Minyak Dunia Di Persimpangan Ketegangan Iran-AS, Data Ekonomi Amerika, dan Upaya Mengakhiri Konflik Rusia-Ukraina: Apa yang Membuat Harga Tertekan dan Apa Skenario ke Depan?

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 11 February 2026

1. Ringkasan Peristiwa Utama (10 Feb 2026)

Aspek Fakta Kunci Dampak Langsung pada Harga
Harga Brent Turun 0,19 % menjadi US$68,91/barel Penurunan kecil, menandakan pasar masih “menahan napas”.
Harga WTI Turun 0,4 % menjadi US$64,1/barel Sinkron dengan Brent, menggarisbawahi sensitivitas terhadap sentimen geopolitik.
Geopolitik Negosiasi tidak langsung AS‑Iran di Oman; ketegangan di Selat Hormuz tetap tinggi. Pasar menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum mengambil posisi beli atau jual agresif.
Data Ekonomi AS Non‑farm payroll (11 Feb) & CPI (13 Feb) akan dirilis. Data ini dapat mengubah ekspektasi kebijakan Fed (suku bunga), yang pada gilirannya memengaruhi permintaan minyak.
Stok AS API diperkirakan melaporkan penambahan ~0,1 juta barrel (sangat tipis dibandingkan tahun lalu). Kelebihan stok yang kecil menurunkan kekhawatiran tentang kelebihan pasokan.
Rusia‑Ukraina Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang masih berjalan; produksi Rusia tetap pada level ketiga dunia. Jika konflik berakhir, potensi pasokan Rusia kembali penuh dapat menurunkan harga lebih lanjut.

2. Analisis Sentimen Pasar

2.1. “Waiting for the Signal”

Seperti yang dicatat oleh Gelber & Associates, pelaku pasar kini mengadopsi strategi “wait‑and‑see”. Ada tiga variabel kunci yang menjadi tolok ukur:

  1. Sinyal diplomatik – Apakah pertemuan di Oman menghasilkan pernyataan resmi atau tindakan konkret (mis. pengurangan operasi militer AS di Teluk)?
  2. Data persediaan – Apakah laporan API/EIA memperlihatkan penurunan signifikan stok atau lonjakan tak terduga?
  3. Kebijakan moneter AS – Jika data inflasi menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed, dolar AS dapat melemah, yang biasanya menguatkan harga komoditas termasuk minyak.

Sampai sinyal‑sinyal ini muncul, volatilitas tetap tinggi meski harga tampak “stagnan”.

2.2. Peran Selat Hormuz

  • Sekitar 20 % konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz.
  • Potensi gangguan (penyitaan kapal, penempatan kapal perang, atau serangan drone) dapat memicu risk premium yang cepat naik 1–3 USD/barrel, bahkan sebelum terjadi pemadaman aliran fisik.
  • Tantangan: Meskipun Iran menegaskan keinginan diplomatik, retorika militer dari AS (penempatan armada) menambah ketidakpastian.

2.3. Faktor Makro‑Ekonomi

  • Stok AS yang tipis (≈ 0,1 juta barrel) menunjukkan permintaan domestik yang kuat dan/atau penurunan produksi sementara.
  • Non‑farm payroll diperkirakan kuat (> 250 k). Jika benar, pasar tenaga kerja AS tetap kencang, mengindikasikan permintaan energi yang stabil.
  • Inflasi: Jika CPI turun di bawah ekspektasi, ekspektasi Fed dapat melunak, menguatkan dolar dan menekan harga minyak; sebaliknya, CPI yang lebih tinggi dapat memperpanjang kebijakan suku bunga tinggi, menurunkan permintaan energi dan menurunkan harga.

3. Dampak pada Rantai Pasokan Global

Faktor Efek pada Penawaran Efek pada Permintaan Catatan Penting
Iran‑US Negotiation Jika terjadi de‑escalation, aliran minyak Iran melalui Hormuz kembali lancar → Penawaran stabil. Tidak ada dampak signifikan pada permintaan. Kelebihan pasokan Iran (≈ 4 juta barrel/hari) dapat menurunkan harga lebih jauh.
Rusia‑Ukraina Penyelesaian konflik → Peningkatan produksi (Rusia kembali mengekspor melalui pelabuhan Mediterania). Permintaan Eropa terhadap minyak Rusia dapat mengurangi permintaan dari sumber lain. Kemungkinan penurunan harga global bila Rusia mengalirkan kembali 1,2 juta barrel/hari.
Kebijakan OPEC+ OPEC+ (termasuk Iran) masih menjaga output pada level yang menyeimbangkan pasar; tidak ada pemangkasan besar. Permintaan global dipengaruhi oleh kebijakan moneter dan pertumbuhan ekonomi (terutama Asia). Keputusan OPEC+ selanjutnya (sekitar Q2 2026) menjadi “watch‑list”.
Stok AS Stok tipis → Pasokan domestik dapat menambah tekanan beli (harga naik). Namun, jika permintaan domestik melemah karena kelesuan ekonomi, tekanan dapat berkurang. Data API/EIA selanjutnya sangat penting.

4. Skenario Harga Minyak ke Depan (Maret–Juni 2026)

4.1. Skenario Optimis (Negosiasi Iran‑AS Sukses, Konflik Rusia‑Ukraina Mereda)

  • Brent: US$71‑73/barel
  • WTI: US$66‑68/barel
  • Penggerak: Penurunan premi risiko geopolitik, penambahan pasokan Rusia, stabilitas aliran melalui Hormuz.

4.2. Skenario Moderat (Sentimen Tetap “Wait‑and‑See”)

  • Brent: US$68‑70/barel (kisaran saat ini)
  • WTI: US$63‑65/barel
  • Penggerak: Stok AS tipis, data ekonomi AS tidak mengubah ekspektasi Fed secara signifikan, ketegangan Iran‑AS tidak berubah.

4.3. Skenario Negatif (EskalasI di Hormuz atau Kebijakan Fed Ketat)

  • Brent: US$73‑76/barel atau lebih (jika terjadi gangguan aliran minimal 5 % di Hormuz).
  • WTI: US$68‑71/barel
  • Penggerak: Penutupan pelayaran, penurunan persediaan secara tiba‑tiba, atau Fed menaikkan suku bunga secara agresif yang menurunkan permintaan global.

5. Implikasi untuk Investor dan Pelaku Bisnis

  1. Posisi Hedging – Bagi perusahaan energi dan maskapai, forward contracts pada level US$70‑73 (Brent) dapat mengunci biaya sebelum potensi lonjakan.
  2. Strategi “Buy‑the‑Dip” – Jika data stok dan ekonomi menunjukkan kelangkaan pasokan (stok turun > 0,5 juta barrel sewaktu‑waktu), menambah posisi long pada level di bawah US$68 dapat menghasilkan upside signifikan.
  3. Diversifikasi Geografis – Karena ketergantungan pada Hormuz masih tinggi, pertimbangkan exposure pada produk energi alternatif (LNG, biofuel) atau pasar energi Asia‑Pasifik yang semakin mengalihkan konsumsi ke sumber non‑fosil.
  4. Pantau Kebijakan OPEC+ – Rapat OPEC+ berikutnya (biasanya tiap kuartal) dapat mengubah quota produksi secara mendadak; persiapkan rebalancing portofolio pada event‑driven basis.

6. Rekomendasi Tindakan Jangka Pendek (1‑4 minggu)

Tindakan Alasan Penanda Kunci
Menahan keputusan trading besar Sentimen masih “cautious”; volatilitas dapat meningkat secara tiba‑tiba. Rilis API (10 Feb) & EIA (11 Feb).
Membuka posisi short pada futures dengan expiry Q2‑2026 Jika data non‑farm payroll kuat dan Fed mempertahankan atau menaikkan suku bunga, permintaan dapat tertekan. Non‑farm payroll (11 Feb) & CPI (13 Feb).
Membeli opsi call dengan strike US$70 (Brent) Menjaga upside jika terjadi gangguan aliran atau de‑escalation cepat yang menurunkan stok dan meningkatkan premi risiko. Perkembangan diplomatik Oman‑Iran‑AS (setelah 12 Feb).
Menambah eksposur pada LNG spot market Permintaan Asia‑Pasifik terus naik; diversifikasi dari risiko minyak mentah. Data Asian demand (IMA, 2026 Q1).

7. Kesimpulan

  • Tekanan harga minyak pada 10 Feb 2026 lebih dipicu oleh ketidakpastian geopolitik (Iran‑AS) dan ketidakjelasan data ekonomi ketimbang oleh perubahan fundamental pasokan.
  • Stok AS yang tipis memberi sinyal permintaan domestik kuat, namun ketidakpastian kebijakan Fed dapat dengan cepat membalikkan tren.
  • Selat Hormuz tetap “tombol merah” yang dapat mengubah pasar dalam hitungan jam jika terjadi insiden militer kecil.
  • Outlook menengah tergantung pada tiga katalis utama: (a) hasil diplomatik di Oman, (b) rilis data non‑farm payroll dan CPI, serta (c) keputusan OPEC+ selanjutnya.

Investor dan pelaku industri sebaiknya menjaga fleksibilitas, menggunakan instrumen derivatif sebagai lindung nilai, dan memantau secara real‑time sinyal geopolitik serta data ekonomi AS. Dengan pendekatan yang disiplin dan berbasis data, risiko penurunan tajam dapat diminimalkan, sementara peluang pada pembalikan harga tetap terbuka.


Catatan: Analisis ini didasarkan pada informasi publik hingga 10 Feb 2026 dan dapat berubah seiring munculnya data atau peristiwa baru.

Tags Terkait