Rupiah Menguat Lagi pada Selasa 10 Februari 2026: Dampak Redaman Ketegangan Geopolitik, Penantian Data AS, dan Optimisme Fiskal dalam Kerangka Kebijakan Moneter The Fed
Tanggapan Panjang dan Analisis Mendalam
1. Gambaran Umum Pergerakan Rupiah pada 10 Februari 2026
- Spot rate pada pukul 09.08 WIB: Rp 16.790 per USD, naik 15 poin (≈0,09 %) dibandingkan pembukaan hari.
- Indeks Dolar AS (DXY) naik 0,17 % ke level 96,97, menandakan dolar tetap kuat secara global, meskipun sedikit melambat.
- Kinerja Senin (9 Feb): Rupiah menutup pada Rp 16.805, menguat 71 poin pada sesi sebelumnya.
Secara teknikal, pergerakan kecil ini mengindikasikan fase konsolidasi di sekitar zona support Rp 16.760‑16.800 yang disebutkan oleh Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.
2. Faktor-Faktor Penguat Nilai Rupiah
| No | Faktor | Penjelasan | Dampak terhadap Rupiah |
|---|---|---|---|
| 1 | Redaman ketegangan AS‑Iran | Kedua negara menyatakan akan melanjutkan dialog nuklir, menurunkan risiko militer di Timur Tengah. | Mengurangi “risk‑off” sentiment, aliran modal kembali ke pasar emerging termasuk Indonesia. |
| 2 | Penantian data ekonomi AS (Non‑farm payroll Jan 2026 & CPI) | Pasar menunggu sinyal apakah Fed akan melanjutkan hike atau mulai melonggarkan kebijakan. | Jika data lemah, ekspektasi penurunan suku bunga Fed menguat, mengurangi tekanan jual pada rupiah. |
| 3 | Optimisme fiskal domestik | Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengindikasikan penerimaan pajak 2026 dapat melampaui target Rp 2.357,7 triliun. | Peningkatan pendapatan pemerintah meningkatkan kepercayaan kredit negara, memperkuat mata uang. |
| 4 | Posisi The Fed di bawah Kevin Warsh | Warsh dipandang lebih dovish dibandingkan rekan-rekannya, memperlemah ekspektasi tightening lebih lanjut. | Memungkinkan aliran likuiditas kembali ke pasar emerging. |
3. Analisis Kebijakan Moneter The Fed dan Implikasinya untuk Rupiah
-
Suku Bunga Federal Funds:
- Keputusan terakhir (13 Jan 2026): Fed menahan suku bunga pada 5,25‑5,50 %.
- Proyeksi bila NFP & CPI lemah: Kemungkinan pause atau cut pada pertemuan Mei 2026.
-
Dampak pada Carry Trade:
- Carry trade (penjualan dolar untuk membeli mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi) menjadi lebih menguntungkan bila ekspektasi penurunan suku bunga Fed menguat, mengurangi interest rate differential antara AS dan Indonesia.
- Rupiah yang terus menguat akan menurunkan cost impor bahan baku, memperbaiki neraca perdagangan.
-
Kebijakan Monetary Tightening di Indonesia:
- Bank Indonesia (BI) masih berada pada BI 7‑day Reverse Repo Rate 5,75 % (per Februari 2026).
- Jika Fed dovish, BI dapat mempertimbangkan penurunan suku bunga untuk memacu pertumbuhan, tetapi harus menyeimbangkan dengan inflasi domestik yang masih berada di kisaran 3,7‑4,0 %.
4. Perspektif Teknis: Level Support & Resistance
- Support kuat: Rp 16.760‑16.770 – zona yang dipertahankan oleh likuiditas institusional dan aksi beli pada level tersebut.
- Resistance pertama: Rp 16.800‑16.810 – level yang baru saja diuji pada 9 Feb.
- Resistance selanjutnya: Rp 16.850‑16.870 – zona psikologis yang akan menguji kekuatan fundamental (fiskal, geopolitik).
Jika rupiah menembus Rp 16.870, dapat membuka lintasan Rp 16.900‑16.950, yang akan menjadi titik balik sebelum menguji Rp 17.000. Sebaliknya, penurunan di bawah Rp 16.750 dapat memicu koreksi ke Rp 16.730‑16.720.
5. Risiko dan Skenario Negatif
| Risiko | Probabilitas | Dampak Potensial |
|---|---|---|
| Escalation konflik di Timur Tengah (misalnya serangan militer blokade) | Menengah | Dolar menguat tajam, aliran modal keluar, rupiah turun ke Rp 16.900‑16.950. |
| Data AS lebih kuat dari ekspektasi (NFP > 200 rb, CPI > 3,5 %) | Menengah | Fed dipaksa mempertahankan atau menaikkan suku bunga, rupiah tertekan ke Rp 16.950‑17.000. |
| Kegagalan target pajak 2026 (pendapatan < target) | Rendah‑Menengah | Sentimen fiskal melemah, daya beli domestik turun, butuh intervensi BI, rupiah menguji Rp 16.850. |
| Gejolak politik domestik (pemilu lokal, kebijakan regulator) | Rendah | Volatilitas jangka pendek meningkat, namun tidak memengaruhi fundamental jangka menengah. |
6. Implikasi Bagi Investor & Pengambil Keputusan
-
Investor Institusional (Dana Pensiun, Sovereign Wealth):
- Strategi alokasi aset: Pertahankan posisi long rupiah di instrumen FX forward atau currency‑linked bonds dengan tenor 3‑6 bulan, memanfaatkan rentang Rp 16.760‑16.800.
- Hedging: Gunakan options (call options pada USD/IDR) untuk melindungi eksposur pada skenario bullish.
-
Perusahaan Import‑Export:
- Sektor import (mesin, bahan baku energi) akan mendapatkan manfaat dari penurunan biaya dolar.
- Sektor eksportir (komoditas, manufaktur) perlu menjaga margin karena penurunan nilai tukar mengurangi keuntungan konversi ke rupiah, kecuali mereka memiliki kontrak harga dalam USD.
-
Pemerintah & Bank Sentral:
- Penguatan rupiah dapat membantu mengendalikan inflasi impor, memberikan ruang bagi BI untuk menyesuaikan kebijakan moneter secara hati‑hati.
- Kebijakan fiskal harus tetap konsisten untuk mengukuhkan kepercayaan pasar, terutama pada implementasi reformasi pajak dan peningkatan kepatuhan.
7. Proyeksi Jangka Pendek (Bulan Maret 2026)
| Skor | Kondisi | Nilai Tukar (perkiraan) |
|---|---|---|
| Bullish (Geopolitik stabil, data AS lemah, pajak > target) | Rupiah menguat secara berkelanjutan | Rp 16.730‑16.750 |
| Neutral (Pasar menunggu data Fed, geopolitik netral) | Fluktuasi dalam kisaran support/resistance | Rp 16.770‑16.800 |
| Bearish (Eskalas i konflik, data AS kuat) | Tekanan jual meningkat | Rp 16.850‑16.900 |
8. Kesimpulan
- Rupiah berada dalam fase konsolidasi kuat di zona Rp 16.760‑16.800, didorong oleh redaman ketegangan geopolitik antara AS‑Iran, penantian data ekonomi AS, serta optimisme fiskal domestik.
- Kebijakan The Fed menjadi katalis utama; arah kebijakan moneter AS akan menentukan arah aliran modal global dan, pada gilirannya, nilai tukar IDR.
- Dukungan internal—terutama pencapaian target penerimaan pajak—memperkuat narasi fundamental yang mendasari penguatan rupiah.
- Risiko utama tetap berasal dari potensi eskalasi konflik di Timur Tengah dan data AS yang lebih kuat dari perkiraan. Investor dan pengambil kebijakan harus memantau kedua faktor tersebut serta menyiapkan strategi hedging yang fleksibel.
Dengan memperhatikan faktor‑faktor di atas, prospek rupiah dalam 30‑60 hari ke depan tetap positif, namun sensitif terhadap dinamika eksternal. Pengelolaan risiko yang cermat serta pemantauan data ekonomi secara real‑time menjadi kunci untuk memanfaatkan pergerakan nilai tukar yang masih relatif sempit namun penuh peluang.