BI Catat Modal Asing Kabur hingga Rp 12,4 Triliun Lewat Pasar Saham 

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 1 February 2026

1. Ringkasan Peristiwa

  • Penarikan bersih: Rp 12,55 triliun (≈ US$ 833 juta) keluar dari pasar domestik selama 26‑29 Jan 2026.
  • Komposisi: ‑ Rp 12,40 triliun (99 %) melalui pasar saham,
    ‑ Rp 2,77 triliun melalui pasar Surat Berharga Negara (SBN),
     + Rp 2,61 triliun neto pembelian di SRBI (Surat Berharga Rumah Ibadah).
  • Data bulan Januari 2026: Net buying non‑resident di pasar saham = Rp 4,84 triliun; di SRBI = Rp 6,18 triliun; net selling di SBN = Rp 110 miliar.
  • Kondisi pasar:
    • Yield SBN 10 tahun naik ke 6,35 %.
    • Yield US Treasury Note 10 tahun naik ke 4,231 %.
    • CDS 5 tahun Indonesia 75,31 bp (naik dari 73,05 bp pada 23 Jan).
    • Kurs JISDOR = Rp 16.796/USD (30 Jan).

Bank Indonesia menegaskan koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta pengoptimalan bauran kebijakan untuk menjaga ketahanan eksternal.


2. Analisis Penyebab Penarikan Modal

Faktor Penjelasan Dampak pada Aliran Modal
Kenaikan Yield Obligasi AS US Treasury 10 tahun naik menjadi 4,23 % (level tertinggi sejak 2022). Menarik investor global ke aset USD dengan imbal hasil lebih tinggi; dana yang sebelumnya berada di emerging market beralih ke AS.
Naiknya CDS Indonesia Premium risiko up 2,26 bp dalam seminggu, mengindikasikan persepsi risiko yang memburuk. Investor asing menilai “risk‑on” berkurang, mengurangi eksposur pada ekuitas dan obligasi RI.
Penguatan Dolar (JISDOR) Rupiah melemah ~0,5 % dalam seminggu. Penurunan nilai tukar meningkatkan beban biaya hedging bagi pemegang aset RI, mempercepat keluar modal.
Sentimen Pasar Saham Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 3 % pada minggu tersebut, dipicu oleh volatilitas global. Penjualan agresif di ekuitas memperbesar net outflow di pasar saham.
Kebijakan Likuiditas Global Federal Reserve masih dalam fase pengetatan (rate hike) dan menurunkan basis balance sheet. Pengalihan dana “cash‑rich” ke pasar uang AS menyebabkan outflow di pasar emergen.
Fundamental Domestik Defisit neraca berjalan masih lemah; inflasi tetap di atas target (≈5,1 %). Menambah keraguan investor terhadap prospek jangka pendek.

3. Implikasi Bagi Pasar Keuangan Indonesia

3.1 Pasar Saham

  • Tekanan Harga: Net sell‑off Rp 12,40 triliun menurunkan valuasi saham, khususnya sektor yang sensitif terhadap aliran modal (perbankan, properti, infrastruktur).
  • Likuiditas: Volume penjualan tinggi meningkatkan spread bid‑ask, menurunkan likuiditas dan meningkatkan volatilitas.

3.2 Pasar Obligasi Pemerintah (SBN)

  • Yield Naik: Dari 5,95 % ke 6,35 % (10 tahun), menandakan premi risiko peningkatan dan menurunnya permintaan domestik serta asing.
  • Biaya Pembiayaan Pemerintah: Kenaikan biaya layanan utang dapat menambah tekanan fiskal, terutama bila likuiditas pasar obligasi menurun.

3.3 Nilai Tukar Rupiah

  • Depresiasi: Kenaikan JISDOR memperbesar beban impor dan meningkatkan tekanan inflasi import.
  • Cadangan Devisa: Penarikan modal bersih menggerus cadangan bank sentral, menurunkan buffer anti‑crisis.

3.4 Risiko Sistemik

  • Keterkaitan Pasar: Keterhubungan antara pasar saham, obligasi, dan FX dapat menimbulkan “contagion” internal bila penarikan berlanjut.
  • Margin Stabilitas Makro: Kenaikan CDS menunjukkan pasar menilai kemungkinan downgrade atau default lebih tinggi, memicu premi risiko lebih luas.

4. Tanggapan Kebijakan Bank Indonesia & Pemerintah

Kebijakan Tujuan Bentuk Implementasi (potensial)
Penguatan Likuiditas Pasar Obligasi Menjaga jalur pembiayaan pemerintah, menurunkan yield. Operasi pasar terbuka (OGS) dengan pembelian SBN, pembentukan “bond‑buyback program”.
Kebijakan Intervensi Pasar Valas Menstabilkan JISDOR dan menahan depresiasi. Penjualan USD cadangan resmi, atau penggunaan swap mata uang dengan bank swasta.
Pengaturan Modal Asing (Capital Controls) Membatasi volatilitas aliran modal spekulatif. Pengenaan tax on short‑term capital gains, pembatasan net short‑selling di bursa, atau penggunaan “macro‑prudential tool” seperti reserve requirement untuk portofolio asing.
Koordinasi Fiskal‑Moneter Menurunkan tekanan inflasi import dan membantu pembiayaan fiskal. Sinergi dengan Kementerian Keuangan untuk penjadwalan Penerbitan SBN, serta penyesuaian kebijakan pajak impor bila diperlukan.
Komunikasi dan Guidance Mengurangi ketidakpastian pasar, menjaga ekspektasi inflasi. Statement transparan mengenai target inflasi, proyeksi cadangan, dan rencana kebijakan moneter (misalnya, penyesuaian suku bunga acuan).
Diversifikasi Sumber Pembiayaan Mengurangi ketergantungan pada portofolio asing. Pengembangan pasar sukuk domestik, penerbitan obligasi korporasi berkelanjutan, serta mendorong partisipasi institusi domestik (pension fund, insurance).

5. Outlook Jangka Pendek & Rekomendasi

  1. Outlook Pasar Saham

    • Skenario Moderat: Jika BI berhasil menstabilkan nilai tukar dan yield SBN, penurunan harga saham dapat berbalik dalam 2‑4 minggu.
    • Skenario Negatif: Bila tekanan US Treasury terus intensif (setelah Federal Reserve peluncuran “hard landing”), outflow dapat meluas ke sektor lain, menurunkan IHSG lebih dari 5 % dalam sebulan.
  2. Outlook Obligasi Pemerintah

    • Yield 10 tahun diproyeksikan berada di kisaran 6,1‑6,5 % hingga akhir kuartal kedua 2026, tergantung pada dinamika cadangan dan kebijakan OGS.
  3. Rekomendasi untuk Investor

    • Diversifikasi: Alokasikan sebagian portofolio pada aset “safe‑haven” domestik (mis. obligasi korporasi dengan rating AAA‑AA, properti strategis) dan regional (ASEAN).
    • Hedging: Pertimbangkan kontrak forward atau opsi JISDOR untuk melindungi eksposur nilai tukar.
    • Strategi Jangka Menengah: Fokus pada saham dengan cash flow kuat, dividend tinggi, dan exposure minimal pada sektor yang sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga global (mis. real estate, energi).
  4. Rekomendasi Kebijakan

    • Sementara: Prioritaskan intervensi pasar valas dan operasi pasar terbuka untuk menstabilkan yield SBN.
    • Menengah: Tingkatkan transparansi data pasar keuangan (mis. real‑time flow data), mempermudah otoritas mengidentifikasi aliran spekulatif.
    • Jangka Panjang: Perkuat basis investor domestik melalui edukasi keuangan, dorong pembentukan dana pensiun wajib, serta memperluas pasar sekuritas (mis. fintech‑enabled bond issuance).

6. Kesimpulan

Penarikan modal asing senilai Rp 12,4 triliun lewat pasar saham pada akhir Januari 2026 adalah sinyal penting bahwa sentimen risiko global sedang beralih kembali ke aset‑safe‑haven seperti US Treasury, terutama di tengah kenaikan yield AS dan depresiasi rupiah. Dampaknya terasa pada leverage pasar saham, kenaikan yield SBN, dan penyusutan cadangan devisa.

Bank Indonesia sudah menegaskan komitmen koordinasi lintas‑otoritas dan optimasi bauran kebijakan; namun, tindakan yang lebih terukur dan komunikatif diperlukan untuk menahan arus keluar, menurunkan premi risiko (CDS), serta mengembalikan kepercayaan investor.

Jika kebijakan moneter, pasar valas, dan fiskal dapat dijalankan secara sinergis, Outflow dapat dipulihkan dalam jangka menengah, memungkinkan pasar domestik kembali menjadi magnet bagi aliran modal stabil. Sebaliknya, kelalaian atau keterlambatan dalam menanggapi dinamika global dapat memperpanjang periode volatilitas dan menambah beban pada sektor riil.

Kewaspadaan, transparansi, dan kesiapan institusional menjadi kunci untuk memastikan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia di tengah perubahan lanskap keuangan global.

Tags Terkait