Lonjakan Harga Emas dan Perak pada 3 Feb 2026: Apa yang Mendorong Pemulihan Cepat dan Implikasinya bagi Investor Global?

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 4 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Ringkasan Pergerakan Harga Logam Mulia

Pada perdagangan Selasa, 3 Februari 2026, harga spot emas melompat 6,17 % menjadi US $4 947,61 per ons, sementara kontrak berjangka (futures) AS menyentuh US $4 971,01 per ons (+ 6,87 %).

  • Perak mengalami kenaikan yang lebih tajam: spot naik 7,95 % ke US $85,5 per ons dan futures naik 10,84 % ke US $85,42 per ons.

Lonjakan ini terjadi setelah penurunan dramatis pada akhir Januari, di mana emas hampir -10 % dan perak -30 % dalam satu hari—penurunan harian terburuk sejak 1980.

2. Penyebab Lonjakan: Dari “Panik” ke “Pemulihan”

a. Faktor Fundamentaldan Makroekonomi

Faktor Dampak pada Harga
Penguatan Dolar AS (penurunan akhir Januari) Membuat logam mulia relatif lebih mahal dalam mata uang lain, menekan permintaan.
Ekspektasi Kebijakan The Fed – terpilihnya Kevin Warsh sebagai calon Ketua Mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga agresif, mengurangi tekanan opportunity‑cost pada emas.
Ketidakpastian Geopolitik (ketegangan di Eropa, ketegangan perdagangan AS‑China) Memperkuat peran safe‑haven logam mulia.
Spekulasi Akhir Pekan & Penutupan Posisi Menyebabkan “overshoot” pada penurunan, kemudian “covering” otomatis pada pembukaan kembali pasar.

b. Faktor Teknis & Sentimen

  • Volume Trading Tinggi: Data perdagangan CME menunjukkan volume kontrak futures emas pada 3 Feb melampaui rata‑rata mingguan sebesar 2,9×.
  • Short‑Covering: Analyse short‑interest pada CME menunjukkan posisi short menurun dari 23 % (30 Jan) menjadi 15 % (3 Feb), menandakan penutupan posisi yang mempercepat rally.
  • Ketidakseimbangan Likuiditas: Pengurangan likuiditas pada akhir pekan (karena penutupan pasar utama) memperparah volatilitas, sehingga pergerakan harga pada pembukaan kembali menjadi lebih tajam.

c. Permintaan Industri – Terutama pada Perak

Studi Januari 2026 memperkirakan permintaan perak industri akan mencapai 48 000–54 000 ton/tahun pada 2030, dipicu:

  • Panel Surya (10 000–14 000 ton/tahun, ~41 % pasokan global).
  • Data Center & AI (kebutuhan solder, konektor, dan konektivitas elektronik).
  • Mobilitas Listrik & Baterai (penggunaan perak dalam konduktor listrik).

Keterbatasan pasokan (≈ 34 000 ton/tahun) menimbulkan structural deficit yang dapat menjadi “floor” bagi harga perak dalam jangka menengah‑panjang.

3. Dampak pada Saham dan ETF Tambang

Pasar Perusahaan / ETF Pergerakan (%) Catatan
London Rio Tinto +2,2 % Eksposur emas & tembaga, dukungan harga komoditas.
Anglo American +3 % Portofolio tambang luas, eksposur emas & nikel.
Antofagasta +2,5 % Penambangan tembaga, tetapi korelasi positif dengan logam mulia.
Fresnillo +3,1 % Produsen perak terbesar, benefisiari utama rally perak.
AS (ETF) ProShares Ultra Silver (AGQ) +15 % Leveraged ETF, mencerminkan volatilitas tinggi perak.
iShares Silver Trust (SLV) +8,3 % ETF fisik perak, aliran dana ritel signifikan.
Aberdeen Physical Silver Shares +8,3 % ETF fisik, likuiditas tinggi.
AS (Saham Tambang) Endeavour Silver +7,5 % (pra‑pasar) Produsen perak di Meksiko, sensitivitas tinggi perak.
Coeur Mining +7,7 % Diversifikasi ke emas & perak, pasar risk‑on.
Hecla Mining +8 % Fokus kuota perak & emas, nilai logam naik.
First Majestic Silver +8 % Produksi perak utama, peningkatan harga spot.

Interpretasi:

  • ETF Leveraged (ProShares Ultra Silver) memperlihatkan ekspektasi spekulatif jangka pendek.
  • ETF Fisik (SLV, Aberdeen) mengindikasikan aliran masuk dana institusional dan ritel yang menganggap logam mulia kembali menjadi safe‑haven.
  • Saham Tambang menguat lebih dari sekadar korelasi harga logam; mereka menandai perubahan sentimen risiko di antara investor institusional yang meningkatkan eksposur ke logam mulia dalam portofolio diversifikasi.

4. Pandangan Analitis: Jangka Pendek vs Jangka Menengah‑Panjang

4.1 Pendekatan Deutsche Bank & Barclays

  • Deutsche Bank: Menilai faktor fundamental masih solid, dengan spekulasi jangka pendek yang “over‑reactive”. Mereka menekankan bahwa posisi net net (institutional vs ritel) belum signifikan berubah menjadi lebih negatif.
  • Barclays: Menyatakan permintaan akan emas tetap kuat karena geopolitik dan diversifikasi cadangan devisa oleh bank sentral. Mereka memperingatkan bahwa kondisi teknikal (overbought) dapat memicu koreksi singkat, namun fundamental memperpanjang tren naik.

Keduanya sepakat bahwa volatilitas tinggi dapat mengakibatkan koreksi jangka pendek (5‑10 %), tetapi bias jangka menengah‑panjang tetap bullish.

4.2 Perspektif eToro (Zavier Wong)

  • Menekankan peran spekulatif ritel pada perak, yang membuatnya lebih sensitif pada sentimen.
  • Sorotan pada fundamental industri: pertumbuhan kebutuhan perak di panel surya & AI memberikan fundamental tailwinds yang dapat menahan harga di level $90‑$100 per ons dalam 2‑3 tahun ke depan, asalkan pasokan tetap terbatas.

4.3 Risiko‑Risiko Utama

Risiko Probabilitas Dampak Potensial
Penguatan Dolar AS kembali ke level 105‑110 (vs Euro) Medium Penurunan emas hingga 4‑5 % bila terjadi secara cepat.
Kebijakan Fed (kenaikan suku bunga agresif) Low‑Medium (mengacu pada kinerja ekonomi) Penurunan emas & perak, terutama pada short‑term.
Gejolak Politik (mis. konflik di Timur Tengah, sanksi energi Rusia) High Peningkatan tajam pada safe‑haven (emas).
Lonjakan Pasokan Perak (penambangan baru di Chile/Peru) Low Penurunan harga perak bila pasokan melebihi ekspektasi permintaan.
Kegagalan Regulasi ETF Leveraged / Pembatasan Leverage Low Volatilitas ETF turun, tetapi tidak mengubah harga spot.

5. Implikasi Praktis untuk Investor

  1. Rebalancing Portofolio

    • Alokasikan kembali sebagian kecil (2‑5 % dari total aset) ke ETF Fisik Emas & Perak (mis. GLD, SLV) sebagai hedge terhadap inflasi dan volatilitas pasar ekuitas.
    • Untuk investor agresif, pertimbangkan ETF Leveraged (AGQ) atau futures hanya bila ada toleransi tinggi terhadap risiko day‑trading.
  2. Diversifikasi ke Saham Tambang

    • Fokus pada perusahaan yang memiliki cadangan terbukti (Fresnillo, Hecla, Coeur) serta eksposur global (Rio Tinto, Anglo).
    • Screening fundamental: margin operasional, biaya produksi, dan posisi dalam joint‑venture yang dapat mengurangi risiko geopolitik.
  3. Strategi Jangka Menengah‑Panjang

    • Beli & Tahan (Buy‑and‑Hold) pada emas sebagai store of value; perkiraan trend tetap bullish hingga 2029‑2030, bertepatan dengan penurunan suku bunga dunia.
    • Perak dapat diperlakukan sebagai dual‑play: sebagai komoditas industri (panel surya) dan safe‑haven. Investor dapat menambah eksposur secara bertahap (dolar cost averaging) ketika harga kembali ke $85‑$90 sebagai “entry point”.
  4. Pantau Indikator Makro

    • US Dollar Index (DXY), Real Interest Rate (inflasi minus suku bunga), dan Policy Statements Fed.
    • Data Industri Perak: produksi Chile, Mexico, dan permintaan panel surya (IEA, BloombergNEF).
  5. Manajemen Risiko

    • Stop‑loss pada posisi futures/ETF leveraged di level -10 % untuk melindungi dari koreksi mendadak.
    • Hedging menggunakan options (mis. put options pada GLD/SLV) untuk melindungi nilai portofolio pada skenario bearish.

6. Kesimpulan

Lonjakan 6‑10 % pada emas dan perak pada 3 Feb 2026 bukan sekadar bounce back biasa; ia mencerminkan kombinasi koreksi posisi short, penurunan ekspektasi kebijakan Fed, serta penguatan permintaan industri—terutama pada perak.

  • Fundamental logam mulia tetap kuat: inflasi persisten, ketidakpastian geopolitik, dan defisit pasokan perak menandai bias bullish jangka menengah‑panjang.
  • Teknis memperlihatkan area overbought yang dapat memicu koreksi singkat; namun, volatilitas ini membuka peluang bagi investor yang siap menambah posisi pada level retracement (mis. 5‑10 % pull‑back).

Bagi investor institusional maupun ritel, strategi kombinasi—memegang sebagian dalam ETF fisik, menambahkan posisi pada saham tambang terdiversifikasi, dan mengelola risiko melalui options atau stop‑loss—akan memberikan keseimbangan antara keuntungan dari rally logam mulia dan perlindungan dari potensi koreksi.

Jika tren fundamental terus berlanjut dan tidak ada gangguan makroekonomi besar (seperti kenaikan tajam dolar atau kebijakan Fed yang sangat ketat), emas dapat menarget $5 000‑$5 200 per ons, sementara perak berpotensi mencapai $95‑$105 per ons dalam 12‑18 bulan ke depan.

Investor yang dapat mengidentifikasi titik masuk yang rasional (mis. retracement pada level 38.2‑50 % Fibonacci) dan menyesuaikan alokasi risiko secara dinamis akan berada pada posisi yang paling menguntungkan dalam fase pemulihan ini.


Catatan: Analisis ini bersifat informatif dan tidak menggantikan nasihat keuangan profesional. Selalu lakukan due‑diligence dan pertimbangkan profil risiko pribadi sebelum mengambil keputusan investasi.