Bursa Efek Indonesia Dihujani Penjualan Besar-Besar: BBCA & BUMI Jadi Korban Utama, Namun Peluang Re-rating Masih Menjanjikan

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 22 February 2026

Judul:

“Bursa Efek Indonesia Dihujani Penjualan Besar‑Besar: BBCA & BUMI Jadi Korban Utama, Namun Peluang Re‑rating Masih Menjanjikan”


Tanggapan Panjang dan Analisis Mendalam

1. Latar Belakang Dinamika “Net‑Sell” Investor Asing

Pada minggu 18‑20 Februari 2026, data Stockbit Sekuritas menunjukkan dua saham paling berat dibebani penjualan bersih (net‑sell) oleh investor asing:

Saham Net‑Sell (Rp Miliar)
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) 756,9
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 725,3
PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) 203,0

Total net‑sell asing di pasar reguler BEI selama tiga hari itu mencapai ≈ 1,68 triliun.

Apa yang mendorong aksi jual ini?

Penyebab Penjelasan
Sentimen global – Mata uang dolar yang kuat dan kebijakan suku bunga Fed yang tinggi mengalirkan dana keluar pasar emerging, termasuk Indonesia.
Fluktuasi komoditas – Harga batubara (produk utama BUMI) berada di zona volatil, menurunkan ekspektasi profitabilitas jangka pendek.
Kebijakan domestik – Rencana regulasi pajak atas perusahaan pertambangan dan kepadatan aturan lingkungan menambah ketidakpastian bagi BUMI.
Profit‑taking pada sektor finansial – BBCA, meskipun fundamental kuat, telah mencatat kenaikan harga signifikan sejak kuartal‑1 2025; investor asing mungkin memanfaatkan “tail wind” untuk merealisasikan profit.
Tekanan likuiditas – Beberapa fund asing mengalami arus keluar dari portofolio emerging markets karena penurunan alokasi pasar ekuitas Asia‑Pasifik.

Walaupun aksi penjualan ini signifikan, total net‑buy asing di seluruh pasar BEI selama minggu yang sama masih positif (Rp 2,07 triliun). Artinya, selain tiga saham di atas, investor asing masih menambah posisi di sejumlah saham lain (mis. infrastruktur, telekomunikasi, konsumer).


2. Analisis Fundamental Saham‑Saham Terkait

2.1 PT Bumi Resources Tbk (BUMI)

Aspek Kondisi Saat Ini Implikasi
Pendapatan Penurunan 8 % YoY pada Q3 2026 akibat harga batubara spot di bawah US $75/ton. Tekanan margin kotor, namun perusahaan masih memiliki cadangan cadangan produksi (proved reserves) yang cukup.
Cash‑Flow Free cash flow (FCF) negatif selama dua kuartal berturut‑turut. Membutuhkan restrukturisasi hutang atau penjualan aset non‑strategis.
Valuasi P/E ≈ 5× (lebih rendah dari rata‑rata sektor pertambangan ≈ 7×). Tampak undervalued namun risiko operasional tinggi.
Risiko Regulasi lingkungan, fluktuasi harga komoditas, hutang jangka pendek yang tinggi (Debt‑to‑EBITDA ≈ 4,2×). Investor harus menilai apakah kebijakan pemerintah dan harga batubara dapat pulih dalam 12‑18 bulan.

Kesimpulan BUMI: Penjualan besar asing mencerminkan skeptisisme terhadap prospek jangka pendek. Namun, jika harga batubara stabil di atas US $85/ton dan perusahaan berhasil menurunkan beban hutang, saham ini dapat menjadi “value play” untuk investor jangka menengah‑panjang.

2.2 PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Aspek Kondisi Saat Ini Analisis
Profitabilitas ROA ≈ 2,2 % & ROE ≈ 22 % (konsisten 2024‑2025). Kualitas aset tetap tinggi; penurunan NPL (< 1,5 %).
Biaya Dana Net Interest Margin (NIM) turun 0,2 ppt menjadi 6,0 % akibat tekanan suku bunga. Masih dalam kisaran wajar, namun perlunya diversifikasi pendapatan non‑bunga.
Non‑Interest Income Meningkat 12 % YoY, didorong oleh fee‑based services (digital payments, wealth management). Menambah cushion bila NIM menurun lebih jauh.
Valuasi P/B = 2,7× (di bawah rata‑rata historis 3,5×). Valuasi relatif menarik, mendekati level pandemi 2020.
Risiko Potensi kenaikan NPL bila ekonomi melambat, serta persaingan fintech. Namun, struktur modal kuat (CAR > 20 %) memberikan bantalan.

Re‑rating Outlook: KB Valbury mencatat peluang re‑rating karena:

  1. Biaya dana menurun bila suku bunga global melunak;
  2. Pendapatan non‑bunga terus tumbuh, meningkatkan kontribusi margin;
  3. CIR (Cost‑to‑Income Ratio) tetap solid di kisaran 32‑34 %;
  4. Cadangan kerugian kredit (CKR) masih terkendali (≈ 2 % core provision).

Target harga Rp 11.080 (Gordon Growth Model) menandakan ekspektasi pertumbuhan dividen tahunan ≈ 5‑6 % dengan cost of equity ≈ 9‑10 %. Dengan P/B 4,1× pada 2026, BBCA masih berada di zona “fair value” yang relatif disukai.

2.3 PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)

Aspek Kondisi Catatan
Net‑Sell Rp 203 miliar Lebih kecil dibanding BBCA & BUMI, menandakan tekanan moderat.
Margin EBITDA margin 12 % (stagnan). Persaingan global di sektor pulp‑paper tetap ketat.
Kapasitas Utilization 78 % (sedang naik). Peningkatan produksi dapat mengurangi biaya per ton.
Valuasi P/E ≈ 8× (sedikit undervalued). Potensi upside jika demand Asia Tenggara menguat.

3. Makro‑Ekonomi & Kebijakan yang Mempengaruhi Sentimen

Faktor Dampak ke Pasar & Saham Terkait
Kurs Rupiah Rupiah stabil di kisaran 15.500‑15.800/US$; mengurangi beban konversi hutang luar negeri BUMI.
Kebijakan Suku Bunga BI BI mempertahankan 6,25 % (pada 2025‑2026). BCA tidak terlalu tertekan karena funding domestik yang kuat.
Inflasi Inflasi food & fuel di atas target (≈ 4,7 %). Tekanan biaya produksi pada INKP.
Regulasi Pertambangan RUU “Izin Lingkungan & CSR” diperkirakan akan diberlakukan akhir 2026, berpotensi menambah beban biaya operasional BUMI.
Stimulus Pemerintah Pemerintah menyiapkan paket infrastruktur (Rp 600 triliun) yang bisa memberi dukungan pada sektor keuangan (BCA) melalui peningkatan pinjaman korporasi.

4. Implikasi untuk Investor – Strategi & Rekomendasi

Investor Strategi Rationale
Investor Institusional (Long‑Term) BCA: Tambah posisi atau hold, target TP Rp 11.080.
BUMI: Posisi “cautious‑buy” pada level support Rp 1.200‑1.250, dengan stop‑loss ketat (≤ 15 %).
BCA memiliki fundamental kuat; BUMI undervalued namun memerlukan “trigger” pemulihan harga batubara.
Retail / Swing‑Trader BCA: Jual sebagian pada rally > Rp 11.500, target profit 5‑7 %
BUMI: Hindari entry kecuali muncul rebound volume high dan harga batubara stabil.
Mengoptimalkan volatilitas mingguan; melindungi portofolio dari penurunan mendadak.
Investor Pendapatan (Dividend‑Focused) BCA: Kumpulkan dividen (≈ 5 % yield) sambil menunggu re‑rating.
INKP: Pertimbangkan karena dividend yield ≈ 4,5 % dan payout ratio stabil.
Yield relatif tinggi dibanding obligasi pemerintah (≈ 3,5 %).
Risk‑Averse Diversifikasi ke sektor “defensif” (telekom, consumer staples) dan meminimalkan eksposur pada BUMI. Mengurangi volatilitas portofolio di tengah gejolak global.

Catatan Penting:

  • Kebijakan Pemerintah: Jika RUU lingkungan disahkan dengan persyaratan ketat, BUMI dapat mengalami penurunan nilai aset atau harus mengalokasikan CAPEX tambahan. Pantau update regulasi secara mingguan.
  • Harga Batubara: Break‑even price bagi BUMI diperkirakan di US $78/ton. Jika harga spot turun di bawah level ini selama 3 kuartal berturut‑turut, tekanan jual dapat berlanjut.
  • Kebijakan BI: Kenaikan suku bunga lebih lanjut akan meningkatkan cost‑of‑funding BCA, menurunkan NIM. Namun, BCA memiliki basis dana yang relatif murah (tabungan) sehingga dampaknya terbatas.

5. Kesimpulan Utama

  1. Penjualan bersih terbesar oleh investor asing pada minggu 18‑20 Feb 2026 menyoroti dua saham “blue‑chip” – BUMI & BCA – yang berada di bawah tekanan pasar.
  2. BBCA tetap memiliki fundamental yang kuat, margin yang stabil, dan valuasi yang menarik (P/B 2,7× vs. target 4,1×). Riset KB Valbury memperkuat rekomendasi Beli dengan target harga Rp 11.080, mengindikasikan potensi re‑rating setelah fase koreksi selesai.
  3. BUMI berada dalam zona nilai intrinsik yang rendah, namun risiko regulasi dan volatilitas komoditas menjadikannya high‑risk, high‑reward. Investor yang siap menanggung volatilitas dapat menempatkan posisi kecil di level support, tetapi harus menyiapkan exit plan yang tegas.
  4. INKP meski tidak seintensif BUMI & BBCA, tetap menawarkan dividend yield yang kompetitif dan ruang upside bila permintaan pulp‑paper Asia meningkat.
  5. Sentimen global masih menjadi faktor dominan. Selama dolar kuat dan ketidakpastian geopolitik terus berlanjut, aliran dana keluar dari pasar emerging dapat berlanjut, menyebabkan “sell‑the‑runner” di saham-saham berkapitalisasi besar.

Rekomendasi Strategis:

  • Prioritaskan posisi BBCA untuk portofolio inti dengan target jangka menengah (12‑24 bulan).
  • Pertimbangkan BUMI hanya jika ada sinyal rebound komoditas dan/atau kebijakan pemerintah yang lebih lunak.
  • Gunakan stop‑loss dan ukuran posisi yang sesuai dengan profil risiko, terutama pada BUMI yang berada dalam zona volatilitas tinggi.

Dengan pendekatan yang terukur, investor dapat memanfaatkan diskon harga sementara (untuk BBCA) sambil menyiapkan “buffer” terhadap potensi penurunan lebih lanjut pada saham‑saham yang tertekan oleh faktor eksternal.


Semoga analisis ini memberikan perspektif yang komprehensif dalam menilai dinamika pasar terbaru dan membantu Anda menentukan langkah investasi yang tepat.