BCA Januari 2026: Laba Tumbuh, NIM Menurun – Antara Penurunan Margin Bunga dan Kekuatan Pendanaan CASA

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 15 February 2026

Tanggapan dan Analisis Lengkap

1. Ringkasan Kinerja Januari 2026

Item Jan‑26 YoY MoM Catatan
Laba bersih Rp 4,99 tr  +5,76 % +12,77 % Didukung penurunan provisi & lonjakan komisi
Penyaluran kredit Rp 948,95 tr  +6,26 % Di bawah target 8‑10 % FY 2026
Pendapatan bunga Rp 7,74 tr  +0,21 % Beban bunga naik 8,28 %
NII Rp 6,62 tr  –1,04 % Net‑interest margin (NIM) turun ke 5,35 %
NIM 5,35 % –0,56 ppt Di bawah rentang manajemen (5,4‑5,6 %)
Komisi/fee Rp 1,71 tr  +13,00 % Penopang utama profit
Provisi Rp 262,25 m  –53,85 % CoC = 0,33 % (di bawah guidance 0,4‑0,5 %)
DPK (DPK total) Rp 1.225,42 tr  +9,37 % CASA 84,78 % (↑ 2,22 ppt)
LDR 77,44 % Likuiditas tetap baik
ROA 3,87 % Target 3,5‑3,7 %
ROE 21,93 % Target 21,5‑23,5 %

Inti: BCA berhasil mempertahankan pertumbuhan laba bersih meski NIM melemah. Penguatan pendanaan berbasis CASA dan efisiensi provisi menjadi pilar utama profitabilitas.


2. Penyebab Penurunan NIM

Faktor Dampak Penjelasan
Penurunan pertumbuhan kredit –0,56 ppt NIM Kredit hanya naik 6,26 % YoY, jauh di bawah target 8‑10 % FY 2026. Volume aset bunga (loan book) yang lebih lambat meningkatkan pendapatan bunga.
Kenaikan beban bunga +8,28 % YoY Suku bunga acuan BI‑Rate yang naik pada 2024‑2025 menyebabkan cost‑of‑fund meningkat lebih cepat daripada pendapatan bunga.
Komposisi pendanaan (CASA vs. Deposito) Positif untuk biaya dana, tetapi mengurangi margin CASA tinggi (84,78 %) memang menekan biaya dana, namun kontribusi deposito (yang biasanya ber‑margin lebih tinggi) turun –4,55 %, menurunkan “premium” bunga yang bisa dipindahkan ke kredit.
Pendekatan pricing kredit Tekanan margin Dalam rangka menjaga pertumbuhan loan, BCA kemungkinan menurunkan suku bunga kredit atau menambah promosi, yang menurunkan “spread” antara BIR dan cost‑of‑fund.

Secara keseluruhan, penurunan NIM mencerminkan struktur pendapatan yang bergeser: dari bunga ke fee‑based income, serta tekanan eksternal (BI‑Rate) yang belum sepenuhnya dapat di‑offset oleh cost‑saving pada dana.


3. Kekuatan yang Menjaga Profitabilitas

  1. Efisiensi Provisi

    • Penurunan provisi 53,85 % YoY menurunkan beban kredit secara signifikan. CoC 0,33 % berada jauh di bawah guidance 0,4‑0,5 % – menandakan kualitas asset yang tinggi dan manajemen risiko yang baik.
  2. Peningkatan Pendapatan Non‑Bunga

    • Komisi/fee naik 13 % YoY ke Rp 1,71 tr, menjadi kontributor utama untuk menutupi penurunan NII. Sektor layanan digital, kartu kredit, dan product‑bundling menjadi pendorong utama.
  3. Basis Dana CASA yang Kuat

    • CASA 84,78 % (tertinggi di antara bank swasta RI) menurunkan biaya dana secara signifikan (cost‑of‑fund). Ini memberi “cushion” ketika spread menurun.
  4. Likuiditas dan Leverage

    • LDR 77,44 % masih berada pada level yang aman (biasanya 80‑90 % dianggap optimal). Kredibilitas likuiditas membantu BCA mempertahankan rating kredit yang baik.
  5. Profitabilitas yang Konsisten

    • ROA 3,87 % dan ROE 21,93 % tetap berada dalam atau di atas target, menunjukkan efisiensi operasional dan pengembalian ekuitas yang tinggi.

4. Implikasi bagi Investor & Pemangku Kepentingan

Aspek Dampak Rekomendasi
Harga Saham Penurunan YTD –10,84 % (BBCA 7.200 pada 13‑Feb‑2026) Harga saat ini dapat dianggap undervalued relatif pada fundamental yang masih kuat. Investor jangka panjang dapat memanfaatkan koreksi ini.
Dividen BCA biasanya membayar dividend payout 45‑50 % dari laba bersih. Dengan laba naik 5,76 % YoY, dividend per share berpotensi meningkat atau setidaknya tetap stabil. Pantau pengumuman dividend pada RUPSLB Q1‑2026.
Risiko - Tekanan NIM berkelanjutan
- Keterbatasan pertumbuhan kredit di tengah target 8‑10 % FY‑2026
Diversifikasi pendapatan melalui fintech, wealth management, dan layanan korporasi dapat mengurangi ketergantungan pada spread kredit.
Strategi Manajemen Fokus pada profitabilitas non‑bunga, optimasi CASA, dan kredibilitas risiko Saran: Mempercepat peluncuran produk digital (BCA Digital, BCA Pay) yang berpotensi meningkatkan fee‑based income hingga 2‑3 % YoY.
Regulasi & Kebijakan BI Kebijakan suku bunga (BI‑Rate) yang lebih tinggi di masa mendatang dapat memperlebar cost‑of‑fund vs. BIR. Mitigasi: Hedging suku bunga (interest‑rate swaps) pada portofolio kredit yang sensitif.

5. Outlook 2026 – Apa yang Harus Diperhatikan?

  1. Target Penyaluran Kredit 8‑10 % FY‑2026

    • BCA perlu menambah laju kredit setidaknya 2‑4 ppt di atas realisasi Januari agar mencapai target tahunan. Hal ini dapat dicapai lewat:
      • Produk kredit konsumer ber‑rate kompetitif (KPR, KKB) dengan pendekatan data‑analytics untuk menilai risiko yang lebih akurat.
      • Kredit usaha mikro‑kecil (UMKM) dengan mekanisme fintech partnership untuk menurunkan biaya akuisisi.
  2. Perkembangan NIM

    • Dengan asumsi BI‑Rate tetap stabil atau naik sedikit, NIM diproyeksikan berada di kisaran 5,30‑5,45 % hingga akhir 2026, masih sedikit di bawah target manajemen 5,4‑5,6 %. Untuk menutup selisih:
      • Memperbesar “interest‑earning assets” dengan menambah funded assets yang ber‑margin tinggi (mis. kredit komersial).
      • Menjaga cost‑of‑fund tetap rendah melalui peningkatan CASA di atas 85 %.
  3. Pendapatan Non‑Bunga

    • Fee‑based income diharapkan tumbuh 15‑18 % YoY pada 2026, didorong oleh:
      • Digital banking (e‑money, pembayaran QRIS, BCA Cardless).
      • Wealth management (BCA Sekuritas, BCA Asset Management) yang menambah fee advisory.
      • Cross‑selling (asuransi, pinjaman kartu kredit, remitansi) melalui ekosistem digital.
  4. Kualitas Kredit & Provisioning

    • CoC 0,33 % menunjukkan portfolio yang sangat bersih. Asalkan manajemen risiko tetap ketat, provisi dapat tetap berada di level 0,3‑0,4 % – membantu mempertahankan profitabilitas.
  5. Risiko Makroekonomi

    • Potensi perlambatan ekonomi global dapat menekan permintaan kredit ritel. BCA harus siap dengan stress testing yang memadai, khususnya pada sektor properti dan otomotif yang responsif terhadap suku bunga.

6. Kesimpulan

  • Kinerja Januari 2026 menegaskan bahwa BCA mampu menghasilkan laba meski margin bunga tertekan, berkat kombinasi efisiensi provisi dan lonjakan fee‑based income.
  • NIM yang turun ke 5,35 % memberi sinyal bahwa penyusunan kembali pricing kredit dan pengelolaan biaya dana menjadi prioritas utama manajemen dalam setahun ke depan.
  • Kekuatan CASA (84,78 %) dan rasio likuiditas LDR 77,44 % memberikan buffer yang cukup untuk menahan volatilitas suku bunga dan mendukung target pertumbuhan kredit yang lebih agresif.
  • Bagi investor, penurunan harga saham (‑10,84 % YTD) dapat menjadi peluang masuk yang menarik, mengingat fundamental yang masih solid, ROE tinggi, dan prospek pendapatan non‑bunga yang menggiurkan.
  • Strategi ke depan: mempercepat pertumbuhan kredit dengan produk digital, meningkatkan fee‑based income, serta menjaga NIM melalui kombinasi CASA yang lebih tinggi dan penempatan aset yang lebih menguntungkan.

Rekomendasi akhir: Pantau secara cermat realisasi kredit kuartalan, perkembangan kebijakan suku bunga BI, dan peluncuran inisiatif digital BCA. Jika BCA berhasil menyeimbangkan kembali NIM sambil terus memperkuat pendapatan non‑bunga, prospektifnya tetap bullish dalam jangka menengah (12‑24 bulan).


Catatan: Analisis ini bersifat informatif, bukan rekomendasi jual/beli. Setiap keputusan investasi harus mempertimbangkan profil risiko masing‑masing dan dilengkapi dengan riset tambahan.