Lonjakan Minat Asing di BBRI: Apa Makna Kenaikan Harga 2,33 % dan Potensi Dampaknya Bagi Investor Domestik?

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 25 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Ringkasan Peristiwa

Pada sesi I perdagangan Rabu, 25 Februari 2026, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan kenaikan 2,33 % dan diperdagangkan pada harga Rp 3.950. Data IDX mengungkap:

  • 199,4 juta saham diperdagangkan (≈ 5,04 % total float BBRI).
  • 30.450 transaksi tercatat, menandakan likuiditas tinggi.
  • Nilai transaksi Rp 784,4 miliar, menempatkan BBRI di puncak net‑buy asing pada sesi I.

Stockbit menambahkan bahwa net‑buy asing di BBRI mencapai 78.488.300 saham, menjadikannya posisi kedua untuk volume beli bersih asing pada pertengahan hari.

Secara historis, BBRI menguat 3,6 % dalam seminggu, 3,12 % dalam sebulan, dan 8,47 % year‑to‑date (YTD).


2. Mengapa Asing “Bergerak” ke BBRI?

Faktor Penjelasan
Fundamental yang Kokoh BBRI tetap menjadi bank “pelat merah” terbesar di Indonesia dengan basis nasabah luas, penetrasi UMKM tinggi, serta rasio NPL (Non‑Performing Loan) yang relatif rendah.
Valuasi Menarik PER (Price‑Earnings Ratio) BBRI masih berada di bawah rata‑rata sektor perbankan (sekitar 12‑13×) sementara dividen yield mencapai 4‑5 % – kombinasi yang menarik bagi investor institusional.
Prospek Kebijakan Moneter Bank Indonesia diperkirakan akan menjaga suku bunga pada level 6,00‑6,25 % selama 2026, memberikan margin bunga (NIM) yang stabil.
Akses Pasar Modal Global Penambahan BRI ke ETF “Emerging Markets Financials” dan “Asia Banking” pada akhir 2025 meningkatkan eksposur institusi luar negeri.
Sentimen Positif Pasar Domestik Peningkatan konsumsi domestik, proyek infrastruktur, dan reformasi digital banking meningkatkan ekspektasi pertumbuhan laba.

3. Implikasi Bagi Investor Lokal

  1. Kenaikan Harga Jangka Pendek
    Net‑buy asing sebesar 78,5 juta saham pada satu sesi menciptakan tekanan beli yang kuat, menggerakkan harga ke level Rp 3.950. Bagi trader harian, peluang short‑term swing terbuka, terutama pada pull‑back atau koreksi ringan.

  2. Dukungan Harga Jangka Menengah
    Jika aliran dana asing tetap berkelanjutan, BBRI dapat menguat lebih jauh, menguji level psikologis Rp 4.000. Breakout di atas titik tersebut dapat menarik lebih banyak aliran dana discretionary dan meningkatkan volatilitas positif.

  3. Pertimbangan Valuasi
    Meskipun harga naik, BBRI masih diperdagangkan dengan PE di kisaran 10‑11× (lebih murah dibanding kompetitor seperti BCA atau Mandiri). Ini memberi ruang “margin of safety” bagi investor yang menargetkan return dividend serta capital gain.

  4. Risiko yang Perlu Diwaspadai

    • Fluktuasi Kurs Rupiah: Penurunan nilai tukar dapat mempengaruhi profitabilitas bank yang memiliki exposure pada pinjaman dalam mata uang asing.
    • Kebijakan Pemerintah: Setiap perubahan regulasi perbankan (mis. limit rasio kredit mikro) dapat menekan margin.
    • Kondisi Global: Tekanan suku bunga AS atau resesi global dapat memicu arus keluar (sell‑off) dari emerging markets, termasuk BBRI.
  5. Strategi Posisi

    • Investor Pasif (Long‑Term): Tambahkan posisi BBRI di portofolio diversifikasi, mengingat fundamental kuat dan dividend yield menggiurkan.
    • Investor Aktif (Swing/Day Trade): Manfaatkan level support di Rp 3.860‑3.880 dan resistance di Rp 4.030‑4.050 dengan stop‑loss ketat (≤ 2 %).

4. Outlook 2026‑2027

Tahun Proyeksi EPS (per saham) Target Harga (dengan PE 12×) Catatan
2026 Rp 1.120 – 1.150 Rp 4.300 – 4.380 Asumsi NIM stabil + pertumbuhan kredit 9‑10 %
2027 Rp 1.250 – 1.280 Rp 4.800 – 4.950 Bonus digital banking, ekspansi fintech partnership

Jika aset pinjaman tetap mempertahankan kualitas, ROA dapat meningkat menjadi 2,0 % dengan ROE mencapai 18‑19 %, mengokohkan BBRI sebagai “blue‑chip” sektor keuangan.


5. Kesimpulan

  • Net‑buy asing yang signifikan pada 25 Feb 2026 menegaskan kepercayaan global terhadap kualitas fundamental dan valuasi BBRI.
  • Kenaikan 2,33 % pada sesi I diiringi oleh volume tinggi dan nilai transaksi yang menembus Rp 784 miliar, menciptakan momentum bullish yang cukup kuat.
  • Investor domestik dapat memanfaatkan situasi ini dengan dua pendekatan utama:
    1. Posisi jangka panjang – menambah eksposur kepada saham yang diperkirakan akan terus mengungguli pasar seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia.
    2. Posisi jangka pendek – menunggu koreksi atau break‑out untuk meraih keuntungan trade‑based.

Secara keseluruhan, BBRI berada pada posisi strategis untuk menerima aliran modal asing lebih lanjut, asalkan tetap menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi operasional, dan menyesuaikan diri dengan dinamika regulasi serta kebijakan moneter. Bagi investor, saat ini adalah momen yang tepat untuk meninjau kembali alokasi sektor keuangan dalam portofolio, khususnya dengan menambahkan atau menambah porsi BBRI sebagai “anchor stock” yang stabil namun tetap memiliki potensi upside yang menarik.

Tags Terkait