Serangan Besar Investor Asing di BUMI, BBCA, dan DEWA: Dampak Net-Sell Rp 12,4 triliun pada IHSG 8.131,7 & Sektor-Sektor Kunci di Hari 10 Februari 2026

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 10 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Gambaran Umum – Net‑Sell Asing Mencapai Rekor Tahunan

Hari Selasa, 10 Februari 2026, menandai kembali intensitas aksi jual bersih (net‑sell) investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Seluruh pasar mencatat net‑sell sebesar Rp 708 miliar, yang menambah akumulasi net‑sell tahunan menjadi Rp 12,4 triliun. Angka ini menempatkan periode Januari‑Februari 2026 sebagai salah satu fase paling “penyakitkan” bagi likuiditas saham di BEI sejak data BEI tersedia.

Beberapa faktor makro‑ekonomi yang kemungkinan mendorong aksi ini antara lain:

Faktor Penjelasan
Kebijakan moneter AS Kenaikan suku bunga The Fed yang berkelanjutan menambah biaya opportunity‑cost memegang aset berisiko di pasar emerging, mendorong aliran keluar modal ke safe‑haven (USD, obligasi AS).
Sentimen geopolitik Ketegangan di wilayah Indo‑Pasifik dan fluktuasi harga komoditas (minyak, tembaga) menambah ketidakpastian bagi investor asing yang mengandalkan eksposur komoditas Indonesia.
Data ekonomi domestik Inflasi CPI Indonesia yang masih berada di atas target (≈4,8 % YoY) serta pertumbuhan PDB Q4‑2025 yang melambat (≈4,1 %) memperburuk persepsi risiko.
Perubahan alokasi portofolio Fund global mulai mengalihkan bobot ke pasar Asia Tenggara lain (Vietnam, Filipina) yang menawarkan valuasi lebih menarik dan kebijakan fiskal lebih lunak.

2. Saham‑Saham yang Menjadi Target Net‑Sell Terbesar

Saham Net‑sell (Rp miliar) Keterangan
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) 483,1 Penurunan tajam dipicu oleh penurunan harga batu bara global, serta prospek produksi yang belum jelas setelah penutupan tambang Cikarang.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 328 Penjualan besar kemungkinan terjadi karena rebalancing portofolio sektor keuangan di tengah ekspektasi marginalisasi profitabilitas bank di tengah suku bunga tinggi.
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) 145,6 Keterkaitan dengan sektor energi terbarukan; investor menilai proyek‑proyek pembangkit listrik baru masih terlalu berisiko.
PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) 134,6 Saham properti hospitality yang rentan terhadap penurunan kunjungan wisatawan internasional setelah melemahnya dolar AS.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 129,8 Meski BRI memiliki basis nasabah yang kuat, kekhawatiran tentang eksposur kredit mikro‑UMKM di tengah inflasi menggerakkan aksi jual.

Interpretasi:

  • BUMI menjadi “jawara” net‑sell, menandakan aksi spekulan yang menantang valuasi sektor pertambangan. Jika tekanan ini berlanjut, kemungkinan price‑to‑earnings (P/E) BUMI dapat turun di bawah 6×, membuka peluang bagi investor yang bersedia menunggu rebound harga batu bara.
  • BBCA dan BBRI merupakan dua bank terbesar di Indonesia; penjualan massal menandakan “risk‑off” pada sektor keuangan, meski fundamentalnya masih cukup kuat. Ini menyiratkan bahwa aksi penjualan bersifat jangka pendek, dipicu oleh faktor eksternal, bukan fundamental yang memburuk.

3. Net‑Buy Asing: Counterbalance yang Penting

Meskipun net‑sell mendominasi, aksi net‑buy juga terdeteksi, terutama di:

Saham Net‑buy (Rp miliar)
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 472,8
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) 122,7

Analisis:

  • BMRI berhasil menarik modal asing karena eksposur yang lebih beragam (bank konsumer, korporasi, dan ritel digital). Investasi pada platform fintech dan kebijakan cost‑efficiency yang konsisten menambah daya tariknya.
  • TLKM tetap menjadi “blue‑chip” pilihan karena pipeline pendapatan dari layanan data 5G, layanan cloud, serta dividen yang stabil.

4. Pergerakan Indeks & Sektor‑Sektor

  • IHSG berakhir menguat 1,24 % (99,86 poin) ke level 8.131,7, menandakan bahwa meskipun net‑sell asing tinggi, aksi beli domestik (retail dan institusi lokal) cukup kuat untuk menahan tekanan turun.
  • Volume transaksi: Rp 20,3 triliun, tercatat meningkat 8 % dibanding hari sebelumnya, mengindikasikan likuiditas tetap tinggi.

Penguatan Sektor Terdepan

Sektor Penguatan (%)
Barang Konsumen Primer 2,9
Perindustrian 2,7
Properti 1,9
Infrastruktur 1,8
Transportasi 1,7
Energi & Barang Baku 1,58
Keuangan 1,3
Teknologi & Kesehatan 1,2
Konsumen Non‑primer 0,6

Catatan:

  • Barang Konsumen Primer memimpin penguatan, didorong oleh data penjualan retail yang menunjukkan peningkatan daya beli masyarakat, terutama pada produk makanan & minuman (CPO, gula, susu).
  • Sektor Properti menguat meskipun BUVA mengalami penjualan massal; hal ini dipicu oleh rebound permintaan rumah tapak di wilayah Jabodetabek setelah perlambatan kredit perumahan.

5. Saham “Top Cuan” – Peluang Spekulatif

Lima saham mencatat kenaikan >24 % dalam satu sesi:

Saham Kenaikan (%) Harga Akhir (Rp)
PT Vastland Indonesia Tbk (VAST) 34,6 171
PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI) 25,0 650
PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) 25,0 380
PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) 25,0 310
PT Ifishdeco Tbk (IFSH) 24,9 1.580

Interpretasi:

  • VAST dan FPNI terbukti “breakout” teknikal setelah melampaui resistance utama, dipicu oleh rumor akuisisi atau kontrak baru di sektor kimia/pertambangan.
  • MSIN mendapat dukungan dari ekspektasi pertumbuhan platform digital (MNC Play, MNC Vision), serta potensi merger dengan perusahaan fintech lokal.
  • NZIA dan IFSH masih relatif kecil (small‑cap) dengan likuiditas rendah; kenaikan besar dapat berbalik cepat jika sentimen berubah. Investor harus berhati‑hati dengan risiko volatilitas tinggi.

6. Saham yang Ambruk

  • ZONE ‑10,3 % | HOMI ‑9,8 % | PDES ‑7,6 % | NSSS ‑6,9 % | MYOR ‑5,2 %

Penurunan ini sebagian besar berhubungan dengan:

  • ZONE: Kegagalan proyek infrastruktur berjalan lambat, menurunkan ekspektasi pendapatan.
  • HOMI: Penurunan pendapatan sewa properti komersial akibat oversupply di wilayah utama.
  • PDES: Penurunan volume penjualan minuman dalam kemasan setelah kenaikan tarif cukai.
  • NSSS: Harga sawit turun secara global (‑6 % YoY) dan tekanan regulasi pada kebun kelapa sawit.
  • MYOR: Margin mengencang karena kenaikan biaya bahan baku (gula, susu) serta persaingan harga produk snack.

7. Implikasi Bagi Investor

Kategori Investor Rekomendasi
Investor Ritel Fokus pada saham BMRI, TLKM, serta sektor konsumen primer yang menunjukan fundamental kuat. Hindari spekulasi pada small‑cap yang mengalami volatilitas tinggi (VAST, NZIA, IFSH).
Investor Institusional (Dana Pensiun, Reksadana) Pertahankan eksposur ke bank-bank besar (BBCA, BBRI) dengan pendekatan dollar‑cost averaging, mengingat penurunan harga menciptakan entry point yang menarik.
Trader Jangka Pendek Manfaatkan gap‑up pada saham top cuan (VAST, FPNI) dengan stop‑loss ketat (≤2 %). Perhatikan volume order book untuk menghindari “pump‑and‑dump”.
Investor Asing / Portofolio Global Tinjau kembali alokasi ke sektor energi & pertambangan; pertimbangkan hedging via kontrak berjangka atau swap mata uang Rupiah untuk melindungi risiko nilai tukar.
Pengelola Portofolio ESG Perhatikan perusahaan BUMI dan DEWA yang terlibat dalam transisi energi; peluang dapat muncul bila ada kebijakan pemerintah yang mendukung investasi “green”.

8. Outlook Jangka Menengah (3‑6 Bulan)

  1. Kebijakan Moneter

    • Jika The Fed tetap agresif (suku bunga ≥5,5 %), aliran keluar modal ke EM (termasuk Indonesia) kemungkinan berkelanjutan.
    • Namun, “rate‑cut” pada akhir Q2‑2026 dapat memicu rebound modal asing, terutama ke saham bank dan infrastruktur.
  2. Data Ekonomi Domestik

    • Proyeksi inflasi di bawah 4,5 % pada Q3‑2026 akan memperkuat daya beli rumah tangga, mendukung sektor konsumen primer.
    • Pertumbuhan PDB diharapkan kembali ke 5 % setelah stimulus fiskal pada akhir 2025 (penurunan subsidi energi, peningkatan belanja infrastruktur).
  3. Kebijakan Pemerintah

    • Rencana Kebijakan Industri 2.0 (digitalisasi manufaktur) dapat menstimulasi sektor teknologi yang masih modest (pertumbuhan 1,2 %).
    • Penerapan tax holiday untuk investasi di energi terbarukan dapat mengubah sentimen negatif pada BUMI dan DEWA.
  4. Risk‑Reward Balance

    • Risk: Penurunan nilai tukar Rupiah, gejolak geopolitik, dan volatilitas harga komoditas.
    • Reward: Harga saham rata‑rata IHSG kini berada pada PE 13‑15×, lebih murah dibandingkan level 2022 (≈PE 17×). Potensi upside 10‑15 % dalam 6‑12 bulan jika aliran modal asing berbalik.

9. Kesimpulan

  • Net‑sell asing sebesar Rp 12,4 triliun mengindikasikan tekanan makro‑ekonomi global yang masih kuat, tetapi IHSG berhasil menutup dengan kenaikan 1,24 % berkat dukungan likuiditas domestik dan sektor konsumen yang solid.
  • BUMI menjadi “bintang” penjualan, namun penurunan ini membuka entry point bagi investor nilai yang bersedia menunggu pemulihan harga batu bara.
  • Bank Mandiri (BMRI) dan Telkom (TLKM) menjadi magnet bagi aliran modal asing, menandakan bahwa sektor keuangan‑telekomunikasi tetap paling defensif.
  • Sektor konsumen primer dan perindustrian memimpin penguatan, sementara teknologi masih perlu dorongan kebijakan lebih konkret.
  • Saham dengan volatilitas tinggi (VAST, FPNI, MSIN, NZIA, IFSH) menawarkan peluang spekulatif, namun investor harus siap dengan risiko koreksi tajam.
  • Untuk ke depan, monitor kebijakan Fed, inflasi domestik, dan paket stimulus pemerintah akan menjadi kunci dalam menilai arah aliran modal asing dan performa IHSG.

Rekomendasi akhir:
Pertahankan atau tambahkan eksposur pada bank‑bank besar dan saham konsumen primer, sambil menyiapkan strategi hedging bagi portofolio yang masih memiliki paparan signifikan pada saham pertambangan dan energi. Investor yang mampu memanfaatkan perbedaan antara sentimen risk‑off asing dan fundamental domestik yang kuat berpeluang memperoleh return yang memuaskan di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.