JPMorgan Tetap Optimis pada Bitcoin Jangka Panjang Meski Harga Mengalami Tekanan: Apa Makna “US $ 266 000” bagi Investor Indonesia?

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 6 February 2026

1. Ringkasan Inti Laporan JPMorgan

Poin Utama Detail
Perbandingan Bitcoin vs. Emas JPMorgan menyatakan bahwa pada 2025‑2026 harga emas naik > 60 % karena belanja bank‑sentral, sementara Bitcoin mengalami penurunan bulanan berulang dan performa lebih buruk dibandingkan aset risiko utama.
Sentimen Negatif Penjualan besar‑besaran terjadi pada ETF Bitcoin dan Ether Spot, serta penurunan pasokan stablecoin, menandakan kepanikan di kalangan institusi dan ritel.
Visi Jangka Panjang Meski volatilitas Bitcoin jauh lebih tinggi, analis JPMorgan (dipimpin Nikolaos Panigirtzoglou) menilai bahwa dalam skenario “safe‑haven” Bitcoin masih lebih menarik daripada emas bila volatilitasnya dapat menurun.
Target Volatilitas‑Adjusted Jika volatilitas Bitcoin menurunkan ke level yang mirip emas, model JPMorgan menghitung nilai setara US $ 266 000 per BTC (dengan asumsi volatilitas yang sama). Hal ini dianggap “tidak realistis untuk tahun ini,” namun menjadi indikator potensi upside jangka panjang.
Kesimpulan Bitcoin diproyeksikan kembali menjadi alternatif lindung nilai setelah sentimen negatif berbalik, meski tidak ada jaminan nilai target yang ekstrim.

2. Mengapa JPMorgan Menilai Bitcoin Lebih Menarik Daripada Emas?

  1. Keterbatasan Pasokan – Bitcoin memiliki suplai tetap 21 juta BTC, sehingga tidak dapat didepresiasi oleh kebijakan moneter. Emas, meskipun terbatas, masih dapat “dilakukan”—misalnya lewat penambangan baru atau penjualan cadangan bank sentral.

  2. Keterbukaan Akses Global – Setiap orang dengan koneksi internet dapat mengirim, menerima, atau menyimpan Bitcoin tanpa memerlukan izin regulator setempat. Emas masih membutuhkan infrastruktur fisik (gudang, transportasi, asuransi).

  3. Keterpaduan dengan Teknologi Keuangan – Bitcoin terintegrasi dengan DeFi, stablecoin, dan protokol pembayaran lintas‑border, yang memberikan utilitas tambahan di luar sekadar “store of value”.

  4. Pengaruh Sentimen Makro – Pada periode volatilitas pasar ekuitas & teknologi, aset digital sering kali menjadi “risk‑on” (jika prospek teknologi menguat) atau “risk‑off” (jika investor mencari likuiditas). JPMorgan menyoroti bahwa saat risiko teknologi menurun, Bitcoin dipandang sebagai alternatif lindung nilai yang lebih modern daripada emas.


3. Analisis Konteks Pasar Indonesia

Aspek Implikasi Bagi Investor Indonesia
Regulasi OJK dan Bank Indonesia belum mengeluarkan regulasi khusus bagi kripto, namun sejak 2022 ada kerangka hukum “e‑money” yang dapat diterapkan. Investor harus memantau keputusan BI tentang stablecoin serta larangan ICO.
Akses ke ETF Saat ini belum ada ETF Bitcoin atau ETF Ether Spot yang diperdagangkan di BEI. Namun, investor dapat membeli produk offshore (mis. GBTC, ETHE) lewat broker internasional, yang membawa risiko kurs dan pajak.
Kepemilikan Emas Fisik Tingginya minat emas fisik (mis. gold bars, koin) masih kuat di Indonesia karena budaya “safe haven”. Namun, akses ke ETF emas (mis. GLD) lebih mudah dan memberikan likuiditas tinggi.
Infrastruktur Krypto Platform lokal (Indodax, Tokocrypto, Luno) kini menyediakan staking, DeFi gateway, dan NFT marketplace, memperluas case use Bitcoin dan aset digital lain.
Pajak Penghasilan dari jual‑beli kripto tetap dikenakan PPh 22 (10 % final tax). Penjualan aset digital yang dianggap “investment” dapat menambah beban pajak, berbeda dengan emas yang biasanya dikenakan PPh 23/PPN.

4. Menilai Target US $ 266 000: Realistis atau Hanya Simulasi “What‑If”?

4.1 Metodologi yang Dipakai JPMorgan

  • Volatilitas‑Adjusted Valuation: Menggunakan model Black‑Scholes atau GARCH untuk menstandarisasi risiko harga Bitcoin ke volatilitas emas (~15‑20 % tahunan).
  • Asumsi Suku Bunga: Menyertakan risk‑free rate (US Treasury) dan risk premium untuk aset digital.
  • Hipotesis Penurunan Volatilitas: Model mengasumsikan bahwa volatilitas Bitcoin turun drastis dalam horizon 5‑10 tahun (mis. ke 15 %).

4.2 Faktor Penghambat Pencapaian

Faktor Penjelasan
Regulasi Global Kebijakan larangan atau pajak tinggi dapat mengurangi permintaan institusional.
Adopsi Institusional Penurunan partisipasi ETF dan fund besar dapat mengekang permintaan likuiditas.
Persaingan Crypto Lain Ethereum, Solana, atau jaringan Layer‑2 yang menawarkan kecepatan & biaya lebih rendah dapat mengalihkan aliran modal.
Ketergantungan pada Sentimen Makro Jika inflasi turun dan kebijakan moneter “normal”, dorongan ke safe‑haven dapat beralih kembali ke emas atau mata uang kuat.
Risiko Teknologi Serangan siber, bug pada protokol, atau siklus “hard‑fork” yang kontroversial dapat menurunkan kepercayaan pasar.

4.3 Skenario Alternatif

Skenario Harga BTC (2026‑2030) Catalysts
Bullish Ekstrem > US $ 150 k Adopsi pembayaran global, regulasi ramah, masuknya dana pensiun.
Steady Growth US $ 70‑100 k Penurunan volatilitas moderat, adopsi institusional terbatas, iklim regulasi stabil.
Stagnasi / Bearish US $ 30‑45 k Regulasi keras, kegagalan protokol, persaingan alt‑coin.

Kesimpulan: Target US $ 266 k lebih bersifat “theoretical ceiling” yang menunjukkan potensi upside bila Bitcoin menjadi low‑volatility store of value. Realita pasar 2025‑2026 masih jauh dari skenario itu.


5. Implikasi Praktis Bagi Investor di Indonesia

  1. Diversifikasi Portofolio

    • Alokasi: Pertimbangkan alokasi 5‑10 % dari total aset ke Bitcoin sebagai eksposur upside; sisakan 30‑40 % di emas (fisik atau ETF) sebagai defensive hedge.
    • Time‑Horizon: Fokus pada jangka panjang (5‑10 tahun); hindari trading aktif yang rentan terhadap volatilitas harian.
  2. Strategi Dollar‑Cost Averaging (DCA)

    • Pembelian rutin (mis. USD 100/bulan) menurunkan risiko timing market dan memanfaatkan penurunan harga jangka pendek.
  3. Penggunaan Produk Terbukti

    • ETF Terbuka: Jika tersedia (mis. di pasar ASEAN), pilih produk yang diawasi regulator.
    • Custody Aman: Gunakan layanan cold‑wallet atau custodian berlisensi (mis. Luno Vault, Indodax Cold Storage) untuk melindungi aset dari hacking.
  4. Manajemen Risiko

    • Stop‑Loss/Take‑Profit: Tetapkan level 30 % di bawah harga beli untuk menghentikan kerugian yang tidak terkendali.
    • Asuransi Crypto: Beberapa provider (mis. Nexus Mutual, InsurAce) menawarkan polis yang menutupi pencurian atau kehilangan aset.
  5. Pantau Kebijakan Pajak dan KYC

    • Laporan transaksi ke DJP wajib untuk pajak penghasilan; gunakan aplikasi pencatat crypto tax (mis. CoinTracking, Koinly) untuk menghindari penalti.

6. Apa yang Harus Diperhatikan Investor setelah Laporan JPMorgan?

Hal yang Diperhatikan Alasan
Pergerakan ETF Bitcoin Volume masuk/keluar di ETF Spot (jika sudah diluncurkan di AS/UE) menjadi barometer institusional.
Data Stablecoin Supply Penurunan suplai stablecoin dapat menandakan penurunan likuiditas di ekosistem DeFi, yang berdampak ke sentimen Bitcoin.
Kebijakan Bank Sentral (Fed, BI, BI) Kenaikan suku bunga dapat memperkuat dolar AS, menekan aset non‑yield seperti Bitcoin & emas.
Sentimen Teknologi Kinerja indeks NASDAQ/S&P‑500 Technology memengaruhi “risk‑on/off”; Bitcoin cenderung mengikuti trend teknologi.
Perkembangan Regulasi ASEAN Inisiatif ASEAN Crypto Framework dapat membuka jalur lintas‑border dan meningkatkan adopsi di Indonesia.

7. Kesimpulan dan Rekomendasi Akhir

  • JPMorgan mengakui potensi jangka panjang Bitcoin sebagai alternatif safe‑haven yang lebih modern dibanding emas, namun menegaskan bahwa realisasi nilai US $ 266 k masih sangat tidak realistis dalam horizon 1‑2 tahun.
  • Volatilitas adalah kunci: Jika Bitcoin berhasil menurunkan volatilitasnya ke level emas, nilai teoritisnya akan melonjak, tetapi proses tersebut memerlukan adopsi institusional yang luas, regulasi yang mendukung, dan stabilitas makroekonomi.
  • Untuk investor Indonesia: Gunakan Bitcoin sebagai komponen pertumbuhan dalam portofolio yang sudah dipertahankan dengan emas serta aset tradisional (saham, obligasi). Fokus pada strategi DCA, custody aman, dan patuhi regulasi pajak.
  • Pantau sinyal pasar: ETF Bitcoin, stablecoin supply, dan kebijakan moneter global menjadi indikator utama untuk menilai apakah sentimen “bearish” mulai berbalik menjadi “bullish”.

Dengan memadukan data JPMorgan, dinamika pasar domestik, serta kerangka regulasi lokal, investor dapat mengubah volatilitas menjadi peluang, bukan sekadar risiko.

Tags Terkait