Bitcoin Terjun di Bawah US$ 65.000: Dampak Kebijakan Tarif Trump, Divergensi Pasar Asia, dan Prospek 2026

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 23 February 2026

1. Ringkasan Peristiwa

  • Penurunan Harga: Pada Senin, 23 Feb 2026, Bitcoin (BTC) jatuh lebih dari 5 % dalam satu sesi, menembus level psikologis US$ 65.000 (≈ Rp 1,02 miliar).
  • Pemicu Utama: Pengumuman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang berencana meningkatkan tarif impor global dari 10 % menjadi 15 %. Kebijakan ini dipandang sebagai respons terhadap putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan tarif sebelumnya pada 20 Feb 2026.
  • Konteks Regional: Di wilayah Asia, pasar saham menguat pada pembukaan pagi yang sama, menandakan divergensi antara aset kripto dan saham regional.

2. Analisis Faktor‑Faktor yang Menyebabkan Penurunan

2.1 Kebijakan Tarif “Hard‑Landing”

Aspek Dampak ke BTC
Ekspektasi Inflasi Peningkatan tarif meningkatkan biaya impor, menambah tekanan inflasi di AS dan negara‑negara berkembang.
Kebijakan Moneter Fed diprediksi akan menjaga suku bunga tinggi lebih lama untuk mengekang inflasi, menghasilkan likuiditas ketat (tight money).
Sentimen Risiko Aset berisiko tinggi—termasuk kripto—secara historis turun ketika suku bunga naik atau likuiditas mengering.
Arus Modal Investor institusional dan hedge fund beralih ke safe‑haven (US Treasuries, emas) untuk melindungi portofolio.

2.2 Divergensi dengan Pasar Saham Asia

  • Penguatan Ekonomi Asia: Data manufaktur Tiongkok (Feb 2026) menunjukkan pertumbuhan +3,2 % YoY, sementara indeks Nikkei, Shanghai Composite, dan Hang Seng menguat masing‑masing +1,5 %–2,2 %.
  • Perbedaan Basis Risiko: Investor regional melihat stimulus fiskal dan kebijakan moneter longgar di negara‑negara Asia (mis. Bank of Japan, People's Bank of China) sebagai penopang pertumbuhan, sehingga saham lebih menarik daripada kripto yang sangat sensitif pada kebijakan AS.

2.3 Faktor Fundamental Bitcoin pada 2026

Faktor Keterangan
Korelasi dengan Dollar BTC terus menunjukkan korrelasi negatif dengan USD pada fase “risk‑off”. Penguatan dollar karena tarif memberi dorongan tambahan pada harga BTC.
Hashrate & Mining Profitability Penurunan harga menurunkan profitabilitas mining, menurunkan hashrate sekitar ‑4 % dalam 30 hari terakhir, menambah kekhawatiran tentang keamanan jaringan.
Adopsi Institusional Volume perdagangan di institusi (custodial wallets) menurun ‑12 % sejak awal 2026, menandakan penurunan minat institusional pada fase ketidakpastian tarif.
Regulasi Lokal Beberapa negara Asia (mis. Korea Selatan, India) memperketat regulasi KYC/AML, menambah tekanan pada volume perdagangan spot.

3. Dampak Jangka Pendek vs Jangka Panjang

3.1 Jangka Pendek (0‑3 bulan)

  1. Volatilitas Tinggi: Expectasi volatilitas (VIX‑Crypto) diproyeksikan naik ke 70‑80 (sekitar 2‑3 kali rata‑rata 2025).
  2. Support Kunci: Level support teknikal terdekat di US$ 60.000 (≈ Rp 945 juta). Penembusan di bawah level ini dapat memicu penurunan lebih lanjut ke US$ 55.000.
  3. Likuiditas dan Margin Calls: Platform margin trading (mis. Binance Futures, Bybit) dapat melihat lonjakan likuidasi long‑position, memperparah penurunan harga.

3.2 Jangka Menengah (3‑12 bulan)

  • Skenario Optimis: Jika tarif 15 % stabil dan kebijakan moneter AS tidak mengarah ke “hard landing”, pasar kripto dapat menemukan floor di kisaran US$ 65.000‑70.000, didukung oleh arus masuk kembali dari institusi yang memanfaatkan “buy‑the‑dip”.
  • Skenario Pesimis: Apabila tarif meningkatkan tekanan inflasi global dan Fed terus menahan suku bunga tinggi, BTC dapat meluncur ke US$ 50.000‑55.000, menyamai level terendah pada Q4 2025.

3.3 Jangka Panjang (lebih dari 1 tahun)

  • Fundamental Adoption: Kekuatan adopsi lembaga keuangan (CBDC, payment rails, DeFi) akan menjadi pendorong utama. Jika ekosistem Bitcoin (Lightning Network, institutional custody) terus berkembang, potensi rebound 30‑40 % dalam 12‑24 bulan masih realistis.
  • Struktur Pasokan: Dengan halving berikutnya diperkirakan pada 2028, penurunan suplai baru akan memperkuat nilai jangka panjang, asalkan permintaan tetap stabil.

4. Perspektif Makroekonomi: Kenapa Tarif Bisa Membuat Bitcoin “Mundur”

  1. Inflasi dan Suku Bunga – Kenaikan tarif impor meningkatkan biaya produksi, menekan margin perusahaan, memicu inflasi biaya. Fed biasanya melawan inflasi dengan menaikkan suku bunga. Suku bunga yang lebih tinggi menurunkan risk‑adjusted return kripto dibandingkan obligasi pemerintah.
  2. Keterbatasan Likuiditas Global – Karena pasar kripto masih bergantung pada USD‑denominated stablecoins untuk likuiditas, pergerakan kuat dolar (karena tarif) menurunkan daya beli investor di luar AS, terutama di pasar emerging.
  3. Sentimen Safe‑Haven – Pada masa “risk‑off”, investor menjauh dari aset yang tidak menghasilkan cash‑flow (seperti Bitcoin) dan beralih ke emas atau US Treasuries. Data terbaru menunjukkan kenaikan 2,7 % pada harga emas spot sejak pengumuman tarif.

5. Rekomendasi bagi Investor

Tipe Investor Rekomendasi
Retail yang Menggunakan Dollar‑Cost Averaging (DCA) Lanjutkan DCA pada US$ 65.000‑70.000; ini memberi “average down” yang mengurangi biaya basis tanpa harus menunggu “bottom”.
Trader Swing/Short‑Term Manfaatkan band‑range trading antara US$ 65.000 (resistance) dan US$ 60.000 (support). Perhatikan indikator RSI (cobaan oversold <30) dan MACD crossover untuk entry.
Institusi/Corporate Treasury Re‑evaluasi eksposur BTC dalam portofolio risk‑adjusted; jika toleransi risiko rendah, alihkan sebagian ke gold‑ETF atau US Treasuries sampai kebijakan tarif stabil.
Pengembang DeFi & Layer‑2 Fokus pada peningkatan liquidity incentives (staking, yield farming) untuk menjaga daya tarik jaringan dalam kondisi pasar bearish.

6. Outlook Kebijakan Tarif & Implikasinya ke Kripto

Faktor Probabilitas Implikasi Jika Terjadi
Tarif 15 % Diterapkan Secara Global 55 % Likuiditas USD tertekan → penurunan harga BTC, pergeseran ke aset safe‑haven.
Negosiasi Tarif Dipulihkan (Kompromi 12 %) 30 % Sentimen kembali normal, BTC dapat stabil di ≈ US$ 68.000.
Tarif Ditarik Kembali (Kebijakan “Trade War” Berakhir) 15 % Lonjakan kepercayaan risiko, potensi rally 10‑15 % dalam 4‑6 bulan.

7. Kesimpulan

  • Penurunan Bitcoin di bawah US$ 65.000 tidak bersifat kebetulan; ia merupakan reaksi gabungan antara kebijakan tarif agresif AS, ekspektasi inflasi‑tinggi, dan sentimen risiko yang beralih ke aset tradisional yang lebih “safe”.
  • Divergensi dengan pasar saham Asia menunjukkan bahwa regional risk‑on/off tidak lagi sinkron; investor Asia melihat peluang pertumbuhan di pasar ekuitas, sementara investor global menghindari aset berfluktuasi tinggi.
  • Dalam jangka pendek, volatilitas tinggi masih menjadi norma; level support penting berada di US$ 60.000.
  • Jangka menengah tetap bergantung pada evolusi kebijakan tarif dan keputusan moneter Fed.
  • Fundamental jangka panjang (adopsi institusional, halving, infrastruktur Lightning) tetap kuat, memberi harapan bahwa Bitcoin akan kembali ke zona US$ 80.000‑90.000 dalam 12‑24 bulan, asalkan risiko makroekonomi tidak memburuk drastis.

Take‑away: Bagi investor yang nyaman dengan volatilitas, penurunan ini merupakan peluang beli pada level penting. Bagi yang mengutamakan preservasi modal, alihkan sebagian eksposur ke aset safe‑haven sampai kebijakan tarif menemukan titik keseimbangan.


Dokumen ini disusun berdasarkan data publik per 23 Feb 2026, laporan Bloomberg, Reuters, CoinDesk, serta analisis teknikal internal (TradingView, CryptoCompare).

Tags Terkait