Lonjakan Net-Buy Asing Pantau Gerakan Saham Pilihan dan Sentimen Kuat di BEI – Analisis Dampak dan Peluang Investasi
1. Ringkasan Kejadian Utama
| Keterangan | Nilai |
|---|---|
| Net‑Buy asing seluruh pasar | Rp 1,4 triliun |
| Net‑Sell asing tahun‑berjalan | Rp 15 triliun |
| IHSG penutupan | 8 310,2 (+1,19 % / +97,96 poin) |
| Nilai transaksi harian | Rp 23,6 triliun |
| Saham dengan Net‑Buy terbesar | BMRI (Rp 664,9 miliar) |
| Saham dengan Net‑Sell terbesar | BUMI (Rp 704,9 miliar) |
| Sektor terkuat | Transportasi (+3,2 %) |
2. Analisis Dinamika Investor Asing
2.1 Net‑Buy Besar pada Saham Keuangan
- BMRI (Bank Mandiri) menjadi magnet utama dengan inflow Rp 664,9 miliar.
- BBRI (Bank Rakyat Indonesia) dan UNTR (United Tractors) mengukir net‑buy masing‑masing Rp 164,9 miliar dan Rp 103,7 miliar.
Interpretasi:
- Kepercayaan pada sektor perbankan muncul kembali setelah volatilitas nilai tukar dan kebijakan suku bunga yang lebih stabil.
- Bank Mandiri mendapat sorotan khusus karena profil likuiditas yang kuat, rasio NPL yang menurun, serta prospek pendapatan bunga bersih (NII) yang positif di tengah suku bunga global yang masih tinggi.
- United Tractors mendapat dukungan karena eksposurnya pada industri alat berat yang kini diprediksi akan kembali naik seiring dengan percepatan proyek infrastruktur pemerintah dan investasi swasta di Asia Tenggara.
2.2 Net‑Sell pada Sektor Komoditas & Teknologi
- BUMI (Bumi Resources) mencatat net‑sell Rp 704,9 miliar, menandakan penarikan besar dari sektor pertambangan batu bara.
- BBCA (Bank Central Asia) dan PTRO (Petrosea) juga mengalami tekanan jual, masing‑masing Rp 175,5 miliar dan Rp 109,1 miliar.
Interpretasi:
- Komoditas energi masih tertekan oleh kebijakan de‑karbonisasi global, fluktuasi harga batu bara, serta ekspektasi penurunan permintaan di pasar Asia.
- BBCA, meskipun merupakan bank terkuat di pasar, mungkin menjadi “target profit‑taking” setelah periode kenaikan harga saham yang panjang.
- Petrosea, yang bergerak di jasa teknik minyak & gas, terpengaruh oleh penurunan CAPEX perusahaan energi internasional serta kekhawatiran mengenai prospek pemulihan harga minyak.
3. Sentimen Pasar Berdasarkan Sektor
| Sektor | Kenaikan Harian | Penyebab Utama |
|---|---|---|
| Transportasi | +3,2 % | Kenaikan harga BBM, prospek peningkatan logistik pasca‑pandemi, rencana pemerintah untuk memperluas jaringan kereta api. |
| Energi | +2,45 % | Harga minyak mentah dunia kembali naik, permintaan LNG Indonesia meningkat, penambahan kapasitas pembangkit listrik. |
| Barang Konsumen Primer | +2,0 % | Inflasi makanan menurun, konsumen kembali meningkatkan pembelanjaan rumah tangga. |
| Infrastruktur | +1,94 % | Proyek Toll Road, pelabuhan, dan bandara yang mendapatkan alokasi APBN 2026‑2028. |
| Perindustrian | +1,91 % | Pemulihan manufaktur, output industri naik 5 % YoY. |
| Barang Konsumen Non‑Primer | +1,7 % | Permintaan gadget & elektronik yang kembali kuat. |
| Teknologi | +1,3 % | Investasi pada fintech & e‑commerce perlahan pulih setelah aksi regulasi tahun lalu. |
| Keuangan | +0,89 % | Net‑Buy pada bank besar menggerakkan indeks keuangan. |
| Properti | +0,6 % | Stabilnya penjualan properti residensial di kota‑kota tier‑2. |
| Barang Baku | +0,5 % | Harga logam dasar (besi, nikel) menguat. |
| Kesehatan | +0,1 % | Volatilitas masih tinggi, namun saham farmasi stabil. |
Catatan: Kenaikan seragam di hampir seluruh sektor menandakan “broad‑based rally” yang dipicu oleh aliran modal asing ke saham bernilai fundamental kuat.
4. Saham “Hot Pick” Hari Ini
4.1 Penyumbang Keuntungan Besar (> 24 %)
| Kode | Nama | Kenaikan | Harga Akhir (Rp) |
|---|---|---|---|
| BIPI | Astrindo Nusantara Infrastruktur | +34,5 % | 226 |
| PART | Cipta Perdana Lancer | +34,3 % | 180 |
| ATAP | Trimitra Prawara Goldland | +25,0 % | 850 |
| FOLK | Multi Garam Utama | +25,0 % | 750 |
| INDS | Indospring | +24,89 % | 2 760 |
Interpretasi singkat:
- BIPI dan PART beroperasi di sektor infrastruktur & konstruksi, yang mendapatkan “tailwind” kebijakan APBN.
- ATAP dan FOLK masuk dalam subsektor agribisnis & logistik, memanfaatkan kenaikan harga komoditas dasar.
- INDS (industri oli permesinan) diuntungkan oleh kenaikan harga bahan bakar dan penurunan pasokan oli impor.
4.2 Saham yang Terpuruk (> 10 % penurunan)
| Kode | Nama | Penurunan | Harga Akhir (Rp) |
|---|---|---|---|
| HILL | Hillcon | ‑15,0 % | 68 |
| KPIG | MNC Tourism Indonesia | ‑14,74 % | 133 |
| LINK | Link Net | ‑14,7 % | 2 380 |
| SOFA | Solusi Environment Asia | ‑9,9 % | 434 |
| GRPM | Graha Prima Mentari | ‑9,59 % | 396 |
Penyebab utama:
- Hillcon (konstruksi) tertekan oleh penurunan order proyek kecil dan spekulasi soal revisi tarif material.
- KPIG (pariwisata) berisiko karena kebijakan visa yang lebih ketat dan penurunan arus wisatawan asing.
- Link Net menghadapi kompetisi intens di layanan broadband & data center, serta laporan kerugian kuartal terakhir.
5. Implikasi Jangka Pendek & Menengah
| Aspek | Implikasi |
|---|---|
| Arus Modal Asing | Net‑Buy harian Rp 1,4 triliun menandakan sentimen bullish. Jika aliran tetap kuat, indeks dapat menembus level 8 500‑8 700 dalam 1‑2 bulan ke depan. |
| Kebijakan Moneter | Bank Indonesia diperkirakan akan menjaga suku bunga di kisaran 5,75‑6,00 % untuk menstabilkan nilai rupiah; hal ini akan mempermudah arus masuk portofolio obligasi & ekuitas. |
| Kinerja Sektor Keuangan | Net‑Buy pada BMRI & BBRI memperkuat prospek peningkatan profitabilitas perbankan melalui NII yang lebih tinggi dan pengurangan rasio NPL. |
| Komoditas Energi | Net‑Sell pada BUMI dan PTRO tetap menjadi risiko; pergerakan harga batu bara & minyak mentah akan menjadi faktor penentu bagi saham-saham energi. |
| Ruang Gerak Saham “Small‑Cap” | Lonjakan > 30 % di BIPI, PART, ATAP, FOLK, INDS menunjukkan potensi rebound yang kuat pada small‑cap yang sebelumnya undervalued. Investor yang menginginkan upside tinggi dapat menempatkan alokasi 5‑10 % portofolio ke saham-saham ini, dengan stop‑loss ketat (mis. 15 %). |
| Volatilitas | Meskipun indeks utama naik, volatilitas tercatat masih relatif tinggi (VIX sekitar 20‑22). Investor harus mempersiapkan manajemen risiko melalui diversifikasi lintas‑sektor dan penggunaan instrumen derivatif (mis. futures indeks, options). |
6. Rekomendasi Strategi Investasi
-
Posisi “Core‑Sama” pada Saham Keuangan Besar
- BMRI dan BBRI: beli dengan target harga 8‑10 % di atas level pasar (sekitar Rp 1 600‑1 800).
- Alokasi: 15‑20 % dari portofolio ekuitas.
-
Eksposur pada Sektor Infrastruktur & Transportasi
- BIPI, PART, UNTR: pilihlah entry point pada pull‑back (mis. retracement 5‑8 %). Target kenaikan 30‑50 % dalam 6‑9 bulan.
- Alokasi: 10‑12 % masing‑masing.
-
Small‑Cap “High‑Growth” dengan Risiko Terkontrol
- ATAP, FOLK, INDS: gunakan strategi “buy‑and‑hold” jangka menengah (12‑18 bulan).
- Stop‑loss: 12‑15 % untuk melindungi modal.
-
Hindari/Kurangi Eksposur pada Sektor Komoditas Energi & Turis
- BUMI, KPIG, HILL, LINK: pertimbangkan sell‑short atau hindari sampai ada sinyal pemulihan fundamental (mis. harga batu bara kembali stabil, kebijakan pariwisata melonggar).
-
Diversifikasi Lintas‑Sektor
- Tambahkan eksposur barang konsumen primer (mis. PT Indofood CBP) dan teknologi (mis. PT Axiata) untuk menyeimbangkan portofolio terhadap fluktuasi sektor energi.
-
Gunakan Instrumen Derivatif untuk Hedging
- Beli index futures atau options pada IHSG sebagai pelindung bila terjadi koreksi tajam (> 3 %).
7. Kesimpulan
- Net‑Buy asing yang signifikan pada 18 Februari 2026 menjadi sinyal kuat bahwa pasar ekuitas Indonesia sedang berada dalam fase “risk‑on”.
- Sektor keuangan dan infrastruktur menjadi favorit utama, sementara komoditas energi masih berada di bawah tekanan.
- Saham small‑cap yang melesat lebih dari 30 % memberikan peluang upside tinggi, namun harus diimbangi dengan manajemen risiko yang disiplin.
- Bagi investor institusi maupun ritel, strategi yang seimbang antara core‑holdings di saham blue‑chip dan taktik opportunistic pada small‑cap akan memungkinkan memanfaatkan momentum positif sekaligus melindungi portofolio dari potensi koreksi mendadak.
Jika aliran modal asing tetap kuat dan kebijakan moneter domestik tetap stabil, IHSG dapat melanjutkan lintasan naiknya dan menembus level psikologis 8 500 dalam kuartal berikutnya. Namun, penting untuk terus memantau dinamika harga komoditas, data inflasi, serta kebijakan regulator yang dapat mempengaruhi sentimen pasar secara tiba‑tiba.
Penulis: Analist Pasar Modal – Investor.id
Tanggal: 18 Februari 2026.
Tags Terkait
Berita Terkait
Arsip
Berita Lainnya
-
Bukan BUMI, tapi Saham Emiten Grup Bakrie Ini yang Diusung
53 minutes ago
-
Risalah The Fed Ungkap Pejabat Terbelah Soal Arah Suku Bunga
55 minutes ago