Pasar Modal Indonesia Menembus 21 Juta SID: Lonjakan Partisipasi, Likuiditas, dan Kapitalisasi di Tengah Dinamika Global 2026

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 1 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Gambaran Umum Pencapaian SID

Data yang dirilis BEI pada 1 Februari 2026 menunjukkan bahwa jumlah Single Investor Identification (SID) mencapai 21 037 426, menandai penambahan bersih 673 218 SID dibandingkan akhir tahun 2025.
Apabila dilihat secara tahunan, pertumbuhan SID selama 2025 mencapai 5 492 569—artinya 2025 menjadi tahun paling dinamis dalam akumulasi investor sejak peluncuran sistem SID pada 2015.

Peningkatan ini menandakan:

  • Ekspansi basis investor domestik yang semakin luas, tidak hanya terpusat pada kalangan institusi atau profesional, melainkan juga pada “retail investors” (investor ritel) yang kini memiliki akses lebih mudah ke platform digital.
  • Berhasilnya program edukasi keuangan dan “financial inclusion” yang digalakkan oleh OJK, BEI, dan lembaga keuangan non‑bank (fintech, e‑money).
  • Peningkatan literasi pasar modal yang tercermin dalam pertumbuhan jumlah investor saham yang kini mendekati 9 juta SID (8 980 318), naik 367 958 sejak akhir 2025.

2. Dampak pada Likuiditas dan Aktivitas Perdagangan

a. Nilai Transaksi Harian

  • Rata‑rata nilai transaksi harian melonjak 29,28 % menjadi Rp 43,76 triliun (dari Rp 33,85 triliun pekan sebelumnya).
  • Kenaikan ini menandakan pergeseran ke volume nilai yang lebih besar per transaksi, yang biasanya dipicu oleh masuknya modal institusional (pension funds, dana kelolaan) atau aliran dana asing yang lebih signifikan.

b. Frekuensi dan Volume Transaksi

  • Frekuensi transaksi naik 1,59 % menjadi 3,82 juta kali per hari, menandakan aktivitas tradisional (beli‑jual sesekali) tetap kuat.
  • Volume transaksi harian menurun 3,69 % menjadi 63,3 miliar lembar (dari 65,73 miliar). Penurunan ini dapat diinterpretasikan sebagai konsolidasi: investor ritel membeli dalam kuantitas lebih besar per transaksi (meningkatkan nilai transaksi), sementara beberapa likuiditas jangka pendek (high‑frequency trading) mengurangi frekuensi order kecil.

c. Implikasi Pasar

  • Likuiditas meningkat meskipun volume lembar menurun; hal ini memberi kedalaman pasar yang lebih baik bagi investor institusional, yang memerlukan slippage rendah pada order besar.
  • Spread bid‑ask diperkirakan menurun, memperbaiki cost of trading bagi semua kelas investor.

3. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Kapitalisasi Pasar

  • IHSG turun 6,94 % pada pekan ini (dari 8 951,01 menjadi 8 329,6). Penurunan ini dapat dihubungkan dengan pengambilan untung (profit‑taking) setelah bulanan kuat, atau sentimen global (mis. ketegangan geopolitik, kebijakan moneter AS) yang mempengaruhi aliran modal luar negeri.
  • Kapitalisasi pasar berkurang 7,37 % menjadi Rp 15 046 triliun (dari Rp 16 244 triliun). Penurunan kapitalisasi tidak semata‑mata mencermakan penurunan harga saham, tetapi juga penyusutan nilai perusahaan akibat restrukturisasi aset, atau penurunan pendanaan bagi perusahaan-perusahaan kecil‑menengah (UMKM) yang kini bergabung di BEI.

4. Peran Investor Asing

  • Nett sell (nilai jual bersih) investor asing pada hari itu adalah Rp 1,53 triliun, dan sepanjang tahun 2026 mencapai Rp 9,88 triliun.
  • Penjualan bersih ini menunjukkan sentimen defensif dari pihak asing, yang kemungkinan dipicu oleh:
    • Ketidakpastian kebijakan moneter global (kenaikan suku bunga The Fed).
    • Rebalancing portofolio ke aset‑aset berbasis nilai safe‑haven (emas, obligasi pemerintah AS).
    • Risk‑off pada emerging markets secara umum.

Namun, angka net sell tidak menutup kemungkinan adanya pembelian tersegmentasi pada sektor‑sektor tertentu (mis. infrastruktur, energi terbarukan) yang masih menarik bagi foreign institutional investors dengan horizon jangka panjang.

5. Analisis Penyebab Pertumbuhan SID dan Investor Saham

Faktor Penjelasan
Digitalisasi Platform trading berbasis aplikasi (e.g., Stockbit, Ajaib, IPOT) memudahkan pendaftaran SID, verifikasi KTP, dan masuk pasar dalam hitungan menit.
Fintech Integration Kolaborasi antara fintech (e‑money, payment gateway) dan BEI menghasilkan on‑ramping modal yang lebih simpel (mis. top‑up saldo e‑money langsung ke rekening sekuritas).
Kampanye Literasi Keuangan Program “Sahabat Pasar Modal” OJK & BEI, webinar, konten TikTok/YouTube, serta program CSR perusahaan meningkatkan kesadaran investasi.
Regulasi Pro‑Investor Pelonggaran aturan minimum pembelian (dari 100 lembar menjadi 10 lembar), serta penyederhanaan KYC mempercepat proses onboarding.
Produk Investasi Alternatif Peluncuran ETF berbasis indeks ESG dan reksa dana saham digital menggaet investor yang enggan langsung membeli saham individual.

6. Tantangan dan Risiko yang Perlu Diwaspadai

  1. Over‑exposure Investor Ritel

    • Dengan pertumbuhan SID yang cepat, risiko ketidaktahuan mengenai manajemen risiko (mis. terlalu banyak menaruh dana di satu sektor) meningkat. Pendidikan lanjutan tentang diversifikasi, manajemen volatilitas, dan investasi jangka panjang harus diperkuat.
  2. Volatilitas Global

    • Ketergantungan aliran modal asing membuat IHSG rentan terhadap sentimen geopolitik (mis. konflik di Timur Tengah) dan kebijakan moneter (pengetatan Fed). Skenario “sudden stop” harus diantisipasi dengan cadangan likuiditas dan penguatan pasar domestik.
  3. Kualitas Perusahaan

    • Peningkatan jumlah perusahaan yang go public (terutama UMKM) dapat menurunkan rasio profitabilitas rata‑rata pasar. Kualitas laporan keuangan, transparansi, dan tata kelola (GCG) perlu ditingkatkan agar indeks tidak terdistorsi.
  4. Kesiapan Infrastruktur Teknologi

    • Lonjakan transaksi menuntut kapasitas sistem clearing & settlement yang memadai. BEI dan KSEI harus memastikan rehabilitasi data center, redundansi jaringan, serta penerapan teknologi blockchain untuk settlement yang lebih cepat.

7. Rekomendasi Kebijakan & Strategi Pasar

Sasaran Rekomendasi
Meningkatkan Kualitas Investor - Luncurkan program “Investor Cerdas” dengan modul risk‑management, analisis fundamental, dan psikologi pasar.
- Sertifikasi “Certified Retail Investor” yang memberi benefit (diskon fee, prioritas akses IPO).
Memperkuat Likuiditas dan Depth Market - Dorong market maker lokal dengan insentif tax rebate untuk menyediakan bid‑ask pada saham-saham likuiditas rendah.
- Perkenalkan dual‑listing dengan bursa regional (ASEAN‑CHIP) untuk memperluas basis investor asing yang stable.
Pengelolaan Aliran Modal Asing - Negosiasikan perjanjian pertukaran data dengan regulator lain (SEC, FCA) untuk memantau aliran dana secara real‑time.
- Buat buffer fund atau reverse repo bagi BEI untuk menstabilkan nilai indeks saat terjadi outflow besar.
Pengembangan Produk Derivatif & ETF - Perluas ETF berbasis sektor strategis (infrastruktur, energi terbarukan) untuk menarik institusi asing.
- Kembangkan futures dan options pada IHSG serta saham-saham blue‑chip, memberikan instrumen hedging bagi investor ritel.
Digitalisasi & Infrastruktur - Implementasi Distributed Ledger Technology (DLT) untuk settlement sekuritas dalam 2‑3 hari kerja (sekarang 2 hari T+2).
- Penguatan cybersecurity dengan standar ISO/IEC 27001 bagi semua participant market.

8. Kesimpulan

Pencapaian 21 juta SID dan nearly 9 juta investor saham menandai maturasi pasar modal Indonesia dalam era digital dan inklusif. Peningkatan nilai transaksi harian hampir 30 % serta frekuensi transaksi yang stabil menunjukkan likuiditas yang semakin kuat, meskipun volume lembar sedikit menurun—sebuah indikasi bahwa investor kini melakukan transaksi dengan nilai yang lebih besar per order.

Namun, penurunan indeks IHSG dan kapitalisasi pasar pada pekan ini mengingatkan bahwa sentimen global tetap menjadi faktor kunci yang dapat menggerakkan arus modal masuk atau keluar secara cepat. Keterlibatan investor asing yang masih net‑selling menuntut kebijakan yang mendorong kepercayaan—misalnya melalui transparansi, tata kelola yang kuat, dan produk‑produk investasi yang menarik.

Ke depan, sinergi antara regulator (OJK, BEI), pelaku institusi, fintech, dan edukator keuangan sangat penting untuk:

  • Memastikan pertumbuhan kualitas (bukan sekadar kuantitas) investor,
  • Menjaga stabilitas pasar dalam menghadapi dinamika eksternal,
  • Dan mengoptimalkan potensi kapitalisasi pasar Indonesia sebagai pintu gerbang investasi di kawasan Asia‑Pasifik.

Dengan mengikuti rekomendasi kebijakan yang terintegrasi, pasar modal RI dapat tidak hanya mencetak angka SID yang tinggi, tetapi juga menjadi pasar yang resilient, likuid, dan berkelanjutan untuk semua pemangku kepentingan.