Jasa Marga (JSMR): Saham Diskon dengan Potensi Kenaikan 55 %? Analisis Fundamental, Valuasi, dan Risiko

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 16 February 2026

1. Ringkasan Pergerakan Harga dan Aktivitas Pasar

Keterangan Data (13 Feb 2026)
Harga Penutupan Rp 3.750 (–1,32 % dibandingkan penutupan sebelumnya)
Volume Perdagangan 5,84 juta saham (≈ Rp 22,1 miliar)
Frekuensi Transaksi 4.173 kali
Net Buy Investor Asing Rp 1,66 miliar
Kinerja 3‑bulan terakhir Hijau 5,53 % (cenderung sideways)

Meskipun harga saham melemah pada hari Jumat, JSMR tetap menjadi salah satu emiten BUMN yang paling diminati oleh investor asing, terbukti dari net buy Rp 1,66 miliar. Hal ini mengindikasikan adanya “sentimen positif” yang belum sepenuhnya tercermin dalam harga pasar saat ini.


2. Kinerja Keuangan (9 bulan 2025)

Item Nilai
Omzet (Pendapatan) Rp 13,41 triliun
Laba Bersih Rp 2,72 triliun
Margin Laba Bersih ≈ 20,3 %
EBITDA ≈ Rp 4,1 triliun (perkiraan, berdasarkan data historis)
Total Aset Rp 42,5 triliun (per 31 Des 2025)
Ekuitas Rp 30,2 triliun

Catatan: Kinerja pendapatan yang kuat didorong oleh peningkatan volume kendaraan pada jaringan toll, penyesuaian tarif yang teratur, serta diversifikasi layanan (mis. rest area, layanan logistik). Laba bersih yang tinggi (margin > 20 %) menandakan struktur biaya yang relatif stabil dan efisiensi operasional yang baik.


3. Analisis Valuasi

Rasio Nilai Bandingkan Interpretasi
PBV (Price‑to‑Book Value) 0,76 × < 1 Harga pasar di bawah nilai buku; indikasi “diskon aset”.
PBV (SD‑1) 0,93 × (standard deviation 5 tahun) Harga pasar lebih rendah dari rata‑rata volatilitas historis.
PER (Price‑Earnings Ratio) 7,48 × (annualized) Lebih rendah dibandingkan rata‑rata sektor infrastruktur (≈ 10‑12 ×).
EV/EBITDA ≈ 3,5 × (perkiraan) Relatif murah dibandingkan peer internasional (biasanya 6‑8 ×).

Mandiri Sekuritas memberi target harga Rp 5.800, yang berarti potensi upside ≈ 55 % dari level penutupan Rp 3.750. Target ini didasarkan pada:

  1. Valuasi relatif: PBV < 1 dan PER < 8 × menandakan saham masih “under‑priced”.
  2. Proyeksi pertumbuhan pendapatan: CAGR pendapatan 8‑10 % selama 2024‑2027 berkat ekspansi jaringan toll (projek tol baru di Sumatera dan Kalimantan) serta revisi tarif yang disetujui regulator.
  3. Stabilitas cash flow: Free cash flow positif dan kemampuan untuk membayar dividen (payout ratio ≈ 45 %) meningkatkan attractiveness bagi investor income‑seeking.

4. Mengapa JSMR “Diskon”?

  1. Ketergantungan pada regulasi tarif – Investor takut akan penetapan tarif yang “ketat” atau penurunan volume akibat kebijakan pembatasan kendaraan (mis. kebijakan kendaraan listrik, pembatasan mobil pribadi di kota besar).
  2. Eksposur pada proyek infrastruktur berjangka panjang – Proyek tol memerlukan investasi modal besar dengan payback period yang panjang. Hal ini kadang menurunkan sentiment di tengah ketidakpastian makroekonomi (inflasi, suku bunga).
  3. Kinerja saham BUMN secara umum – Banyak BUMN mengalami penurunan premium pasar karena persepsi “birokrasi” dan “keterbatasan agility”.
  4. Konsentrasi portofolio – Kepemilikan mayoritas oleh pemerintah (≈ 55 %) dapat menurunkan likuiditas dan menyebabkan pergerakan harga yang lebih sensitif pada berita regulasi.

Namun, faktor-faktor di atas tidak menghapus nilai intrinsik perusahaan. JSMR memiliki aset tetap (jalan tol) yang bernilai tinggi, cash flow stabil, dan posisi monopoli pada jaringan jalan tol utama Indonesia.


5. Risiko yang Perlu Diwaspadai

Risiko Deskripsi Dampak Potensial
Regulasi tarif Penetapan tarif yang lebih rendah atau penundaan revisi tarif. Penurunan margin EBITDA, penurunan laba bersih.
Kondisi makroekonomi Inflasi tinggi, suku bunga naik, penurunan daya beli konsumen. Penurunan volume kendaraan, penurunan pendapatan.
Persaingan investasi alternatif Pemerintah mempercepat proyek transportasi publik (kereta, LRT). Alih alih volume kendaraan ke moda lain, menurunkan pendapatan tol.
Keterlambatan proyek Proyek pembangunan/ekspansi tol yang tertunda (mis. pembebasan lahan). Penurunan growth rate pendapatan jangka menengah.
Fluktuasi nilai tukar Pendanaan proyek dengan mata uang asing. Beban bunga dan servis utang meningkat bila rupiah melemah.
Teknologi & Disrupsi Pengembangan sistem pembayaran elektronik, kendaraan otonom. Memerlukan investasi tambahan; risiko kegagalan adaptasi.

Investors should keep these risk factors in mind and assess whether the current discount adequately compensates for them.


6. Perspektif Jangka Panjang

  1. Ekspansi Jaringan Tol

    • Proyek yang sedang dibangun (2025‑2028): Tol Trans Sumatra (Rengat‑Pekanbaru), Tol Trans Kalimantan (Balikpapan‑Samarinda), serta fase 2 Tol Trans Jawa. total investasi ≈ Rp 120 triliun, sebagian besar dibiayai melalui obligasi Jasa Marga.
    • Proyeksi pendapatan tambahan: + 2‑3 % CAGR pada pendapatan total setelah setiap fase selesai (biasanya 2‑3 tahun lag).
  2. Diversifikasi Pendapatan

    • Layanan non‑toll: Rest area, layanan logistik, parkir, iklan digital, e‑charging station untuk kendaraan listrik. Potensi kontribusi kepada EBITDA sebesar 5‑7 % pada 2027.
    • Kerjasama Publik‑Swasta (PPP): Penyediaan layanan “smart highway” (sensor, IoT) yang dapat membuka revenue stream baru (data, layanan premium).
  3. Dividen & Yield

    • Dividend Yield (2025): ≈ 5,2 % (dividen per saham Rp 195).
    • Policy: Maintaining payout ratio 45‑50 % memberikan stabilitas bagi investor income‑oriented.
  4. Kekuatan Niche

    • Monopoli Jaringan Tol: Tidak ada kompetitor langsung di banyak koridor utama.
    • Aset Bertahan: Jalan tol memiliki umur ekonomis > 30 tahun, memberikan “moat” alami.

7. Analisis Teknikal (Singkat)

  • Trend jangka menengah: Harga berada pada zona support penting di sekitar Rp 3.300‑3.500 (MA 200). Penembusan di atas resistance Rp 4.000 dapat memicu pergerakan bullish ke target Rp 5.800.
  • RSI (14) pada 13 Feb 2026: ≈ 45 (netral).
  • MACD: Histogram masih negatif namun mencatat “narrowing” yang mengindikasikan potensi cross bullish dalam 2‑3 minggu ke depan.

Catatan: Analisis teknikal sebaiknya dipadukan dengan fundamental yang sangat kuat seperti pada JSMR.


8. Kesimpulan & Rekomendasi

  1. Diskon yang signifikan – PBV 0,76 × dan PER 7,48 × menandakan harga pasar jauh di bawah nilai buku dan earnings.
  2. Fundamental yang solid – Pendapatan 13,41 triliun, laba bersih 2,72 triliun, margin > 20 % serta cash flow yang konsisten.
  3. Prospek pertumbuhan – Ekspansi jaringan tol dan diversifikasi layanan non‑toll akan menambah basis pendapatan jangka menengah.
  4. Potensi upside – Dengan target harga Rp 5.800, upside ≈ 55 % dapat tercapai jika pasar mengakui nilai aset, memperbaiki persepsi risiko regulasi, dan volume kendaraan kembali stabil.
  5. Risiko – Terutama regulasi tarif, kondisi makroekonomi, dan keterlambatan proyek. Investor harus menilai toleransi risiko mereka.

Rekomendasi: Buy dengan target harga Rp 5.800 dan stop‑loss di sekitar Rp 3.200‑3.300 (di bawah level support 200‑day MA). Posisi ini cocok untuk investor yang menginginkan kombinasi pertumbuhan pendapatan jangka panjang dan yield dividend yang stabil, sambil siap menahan volatilitas jangka pendek yang terkait dengan berita regulasi.


Catatan Penutup:
Meskipun estimasi upside 55 % menarik, penting untuk selalu melakukan due diligence pribadi, memperhatikan update regulasi (KPP, Kemenhub) serta hasil kuartalan Jasa Marga. Diversifikasi portofolio tetap menjadi prinsip utama, terutama bila alokasi ke saham BUMN (yang cenderung kurang likuid) mendominasi keseluruhan exposure investasi Anda.


Prepared by: Analisis Saham & Valuasi – Ekonomi & Investasi, 16 Feb 2026