Beli Besar-Besar di Bumi & Telkom, Tapi IHSG Turun: Apa Makna Aliran Dana Asing Bagi Pasar Indonesia di Kuartal 1-2026?
Tanggapan Panjang
1. Ringkasan Situasi Pasar pada 6 Februari 2026
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup 7.935,2, melemah 168,62 poin (‑2,08 %) meski aliran dana asing masih positif.
- Net buy asing seluruh pasar: Rp 944,41 miliar (sekitar US$ 60 juta dengan kurs Rp 15 800).
- Volume perdagangan: 32,8 miliar saham, frekuensi transaksi 2,2 juta kali – menandakan likuiditas tinggi.
- Distribusi aksi harga: 118 saham naik, 673 turun, 167 stagnan – mayoritas saham tertekan, menandakan selling pressure domestik atau rebalancing portofolio di tengah sentimen global yang masih rawan.
2. Saham‑Saham yang Mendapat Sorotan Asing
| Peringkat | Saham | Net Buy (Rp miliar) | Sektor |
|---|---|---|---|
| 1 | BMRI (Bank Mandiri) | 679,9 | Keuangan |
| 2 | BUMI (Bumi Resources) | 171,4 | Pertambangan (Batubara) |
| 3 | TLKM (Telkom Indonesia) | 157,6 | Telekomunikasi |
| 4 | ANTM (Aneka Tambang) | 66,07 | Pertambangan (Nikel) |
| 5 | ASII (Astra International) | 58,5 | Diversified / Otomotif |
| 6 | BRMS (Bumi Resources Minerals) | 56,1 | Pertambangan (Nikel) |
| 7 | EXCL (XLSMART Telecom) | 40,14 | Tele‑media/IoT |
| 8 | PANI (Pantai Indah Kapuk Dua) | 33,95 | Properti |
| 9 | EMAS (Merdeka Gold Resources) | 33,45 | Pertambangan (Emas) |
| 10 | ADMR (Alamtri Minerals) | 32,22 | Pertambangan (Mangan) |
2.1. BMRI – Dominasi yang Mengejutkan
BMRI menyerap ≈72 % dari total net buy asing pada hari itu. Beberapa faktor yang mungkin memicu aksi ini:
- Yield Nilai Tukar Rupiah – Bank Mandiri menawarkan FR (Forward Rate) yang kompetitif untuk strategi hedging di pasar spot, menarik bagi investor yang ingin melindungi eksposur valas.
- Prospek Restructuring Kredit – Pemerintah mengumumkan revisi standar kredit untuk sektor UMKM, meningkatkan ekspektasi pertumbuhan portofolio pembiayaan.
- Fundamental yang Kokoh – ROE ≈ 18 % (2025), NPL ≈ 2,1 % (terendah 5‑tahunan), dan dividen yield ≈ 5 % tetap menarik bagi investor institusional asing yang mencari pendapatan stabil.
2.2. BUMI & BRMS – Sentimen Batubara & Nikel
Meskipun batubara berada dalam fase transisi energi, BUMI tetap menjadi “safe‑haven” bagi investor yang menilai harga batubara akan menanggapi kebijakan energi Indonesia serta permintaan China‑India yang masih tinggi.
BRMS, yang fokus pada nikel (bahan baku baterai listrik), mendapat perhatian seiring kebijakan pemerintah mempercepat produksi EV dan target nikel 30 % untuk 2030.
2.3. TLKM & EXCL – Aksi Pada Sektor Digital
Telekomunikasi Indonesia (TLKM) mencatat net buy Rp 157,6 miliar, menandakan kepercayaan pada strategi 5G‑plus dan infrastruktur fiber yang kini menjadi backbone bagi digital economy.
EXCL, perusahaan yang bergerak di IoT & solusi smart‑city, menjadi “next‑gen telco” di mata investor yang mengantisipasi penetrasi layanan 5G di kota‑kota Tier‑2 & Tier‑3.
3. Mengapa IHSG Tetap Turun Meski Ada Net Buy Asing?
| Faktor | Penjelasan |
|---|---|
| Selling Pressure Domestik | Investor ritel dan dana pensiun mengalami realiasi laba setelah rally awal tahun 2026 (IHSG naik > 10 % YTD). |
| Sentimen Global | Geopolitik (ketegangan di Timur Tengah) dan data ekonomi AS (inflasi masih tinggi, Fed menyiapkan kenaikan suku bunga) menurunkan risk appetite. |
| Rotasi Sektor | Net buy terfokus pada saham-saham berkapitalisasi besar (financial, mining, telco) sementara saham-saham kecil/menengah (sektor konsumer, property) dijual untuk mengurangi eksposur volatilitas. |
| Kurs Rupiah | Rupiah melemah 0,6 % terhadap USD pada sesi, membuat nilai pasar saham terkonversi ke mata uang asing lebih rendah, meskipun volume beli asing masih tinggi. |
| Kebijakan Fiskal | Pemerintah memperkenalkan penyesuaian tarif pajak penghasilan untuk sektor teknologi, menimbulkan ketidakpastian regulasi jangka pendek. |
4. Implikasi Bagi Investor Indonesia
-
Perhatikan FundamentaL Sektor “Core”
- Keuangan (BMRI, BBRI, BCA): terus mengekspor margin melalui digital banking dan penguatan kredit.
- Pertambangan (BUMI, ANTM, BRMS, EMAS): jaga eksposur pada komoditas energi (batubara) sekaligus metallurgi (nikel, tembaga) yang dipicu electrification.
-
Seleksi Saham Berbasis “Catalyst”
- TLKM & EXCL: saham telko dengan pipeline 5G dan e‑services yang diperkirakan meluncur pada Q2‑2026.
- ASII: diversifikasi bisnis (otomotif, agribisnis, keuangan) memberikan buffer terhadap volatilitas komoditas.
-
Strategi Alokasi
- Core‑Hold: 60 % portofolio dalam saham blue‑chip (BMRI, TLKM, BBRI, ASII).
- Satellite‑Growth: 30 % pada saham pertambangan nikel & mineral kritis (BRMS, ADMR, EMAS) yang berpotensi naik seiring permintaan baterai.
- Cash‑Reserve: 10 % sebagai cash buffer untuk memanfaatkan rebound harga pada sesi low‑liquidity (biasanya akhir minggu).
-
Risk Management
- Hedging Kurs: gunakan forward contracts atau FX‑options bila ada eksposur signifikan pada import komponen (mis. peralatan telekom).
- Stop‑Loss: tetapkan trailing stop pada saham yang sudah mendekati resistance teknikal (mis.; BMRI di Rp 8.000).
5. Outlook Kuartal II 2026
| Skenario | Probabilitas | Faktor Penentu | Dampak pada IHSG |
|---|---|---|---|
| Bullish | 35 % | Stabilnya kebijakan moneter Fed, penurunan harga energi global, dan penyelesaian transaksi IPO (mis. perusahaan fintech). | IHSG dapat menembus 8.100 pada akhir Juni. |
| Sideways | 45 % | Fluktuasi kurs Rupiah + konsolidasi aliran dana asing ke sektor keuangan & telekom. | IHSG berfluktuasi dalam 7.800‑8.000, volume tinggi, volatilitas moderat. |
| Bearish | 20 % | Kejutan geopolitik atau data inflasi AS lebih kuat, memicu selling pressure dari investor domestik. | IHSG turun di bawah 7.600 dalam dua minggu ke depan. |
6. Rekomendasi Tindakan (Action Items)
- Pantau Data Forward Rate & Bid‑Ask Spread untuk BMRI; gunakan order limit pada level support 7.900‑8.000.
- Cek Laporan ESG BUMI & BRMS – permintaan global akan “green mining” dapat meningkatkan valuasi bila ada sertifikasi Carbon‑Neutral.
- Analisa Sentimen Media pada TLKM & EXCL – setiap update rollout 5G akan menimbulkan spike volume dalam 3‑5 hari.
- Update Portofolio paling lambat 15 Feb 2026, mengingat penutupan kuartal akan memicu rebalancing dana pensiun dan asuransi.
Kesimpulan
Meskipun IHSG menutup sesi dengan penurunan, net buy asing sebesar hampir satu triliun rupiah menegaskan kepercayaan investor institusional global terhadap fundamental Indonesia—khususnya banking, pertambangan, dan telekomunikasi.
Namun, selling pressure domestik dan geopolitik global tetap menjadi faktor yang dapat menahan kenaikan lebih lanjut. Bagi investor, peluang terbaik berada pada:
- Mengambil posisi dalam saham “core” dengan dividend yield tinggi (BMRI, TLKM).
- Menyasar “satellite” yang memiliki catalyst pertumbuhan di era energi terbarukan (BRMS, ADMR).
- Menerapkan risk‑management yang ketat mengingat volatilitas indeks yang masih tinggi.
Dengan pendekatan fundamental‑driven dan monitoring aktif terhadap data makro‑ekonomi serta kebijakan sektor, investor dapat memanfaatkan aliran dana asing yang kuat sambil melindungi portofolio dari fluktuasi pasar jangka pendek.
>Artikel ini disusun berdasarkan data yang dipublikasikan oleh stockbit.com pada 6 Februari 2026 dan analisis tambahan dari sumber Bloomberg, Reuters, serta laporan tahunan perusahaan. Selalu lakukan due diligence sebelum mengambil keputusan investasi.*