15 Bulan Borong Emas: China Mengukir Strategi Cadangan yang Memperkuat Yuan dan Menantang Dominasi Dolar

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 8 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Gambaran Umum Kegiatan Borong Emas China

Bank Sentral China (People’s Bank of China – PBOC) telah menambah 40.000 troy ons emas pada Februari 2026, menandai bulan ke‑15 berturut‑turut dalam rangkaian akuisisi yang dimulai pada November 2024. Jika persentase akumulasi selama periode tersebut diasumsikan rata‑rata 30–35 ribuan ons per bulan (berdasarkan data resmi dan laporan WGC), China kemungkinan telah menambah sekitar 450–525 ton emas ke cadangannya dalam satu setengah tahun.

Angka ini bukan sekadar “penyimpanan tambahan”; ia menempatkan China kembali di jajaran negara‑nasional dengan cadangan emas terbesar di dunia, menyalip sejumlah negara maju yang pada dasarnya mengandalkan obligasi pemerintah atau cadangan devisa non‑emas.

2. Mengapa China Meningkatkan Cadangan Emas Sekarang?

Faktor Penjelasan Dampak bagi Kebijakan
Dedolarisasi Upaya mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika dalam perdagangan internasional dan dalam cadangan resmi. Memungkinkan Yuan berperan lebih aktif dalam sistem pembayaran lintas‑batas; mengurangi eksposur China terhadap fluktuasi nilai tukar dolar dan sanksi AS.
Keamanan Ekonomi Emas dianggap “safe‑haven” yang tidak dapat didevaluasi secara unilateral oleh otoritas lain. Cadangan yang lebih keras (hard‑asset) menambah perlindungan terhadap risiko geopolitik (mis. konflik perdagangan, sanksi, atau tekanan politik).
Stabilisasi Nilai Yuan Dengan cadangan emas yang lebih besar, PBOC dapat menggunakan emas sebagai aset likuid untuk intervensi pasar bila diperlukan. Membantu menahan volatilitas Yuan, terutama bila ada tekanan spekulatif atau arus modal keluar yang besar.
Strategi Diversifikasi Sejak 2020, China secara bertahap menurunkan proporsi obligasi pemerintah AS dalam portofolio cadangannya. Gold menjadi komponen diversifikasi yang paling “neutral” dalam hal likuiditas dan kestabilan nilai jangka panjang.
Pengaruh Geopolitik Ketegangan antara China‑AS, serta ketidakpastian di kawasan Indo‑Pasifik, meningkatkan perlunya cadangan yang “tamper‑proof”. Emas dapat dipindahkan atau dijual di pasar internasional dengan cepat tanpa harus melewati jaringan perbankan yang rentan terhadap sanksi.

3. Relevansi Pasar Global dan Harga Emas

  • Kondisi Pasar Januari 2026: Spekulasi berlebih mendorong harga emas dan perak menembus level tertinggi historis, namun “rut” atau penurunan tajam di akhir Januari mengingatkan investor akan volatilitas yang tetap tinggi.
  • Pemulihan Parsial: Meskipun harga kembali naik, tren jangka panjang menunjukkan ketergantungan pada kebijakan bank sentral—terutama China dan negara‑nasional lain yang menambah cadangan.
  • Pengaruh Pembelian Bank Sentral: Menurut World Gold Council, pembelian bank sentral dunia pada kuartal terakhir 2025 mencapai >860 ton, menyumbang lebih dari 30 % permintaan total emas. Ini mengindikasikan bahwa aksi China berkontribusi signifikan terhadap dukungan harga emas di pasar spot dan futures.

Catatan: Harga emas masih dipengaruhi oleh asing factor—mis. kebijakan suku bunga Fed, data inflasi AS, serta dinamika geopolitik (perang Rusia‑Ukraina, ketegangan Taiwan). Namun, kehadiran “anchor” berupa cadangan emas yang kuat membuat pasar lebih tahan terhadap shock jangka pendek.

4. Implikasi bagi Yuan dan Sistem Keuangan Internasional

  1. Peningkatan Kredibilitas Yuan

    • Dengan cadangan emas yang lebih besar, China dapat menggunakan emas sebagai “backstop” dalam arti konvensional (meskipun tidak ada konversi resmi ke Yuan). Hal ini memberi sinyal bahwa Yuan tidak sepenuhnya “fiat” dan memiliki dukungan aset keras.
    • Hal ini dapat mempercepat adopsi Yuan dalam perdagangan bilateral, terutama dengan negara‑nasional yang sama-sama mencari alternatif dolar.
  2. Penguatan Posisi dalam “Belt‑and‑Road” (BRI)

    • Negara‑nasional partisipan BRI yang memiliki keterbatasan akses ke pasar keuangan AS dapat melihat cadangan emas China sebagai garansi likuiditas bila mereka memilih untuk melakukan transaksi dalam Yuan.
  3. Pengaruh pada Regulasi Cadangan Global

    • Kebijakan PBOC memaksa IMF dan BIS untuk meninjau kembali standar cadangan; beberapa analis memprediksi bahwa “gold‑weight” dalam perhitungan SDR (Special Drawing Rights) dapat meningkat dalam satu dekade ke depan.
  4. Risiko “Gold‑Dump”

    • Walaupun akumulasi emas memberi sinyal positif, pasar harus tetap waspada terhadap potensi penjualan besar‑besaran jika China menghadapi tekanan likuiditas akut (mis. krisis perbankan domestik). Namun, menimbang kekuatan fiskal China, skenario ini dianggap relatif rendah.

5. Perspektif Jangka Panjang: Apakah Tren Ini Berkelanjutan?

  • Faktor Pendukung:

    • Kebijakan “dual‑circulation” yang menekankan peran domestik sekaligus menguatkan posisi internasional.
    • Peningkatan sentimen anti‑dolar di kalangan negara‑nasional yang khawatir akan dominasi AS.
    • Kemajuan teknologi pembayaran (e‑RMB) yang memungkinkan Yuan menjadi mata uang “digital” dengan dukungan aset keras.
  • Faktor Penghambat:

    • Keterbatasan pasokan fisik emas: Penambangan global diperkirakan stabil pada ~3 000 ton/tahun; harga dapat naik signifikan jika permintaan institusional terus meningkat.
    • Tekanan Inflasi Domestik: Jika China harus mengalihkan likuiditas untuk menstabilkan pasar properti atau mengatasi kredit macet, alokasi ke emas dapat diprioritaskan kembali ke aset likuid lain (mis. obligasi pemerintah).
  • Kesimpulan:

    • Selama ketidakpastian geopolitik dan ketergantungan dunia pada dolar tetap tinggi, trend dedolarisasi bersama dengan akumulasi emas cenderung berlanjut. China, sebagai pemilik cadangan devisa terbesar, akan tetap memimpin aksi “gold‑first” ini, meski besaran bulanan dapat berfluktuasi tergantung pada kondisi likuiditas domestik.

6. Rekomendasi bagi Investor dan Pemerintah

Bagi Investor Bagi Pemerintah (Negara‑Nasional/Regional)
• Diversifikasi portofolio dengan gold‑ETF atau futures untuk menangkap upside dari aksi bank sentral.
• Pantau data PBOC dan WGC secara rutin; kejadian “spike” dalam akumulasi emas dapat menjadi indikator permulaan pergeseran makroekonomi.
• Evaluasi kembali rasio cadangan emas vs mata uang cadangan lainnya; meningkatkan proporsi emas dapat menambah “resilience” terhadap sanksi.
• Pertimbangkan kerjasama multilateral untuk standar cadangan berbasis emas (mis. kartu SDR yang di‑update).
• Manfaatkan platform pembayaran berbasis blockchain yang dapat menyertakan tokenisasi fisik emas sebagai aset likuid dalam sistem pembayaran internasional.

7. Penutup

Aksi borong emas selama 15 bulan berturut‑turut yang dilakukan oleh PBOC bukan sekadar reaksi jangka pendek terhadap fluktuasi harga komoditas. Ia mencerminkan strategi jangka panjang China untuk memperkuat kemandirian ekonomi, menegaskan posisi Yuan dalam sistem keuangan global, serta mengantisipasi skenario geopolitik yang semakin tak dapat diprediksi.

Jika tren dedolarisasi terus menguat, kita dapat menyaksikan pergeseran struktural di mana emas kembali menjadi “pilar utama” cadangan internasional—sebuah kebangkitan kembali nilai “hard asset” yang pada dasarnya menghubungkan kebijakan moneter, perdagangan internasional, dan stabilitas geopolitik dalam satu paket komprehensif.


Tulisan ini disusun berdasarkan data publik hingga 7 Februari 2026, laporan World Gold Council, serta analisis kebijakan moneter dan geopolitik terkini.

Tags Terkait