbankan Indonesia masih kuat, terutama setelah reformasi regulasi BTFD (Banking Transformation for Digital).
  • Waspada volatilitas: Namun, volatilitas harian dapat meningkat secara signifikan selama minggu‑minggu berikutnya apabila aliran dana asing tetap tidak stabil.

4.2. Bagi Investor Institusional (Dana Pensiun, Manajer Investasi)

  • Diversifikasi sektor: Fokus pada saham-saham komoditas dengan net buy (ANTM) dan teknologi (LINK, YELO) untuk menyeimbangkan portofolio yang terdampak penurunan sektor keuangan.
  • Strategi hedging: Menggunakan derivatif (futures, options) pada IDX atau cross‑currency swaps untuk melindungi eksposur nilai tukar dan risiko pasar.

4.3. Bagi Emiten

  • Perusahaan perbankan: Perlu memperkuat komunikasi mengenai kualitas aset, rasio NPL, dan strategi digital guna menurunkan ketakutan investor asing.
  • BUMI & sektor energi: Memperjelas rencana investasi pada energi terbarukan atau optimasi produksi nikel untuk menarik kembali minat global yang kini menitikberatkan ESG.

5. Outlook Pasar dalam 1‑3 Bulan ke Depan

Skor Faktor Proyeksi
+ Penguatan kebijakan fiskal (insentif infrastruktur, stimulus konsumsi) Memungkinkan IHSG tetap berada di zona 8.000‑8.300
Kekhawatiran global (inflasi AS, kebijakan tightening) Potensi koreksi sebesar 3‑5 % bila aliran dana asing berlanjut, terutama pada saham-saham blue‑chip
± Data ekonomi domestik (inflasi CPI, PMI manufaktur) Jika data Q1 2026 menunjukkan inflasi terkendali dan PMI > 55, sentimen akan kembali bullish.
± Perubahan kebijakan moneter BI (penurunan suku bunga) Jika BI menurunkan BI 7-Day Repo Rate sebelum kuartal kedua, arus masuk modal dapat kembali meningkat.

Catatan: Kondisi pasar dapat berubah cepat apabila ada peristiwa geopolitik atau kebijakan moneter tak terduga.


6. Rekomendasi Praktis

  1. Strategi “Buy‑the‑Dip” Terukur

    • Pilih BBCA & BBRI dengan rasio harga/pendapatan (PER) masih di bawah rata‑rata historis (≈ 10‑12×).
    • Tetapkan stop‑loss pada level ‑5 % dari harga beli untuk mengendalikan downside risk.
  2. Eksposur Komoditas

    • Tambahkan ANTM atau saham tambang lain (mis. BAJA, UNTR) dengan target upside 15‑20 % dalam 6‑12 bulan, mengingat permintaan nikel & tembaga diproyeksikan naik seiring transisi energi.
  3. Sektor Teknologi & Telekomunikasi

    • Pantau LINK, YELO, dan PURI; meski volatil, mereka menunjukkan momentum kuat. Jika volume perdagangan tetap tinggi, pertimbangkan position scaling (menambah posisi secara bertahap).
  4. Hedging Mata Uang

    • Gunakan forward contract atau FX options untuk melindungi nilai tukar jika Anda memiliki eksposur signifikan dalam rupiah namun pendapatan atau tabungan dalam USD/EUR.
  5. Diversifikasi Portofolio

    • Kombinasikan saham dengan obligasi pemerintah (mis. ORI 2028) untuk menurunkan volatilitas keseluruhan dalam skenario “risk‑off”.

7. Kesimpulan

Hari Selasa, 9 Februari 2026, menandai satu hari “sell‑off” terbesar oleh investor asing di Bursa Efek Indonesia, dengan BBCA menjadi korban utama. Meskipun demikian, IHSG berhasil menutup dengan kenaikan berkat penguatan sektor barang baku, energi, dan konsumen primer serta aksi beli di ANTM dan BUVA.

Faktor makro (kebijakan moneter global, geopolitik), serta fundamental mikro (kinerja laporan keuangan perbankan, fluktuasi harga komoditas) menjadi pendorong utama. Bagi pelaku pasar, kesempatan beli muncul pada saham “blue‑chip” yang terdampak penurunan, sementara alokasi pada komoditas dan teknologi dapat menambah potensi upside.

Outlook jangka pendek tetap penting untuk memantau sinyal global; namun dengan kebijakan fiskal domestik yang mendukung, indeks dapat mempertahankan level di atas 8.000 dalam beberapa minggu ke depan. Investor yang mengadopsi strategi terukur, diversifikasi, dan hedging akan berada pada posisi yang lebih kuat dalam mengarungi volatilitas yang kemungkinan masih akan terus berlanjut.