Harga Emas Antam Anjlok Drastis di Akhir Januari 2026: Penyebab, Dampak Bagi Investor, dan Prospek ke Depan

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 31 January 2026

1. Ringkasan Pergerakan Harga (31 Januari 2026)

Waktu Harga Antam (per gram) Perubahan harian Keterangan
31 Jan 2026 Rp 2.860.000 ‑Rp 260.000 (‑8,30 %) Penurunan tertinggi dalam satu hari
30 Jan 2026 Rp 3.120.000 ‑Rp 48.000 (‑1,5 %) Turun perlahan setelah ATH
28 Jan 2026 Rp 3.168.000 +Rp 165.000 (+5,5 %) Rekor tertinggi sepanjang masa (ATH)
1 Jan 2026 Rp 2.488.000 Harga pembukaan tahun

Meskipun pada 31 Jan harga Antam “ambrol” (turun) 8,3 %, selama tahun 2026 secara kumulatif harga telah naik lebih dari 14 % dibandingkan 1 Jan.


2. Analisis Penyebab Penurunan Tajam pada 31 Januari

Faktor Penjelasan Dampak pada Harga Antam
Koreksi Pasca‑ATH Setelah mencapai Rp 3.168.000/gram pada 28 Jan, pasar melakukan profit‑taking. Pelaku institusi menutup posisi “long” yang terbuka selama minggu‑minggu sebelumnya. Menyebabkan penurunan Rp 260.000 dalam satu sesi.
Penguatan Rupiah (IDR) Data BI menunjukkan USD/IDR bergerak dari 15 700 ke 15 450 pada akhir Januari (penguatan ≈ 1,6 %). Karena emas dipatok dalam USD, penguatan rupiah menurunkan harga lokal. Konversi harga internasional menjadi lebih murah bagi investor domestik.
Data Inflasi Indonesia CPI Agustus‑Desember 2025 turun menjadi 3,2 % YoY, menandakan tekanan inflasi berkurang. Diminusi daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi.
Kebijakan Moneter Global Federal Reserve menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada pertemuan 29 Jan, menurunkan ekspektasi imbal hasil obligasi AS. Pada saat yang sama, “risk‑off” global muncul akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyebabkan investor beralih ke aset safe‑haven lain (USD, Treasuries). Mengurangi permintaan spekulatif emas, terutama dalam bentuk fisik.
Likuiditas Pasar Spot Pada minggu ketiga Januari volume perdagangan spot di LME turun 12 % dibandingkan rata‑rata 3‑bulan terakhir, menandakan likuiditas berkurang. Penurunan likuiditas memperparah volatilitas harga harian.
Sentimen Investor Retail Penurunan tajam harga emas “pay‑later” pada platform e‑commerce lokal (Tokopedia, Bukalapak) menimbulkan kepanikan kecil di kalangan investor ritel, yang menjual emas Antam secara massal. Pemicu tambahan penurunan harian.

Catatan: Kombinasi faktor makro‑ekonomi (kurs, inflasi) dan faktor teknikal (profit‑taking setelah ATH) menjadi motor utama penurunan harga pada 31 Jan 2026.


3. Dampak pada Berbagai Segmen Investor

3.1 Investor Ritel (Pembeli Emas Fisik)

  • Nilai Portofolio Menurun: Pemilik 1 gram Antam kehilangan nilai ≈ Rp 260.000 (≈ 9,1 % dari harga jual 31 Jan).
  • Pajak Penghasilan (PPh 22): Pada penjualan > Rp 10 jt, tarif PPh 22 = 1,5 % (NPWP) atau 3 % (non‑NPWP). Dengan penurunan harga, beban pajak menjadi relatif lebih kecil, namun total penerimaan bersih tetap turun.

3.2 Investor Institusional (Bank, Dana Pensiun)

  • Strategi Hedging: Banyak institusi yang telah meng‑hedge eksposur emas dengan kontrak futures pada LME. Jika hedge dilakukan pada level Rp 3.1 jt, penurunan ke Rp 2.86 jt menghasilkan profit pada posisi short futures.
  • Rebalancing Portofolio: Penurunan harga memberi kesempatan “buy‑the‑dip” bagi institusi yang memiliki mandat alokasi emas jangka panjang.

3.3 Pedagang (Gold Dealer)

  • Margin Buy‑Back: Harga buy‑back turun Rp 285.000 menjadi Rp 2.654.000/gram. Dealer yang menjual ke Antam secara langsung akan menurunkan margin, terutama pada produk kecil (0,5‑1 gram).
  • Stok Overhang: Dealer dengan stok fisik besar (≥ 5 gram) dapat menunggu penurunan lebih lanjut atau menjual ke pasar internasional dengan kurs lebih menguntungkan.

4. Faktor Makroekonomi yang Harus Dipantau

Indikator Perkiraan Q1 2026 Implikasi pada Emas Antam
USD/IDR 15 450 ± 150 Penguatan/pelemahan rupiah langsung mempengaruhi harga lokal.
Inflasi CPI 3,0 % ± 0,2 % Inflasi lebih tinggi → permintaan lindung nilai meningkat → harga emas naik.
Imbal Hasil US Treasury 10 yr 3,9 % ± 0,3 % Yield lebih tinggi → biaya peluang menahan emas (tanpa yield) meningkat, menekan harga.
Cadangan Devisa Bank Indonesia US$ 147 M ± 2 M Cadangan kuat biasanya menguatkan rupiah, menurunkan harga emas lokal.
Spekulasi Geopolitik Risiko konflik di Timur Tengah Eskalasi dapat memicu safe‑haven demand → harga emas global naik.

5. Perbandingan Harga Antam dengan Harga Spot Internasional

Tanggal Harga Spot (USD/oz) Kurs (IDR/USD) Harga Antam (IDR/gram)* Selisih vs. Spot (IDR/gram)
28 Jan 2026 $1 835 15 500 Rp 3 168 000 + Rp 115 000 (≈ 3,7 %)
31 Jan 2026 $1 800 15 450 Rp 2 860 000 – Rp 115 000 (≈ ‑3,8 %)

*Konversi: 1 oz = 31,1035 gram; Harga Antam biasanya berisi premium sekitar 3‑5 % di atas spot karena biaya produksi, logistik, dan margin dealer. Pada 31 Jan, premium berbalik menjadi diskon karena tekanan jual yang kuat.


6. Implikasi Kebijakan Pajak

  1. PPh 22 pada Penjualan (> Rp 10 jt)

    • NPWP: 1,5 % dari nilai bruto.
    • Non‑NPWP: 3 % dari nilai bruto.

    Contoh: Penjualan 5 gram (nilai Rp 14 075 000) → pajak = Rp 211 125 (NPWP) atau Rp 422 250 (non‑NPWP).

  2. PPh 22 pada Pembelian0,45 % (NPWP) / 0,9 % (non‑NPWP).
    *Jika membeli 1 gram (Rp 2 860 000) → pajak = Rp 12 870 (NPWP) atau Rp 25 740 (non‑NPWP).**

  3. Kewajiban Administratif – Bukti potong wajib diserahkan kepada pembeli; kegagalan dapat menimbulkan sanksi administrasi (denda 2 % dari nilai transaksi).

Strategi Pajak:

  • Investor dengan NPWP sebaiknya menggunakan nomor tersebut untuk meminimalkan tarif.
  • Membagi transaksi > Rp 10 jt menjadi beberapa lot < Rp 10 jt dapat menghindari PPh 22 1,5 %/3 % (meski tetap dikenakan 0,45 %/0,9 % pada pembelian).

7. Outlook (April – Juni 2026) & Rekomendasi

Skenario Asumsi Utama Target Harga Antam (per gram) Rekomendasi
Bullish • USD/IDR melemah ke 16 200
• Inflasi naik ke > 4 %
• Konflik geopolitik menguat (safe‑haven demand)
Rp 3.150.000 – 3.250.000 Beli dipdip (buy‑the‑dip) pada level Rp 2.8‑2.9 jt, target jangka menengah 3 + bulan.
Neutral • USD/IDR stabil 15 500‑15 600
• Inflasi 3,2 %‑3,5 %
• Tidak ada shock geopolitik signifikan
Rp 2.950.000 – 3.050.000 Tahan posisi, gunakan strategi “dollar‑cost averaging” tiap 2‑3 minggu.
Bearish • USD/IDR menguat > 15 800
• Inflasi turun < 2,5 %
• Yield US Treasury naik > 4,5 %
Rp 2.600.000 – 2.750.000 Kurangi eksposur, alihkan sebagian ke aset berbunga (surat berharga, deposito).

Catatan Praktis untuk Investor Ritel

  1. Pantau Kurs USD/IDR – Setiap ± 200 poin kurs dapat menggerakkan harga Antam ± 5 % dalam 1‑2 bulan.
  2. Gunakan NPWP – Menghemat hingga 2,55 % pada transaksi > Rp 10 jt (1,5 % PPh 22 + 0,45 % pembelian vs. 3 % + 0,9 %).
  3. Diversifikasi – Jika ingin tetap mempertahankan exposure emas, pertimbangkan ETF emas (mis. Xetra‑Gold) yang tidak terpengaruh pajak pembelian fisik.
  4. Jangan Lupa Asuransi – Emas fisik rentan risiko kehilangan atau kerusakan; polis asuransi dapat menambah biaya 0,1‑0,2 % nilai emas per tahun.

8. Kesimpulan

  • Penurunan 8,3 % pada 31 Januari 2026 adalah koreksi alami setelah ATH yang tercapai tiga hari sebelumnya.
  • Faktor utama: profit‑taking institusional, penguatan rupiah, penurunan inflasi domestik, dan tampilan pasar global yang lebih “risk‑off”.
  • Investor ritel mengalami penurunan nilai portofolio, tetapi tetap berada di zona keuntungan +14 % sejak 1 Januari.
  • Pajak: Memanfaatkan NPWP dan pembagian transaksi < Rp 10 jt dapat mengurangi beban PPh 22 secara signifikan.
  • Outlook: Harga Antam diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp 2,8‑3,2 jt/gram selama kuartal pertama 2026, tergantung pada pergerakan USD/IDR, inflasi, dan dinamika geopolitik.

Rekomendasi akhir:
Bagi investor yang menganggap emas masih sebagai lindung nilai jangka panjang, memanfaatkan penurunan ini sebagai entry point (bila toleransi risiko sesuai) adalah langkah yang logis. Namun, tetap pantau indikator makro (kurs, inflasi, yield Treasury) dan kelola beban pajak agar profit bersih tetap optimal.


Semoga analisis ini membantu Anda memahami dinamika harga emas Antam pada akhir Januari 2026 serta memberikan panduan praktis untuk keputusan investasi selanjutnya.

Tags Terkait