Adira Finance Luncurkan Obligasi dan Sukuk Senilai Rp 2,5 Triliun: Strategi Pendanaan Multi-Produk untuk Memperkuat Portofolio Pembiayaan Konsumen dan Motor Syariah 2026

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 9 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Gambaran Umum Penawaran

PT Adira Dinamika Multifinance Tbk (ADMF) akan menyalurkan dua instrumen pasar modal sekaligus pada 23 Februari 2026:

Instrumen Total Nilai Seri Nilai masing‑masing Tingkat Kupon / Bagi Hasil (%) Jangka Waktu
Obligasi Berkelanjutan VII Tahap III 2026 Rp 2 triliun A Rp 1,1 triliun 4,80 % (370 hari) 370 hari
B Rp 860 miliar 5,75 % (36 bulan) 36 bulan
C Rp 40 miliar 5,95 % (60 bulan) 60 bulan
Sukuk Mudharabah Berkelanjutan VI Tahap III 2026 Rp 500 miliar A Rp 400 miliar 4,80 % ekuivalen (370 hari) 370 hari
B Rp 100 miliar 5,75 % ekuivalen (36 bulan) 36 bulan

Penawaran ini merupakan offering berkelanjutan (sustainable offering) yang mendukung visi Adira Finance untuk memperluas basis pendanaan sambil menegaskan komitmen pada prinsip ESG (Environmental‑Social‑Governance) serta keuangan syariah.


2. Analisis Motivasi Strategis

2.1 Diversifikasi Sumber Daya Pembiayaan

Adira Finance, sebagai salah satu pemain utama di pasar pembiayaan otomotif dan konsumen Indonesia, selama ini sangat bergantung pada kredit bank (CIB) dan fasilitas sindikasi. Menambahkan obligasi konvensional dan sukuk memberi perusahaan dual‑track funding yang menurunkan konsentrasi risiko sumber dana.

  • Obligasi jangka pendek (370 hari) – memberikan likuiditas cepat untuk menambah portofolio kredit konsumer (motor, mobil pribadi, kredit tunai). Tingkat kupon 4,8 % masih kompetitif mengingat OTR (overnight rate) Indonesia diperkirakan berada di kisaran 5,5 %–6,0 % pada 2026.
  • Obligasi menengah‑panjang (36–60 bulan) – menyiapkan likuiditas berkelanjutan untuk pembiayaan cicilan kendaraan yang umurnya biasanya 3–5 tahun.

2.2 Peningkatan Akses ke Investor Institutional & ESG‑Focused

Klasifikasi idAAA (Triple A) dari Pefindo meningkatkan kepercayaan investor institusional domestik (BPJPM, dana pensiun, reksa dana) dan internasional yang mengutamakan rating tinggi dalam portofolio mereka. Selain itu, label berkelanjutan dan syariah menarik:

  • Investor ESG – obligasi berkelanjutan menandakan bahwa hasil dana akan dipergunakan untuk pembiayaan konsumen yang tidak menimbulkan dampak sosial negatif.
  • Investor Syariah – sukuk Mudharabah memberikan eksposur pada pasar keuangan Islam yang terus berkembang, terutama karena Indonesia adalah pasar syariah terbesar di dunia.

2.3 Sinergi dengan Kebijakan Pemerintah

Pemerintah Indonesia melalui OJK dan Kementerian Keuangan sedang mendorong pemerataan pembiayaan motor listrik serta financial inclusion bagi UMKM. Pendanaan yang diarahkan untuk “pembiayaan kendaraan bermotor dengan akad murabahah” selaras dengan upaya regulasi yang mempromosikan pembiayaan hijau dan inklusif.


3. Dampak Finansial Terhadap ADMF

Aspek Dampak Positif Potensi Risiko
Likuiditas Penambahan kas sebesar Rp 2,5 triliun meningkatkan coverage rasio likuiditas (LLR) dan memungkinkan ekspansi kredit tanpa menambah beban hutang jangka pendek yang terlalu tinggi. Peningkatan beban bunga (interest expense) terukur; sensitivitas terhadap pergerakan Suku Bunga BI.
Leverage Dengan tenor yang beragam, leverage dapat di‑stagger sehingga debt service coverage ratio (DSCR) tetap dalam zona aman (≥1,5). Risiko interest rate risk pada obligasi berjangka lebih panjang (5,75 %‑5,95 %).
Margin Kredit Dana baru dapat diarahkan ke segmen dengan margin lebih tinggi (mis. pembiayaan mobil baru, kredit kerja, pembiayaan listrik). Kemungkinan credit risk meningkat jika portofolio tidak dikelola secara ketat (NPL naik).
Brand Value Penetapan rating AAA yang konsisten memperkuat reputasi ADMF di pasar modal, membuka peluang untuk emission selanjutnya dengan biaya lebih rendah. Eksposur pada reputasi bila suku bunga pasar naik drastis atau terjadi penurunan rating.

Secara keseluruhan, penerimaan dana Rp 2,5 triliun diproyeksikan menambah net interest income (NII) sebesar Rp 250‑300 miliar per tahun (asumsi spread rata‑rata 1,5‑2 % di atas biaya dana). Ini akan meningkatkan laba bersih (net profit) sekitar 5‑7 % dibandingkan tahun 2025, tergantung pada kualitas portofolio baru.


4. Perspektif Investor

4.1 Obligasi Seri A (370 hari, 4,80 %)

  • Kelebihan: Jangka pendek, likuiditas tinggi, cocok untuk dana pasar uang atau fund yang mencari yield sedikit di atas OTR.
  • Pertimbangan: Risiko reinvestasi pada akhir periode bila OTR naik.

4.2 Obligasi Seri B & C (36–60 bulan, 5,75‑5,95 %)

  • Kelebihan: Yield lebih tinggi, cocok untuk dana pendapatan tetap dengan horizon menengah‑panjang.
  • Pertimbangan: Sensitivitas terhadap perubahan suku bunga (duration 3‑5 tahun) dan potensi penurunan harga obligasi di pasar sekunder jika rate naik.

4.3 Sukuk Mudharabah (Seri A & B)

  • Kelebihan: Sertifikasi syariah (idAAA(sy)), menarik bagi investor institusional syariah dan “green sukuk” yang berpotensi mendapat label tambahan ESG.
  • Pertimbangan: Bagi hasil ekuivalen mirip dengan kupon konvensional, tetapi dengan struktur profit‑sharing; perlu memperhatikan performa aset pembiayaan murabahah (mis. kendaraan listrik) agar tidak menurunkan return.

4.4 Analisis Rating

Pefindo memberikan rating idAAA (konvensional) dan idAAA(sy) (syariah). Pada 2026, rating AAA di pasar korporasi Indonesia masih langka; hal ini menandakan:

  • Kualitas Manajemen yang Tinggi – kontrol risiko kredit yang ketat, rasio NPL di bawah 2 %.
  • Kekuatan Neraca – struktur modal yang sehat (CAR > 30 %).
  • Kepatuhan pada ESG – mempermudah penilaian rating tambahan (mis. MSCI ESG).

Investor yang menilai rating sebagai faktor utama akan menempatkan ADMF sebagai investment‑grade dengan low default probability (≤0,5 % dalam 5 tahun).


5. Implikasi Makroekonomi dan Sektor

  1. Penguatan Pasar Modal Domestik
    Penawaran obligasi berkelanjutan sebesar Rp 2 triliun menambah depth pasar obligasi korporasi Indonesia, memperkaya benchmark untuk emitmen serupa di sektor consumer finance.

  2. Dukungan Pada Kebijakan Motor Listrik
    Dengan alokasi sebagian dana sukuk untuk akd murabahah pada pembiayaan kendaraan bermotor, ADMF berpotensi menjadi pemain utama dalam rollout mobil listrik (EV) di Indonesia. Ini selaras dengan target pemerintah 2,1 juta unit EV pada 2026.

  3. Peningkatan Persaingan di Sektor Pembiayaan Konsumen
    Kompetitor utama (BCA Finance, BFI Finance, Toyota Astra Finance) juga sedang menyiapkan program obligasi. ADMF dapat menangi pangsa pasar jika mampu mengonversi dana ke produk iuran digital (e‑financing, pay‑later) yang memiliki biaya akuisisi lebih rendah.

  4. Pengaruh Terhadap Nilai Tukar dan Inflasi
    Peningkatan permintaan obligasi domestik dapat menstimulus arus masuk modal asing (FDI) ke pasar obligasi, membantu menguatkan Rupiah. Namun, jika suku bunga global terus menguat, tekanan pada spread domestik dapat menipiskan margin ADMF.


6. Rekomendasi untuk Stakeholder

Stakeholder Tindakan Strategis
Manajemen ADMF - Implementasikan credit‑risk monitoring berbasis AI untuk portofolio baru.
- Luncurkan produk pembiayaan EV dengan skema “green financing” untuk memanfaatkan dana sukuk.
- Komunikasikan secara proaktif penggunaan dana agar investor melihat rasio use‑of‑proceeds yang jelas.
Investor Institusional - Pertimbangkan alokasi 5‑10 % portofolio fixed‑income ke obligasi ADMF karena rating AAA, likuiditas tinggi, dan exposure ke sektor konsumen yang defensif.
- Bagi investor syariah, sukuk Mudharabah ADMF menjadi tambahan strategis untuk diversifikasi tanpa melanggar prinsip Syariah.
Regulator (OJK, Kemenkeu) - Pantau kepatuhan penggunaan dana sukuk untuk pembiayaan murabahah sesuai prinsip syariah.
- Dorong penerbitan lebih banyak green sukuk dengan label “vehicular greenhouse‑gas reduction”.
Analyst & Media Keuangan - Laporkan secara periodik performa NPL, DSCR, dan penggunaan dana untuk menegaskan transparansi.
- Soroti keterkaitan antara obligasi ini dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia, khususnya #9 (Industri, Inovasi, Infrastruktur) dan #13 (Aksi Iklim).

7. Kesimpulan

Penawaran Obligasi Berkelanjutan VII Tahap III dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan VI Tahap III sebesar total Rp 2,5 triliun merupakan langkah strategis yang cerdas bagi ADMF. Dengan kombinasi rating AAA, struktur tenor beragam, dan alokasi dana yang terfokus pada pembiayaan konsumen serta kendaraan bermotor berbasis syariah, ADMF:

  1. Memperkuat likuiditas dan menurunkan cost of funding dibandingkan pendanaan bank tradisional.
  2. Meningkatkan profil ESG serta membuka pintu bagi investor institusional global yang menuntut standar keberlanjutan.
  3. Mendukung kebijakan pemerintah dalam akselerasi pembiayaan kendaraan listrik dan inklusi keuangan.
  4. Menciptakan peluang profitabilitas tambahan lewat spread yang kompetitif, sekaligus menjaga kualitas kredit melalui manajemen risiko yang ketat.

Jika ADMF mengeksekusi rencana penggunaan dana secara disiplin, serta tetap menjaga kualitas aset dan kepatuhan syariah, emisi ini dapat menjadi katalis pertumbuhan laba tahunan sebesar 5‑7 % serta memperkuat posisi ADMF sebagai pemimpin pasar pembiayaan konsumen yang berkelanjutan di Indonesia.

Dengan menatap ke depan, obligasi dan sukuk ini tidak hanya sekadar sarana pembiayaan, melainkan juga simbol integrasi antara pasar modal, keberlanjutan, dan inovasi keuangan di era transformasi digital dan hijau.