Risk-Off Menggerogoti Crypto: Mengapa Ether dan Bitcoin Terperosok di Tengah Sentimen Makro yang Memburuk?

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 10 February 2026

Tanggapan Panjang dan Analisis Mendalam

1. Gambaran Umum Situasi Pasar

Pada Selasa 10 Feb 2026, Ether (ETH) turun hampir 6 % ke level US$ 1 994, sementara Bitcoin (BTC) kehilangan 2,4 % dan terpaksa turun di bawah psikologis US$ 70 000, mencapai US$ 68 666. Penurunan ini menandai kelanjutan dari koreksi yang dimulai pada Oktober 2025—koreksi yang dimulai dengan penjualan massal aset kripto setelah kegagalan beberapa proyek DeFi besar dan kekhawatiran tentang kebijakan moneter Amerika Serikat.

Beberapa poin penting yang menonjol:

Aset Penurunan terakhir Level terkini Faktor utama
Ether (ETH) –6 % US$ 1 994 Tekanan bearish di level US$ 2,8k‑3k, aliran dana keluar ETF, funding rate negatif
Bitcoin (BTC) –2,4 % US$ 68 666 Funding rate negatif, arus keluar ETF, sentimen macro risk‑off
ETF Ether –US$ 462 jt (2023‑2026) Penarikan dana besar sejak Oktober 2025
ETF Bitcoin –US$ 1,8 miliar (2023‑2026) Penarikan dana besar sejak Oktober 2025

2. Mengapa Sentimen Risk‑Off Mempengaruhi Kripto Lebih Kuat Daripada “Digital Gold”?

  1. Korelasi dengan Pasar Saham dan Obligasi

    • Data historis sejak 2020 menunjukkan korelasi Pearson antara BTC dan indeks S&P 500 meningkat menjadi 0,55‑0,62 pada kuartal‑kuartal terakhir. Hal ini menandakan bahwa ketika investor menjauhi ekuitas berisiko, mereka juga melikuidasi eksposur kripto.
    • BTC tetap “berjalan” dalam kerangka kebijakan moneter Fed; keputusan suku bunga dan data inflasi AS masih menjadi driver utama.
  2. Keterbatasan “Safe‑Haven” Digital

    • Meskipun banyak narasi menempatkan Bitcoin sebagai “emas digital”, ia belum memiliki likuiditas dan kedalaman pasar yang setara dengan emas fisik. Pada saat pasar mengalami gejolak, likuiditas BTC dapat mengering, memperparah penurunan harga (fenomena flight‑to‑liquidity).
  3. Eksposur terhadap Risiko Makro Spesifik

    • Penguatan Dolar AS: Indeks DXY berada di zona 104‑106, menambah tekanan pada aset berbasis USD.
    • Ketegangan Geopolitik: Konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian politik di Eropa meningkatkan permintaan safe‑haven tradisional (emas, obligasi pemerintah).
    • Kebijakan Moneter: Fed menandai kemungkinan rate hikes lebih lanjut pada kuartal berikutnya, yang menekan aset berisiko pada jangka pendek.

3. Dinamika Derivatif: Funding Rates Negatif Sebagai Barometer Sentimen

Funding rates pada kontrak perpetual futures Bitcoin tetap berada di zona –$0,02 hingga –$0,05 per 8‑jam, menandakan mayoritas trader (termasuk institusi) mengambil posisi short. Ini penting karena:

  • Indikator Posisi Tertutup: Pedagang yang memegang short bersedia menanggung biaya pendanaan secara terus‑menerus, menandakan keyakinan penurunan harga lebih lanjut.
  • Pengaruh Likuiditas: Funding rate yang negatif menurunkan margin “long” yang tersedia, memperkecil peluang pembalikan harga jangka pendek.

4. Aliran Dana: Penarikan Besar dari ETF Kripto

ETF yang diperdagangkan di bursa (mis. BTC ETF, Ether ETF) menjadi “sentrifugal” utama bagi investor institusional yang ingin eksposur terkontrol. Penarikan total:

  • BTC ETF: US$ 7,9 miliar keluar sejak Oktober 2025, dengan US$ 1,8 miliar hanya dalam 2026.
  • ETH ETF: US$ 3,2 miliar keluar sejak Oktober 2025, dengan US$ 462 juta yang ditarik tahun ini.

Dampak:

  • Reduksi Likuiditas Pasar Spot: ETF menyalurkan likuiditas ke pasar spot melalui pembelian/pengembalian aset kripto. Penarikan mengurangi permintaan institusional yang biasanya menstabilkan harga.
  • Sinyal Kepercayaan: Investor institusional menganggap prospek jangka pendek kripto lebih berisiko dibandingkan aset tradisional, memperkuat narasi “risk‑off”.

5. Perspektif Politik: Pro‑Kripto Tidak Cukup

Kebijakan pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump (yang terpilih kembali pada akhir 2024) tetap mendukung inovasi blockchain dan memberikan kepastian regulasi. Namun:

  • Kebijakan Monetari Dominan: Kebijakan Fed dan data ekonomi makro “menyapu bersih” efek positif kebijakan pro‑kripto.
  • Regulasi Kewajiban: Pendekatan regulator AS (SEC, CFTC) pada pengawasan stablecoin dan kepatuhan AML/KYC menambah beban operasional bagi bursa kripto, menurunkan margin keuntungan bagi pedagang.

6. Apa yang Harus Dilakukan Investor? – Strategi Praktis

Tipe Investor Rekomendasi Strategis
Institusional / Alokasi Portofolio - Diversifikasi ke Aset Safe‑Haven (emas, obligasi pemerintah) untuk mengimbangi eksposur kripto.
- Monitoring Funding Rates secara harian; pertimbangkan penutupan posisi short bila funding menjadi terlalu mahal.
- Gunakan Produk Hedging (opsi BTC/ETH, futures) untuk melindungi downside.
Retail / Investor Jangka Menengah - Scale‑in / Scale‑out: Jika berencana menambah posisi long, lakukan secara bertahap pada level support kuat (mis. US$ 1 800‑1 900 untuk ETH, US$ 66 000‑68 000 untuk BTC).
- Stop‑Loss Ketat: Tempatkan stop‑loss sekitar 5‑8 % di bawah entry untuk menghindari penurunan tajam bila pasar berubah arah.
Trader Aktif (Day/ Swing) - Manfaatkan Funding Rate: Posisi short di perpetual futures dapat menghasilkan pendapatan funding selama pasar tetap bearish, namun perhatikan likuiditas dan volatilitas risiko tinggi.
- Strategi Pair‑Trading: ETH/BTC – selama ETH menunjukkan volatilitas lebih tinggi, trader dapat memanfaatkan divergensi relatif.

7. Outlook Jangka Pendek vs Jangka Panjang

  • Jangka Pendek (1‑3 bulan)

    • Skenario Bearish: Jika data CPI AS tetap tinggi dan Fed menurunkan harapan “pause” pada kenaikan suku bunga, maka tekanan risk‑off dapat berlanjut, menurunkan BTC ke zona US$ 63 000‑65 000 dan ETH di bawah US$ 1 800.
    • Skenario Bullish: Rilis data manufaktur yang lebih baik atau penyelesaian krisis geopolitik dapat memicu “risk‑on” kembali, menstimulasi aliran dana ke aset berisiko, sehingga BTC berhasil menembus kembali US$ 70 000 dalam 4‑6 minggu.
  • Jangka Panjang (6‑12 bulan ke atas)

    • Fundamental Kripto Tetap Kuat: Adopsi institusional, perkembangan Layer‑2 (Arbitrum, Optimism) dan peningkatan regulasi yang jelas dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang.
    • Kebijakan Moneter Stabil: Jika Fed mengakhiri siklus pengetatan suku bunga pada akhir 2026, likuiditas akan kembali mengalir ke aset berisiko, memberi ruang bagi BTC/ETH untuk kembali ke level tertinggi 2024‑2025.

8. Kesimpulan

Penurunan Ether dan Bitcoin pada awal Februari 2026 adalah manifestasi klasik dari risk‑off macro—dengan investor memindahkan modal ke aset aman ketika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat. Meskipun pemerintah AS menunjukkan sikap pro‑kripto, tekanan kebijakan moneter, penguatan dolar, dan aliran dana keluar dari ETF mengindikasikan bahwa dukungan politik saja tidak cukup untuk menahan dinamika pasar sesungguhnya.

Bagi investor, kunci utama adalah mengelola eksposur melalui diversifikasi, memantau indikator pasar derivatif (funding rates, open interest) serta memperhatikan aliran dana institusional. Sementara itu, bagi pelaku jangka panjang, fundamental blockchain—seperti inovasi teknologi, adopsi institusional, dan kebijakan regulasi yang lebih jelas—masih menjadi pendorong pertumbuhan yang lebih signifikan daripada fluktuasi siklus ekonomi jangka pendek.

Dengan menyesuaikan strategi sesuai fase siklus pasar (risk‑off vs risk‑on) dan memanfaatkan data mikro‑makro yang ada, para pelaku pasar dapat meminimalkan kerugian di periode bearish dan menyiapkan posisi untuk memanfaatkan potensi rebound ketika sentimen kembali beralih ke arah risk‑on di masa depan.

Tags Terkait