IHSG Terpuruk, Market-Cap BEI Menghilang Rp 705 Triliun: Analisis Penyebab, Dampak, dan Prospek Pasar Saham Indonesia
1. Ringkasan Fakta Utama (Minggu 2–6 Februari 2026)
| Parameter | Minggu Ini | Minggu Lalu | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) | 7.935,260 | 8.329,606 | ‑4,73 % |
| Market‑Cap BEI | Rp 14.341 triliun | Rp 15.046 triliun | ‑4,69 % (‑Rp 705 triliun) |
| Frekuensi Transaksi Harian (rata‑rata) | 2,72 juta transaksi | 3,82 juta transaksi | ‑28,62 % |
| Volume Transaksi Harian | 43,2 miliar lembar | 63,3 miliar lembar | ‑31,75 % |
| Nilai Transaksi Harian | Rp 24,75 triliun | Rp 43,76 triliun | ‑43,45 % |
| Net Selling Investor Asing (YTD) | – | – | ‑Rp 11,02 triliun (penjualan bersih) |
| Pembelian Asing pada 6 Feb | Rp 944,31 miliar | – | Penurunan tajam |
Catatan: Data di atas di‑release oleh P.H. Sekretaris Perusahaan BEI, Alit Nityaryana, pada 6 Feb 2026.
2. Penyebab Utama Penurunan
| Faktor | Penjelasan |
|---|---|
| Sentimen Global yang Risk‑Averse | - Kebijakan moneter FED: Kenaikan suku bunga AS ke level tertinggi dalam dekade terakhir memperkuat dolar, mengalirkan modal keluar dari emerging markets. - Geopolitik: Ketegangan di kawasan Asia‑Pasifik (mis. perselisihan Laut China Selatan) menambah ketidakpastian. |
| Tekanan Harga Komoditas | - Minyak mentah turun < 70 USD/barrel, mengurangi pendapatan perusahaan energi yang cukup besar di indeks. - Logam dasar (tembaga, nikel) mengalami penurunan karena penurunan permintaan China. |
| Fundamental Domestik | - Produk Domestik Bruto (PDB) Q4 2025 tercatat pertumbuhan 4,2 % YoY, turun dari 5,1 % pada Q3 2025. - Inflasi Konsumen tetap di atas target BEI (3,5 % vs. target 2–4 %). - Kebijakan fiskal: Penurunan subsidi BBM dan listrik menekan profitabilitas perusahaan sektor utilitas. |
| Laporan Keuangan Q4 2025 | - Lebih dari 30 % perusahaan besar (perbankan, telekomunikasi, BUMN) melaporkan penurunan laba bersih, sebagian besar karena penurunan margin bunga bersih dan peningkatan provisi kredit macet. |
| Sentimen Investor Asing | - Net selling YTD Rp 11,02 triliun menandakan pergeseran alokasi portofolio ke pasar “safe‑haven”. - Outflow dana melalui reksa dana luar negeri dan sovereign wealth fund. |
| Likuiditas Pasar | - Penurunan frekuensi transaksi (‑28,62 %) dan volume (‑31,75 %) menunjukkan berkurangnya partisipasi aktif, terutama dari trader ritel yang biasanya memberikan dukungan pada side‑way market. |
3. Dampak Langsung pada Pasar & Pemangku Kepentingan
-
Investor Ritel
- Penurunan nilai portofolio rata‑rata sebesar ≈ Rp 7,5 triliun per investor yang memiliki eksposur 1 % ke indeks.
- Kecenderungan beralih ke instrumen pasar uang atau obligasi pemerintah (yield obligasi 10‑tahun kini ~7,2 %).
-
Institusi Keuangan
- Penurunan margin bunga bersih pada bank karena pressure pada net interest margin (NIM).
- Peningkatan provisi kredit macet (PKM) menurunkan ROA/ROE. - Sektor asuransi menghadapi “asset‑liability mismatch” karena nilai pasar obligasi korporasi turun.
- Penurunan margin bunga bersih pada bank karena pressure pada net interest margin (NIM).
-
Perusahaan Publik
- Capital market financing menjadi lebih mahal: cost of equity naik karena peningkatan risiko (beta historis IHSG kini 1,45).
- Potensi share buy‑back atau dividend cut yang dapat memperburuk persepsi.
- Capital market financing menjadi lebih mahal: cost of equity naik karena peningkatan risiko (beta historis IHSG kini 1,45).
-
Bursa Efek Indonesia (BEI)
- Pendapatan perdagangan turun signifikan (nilai transaksi harian turun 43,45 %).
- Perlu aksi peningkatan likuiditas, mis. memperluas program “Market Maker” atau “Liquidity Provider”.
- Pendapatan perdagangan turun signifikan (nilai transaksi harian turun 43,45 %).
-
Pemerintah & Otoritas
- Tekanan untuk menstabilkan nilai tukar (IDR/USD) dan menjaga kepercayaan investor.
- Kemungkinan kebijakan fiskal tambahan (stimulus terfokus pada sektor manufaktur/ekspor) atau penyesuaian tarif.
- Tekanan untuk menstabilkan nilai tukar (IDR/USD) dan menjaga kepercayaan investor.
4. Analisis teknikal singkat IHSG
- Level support terdekat: 7.800 (zona 200‑day moving average).
- Level resistance: 8.100 (historical swing high minggu ke‑2 Februari).
- RSI (14) berada di 31, mengindikasikan kondisi oversold namun belum memasuki zona “extremely oversold” (< 30).
- Pola head‑and‑shoulders mulai terbentuk di zona 8.200, memperkuat potensi penurunan lebih lanjut jika tidak ada keberhasilan “breakout” ke atas.
5. Outlook & Skenario Kemungkinan
| Skenario | Asumsi Utama | Kemungkinan | Dampak pada IHSG & Market‑Cap |
|---|---|---|---|
| A. Rebound Berkelanjutan | - Fed menghentikan atau menurunkan suku bunga. - Harga komoditas stabil/naik kembali. - Pemerintah meluncurkan paket stimulus sektor riil. |
30 % | IHSG dapat kembali ke zona 8.200–8.400 dalam 3‑4 bulan; market‑cap pulih 2‑3 % (≈ Rp 350 triliun). |
| B. Penurunan Moderat (Base‑Case) | - Kondisi makro tetap volatil. - Likuiditas pasar tetap rendah, namun tidak ada krisis sistemik. |
55 % | IHSG berfluktuasi di rentang 7.600–7.950 selama 6‑9 bulan; market‑cap tergerus tambahan 2‑3 % (≈ Rp 300‑400 triliun). |
| C. Krisis Pasar | - Kebijakan moneter global mengarah pada tightening agresif. - Rupiah melemah > 4 % dalam 3 bulan. - Kegagalan reformasi struktural (mis. energi, infrastruktur). |
15 % | IHSG dapat menembus 7.300; market‑cap turun total > Rp 1 000 triliun, memicu intervensi BEI & OJK. |
Catatan: Skenario “Base‑Case” menekankan pentingnya pemulihan likuiditas melalui partisipasi institusional dan strategi “market‑making” yang lebih agresif.
6. Rekomendasi Strategis
6.1 Bagi Investor Ritel
- Diversifikasi: Tambahkan eksposur ke obligasi pemerintah (10‑yr) dan reksa dana pasar uang untuk menurunkan volatilitas.
- Seleksi Sektor: Fokus pada sektor konsumer domestik (e‑commerce, FMCG) dan infrastruktur yang memperoleh dukungan APBN.
- Take‑Profit & Stop‑Loss: Tetapkan level stop‑loss pada 7.650, target take‑profit 8.200 (jika ada rebound).
6.2 Bagi Investor Institusional & Fund Manager
- Strategi “Bottom‑Fishing”: Identifikasi saham blue‑chip dengan valuasi EV/EBITDA di bawah 7x sebagai entry point.
- Hedging: Gunakan forward FX atau options untuk melindungi exposure IDR yang rentan terhadap dolar.
- Engage dengan BEI: Dorong partisipasi Liquidity Provider (LP) melalui insentif fee rebate.
6.3 Bagi BEI & OJK
- Program Market‑Maker: Tawarkan fee discount bagi broker yang menyediakan likuiditas pada saham dengan daily volume < 500 ribu lembar.
- Peningkatan Transparansi: Publikasikan Real‑Time Order Book untuk mengurangi asimetri informasi.
- Kampanye Edukasi: Edukasi ritel tentang benefit investasi jangka panjang, mengurangi panic‑selling.
6.4 Bagi Pemerintah
- Stabilisasi Nilai Tukar: Intervensi pasar spot bila tekanan jual berlebih (dengan cadangan devisa).
- Stimulus Terarah: Fokus pada subsidi listrik untuk industri manufaktur dan insentif pajak bagi perusahaan yang meningkatkan kapasitas produksi.
- Reformasi Struktur: Mempercepat komitmen infrastruktur (jalan, pelabuhan, energi terbarukan) untuk menggerakkan pertumbuhan jangka menengah.
7. Penutup
Penurunan tajam IHSG dan market‑cap BEI sebesar Rp 705 triliun pada minggu pertama Februari 2026 bukan sekadar “fluktuasi musiman”. Ia mencerminkan konvergensi faktor global (kebijakan moneter AS, geopolitik, harga komoditas) dan domestik (pertumbuhan ekonomi melambat, profitabilitas korporat tertekan, aliran modal asing keluar).
Meskipun tekanan saat ini signifikan, pasar saham tetap aset jangka panjang yang memberikan potensi keuntungan apabila diperlakukan dengan strategi yang terukur, diversifikasi, dan pemantauan kebijakan makro.
Jika pemerintah, regulator, dan pelaku pasar dapat meningkatkan likuiditas, menyediakan stimulus yang tepat, dan mengelola ekspektasi investor, maka pasar Indonesia memiliki ruang untuk memulihkan sebagian nilai yang hilang dalam kurun waktu 6‑12 bulan ke depan.
Sebaliknya, kegagalan dalam mengatasi faktor‑faktor tersebut dapat memperdalam penurunan dan menimbulkan risiko sistemik yang lebih luas. Oleh karena itu, koordinasi lintas‑sektor serta kebijakan yang responsif menjadi kunci utama untuk mengembalikan kepercayaan dan menstabilkan market‑cap BEI ke level yang lebih sehat.
Catatan akhir: Analisis ini bersifat informatif dan tidak menggantikan nasihat keuangan profesional. Selalu konsultasikan keputusan investasi dengan penasihat yang kompeten dan perhatikan profil risiko pribadi.