Rupiah Menguat di Tengah Guncangan Global: Dampak Tarif Impor AS, Kebijakan The Fed, dan Ketegangan Timur Tengah Terhadap Prospek Nilai Tukar Indonesia

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 25 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Gambaran Umum Pergerakan Rupiah pada 25 Februari 2026

  • Penguatan: Rupiah menutup sesi dengan 29 poin lebih kuat terhadap dolar AS, berakhir pada kisaran Rp 16.800/US$, naik dari penutupan sebelumnya di Rp 16.829.
  • Kontra‑sentimen eksternal: Meskipun ada dua faktor eksternal yang biasanya menekan nilai tukar (tarif impor AS dan ketegangan geopolitik Timur Tengah), pasar domestik berhasil menahan tekanan tersebut.

2. Pengaruh Tarif Impor Global 10 % (Rencana Naik menjadi 15 %)

Aspek Implikasi Langsung Dampak pada Rupiah
Komoditas Ekspor Indonesia (kelapa sawit, batu bara, karet, kopi) Harga di pasar internasional berpotensi naik karena biaya impor barang pesaing naik. Positif – Peningkatan pendapatan devisa dapat memperkuat rupiah.
Import Barang Konsumsi (elektronik, otomotif) Harga barang impor naik, menurunkan volume impor. Positif – Defisit perdagangan dapat tereduksi, mengurangi tekanan pada nilai tukar.
Sentimen Pasar Global Tarik ulur kebijakan proteksionis menambah volatilitas nilai tukar emerging market. Negatif – Risiko “flight to safety” ke dolar tetap ada, namun efeknya terlambat terasa di Indonesia karena fund flow domestik yang kuat.

Analisis:
Meskipun kebijakan tarif masih dalam tahap temporary dan belum final, pasar telah menilai bahwa Indonesia, sebagai eksportir utama komoditas, akan meraih manfaat dari peningkatan harga barang mentah. Hal ini menurunkan tekanan pada neraca perdagangan, sehingga spekulan memperkirakan fundamental rupiah akan tetap kuat dalam jangka menengah.

3. Kebijakan The Fed: Suku Bunga Tetap dan Risiko Inflasi

  • Pernyataan Susan Collins (Fed Boston): “Suku bunga kemungkinan akan tetap tidak berubah untuk beberapa waktu karena data pasar tenaga kerja yang solid, namun risiko inflasi masih mengintai.”
  • Pernyataan Austin Goolsbee (Fed Chicago): “Kebijakan moneter masih harus ketat; inflasi berada di atas target 2 %.”

Implikasi bagi Rupiah:

  1. Stabilitas Suku Bunga AS – Tanpa adanya penurunan suku bunga, selisih imbal hasil (interest rate differential) antara AS dan Indonesia tetap tinggi, menjadikan dolar AS masih lebih menarik bagi investor jangka pendek.
  2. Pasokan Dolar Global – Kebijakan “hold” Fed berarti tidak ada penambahan likuiditas berlebih yang biasanya menggerus nilai tukar emerging market.
  3. Risiko “Sticky Inflation” – Jika inflasi AS tetap tinggi, Fed dapat kembali ke jalur pengetatan, yang pada akhirnya memperkuat dolar dan menekan rupiah. Namun dalam skenario jangka pendek (1‑3 bulan), ekspektasi pasar berada pada status quo sehingga rupiah tidak terlalu terdampak.

4. Faktor Geopolitik Timur Tengah

  • Pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Iran tentang kesiapan bernegosiasi dengan AS menurunkan intensitas konflik, namun situasi masih volatile.
  • Pengaruh langsung pada Indonesia:
    • Harga Minyak: Ketegangan dapat mengangkat harga minyak mentah, meningkatkan beban impor energi bagi Indonesia.
    • Sentimen Risiko Global: Investor bisa beralih ke safe‑haven (dolar, yen, obligasi AS), menambah tekanan pada mata uang emerging market.

Namun, pada hari Rabu 25 Feb 2026, pasar menilai bahwa potensi kenaikan harga komoditas (minyak, batu bara) dapat mengimbangi biaya impor energi, terutama karena Indonesia memiliki cadangan devisa yang cukup dan kebijakan subsidi energi yang masih efektif.

5. Kebijakan Moneter dan Fiskal Domestik

  1. Bank Indonesia (BI):

    • Kebijakan suku bunga akhir tahun 2025 – 2026 tetap di kisaran 3,75 % – 4,00 %, dengan penekanan pada inflasi inti yang masih di atas target (2,5 %‑3 %).
    • Intervensi pasar melalui penjualan dolar dalam rangka menstabilkan nilai tukar bila diperlukan.
  2. Pemerintah:

    • Penguatan fiskal melalui penerimaan pajak ekspor komoditas yang meningkat, serta program infrastruktur yang mengurangi kebutuhan impor barang modal.
    • Diversifikasi pasar ekspor ke Asia (China, India, ASEAN) mengurangi ketergantungan pada pasar Barat yang lebih sensitif terhadap tarif.

6. Analisis Sentimen Pasar dan Aliran Modal

Indikator Status 25 Feb 2026 Dampak Terhadap Rupiah
Neraca Perdagangan Surplus, diperkirakan USD 1,4 miliar (Q4‑2025) Positif
Cadangan Devisa USD 138 miliar, naik 2,5 % YoY Positif
Net Foreign Outflow (NFO) USD 0,8 miliar (bulan ini) – menurun Positif
Indeks Sentimen Pasar (VIX) 13,2 (rendah) Menunjukkan risk‑off moderate
Spread Yield IDR‑USD +250 bp (IDR‑IDR deposit vs. US‑Treasury 10‑yr) Menarik “carry trade” ke IDR

Data di atas mengindikasikan bahwa fundamental rupiah berada pada posisi yang relatif kuat, meskipun terdapat “headwinds” eksternal.

7. Outlook Nilai Tukar Rupiah (3‑6 Bulan Ke Depan)

Skenario Asumsi Utama Target Rp/USD
Base Case - Tariff 10 % tetap, tidak naik menjadi 15 % dalam 6 bulan.
- Fed terus “hold” suku bunga.
- Harga minyak world stabil di USD 85‑90/bbl.
- Inflasi domestik tetap di bawah 4 %.
Rp 16.600 – 16.750
Bullish - Tariff naik menjadi 15 % → dorong ekspor lebih tinggi.
- Harga komoditas naik >5 % karena permintaan global.
- Fed memberi sinyal “pause” lebih lama, bahkan dovish.
- Cadangan devisa naik >3 % YoY.
Rp 16.400 – 16.550
Bearish - Tariff naik menjadi 15 % dan menimbulkan retaliasi perdagangan.
- Eskalasi konflik Timur Tengah meningkatkan harga minyak >USD 110/bbl.
- Fed kembali ke jalur pengetatan (kenaikan 25 bp).
- Outflow modal >USD 1 miliar/bulan.
Rp 16.800 – 17.000

8. Rekomendasi Praktis untuk Pelaku Pasar

  1. Investor Institusional:

    • Strategi “Carry Trade”: Manfaatkan selisih imbal hasil dengan menempatkan dana dalam IDR‑linked deposits atau obligasi korporasi Indonesia berperingkat A‑ ke atas.
    • Hedging Spot Exposure: Gunakan forward contracts atau opsi vanilla dengan tenor 1‑3 bulan untuk melindungi posisi luar negeri terhadap potensi volatilitas mendadak.
  2. Perusahaan Import/Export:

    • Lock‑in Exchange Rate melalui kontrak forward untuk mengamankan cost of goods pada rentang Rp 16.600 – 16.800.
    • Diversifikasi Pasokan ke negara‑negara Asia (Vietnam, Malaysia) untuk mengurangi eksposur pada tarif AS.
  3. Pemerintah & Regulator:

    • Mempertahankan Transparansi tentang cadangan devisa dan kebijakan intervensi agar pasar tetap percaya pada kestabilan nilai tukar.
    • Mendorong Ekspor Nilai Tambah (produk olahan, manufaktur) untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah yang sensitif terhadap fluktuasi harga global.

9. Kesimpulan

Meskipun tarif impor global dari AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyuntikkan kecemasan pada komunitas investor, fundamental ekonomi Indonesia (surplus perdagangan, cadangan devisa yang kuat, dan kebijakan moneter yang kredibel) berhasil menahan tekanan tersebut.

  • Rupiah menunjukkan resilien dengan menguat 29 poin pada hari Rabu, menandakan bahwa pasar menilai manfaat tarif bagi eksportir Indonesia lebih signifikan dibanding risiko proteksionisme.
  • Kebijakan Fed yang stagnan memberikan ruang napas bagi rupiah; hanya bila Fed kembali menambah suku bunga atau inflasi AS melambung, tekanan baru akan muncul.
  • Geopolitik Timur Tengah tetap menjadi “wildcard”; kenaikan tajam harga minyak dapat menurunkan nilai tukar, tetapi cadangan devisa yang memadai dan kebijakan energi domestik akan menjadi penyangga.

Proyeksi jangka pendek menunjukkan rupiah dapat bergerak dalam kisaran Rp 16.600 – 16.800 per dolar, dengan potensi penguatan lebih lanjut jika ekspor komoditas terus menguat dan Fed tetap “hold”.

Investor, perusahaan, dan pembuat kebijakan sebaiknya memantau tiga pilar utama: kebijakan tarif AS, keputusan suku bunga The Fed, serta dinamika geopolitik di Timur Tengah—sementara tetap mengandalkan fundamental domestik yang kuat sebagai pijakan utama dalam mengelola risiko nilai tukar.