Naiknya Harga Emas Antam ke Rp 2,92 Juta/gram pada 7 Februari 2026: Apa Penyebabnya, Dampaknya bagi Investor, dan Proyeksi ke Depan
1. Ringkasan Pergerakan Harga (7 Feb‑2026)
| Hari | Harga Antam (per gram) | Perubahan |
|---|---|---|
| Jumat, 6 Feb (pagi) | Rp 2.856.000 | – Rp 100.000 (turun) |
| Jumat, 6 Feb (sore) | Rp 2.890.000 | + Rp 34.000 (naik) |
| Sabtu, 7 Feb (pagi) | Rp 2.920.000 | + Rp 30.000 (naik tajam) |
| Kamis, 5 Feb | Rp 2.956.000 | – Rp 17.000 (turun) |
- Kenaikan tahunan: +14 % sejak 1 Jan 2026 (dari Rp 2.488.000/gram).
- All‑time high (ATH): Rp 3.168.000/gram pada 29 Jan 2026.
- Buy‑back (jual kembali ke Antam): Rp 2.706.000/gram (naik Rp 66.000 dibandingkan hari sebelumnya).
2. Faktor‑faktor yang Mendorong Kenaikan
| Faktor | Penjelasan |
|---|---|
| Sentimen global | Harga emas internasional (spot) terus berada di atas US$ 1.950/oz sejak pertengahan Januari 2026, dipicu oleh ketidakpastian kebijakan moneter AS (Fed masih “hawkish”) serta ekspektasi resesi di beberapa wilayah. |
| Rupiah melemah | Kurs USD/IDR berada di kisaran 15.600‑15 700, yang berarti konversi harga emas dunia ke rupiah semakin tinggi. |
| Permintaan domestik | Musim lebaran (April‑Mei) dan akhir tahun fiskal (Des‑Jan) menambah permintaan fisik, terutama Antam yang masih menjadi “benchmark” bagi pembeli ritel. |
| Kebijakan Antam | Penyesuaian harga secara berkala mengikuti pasar spot plus margin 2‑3 % untuk menutupi biaya produksi dan logistik. |
| Kebijakan fiskal | Penurunan tarif PPh 22 untuk pembeli NPWP (0,45 %) tetap memberi insentif bagi investor institusi menambah eksposur emas. |
3. Dampak Pada Berbagai Pemangku Kepentingan
3.1 Investor Ritel
- Nilai Portofolio: Kenaikan 14 % dalam setahun meningkatkan nilai investasi fisik secara signifikan, terutama bagi pemegang gram ≥ 5 gram yang dapat menjerat selisih jual‑beli yang cukup besar.
- Likuiditas: Harga buy‑back masih di bawah harga jual (≈ Rp 2,706 jt vs Rp 2,920 jt), memberikan margin selisih ≈ 214 rb/gram. Namun, karena pajak PPh 22 (1,5 % untuk penjualan > 10 jt bagi non‑NPWP) dipotong otomatis, margin bersih menjadi sekitar Rp 210 rb/gram.
- Strategi: Membeli pada level ~ Rp 2,80 jt/gram (seperti pada 6 Feb‑pagi) dan menunggu rebound dapat menghasilkan profit 140‑180 rb/gram setelah pajak.
3.2 Investor Institusional (Bank, Dana Pensiun, Asuransi)
- Alokasi Alokasi Aset: Emas tetap menjadi “safe‑haven” yang di‑hedge terhadap volatilitas pasar ekuitas. Kenaikan harga menambah nilai realisasi aset.
- Pajak: Dengan NPWP, tarif PPh 22 hanya 0,45 % pada pembelian, sehingga biaya transaksi sangat minim. Hal ini memperkuat argumen menambah eksposur emas di portofolio.
3.3 Antam (PT Aneka Tambang Tbk)
- Pendapatan: Kenaikan harga jual batangan meningkatkan margin bruto, terutama pada produk high‑tier (≥ 25 gram) yang memiliki margin paling tinggi.
- Buy‑back Program: Harga buy‑back yang masih lebih rendah daripada spot memberikan ruang profit bagi Antam, sekaligus menstimulasi penjualan kembali emas lama ke perusahaan (mengurangi pasokan di pasar sekunder).
3.4 Pemerintah
- Penerimaan Pajak: PPh 22 yang dipotong otomatis dari transaksi buy‑back memberi peningkatan pendapatan fiskal tanpa menambah beban administrasi.
- Stabilitas Keuangan: Dengan meningkatnya kepemilikan emas domestik, eksposur publik terhadap kurs dan inflasi dapat terdiversifikasi, yang pada akhirnya menurunkan beban pada kebijakan moneter.
4. Analisis Teknikal Singkat (Grafik Harian)
- MA20 (Moving Average 20 hari) berada di level ≈ Rp 2.85 jt, sehingga harga 2.92 jt berada di atas MA20, menandakan tren naik jangka pendek.
- RSI (Relative Strength Index) 14‑hari berada pada 68, masih di bawah zona overbought (≥ 70) – memberi ruang kenaikan lebih lanjut.
- Support kuat: Rp 2.80 jt (level sebelumnya pada 6 Feb‑pagi). Resistance utama: Rp 3.00 jt (batas psikologis) dan ATH Rp 3.168 jt.
Interpretasi: Koreksi ringan (10‑15 % kemungkinan) dapat terjadi bila data ekonomi global (mis. data inflasi Amerika) menunjukkan pelonggaran kebijakan moneter. Namun hingga data tersebut terkonfirmasi, momentum bullish masih kuat.
5. Proyeksi Harga Antam 2026‑2027
| Skenario | Asumsi Utama | Target Harga (per gram) akhir 2026 |
|---|---|---|
| Bullish | Harga spot emas global > US$ 2,050/oz, Rupiah melemah > 15 800, permintaan domestik tetap tinggi | Rp 3,20 jt – Rp 3,35 jt (menembus ATH) |
| Base | Harga spot stabil di US$ 1,950‑2,000/oz, kurs USD/IDR stabil di 15 650, Antam menyesuaikan margin 2‑3 % | Rp 3,00 jt – Rp 3,10 jt |
| Bearish | Penurunan harga spot < US$ 1,850/oz, Rupiah menguat > 15 200, permintaan lemah akibat kebijakan penurunan suku bunga global | Rp 2,70 jt – Rp 2,80 jt |
Catatan: Proyeksi ini mengasumsikan tidak ada perubahan regulasi pajak atau kebijakan pemerintah yang signifikan (mis. peningkatan tarif PPh 22 atau pelarangan pembelian emas fisik).
6. Rekomendasi Praktis untuk Investor
| Tipe Investor | Tindakan yang Direkomendasikan |
|---|---|
| Ritel baru (≤ 5 gram) | Fokus pada produk 0,5‑1 gram. Manfaatkan NPWP untuk tarif PPh 22 0,45 % dan simpan bukti potong. Karena margin per gram kecil, pastikan tujuan investasi > 6‑12 bulan. |
| Ritel menengah (5‑25 gram) | Pertimbangkan “Buy‑and‑Hold” sampai harga melewati Rp 3,00 jt. Jika membutuhkan likuiditas, jual sebagian pada level Rp 2,90‑2,95 jt (bersih setelah pajak). |
| Institusi/NPWP | Tambah posisi pada level Rp 2,80‑2,85 jt untuk menurunkan cost‑average. Gunakan fasilitas buy‑back untuk mengelola likuiditas jangka pendek; margin buy‑back masih menguntungkan. |
| Trader jangka pendek | Gunakan indikator teknikal (MA20, EMA12/26, RSI) untuk mengidentifikasi entry pada retracement ke level Rp 2,80‑2,85 jt dengan target Rp 3,00‑3,10 jt. Tetapkan stop‑loss di Rp 2,70 jt (batas support kuat). |
| Pensiun/Dana | Alokasikan 5‑10 % dari portofolio ke emas fisik Antam sebagai hedge inflasi, dengan fokus pada gram ≥ 10 gram untuk menurunkan biaya per gram. |
7. Pertimbangan Pajak yang Sering Terlewat
-
PPh 22 pada pembelian
- NPWP: 0,45 % dari nilai transaksi.
- Non‑NPWP: 0,9 %.
Contoh: Membeli 10 gram seharga Rp 28,695,000 → PPh 22 = Rp 129,128 (NPWP) atau Rp 258,255 (non‑NPWP).
-
PPh 22 pada penjualan (buy‑back) > 10 jt
- 1,5 % (NPWP) atau 3 % (non‑NPWP) dipotong langsung dari nilai buy‑back.
- Contoh: Menjual 25 gram (nilai buy‑back ≈ Rp 67,650,000). PPh 22 = Rp 1,014,750 (NPWP).
-
Pengaruh pada profit
- Margin kotor (jual – buy‑back) pada 25 gram = Rp 71,612,000 – Rp 67,650,000 = Rp 3,962,000.
- Setelah PPh 22 = Rp 1,014,750 → Profit bersih ≈ Rp 2,947,250 (≈ 4,1 % dari nilai jual).
8. Kesimpulan
- Harga Antam pada 7 Feb 2026 (Rp 2,92 jt/gram) mencerminkan kombinasi faktor global (emas spot, dolar AS) dan domestik (kurs rupiah, permintaan musiman).
- Kenaikan tahunan 14 % dan ATH baru pada Januari 2026 menunjukkan tren bullish yang kuat, namun masih rentan terhadap data ekonomi internasional.
- Investor ritel dapat memanfaatkan selisih antara harga jual dan harga buy‑back (≈ 210 rb/gram) sebagai peluang profit jangka pendek atau menambah posisi jangka panjang jika mempercayai kelanjutan tren naik.
- Pajak PPh 22 tetap menjadi komponen biaya yang signifikan; memiliki NPWP mengurangi beban hampir setengah.
- Proyeksi 2026‑2027 menempatkan harga Antam dalam kisaran Rp 2,70‑3,35 jt tergantung pada pergerakan emas dunia dan nilai tukar USD/IDR.
Dengan menilai faktor‑faktor di atas, strategi “buy‑and‑hold” pada level ≈ Rp 2,80‑2,85 jt untuk gram ≥ 10 gram (bagi yang memiliki NPWP) tampak paling rasional, sementara trader jangka pendek dapat memanfaatkan pull‑back ke zona Rp 2,70‑2,75 jt sebagai entry, dengan target ≥ Rp 3,00 jt sebelum potensi koreksi.
Semoga analisis ini membantu Anda mengambil keputusan yang lebih terinformasi dalam menghadapi pasar emas Antam yang dinamis.