Wall Street Kompak Menguat di Hari Akhir Pekan Libur Thanksgiving, Namun Nasdaq Tetap Tertinggal Secara Bulanan karena Penurunan Teknologi dan Kekhawatiran AI
Tanggapan Panjang dan Analisis Mendalam
1. Ringkasan Pergerakan Pasar pada 28 November 2025
- Nasdaq Composite: +0,65 % → 23.365,69 (rekor reli lima hari beruntun).
- S&P 500: +0,54 % → 6.849,09.
- Dow Jones Industrial Average (DJIA): +0,61 % (↗ 289,30 poin) → 47.716,42.
Walaupun ketiga indeks utama menutup lebih tinggi pada sesi singkat setelah Thanksgiving, Nasdaq masih mencatat penurunan bulanan hampir 2 %, mengakhiri tren kenaikan tujuh bulan yang sebelumnya menguatkan sektor teknologi. Sebaliknya, S&P 500 dan Dow berhasil mempertahankan momentum positif bulanan berkat dukungan sektor non‑teknologi dan “risk‑on” sentiment yang kembali muncul.
2. Faktor‑faktor Penggerak Kenaikan Hari Itu
a. Ekspektasi Pemotongan Suku Bunga Federal Reserve
- Probabilitas pemotongan: 80‑85 % menurut survei investor dan pernyataan Brian Mulberry (Zacks Investment Management).
- Implikasi: Jika Fed memang mengunci pemotongan kuartal poin pada Desember, ini akan menjadi pemotongan ketiga berturut‑turut (setelah September dan Oktober). Pasar menafsirkan langkah ini sebagai sinyal kebijakan moneter yang lebih longgar, yang biasanya memberi dorongan pada ekuitas, terutama sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan (mis. industri, konsumer, properti).
b. Sentimen “Risk‑On” yang Kembali Pulih
- Pelepasan kekhawatiran geopolitik (mis.: stabilisasi kebijakan perdagangan China‑AS, penurunan volatilitas energi) memberi napas lega pada para investor.
- Likuiditas tambahan: Tes market setelah Thanksgiving memungkinkan aliran dana baru dari institusi yang menunggu penyesuaian portofolio akhir tahun.
c. Penguatan Dow dan S&P 500
- Dow mendapat dorongan signifikan dari saham-saham blue‑chip (mis.: Boeing, UnitedHealth, Caterpillar) yang menunjukkan laba kuartal Q3 yang melampaui ekspektasi.
- S&P 500 terangkat oleh sektor keuangan (Bank of America, JPMorgan) dan konsumen (Coca‑Cola, Procter & Gamble) yang menikmati margin yang masih kuat meski suku bunga menurun.
3. Mengapa Nasdaq Masih Tertekan Secara Bulanan?
a. Penurunan Profitabilitas Jangka Panjang AI
- Valuasi berlebih: Pada paruh pertama 2025, banyak perusahaan AI (mis.: Nvidia, AMD, Palantir) naik 150‑200 % dari level tahun sebelumnya. Kenaikan ekspektasi pertumbuhan pendapatan yang belum terbukti menimbulkan koreksi ketika realisasi pendapatan Q3 tidak memenuhi proyeksi.
- Kendala regulasi: Diskusi kebijakan privasi data di Eropa (GDPR‑plus) dan Amerika Serikat (AI‑act) meningkatkan biaya kepatuhan dan menunda peluncuran produk AI.
b. Rotasi Sektor dari Teknologi ke Sektor Siklus
- Investor yang dulu “gaming the hype” pada AI dan cloud kini beralih ke saham siklus (energi, material, industri) yang menawarkan dividen lebih tinggi dan valuasi yang lebih wajar. Rotasi ini memperlemah dukungan harga pada Nasdaq, yang tetap didominasi oleh saham teknologi.
c. Kelemahan pada ‘Growth’ Stocks di Tengah Kebijakan Moneter
- Meskipun suku bunga diprediksi turun, risiko inflasi inti yang masih berada di atas target 2 % menahan kebijakan moneter yang lebih agresif. Pertumbuhan “high‑growth” saham biasanya paling sensitif pada ekspektasi suku bunga, sehingga mereka mengalami tekanan lebih besar dibandingkan saham “value”.
4. Dampak Jangka Pendek vs Jangka Panjang
| Aspek | Jangka Pendek (0‑3 bulan) | Jangka Panjang (12‑18 bulan) |
|---|---|---|
| Nasdaq | Kemungkinan volatilitas tetap tinggi; koreksi tambahan pada saham AI berisiko bila earnings Q4 tidak mengejutkan positif. | Jika AI terbukti menghasilkan margin berkelanjutan, valuasi dapat pulih dan Nasdaq kembali memimpin. Namun, perlu ada clarity regulasi dan adopsi skala luas. |
| S&P 500 & Dow | Dukungan terus dari sektor siklus dan keuangan; potensi run‑up bila Fed memang memangkas suku bunga pada Desember. | Penurunan suku bunga dapat meningkatkan consumer spending dan business investment, memperpanjang tren bullish untuk sektor non‑teknologi. |
| Kebijakan Fed | Jika pemotongan Desember materialisasi, pasar dapat melihat rally tambahan (terutama di sektor keuangan). | Kebijakan long‑term Fed (target inflasi, balance sheet reduction) akan menjadi penentu utama stabilitas pasar. |
5. Rekomendasi Strategi Portofolio
-
Diversifikasi Antara Growth & Value
- Growth: Alokasikan sebagian kecil (≤15 %) pada saham AI yang masih memiliki fundamental kuat (mis.: Nvidia dengan eksposur ke data center dan automotive).
- Value: Tingkatkan eksposur pada sektor keuangan, industri, dan konsumer (yang kini memimpin S&P 500 & Dow).
-
Posisi Sektor Energi & Material
- Dengan inflasi energi yang mulai menurun, namun permintaan global masih kuat, saham energi (mis.: ExxonMobil, Chevron) dan material (mis.: Freeport‑McMoRan) dapat menawarkan yield dan capital appreciation.
-
Manajemen Risiko Volatilitas
- Gunakan option strategies (mis.: protective puts pada Nasdaq) untuk mengurangi downside pada saham teknologi.
- Pertimbangkan ETF defensif (mis.: Utilities, Consumer Staples) sebagai “safe‑haven” bila pasar kembali ke “risk‑off”.
-
Pantau data ekonomi kunci
- PPI, Core PCE, dan Jobless Claims pada akhir Desember akan memberi sinyal apakah Fed akan melanjutkan siklus pelonggaran atau menahan diri.
- Rilis laba Q4 pada perusahaan AI (Nvidia, AMD, Palantir) menjadi titik tolak penting untuk mengevaluasi kelangsungan tren bearish pada Nasdaq.
6. Kesimpulan
Meskipun Wall Street menutup hari Jumat (28 Nov 2025) dengan semua indeks utama menguat, gambaran bulanan tetap menunjukkan bahwa Nasdaq masih berada di zona negatif, terutama karena tekanan pada saham teknologi dan keraguan atas profitabilitas jangka panjang model bisnis AI.
Sentimen “risk‑on” kini dipicu oleh ekspektasi pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve, yang bila terwujud akan memberi dorongan tambahan pada ekuitas, terutama di sektor keuangan dan industri. Namun, rotasi alokasi dana dari saham pertumbuhan ke saham nilai serta ketidakpastian regulasi AI dapat memperpanjang tekanan pada Nasdaq.
Bagi investor, kunci keberhasilan di kuartal akhir 2025 adalah keseimbangan antara peluang pertumbuhan di bidang AI dengan fondasi nilai yang lebih stabil, sambil terus memantau arah kebijakan moneter dan data ekonomi utama. Dengan strategi diversifikasi yang tepat dan manajemen risiko yang disiplin, portofolio dapat tetap tumbuh meski kondisi pasar tetap bergejolak.