LCT Indonesia-China Mencapai US$ 2,7 Miliar: Langkah Strategis untuk Diversifikasi Valas, Penguatan Rupiah, dan Reduksi Ketergantungan pada Dolar AS

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 19 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Latar Belakang dan Signifikansi LCT

Local‑Currency Transaction (LCT) merupakan instrumen keuangan yang memungkinkan perdagangan barang dan jasa antar‑negara dilakukan dalam mata uang domestik masing‑masing, bukan dalam dolar AS. Dengan menyalurkan aliran perdagangan melalui LCT, dua hal utama tercapai:

  1. Diversifikasi Pasokan Valas – Mengurangi dominasi dolar di pasar spot dan forward domestik, sehingga bank sentral memiliki lebar kebijakan yang lebih luas.
  2. Pengurangan Risiko Kurs – Pelaku usaha tidak lagi terpapar secara penuh pada volatilitas USD/IDR; mereka dapat menyesuaikan exposure ke rupiah atau yuan sesuai kebutuhan bisnis.

Pencapaian US$ 2,7 miliar pada Desember 2025 menandakan bahwa LCT sudah beralih dari fase percontohan menjadi instrumen komersial yang cukup matang. Ini sejalan dengan agenda Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat stabilitas nilai tukar melalui “bundling” sumber likuiditas non‑dolar.

2. Dampak terhadap Stabilitas Rupiah

Aspek Dampak Positif Penjelasan
Pasokan Valas Penambahan likuiditas non‑USD (yuan, euro, dll.) Memperluas basis penyedia likuiditas di pasar domestik, memberi BI “cushion” saat terjadi outflow dolar.
Tekanan Kurs Reduksi volatilitas jangka pendek Transaksi berbasis yuan mengalihkan sebagian tekanan beli USD, sehingga pergerakan Rp/USD menjadi lebih terkendali.
Kebijakan Intervensi Pilihan instrumen lebih variatif (spot, DNDF, NDF) BI dapat menyesuaikan tingkat intervensi di masing‑masing pasar tanpa harus mengorbankan cadangan devisa dolar secara berlebihan.
Sentimen Pasar Peningkatan kepercayaan investor Data LCT yang positif menandakan bahwa pelaku ekonomi melihat keberlanjutan arus perdagangan bilateral Indonesia‑China.

Catatan: Meskipun LCT menambah “suplainya”, volume total perdagangan luar negeri Indonesia masih didominasi dolar (≈ 80 %). Oleh karena itu, LCT merupakan pelengkap, bukan pengganti total dolar.

3. Implikasi Hubungan Ekonomi Indonesia‑China

  1. Penguatan Rantai Pasok Bilateral

    • Dengan nilai transaksi LCT yang melampaui US$ 2,7 miliar, jelas terdapat intensifikasi impor‑ekspor barang modal (mesin, komponen elektronik) serta komoditas (batubara, kelapa sawit).
    • LCT mempermudah perusahaan Indonesia untuk membeli bahan baku dalam yuan, mengurangi biaya konversi dan risiko nilai tukar yang biasanya dibebankan pada marginnya.
  2. Peningkatan Kerja Sama Keuangan

    • Bank-bank keduanya (misalnya Bank Mandiri – Bank of China) kini memiliki produk DNDF dan NDF yang didukung oleh likuiditas yuan.
    • Hal ini membuka peluang swap bilateral dan repo yuan yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk pembiayaan jangka pendek.
  3. Strategi Geopolitik

    • Diversifikasi mata uang transaksi sejalan dengan kebijakan “de‑dolarisasi” yang tengah dipromosikan oleh beberapa negara besar, termasuk China.
    • Indonesia dapat memposisikan diri sebagai “gateway” Asia Tenggara bagi yuan, menambah nilai tawar dalam negosiasi multilateral (mis. ASEAN‑China).

4. Tantangan yang Masih Dihadapi

Tantangan Penjelasan Solusi Potensial
Likuiditas Yuan di Pasar Domestik Volume yuan masih relatif kecil dibandingkan dolar; spread bid‑ask tinggi. Mendorong peran bank sentral dalam menyediakan yuan lewat fasilitas swap dengan PBOC; memperluas jaringan dealer.
Regulasi dan Compliance Peraturan anti‑pencucian uang (AML) dan pelaporan lintas‑mata uang masih berfokus pada USD. Pembaruan kerangka regulasi untuk mencakup mata uang alternatif, serta sosialisasi prosedur LCT kepada korporasi.
Kesadaran Pelaku Usaha Banyak perusahaan belum familiar dengan mekanisme LCT, sehingga masih mengandalkan USD. Program edukasi intensif (workshop, webinar) oleh BI bersama KADIN, serta insentif fiskal (mis. tax credit) bagi transaksi LCT.
Risiko Valuta Asing Ganda Penggunaan lebih dari satu mata uang dapat menambah kompleksitas manajemen risiko. Penyediaan alat hedging (forward, options) dalam yuan yang terstandarisasi, serta peningkatan kapasitas treasury korporat.

5. Kebijakan Lanjutan yang Direkomendasikan

  1. Skala Penyediaan Likuiditas oleh BI

    • Membentuk Liquidity Facility khusus yuan, mirip dengan FX Swap untuk dolar, guna menstabilkan pasar spot pada jam perdagangan utama.
  2. Pengembangan Infrastruktur Pasar Derivatif

    • Menambah kontrak yuan‑NDF di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau memperkenalkan cross‑currency basis swap antara IDR‑CNY.
  3. Insentif Fiskal untuk Korporasi

    • Mengurangi tarif bea masuk atau memberikan tax holiday bagi perusahaan yang melaporkan persentase signifikan transaksi LCT dalam laporan keuangan tahunan.
  4. Kerja Sama dengan PBOC dan Otoritas Keuangan Regional

    • Menyusun Framework of Bilateral Currency Swap yang mencakup limit tahunan, prosedur pelaporan, serta mekanisme penyelesaian sengketa.
  5. Perkuat Edukasi dan Pendampingan UMKM

    • Program “LCT for SMEs” dengan modul praktis (contoh perhitungan konversi, dokumen yang diperlukan) serta fasilitas konsultasi gratis dari bank‑bank koresponden.

6. Proyeksi ke Depan

  • Jangka Pendek (1‑2 tahun): Volume LCT diproyeksikan naik 20‑30 % per tahun, didorong oleh kebijakan insentif dan peningkatan likuiditas yuan. Nilai tukar Rupiah diperkirakan akan stabil di kisaran Rp 16.800‑Rp 17.200 per USD, dengan volatilitas harian turun 10‑15 % dibandingkan 2025.

  • Jangka Menengah (3‑5 tahun): Jika LCT dapat menembus 10 % dari total nilai transaksi perdagangan luar negeri (saat ini < 3 %), diversifikasi mata uang akan mengurangi beban cadangan devisa dolar secara signifikan, memungkinkan BI untuk menurunkan rasio cadangan minimum dan mengalokasikan dana ke instrumen produktif.

  • Jangka Panjang (lebih dari 5 tahun): Indonesia berpotensi menjadi hub regional bagi transaksi IDR‑CNY, bersamaan dengan inisiatif “ASEAN‑CNY Hub”. Hal ini dapat meningkatkan peran rupiah dalam perdagangan intra‑ASEAN, sekaligus menambah leverage diplomatik pada forum‑forum multilateral (mis. G20).

7. Kesimpulan

Pencapaian US$ 2,7 miliar dalam transaksi LCT Indonesia‑China pada Desember 2025 merupakan bukti konkretnya bahwa diversifikasi mata uang bukan lagi sekadar retorika kebijakan, melainkan langkah operasional yang dapat menambah stabilitas nilai tukar, memperluas basis likuiditas, serta mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Namun, realisasi penuh potensi LCT memerlukan sinergi antara otoritas moneter, regulator, institusi keuangan, dan pelaku usaha. Kebijakan intervensi BI yang lebih fleksibel, peningkatan infrastruktur pasar derivatif, serta insentif fiskal yang tepat akan mempercepat adopsi LCT.

Jika tantangan likuiditas yuan, regulasi, dan kesadaran pasar dapat diatasi, LCT tidak hanya menjadi alat stabilisasi makro, melainkan pendorong pertumbuhan ekonomi melalui biaya transaksi yang lebih rendah, risiko kurs yang lebih terkendali, dan hubungan ekonomi bilateral yang lebih kuat.

Dengan landasan kebijakan yang kuat dan komitmen semua pihak, LCT dapat menjadi “jembatan” strategis bagi Indonesia untuk menavigasi era post‑dolarisasi dan menegaskan peranannya sebagai ekonomi berdaulat yang resilient di tengah dinamika pasar global.