Rupiah Berpotensi Melemah Lebih Lanjut Menjelang Risalah The Fed: Geopolitik, Defisit Fiskal, dan Kebijakan Moneter Global Jadi Penentu
Oleh: Admin |
Dipublikasikan: 18 February 2026
1. Ringkasan Situasi
- Pergerakan terkini: Pada sesi Rabu (18 Feb 2026) rupiah tutup melemah 47 poin terhadap dolar AS, bergerak di kisaran Rp 16.880‑16.920.
- Sentimen eksternal: Kelemahan didorong oleh kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah (meskipun ada kesepakatan terbaru antara Iran‑AS) serta kecermatan pasar menjelang rilis risalah pertemuan The Fed Januari 2026.
- Faktor domestik: Defisit APBN 2025 tercatat Rp 695,1 triliun (2,92 % PDB), melampaui target 2,53 % dan mendekati batas maksimum 3 % yang diatur UU 17/2003. Kondisi fiskal yang masih defisit menambah kerentanan rupiah terhadap guncangan eksternal.
2. Faktor‑Faktor Penggerak Nilai Tukar Rupiah
| Faktor | Penjelasan | Dampak Potensial |
|---|---|---|
| Kebijakan Moneter AS | - Risalah Fed akan mengungkapkan pandangan tentang pelonggaran kebijakan (rate cuts) atau pengetatan (rate hikes). - PCE Index Desember (indikator inflasi utama Fed) yang akan dirilis Jumat dapat memicu perubahan harapan pasar. |
- Jika Fed menegaskan kebijakan suku bunga tinggi atau mengindikasikan pengetatan lebih lanjut, dolar AS cenderung menguat, menekan rupiah. - Sebaliknya, sinyal pelonggaran dapat meredakan tekanan. |
| Yield Obligasi Global | Kenaikan yield US Treasuries (terutama 10‑yr) menarik modal keluar dari pasar emerging, termasuk Indonesia. | - Arus keluar meningkatkan permintaan dolar, menurunkan nilai rupiah. |
| Geopolitik Timur Tengah | Konflik atau ketegangan di wilayah tersebut menimbulkan risk‑off sentiment. Meskipun ada kesepakatan Iran‑AS, pasar tetap waspada. | - Safe‑haven flight ke dolar menyebabkan volatilitas tambahan pada rupiah. |
| Defisit Fiskal Indonesia | Defisit APBN 2025 melewati 2,9 % PDB; beban bunga utang naik ketika yield global naik. | - Keterbatasan kas untuk membiayai defisit dapat memaksa pemerintah mengandalkan pinjaman luar negeri atau menambah likuiditas, memperlemah rupiah. |
| Cadangan Devisa | Cadangan devisa tetap kuat (> $150 miliar), namun penurunan neraca berjalan (ekspor‑impor) dapat mengurangi buffer. | - Cadangan cukup menahan penurunan tajam, namun tidak meniadakan risiko jangka menengah. |
3. Proyeksi Nilai Tukar Rupiah (Jangka Pendek‑Menengah)
| Skenario | Asumsi Utama | Perkiraan Rentang Rp/USD (Feb‑Jun 2026) |
|---|---|---|
| Optimis | - Fed memberi sinyal pelonggaran pada risalah. - PCE Desember lebih rendah dari ekspektasi. - Geopolitik stabil setelah kesepakatan Iran‑AS. - Pemerintah menurunkan defisit tahun 2026 ke < 2,5 % PDB. |
Rp 16.700 – Rp 16.850 |
| Base‑Case (probabilitas tertinggi) | - Fed tetap hawkish (menjaga suku bunga tinggi). - PCE sesuai ekspektasi, tidak menurunkan inflasi tajam. - Geopolitik tetap volatile. - Defisit tetap di ≈ 2,9 % PDB. |
Rp 16.850 – Rp 17.050 |
| Pesimis | - Fed menegaskan pengetatan lanjutan. - PCE naik, menambah ekspektasi inflasi. - Eskalasi konflik di Timur Tengah. - Defisit fiskal melebar > 3 % PDB. |
Rp 17.050 – Rp 17.300 |
Catatan: Proyeksi mengasumsikan stabilitas harga minyak (± 5 % dari USD 70/barrel). Fluktuasi harga komoditas dapat memperlebar rentang di atas.
4. Implikasi Terhadap Kebijakan Fiskal & Moneter
-
Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI)
- Penyesuaian suku bunga: BI dapat menahan atau menurunkan BI 7‑Day Reverse Repo Rate bila inflasi tetap terkendali, tetapi harus siap meningkatkan bila dolar terus menguat dan inflasi impor naik.
- Intervensi Pasar Valas: Menggunakan cadangan devisa untuk menstabilkan rupiah di zona Rp 16.800‑Rp 17.000, atau melakukan swap dengan bank sentral asing apabila tekanan likuiditas meningkat.
- Penguatan instrumen makroprudensial: Pengetatan LTV pada KPR atau pembatasan exposure foreign‑currency di sektor perbankan untuk mengurangi risiko nilai tukar.
-
Kebijakan Fiskal Pemerintah
- Pengendalian Defisit: Mempercepat reformasi pendapatan (pajak, BUMN, digitalisasi) untuk mengurangi kebutuhan pinjaman luar negeri. Target defisit ≤ 2,8 % PDB pada 2026 menjadi jalan tengah.
- Manajemen Utang: Mengoptimalkan profil jatuh tempo utang luar negeri dengan memperpanjang tenor, mengurangi beban refinancing di amid kenaikan yield global.
- Dukungan Terhadap Ekspor: Memperkuat insentif eksportir, diversifikasi pasar (ASEAN, Eropa, Afrika) guna meningkatkan neraca perdagangan dan mengurangi ketergantungan pada komoditas energi.
5. Rekomendasi untuk Pelaku Pasar
5.1 Investor Institusional (Dana Pensiun, Asuransi, SWF)
| Langkah | Alasan |
|---|---|
| Diversifikasi Mata Uang: alokasikan sebagian portofolio ke USD, EUR, atau SGD untuk melindungi eksposur IDR. | Mengurangi risiko nilai tukar di tengah volatilitas global. |
| Hedging dengan Forward/FX Options: gunakan kontrak forward atau FX option pada porsi signifikan eksposur IDR, terutama untuk arus kas tahunan. | Menjaga margin keuntungan dan mencegah kerugian nilai tukar. |
| Penyesuaian Durasi Obligasi: pilih obligasi pemerintah dengan durasi pendek‑menengah (≤ 5 tahun) untuk mengurangi sensitivitas terhadap kenaikan yield global. | Mengurangi risiko nilai pasar obligasi pemerintah Indonesia. |
5.2 Investor Ritel
| Langkah | Alasan |
|---|---|
| Waspada pada Dana Pasar Uang yang berinvestasi dalam instrumen dolar atau obligasi luar negeri. | Potensi outflow modal bila dolar menguat. |
| Pertimbangkan Produk Proteksi Valas (mis. deposito berjangka berdenominasi USD) bila memiliki kewajiban dalam dolar. | Mengamankan nilai tukar pada periode tertentu. |
| Pantau Indeks PCE dan Risalah Fed secara rutin; gunakan berita macro sebagai sinyal masuk/keluar pasar valuta. | Memanfaatkan informasi makro untuk timing yang lebih tepat. |
5.3 Pemerintah & Regulator
- Komunikasi yang Transparan: Penyampaian kebijakan fiskal dan moneter secara proaktif (mis. press release, road‑show) dapat menurunkan ketidakpastian pasar.
- Koordinasi Antara BI & Kementerian Keuangan: Sinergi dalam penyesuaian target inflasi dan defisit membantu menjaga kredibilitas.
- Peningkatan Cadangan Devisa Cair: Memperluas Instrumen Likuiditas (mis. EUR‑IDR swap) untuk menambah opsi intervensi tanpa mengorbankan likuiditas pasar domestik.
6. Kesimpulan
- Rupiah berada pada persimpangan antara tekanan eksternal (kebijakan Fed, yield global, geopolitik) dan fundamental fiskal domestik (defisit APBN yang mendekati batas legal).
- Risalah The Fed dan data PCE akan menjadi katalis utama dalam 2‑3 hari ke depan. Skenario Hawkish dapat memicu penurunan nilai tukar lebih lanjut, sementara skenario dovish memberi ruang bagi stabilisasi atau perbaikan nilai tukar.
- Kebijakan makroekonomi yang terkoordinasi — penyesuaian suku bunga yang responsif, intervensi pasar valas yang terukur, serta upaya pengendalian defisit — menjadi kunci untuk menjaga daya tahan fiskal dan kepercayaan investor.
- Bagi pelaku pasar, pendekatan yang disiplin (hedging, diversifikasi, monitoring informasi makro) serta kesiapan mengadaptasi pada perubahan sentimen pasar menjadi esensial untuk melindungi portofolio di tengah volatilitas yang diproyeksikan.
Pesan utama: Rupiah dapat melemah lebih jauh bila sinyal Fed tetap hawkish dan geopolitik tidak stabil; namun, kebijakan fiskal yang lebih ketat dan intervensi BI yang tepat dapat membatasi penurunan sehingga nilai tukar tetap berada dalam kisaran yang dapat dikelola oleh pasar.
Catatan: Analisis ini bersifat informasi publik dan tidak menggantikan nasihat keuangan profesional. Investor diharapkan melakukan due‑diligence secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Berita Terkait
Arsip
Berita Lainnya
-
Bukan BUMI, tapi Saham Emiten Grup Bakrie Ini yang Diusung
48 minutes ago
-
Risalah The Fed Ungkap Pejabat Terbelah Soal Arah Suku Bunga
50 minutes ago