Harga Minyak Dunia Merangkak Naik Saat AS-Iran Memanas
Tanggapan Panjang
1. Ringkasan Situasi – Apa yang Terjadi Saat Ini?
Pada Selasa, 24 Februari 2026, harga minyak mentah dunia kembali menguat setelah serangkaian pernyataan keras dari pemerintahan Amerika Serikat terhadap Iran. Presiden Donald Trump menegaskan keinginan “jalur diplomatik”, namun bersamaan dengan itu menambahkan peringatan bahwa hari itu “akan menjadi hari yang sangat buruk” bagi Tehran bila negosiasi nuklir tidak mencapai kesepakatan.
- Brent: mendekati US$ 72 /barel (naik 0,5 % menjadi US$ 71,83).
- WTI: berkisar US$ 67 /barel (naik 0,5 % menjadi US$ 66,65).
Kenaikan ini tidak didorong oleh ketidakseimbangan pasokan – pasar masih berada dalam kondisi “glut” atau kelebihan stok – melainkan oleh premi risiko yang dipicu oleh ketegangan geopolitik, khususnya potensi gangguan di Selat Hormuz.
2. Mengapa Premi Risiko Menjadi Faktor Penentu?
2.1. Penumpukan Militer AS di Timur Tengah
Penempatan tambahan pasukan AS, latihan militer di dekat Hormuz, serta evakuasi personel non‑darurat di Kedutaan Beirut menambah persepsi ancaman konflik terbuka. Analis Saul Kavonic memperkirakan premi risiko sekitar US$ 10 /barel sudah terinkorporasi ke dalam harga spot saat ini.
2.2. Selat Hormuz – Chokepoint Energi Utama
- Volume Transit: ~ 1 juta barel minyak per hari (≈ 20 % konsumsi dunia).
- Ancaman Penutupan: Sejarah mencatat bahwa setiap kali Iran mengisyaratkan penutupan atau gangguan di Hormuz, indeks harga Brent mengalami lonjakan cepat, kadang melampaui US$ 100 /barel dalam hitungan hari.
2.3. Kenaikan Biaya Sewa VLCC
Biaya sewa kapal tanker super (VLCC) kini mencapai US$ 92.000 / hari, tertinggi sejak 1988. Kenaikan biaya ini langsung meng‑transmisikan biaya tambahan ke produsen dan konsumen, memperkuat tekanan naik pada spot price.
3. Dampak Makro‑Ekonomi
| Dampak | Penjelasan |
|---|---|
| Inflasi Global | Kenaikan minyak menambah tekanan pada indeks harga konsumen (CPI) di negara‑negara importir, terutama di Asia (India, Indonesia, Korea). |
| Neraca Perdagangan | Negara‑negara eksportir minyak (Saudi, Rusia, UAE) mendapat surplus perdagangan tambahan, sedangkan negara‑negara importir energi mencatat defisit yang lebih besar. |
| Kebijakan Moneter | Bank sentral yang sudah memperketat kebijakan (misalnya FED, ECB) dapat mendapati tekanan inflasi tambahan, memicu pengetatan lebih lanjut atau penundaan pelonggaran. |
| Investasi Energi Terbarukan | Harga minyak yang lebih tinggi biasanya mempercepat arus investasi ke energi bersih, tetapi ketidakpastian geopolitik dapat menunda proyek‑proyek jangka panjang yang memerlukan stabilitas kebijakan. |
4. Analisis Historis – Apa yang Dapat Kita Pelajari?
| Tahun | Peristiwa | Reaksi Harga Brent* |
|---|---|---|
| 2012 | Ketegangan Suriah & Intervensi AS di Iran | US$ 111 → US$ 84 (penurunan setelah de‑eskalasi) |
| 2015 | Kesepakatan Nuklir (JCPOA) | Penurunan bertahap, Brent turun ke US$ 44 |
| 2019 | Serangan Drone pada platform minyak Saudi | Brent melonjak ke US$ 74 |
| 2020 | Pandemi COVID‑19 + Penurunan permintaan | Brent turun ke US$ 20 (negatif) |
| 2022‑2023 | Invasi Rusia ke Ukraina & Sanksi Barat | Brent melampaui US$ 120 |
*Reaksi harga biasanya terjadi dalam hari‑ke‑hari setelah pernyataan atau aksi militer, namun dapat berlanjut selama minggu‑minggu jika ketegangan tetap tinggi.
Polanya: *ketegangan → premi risiko → lonjakan harga → reaksi pasar (posisi risiko) → kondisi geopolitik** menentukan apakah harga kembali stabil atau terus menguat.
5. Proyeksi Harga & Skenario
5.1. Skenario “Diplomasi Sukses”
- Negosiasi akhir minggu ini menghasilkan kesepakatan interim; pasokan Hormuz tetap terbuka.
- Premi risiko menurun menjadi US$ 5 /barel.
- Harga Brent stabil di kisaran US$ 70‑73, WTI di US$ 65‑68.
- Volatilitas (VIX Energy) turun ke level 30‑35.
5.2. Skenario “Escalation Militer”
- Iran menutup sebagian Hormuz atau menembakkan misil terhadap kapal tanker AS.
- Premi risiko naik > US$ 20 /barel, biaya asuransi dan sewa tanker melonjak.
- Harga Brent dapat menembus US$ 85‑90 dalam 1‑2 minggu; WTI memuncak di US$ 78‑82.
- Pasar futures akan menunjukkan backwardation tajam (kontango tinggi) – sinyal pasar mengantisipasi kekurangan pasokan jangka pendek.
5.3. Skenario “Stagnasi Negosiasi”
- Negosiasi terhenti tanpa ancaman militer yang nyata, tetapi ketegangan tetap tinggi.
- Premi risiko tetap di kisaran US$ 10‑12 /barel.
- Harga berada pada range US$ 73‑77 (Brent) dan US$ 68‑71 (WTI) untuk jangka menengah (1‑3 bulan).
6. Implikasi Kebijakan – Apa yang Harus Dilakukan?
-
Diversifikasi Sumber Energi
- Negara‑negara importir (termasuk Indonesia) disarankan meningkatkan cadangan strategis (strategic petroleum reserve) dan mempercepat transisi ke gas alam cair (LNG) serta energi terbarukan untuk mengurangi eksposur pada chokepoint seperti Hormuz.
-
Koordinasi Diplomatik Multilateral
- ASEAN, Uni Eropa, dan G20 dapat berperan sebagai mediator netral, menawarkan kerangka kerja “Track‑II diplomacy” yang melibatkan akademisi, think‑tank, serta perwakilan bisnis energi untuk meredakan ketegangan.
-
Kebijakan Harga Energi Domestik
- Pemerintah harus menyiapkan mekanisme penyangga (subsidi atau penyesuaian tarif) guna melindungi konsumen rumah tangga dan sektor transportasi dari fluktuasi harga yang tajam.
-
Regulasi Pasar Derivatif
- Pengawasan lebih ketat terhadap spekulasi berlebihan di pasar futures (mis. posisi net long/short > 10 % total volume) untuk mencegah distorsi harga yang tidak berdasar pada fundamental fisik.
-
Penguatan Kapasitas Keamanan Maritim
- Investasi pada sistem pemantauan satelit, kapal patroli, dan teknologi anti‑piracy di Selat Hormuz dapat menurunkan persepsi risiko militer, sekaligus menjamin kebebasan navigasi.
7. Kesimpulan – Antara “Glut” dan “War‑Risk Premium”
Meskipun fundamental pasokan masih menunjukkan surplus (glut) pada kuartal pertama 2026, premi risiko geopolitik kini menjadi penentu utama arah pergerakan harga minyak. Ketegangan antara AS dan Iran menghidupkan kembali “price‑risk premium” yang terakhir terlihat pada krisis 2012‑2013.
Jika diplomasi berhasil menurunkan ketegangan di Hormuz dalam waktu dekat, pasar dapat kembali ke level fundamental (US$ 70‑73 Brent). Namun, setiap indikasi eskalasi militer atau penutupan parsial jalur pengapalan akan menyuntikkan premi risiko yang cukup besar—dengan konsekuensi inflasi, penurunan pertumbuhan ekonomi, dan tekanan pada kebijakan moneter global.
Oleh karena itu, pemantauan geopolitik—termasuk retorika pemimpin, pergerakan pasukan, dan aktivitas maritim—harus menjadi bagian integral dari strategi perdagangan minyak, perencanaan energi nasional, serta kebijakan makroekonomi pada 2026‑2027 ke depan.
Tulisan ini bersifat analitis dan tidak dimaksudkan sebagai saran investasi. Selalu lakukan due‑diligence sebelum mengambil keputusan.