Rupiah Terus Merosot di Tengah Gejolak Ekonomi Global dan Kegelisahan Domestik: Apa Penyebabnya dan Langkah Strategis yang Perlu Diambil?
Tanggapan Panjang dan Analisis Mendalam
1. Ringkasan Situasi Terbaru
Pada perdagangan Selasa sore, 10 Februari 2026, nilai tukar IDR/USD turun 7 poin menjadi Rp 16.812 per USD, meskipun sempat menguat 20 poin pada sesi sebelumnya. Penurunan ini terjadi meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah (AS‑Iran) sedikit mereda setelah Departemen Transportasi AS menyarankan kapal‑kapal AS menghindari Selat Hormuz dan Teluk Oman.
Beberapa faktor yang disebutkan oleh Ibrahim Assuaibi, Direktur PT. Traze Andalan Futures, meliputi:
- Data Ekonomi AS yang akan datang (Non‑Farm Payroll Januari 2026 dan CPI).
- Data Ekonomi China (CPI importir minyak) tepat sebelum Tahun Baru Imlek.
- Persepsi internal: Kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mendekati 80 %, namun belum cukup menstabilkan nilai tukar.
2. Penyebab Utama Pelemahan Rupiah
a. Ketidakpastian Kebijakan Moneter Amerika Serikat
- Non‑Farm Payroll (NFP) dan CPI adalah indikator utama bagi pasar untuk menilai arah kebijakan suku bunga Fed. Jika data NFP kuat dan inflasi tetap tinggi, pasar memperkirakan kenaikan suku bunga lebih lanjut atau penundaan penurunan.
- Kenaikan suku bunga AS memperkuat USD melalui aliran modal “carry trade”—investor menjual aset berisiko (termasuk IDR) dan memindahkan dana ke AS untuk memperoleh return yang lebih tinggi.
b. Risiko Geopolitik di Timur Tengah
- Walaupun ketegangan AS‑Iran sedikit mereda, masih terdapat ketidakpastian mengenai keamanan jalur pengiriman minyak. Setiap eskalasi dapat mengguncang harga komoditas (minyak, gas) yang sangat berpengaruh pada neraca perdagangan Indonesia, yang pada gilirannya menekan nilai tukar.
c. Data Ekonomi China
- China adalah mitra dagang utama Indonesia, terutama dalam ekspor batu bara, kelapa sawit, dan produk manufaktur. Jika CPI impor minyak China menunjukkan permintaan yang melemah, hal ini menandakan potensi penurunan impor energi Indonesia, yang dapat melemahkan neraca perdagangan dan menurunkan cadangan devisa.
d. Sentimen Domestik Versus Realitas Makroekonomi
- Tingginya indeks kepuasan masyarakat (≈80 %) mencerminkan dukungan politik, namun tidak secara otomatis meningkatkan kepercayaan investor. Investor internasional lebih memperhatikan fundamental ekonomi, defisit fiskal, cadangan devisa, serta kebijakan moneter domestik.
e. Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI)
- BI masih berada dalam kebijakan suku bunga yang relatif longgar dibandingkan AS. Jika inflasi domestik tetap terkendali, BI mungkin mempertahankan atau bahkan menurunkan BI Rate, yang bisa memperlemah IDR lebih jauh.
3. Implikasi Bagi Berbagai Pemangku Kepentingan
| Pemangku Kepentingan | Dampak Langsung | Dampak Tidak Langsung |
|---|---|---|
| Pemerintah & BI | Tekanan untuk menyesuaikan kebijakan moneter; potensi intervensi pasar valas. | Kredibilitas kebijakan dapat dipertanyakan jika tidak ada aksi yang jelas. |
| Exportir (komoditas) | Nilai penjualan dalam USD menjadi lebih tinggi → keuntungan margin. | Volatilitas nilai tukar menambah risiko perencanaan produksi dan kontrak jangka panjang. |
| Importir (bahan baku, barang modal) | Biaya impor naik, mengurangi profitabilitas. | Dapat memicu inflasi input cost, menurunkan daya beli konsumen. |
| Investor Asing | Potensi keuntungan spekulatif pada IDR yang lemah, namun risiko tinggi. | Penarikan modal bila ekspektasi depresiasi berlanjut, memperparah tekanan. |
| Masyarakat Umum | Kenaikan harga barang impor (mis. elektronik, bahan bakar) → beban hidup naik. | Inflasi dapat menggerus daya beli, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah. |
4. Langkah Strategis yang Dapat Diambil
4.1. Kebijakan Moneter yang Proaktif
- Penyesuaian Suku Bunga: Jika inflasi domestik tetap berada di kisaran target 2‑4 % dan tekanan depresiasi terus berlanjut, BI dapat menaikkan suku bunga secara bertahap untuk menarik kembali aliran modal.
- Operasi Pasar Terbuka (OPT): Intervensi penjualan USD dan pembelian IDR untuk menstabilkan pasar pada level teknis kunci (mis. Rp 16.800).
4.2. Diversifikasi Cadangan Devisa
- Memperkuat cadangan devisa dengan menambah aset berdenominasi non‑USD (mis. Euro, Yen, atau aset berbasis emas) guna mengurangi eksposur terhadap fluktuasi USD.
4.3. Penguatan Ekonomi Riil
- Peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) melalui investasi infrastruktur, terutama di sektor energi terbarukan yang dapat mengurangi ketergantungan pada impor minyak.
- Dukungan bagi UMKM agar tidak terlalu bergantung pada bahan baku impor yang harganya sensitif terhadap nilai tukar.
4.4. Komunikasi dan Transparansi
- Forward Guidance yang jelas dari BI mengenai rencana kebijakan moneter akan membantu menurunkan ketidakpastian pasar.
- Membuka dialog publik tentang faktor-faktor yang memengaruhi nilai tukar (geopolitik, data eksternal, kebijakan domestik) agar persepsi masyarakat dan investor selaras.
4.5. Pengelolaan Risiko Geopolitik
- Kerjasama diplomatik intensif dengan negara‑negara produsen minyak untuk memastikan kelancaran pasokan, sekaligus mempersiapkan strategi kontinjensi bila terjadi eskalasi di Selat Hormuz atau Teluk Oman.
- Diversifikasi sumber energi (e.g., LNG, energi terbarukan) untuk mengurangi vulnerability terhadap gangguan jalur laut.
5. Prospek Jangka Pendek vs Jangka Panjang
Jangka Pendek (1‑3 bulan)
- Volatilitas tinggi tetap dipengaruhi oleh data ekonomi AS (NFP, CPI) dan rilis CPI China.
- Penguatan USD kemungkinan masih berkelanjutan jika Fed terus menaikkan atau mempertahankan suku bunga tinggi.
- Intervensi BI yang terukur dapat menahan penurunan tajam, namun tidak akan mengubah tren depresiasi secara struktural.
Jangka Panjang (6‑12 bulan ke atas)
- Fundamental ekonomi Indonesia (pertumbuhan PDB >5 %, cadangan devisa yang kuat, defisit fiskal yang terkendali) tetap menjadi penopang nilai tukar.
- Reformasi struktural (peningkatan produktivitas, digitalisasi, pengembangan industri hilir) akan mengurangi ketergantungan pada komoditas dan memperkuat basis ekonomi riil.
- Jika kebijakan moneter global (Fed, ECB, BoJ) mulai melonggarkan, IDR dapat kembali menguat secara moderat.
6. Kesimpulan
Pelemahan rupiah pada 10 Februari 2026 bukanlah fenomena yang muncul secara tiba‑tiba, melainkan hasil akumulasi faktor eksternal (data ekonomi AS & China, ketegangan geopolitik) dan dinamika domestik (kebijakan moneter BI, sentimen politik). Meskipun tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah berada pada level tinggi, hal tersebut belum cukup untuk menetralkan tekanan pasar valuta asing.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, diperlukan kebijakan moneter yang responsif, intervensi pasar yang terukur, serta strategi jangka panjang yang menekankan diversifikasi ekonomi, penguatan cadangan devisa, dan mitigasi risiko geopolitik. Transparansi komunikasi dari Bank Indonesia sekaligus koordinasi lintas‑sektor antara pemerintah, pelaku industri, dan lembaga keuangan akan menjadi kunci utama dalam mengembalikan kepercayaan investor dan menstabilkan rupiah di tengah arus global yang masih tidak menentu.