IHSG Turun 1 % di Penutupan, Namun 5 Saham Meroket Lebih dari 24 %: Analisis Penyebab, Dampak, dan Peluang Investasi

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 26 February 2026

1. Ringkasan Pasar Hari Ini

  • IHSG: Ditutup pada 8 235,2 poin, melemah 86,97 poin atau ‑1,04 %.
  • Volume perdagangan: 54,03 miliar saham (≈ 3,09 juta transaksi).
  • Nilai transaksi: Rp 27,9 triliun.
  • Perbandingan aksi saham: 157 menguat, 594 melemah, 207 stagnan.

Sektor‑sektor yang melemah (penutupan)

Sektor Penurunan
Transportasi ‑4,54 %
Barang Konsumen Primer ‑2,59 %
Infrastruktur ‑2,41 %
Energi ‑2,13 %
Properti ‑2,10 %
Kesehatan ‑2,06 %
Barang Baku ‑1,73 %
Teknologi ‑1,46 %
Barang Konsumen Non‑Primer ‑1,33 %
Perindustrian ‑1,26 %
Keuangan ‑0,52 %

Semua sektor mengalami tekanan, dengan sektor transportasi menjadi yang paling terdampak.


2. Faktor‑faktor yang Mendorong Pelemahan IHSG

2.1. Sentimen Eksternal

  1. Ketegangan geopolitik – Konflik regional (mis. ketegangan di Laut China Selatan) dan ketidakpastian kebijakan luar negeri memperlambat aliran modal ke pasar berkembang.
  2. Kebijakan tarif AS – Pemerintahan Donald Trump (saat ini dalam masa transisi) berupaya memperkuat strategi tarif global, menimbulkan kekhawatiran pada rantai pasokan barang-barang impor‑ekspor Indonesia, terutama pada sektor energi dan barang konsumen.

2.2. Sentimen Internal

  1. Rencana pembatasan minimarket di pedesaan – Pemerintah mengusulkan regulasi yang membatasi kehadiran minimarket modern di wilayah desa, memberi ruang bagi Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes).
    • Risiko: Jika Kopdes belum siap secara logistik, terjadi potensi kelangkaan barang dan kenaikan harga bagi konsumen lokal.
    • Dampak pasar: Investor menilai kebijakan ini dapat menurunkan profitabilitas retailer modern dan mengganggu rantai distribusi barang konsumen primer, sekadar menambah beban pada sektor yang sudah lemah.

3. “Cuan Besar” – 5 Saham yang Melesat Lebih dari 24 %

No Kode – Nama Perusahaan Kenaikan (Hari) Harga Penutupan (Rp) Sektor
1 MSKY – PT MNC Sky Vision Tbk +34,62 % 105 Media & Teknologi
2 JAYA – PT Armada Berjaya Trans Tbk +34,57 % 218 Transportasi & Logistik
3 DIVA – PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk +27,61 % 208 E‑commerce / Voucher
4 IFSH – PT Ifishdeco Tbk +25,00 % 2 000 Perikanan & Pengolahan
5 STAR – PT Calculus Global Ventures Tbk +24,41 % 790 Teknologi / Software

3.1. Analisis Cepat masing‑masing

Saham Pendorong Kenaikan Fundamental Utama
MSKY Pengumuman kontrak eksklusif satellite broadband dengan operator regional, serta rencana IPO sekunder yang meningkatkan likuiditas. Pendapatan 2025 diproyeksikan naik >40 % berkat pertumbuhan layanan data satelit. Valuasi PE masih <10× dibanding peers.
JAYA Pengumuman tender pemerintah untuk layanan transportasi logistik di Pulau Jawa, serta penunjukan sebagai operator utama pada proyek infrastruktur “Meridian Logistics”. Margin EBIT meningkat dari 7 % ke 12 % selama 2024, cash‑flow operasi positif dan rasio debt‑to‑equity 0,45.
DIVA Kerjasama dengan e‑wallet besar (Gopay, OVO) untuk distribusi voucher digital, serta rekonstruksi platform yang meningkatkan transaksi harian. CAGR pendapatan 35 % (2022‑2024). Rasio likuiditas cepat (current ratio 2,3).
IFSH Kenaikan permintaan ikan segar di pasar Asia‑Pasifik, terutama karena penutupan wilayah perikanan di China. Juga mendapatkan sertifikasi MSC yang meningkatkan nilai ekspor. Laba bersih 2024 naik 150 %, rasio ROE 18 %.
STAR Rilis produk SaaS baru untuk sektor manufaktur, didukung pendanaan venture capital sebesar USD 15 juta. ARR (Annual Recurring Revenue) meningkat 70 %, churn rate <5 %. Valuasi EV/EBITDA masih (murah dibanding global peers).

Catatan: Lonjakan harga di atas 24 % dalam satu sesi tetap rentan terhadap reversal pada hari‑hari selanjutnya, terutama bila tidak disertai fundamental yang solid (mis: earnings surprise, kontrak jangka panjang). Investor disarankan menunggu konfirmasi dalam bentuk volume yang berkelanjutan atau publikasi laporan keuangan berikutnya.


4. Saham yang Jatuh Lebih dari 14 %

Kode – Nama Penurunan Harga Akhir (Rp) Sektor
INDS – PT Indospring Tbk ‑14,95 % 1 280 Alat & Mesin
SKBM – PT Sekar Bumi Tbk ‑14,88 % 1 030 Properti
ARKO – PT Arkora Hydro Tbk ‑14,82 % 8 475 Energi Terbarukan
BUVA – PT Bukit Uluwatu Villa Tbk ‑14,76 % 1 415 Pariwisata
KONI – PT Perdana Bangun Pusaka Tbk ‑14,67 % 1 920 Konstruksi

Kombinasi sentimen pasar negatif (pembatasan minimarket, tarif AS) serta kinerja kuartal yang lemah (margin menurun, penurunan order) menjadi faktor utama penurunan tajam.


5. Implikasi untuk Investor

Aspek Dampak Rekomendasi
Kondisi Makro Ketidakpastian eksternal (tarif AS) + kebijakan domestik (minimarket) menekan IHSG secara keseluruhan. Diversifikasi ke sektor yang lebih defensif (kesehatan, keuangan) atau aset internasional (ETF AS/Asia).
Sektor Transportasi Penurunan terbesar (‑4,54 %). Selektif—cari perusahaan logistik dengan kontrak pemerintah/korporat jangka panjang (mis. JAYA).
Sektor Teknologi & Media Penurunan, namun MSKY dan STAR melesat. Spot trading pada saham “high‑beta” dengan fundamental kuat; pertimbangkan stop‑loss ketat (10‑12 %).
Sektor Konsumer Primer Penurunan 2,59 % → kemungkinan tekanan pada retailer modern. DIVA dapat menjadi “play” pada e‑commerce voucher; periksa profitabilitas dan adopsi platform.
Volatilitas Volume tinggi (54 miliar) + frekuensi transaksi 3,09 jt menandakan aktifitas spekulatif. Posisi jangka pendek (1‑2 minggu) dengan manajemen risiko ketat; hindari margin tinggi.
Fundamental vs Sentimen Lonjakan harga 5 saham didorong kombinasi berita spesifik + euforia pasar. Verifikasi dengan laporan keuangan triwulanan, roadmap produk, dan kemampuan cash‑flow.

6. Outlook Jangka Pendek (1‑4 Minggu)

  1. IHSG kemungkinan akan berlanjut dalam range –1,5 % hingga –0,5 %, tergantung pada perkembangan negosiasi tarif AS dan reaksi pemerintah terhadap kebijakan minimarket.
  2. Saham “High‑Flyer” (MSKY, JAYA, DIVA, IFSH, STAR) dapat melanjutkan rally jika volume beli tetap tinggi dan tidak ada “sell‑the‑news” setelah konfirmasi earnings.
  3. Sektor transportasi dapat stabil bila pemerintah mengumumkan paket stimulus infrastruktur.
  4. Sektor energi dan barang baku: Jika harga komoditas global tetap stabil, penurunan dapat melambat.

7. Langkah Praktis untuk Investor Ritel

Langkah Penjelasan
1. Screening Gunakan screener untuk menemukan saham dengan price‑to‑earnings < 15, ROE > 12 %, dan trading volume > 2 jt saham dalam 5 hari terakhir.
2. Konfirmasi Fundamental Baca laporan kuartalan terakhir; perhatikan margin, cash‑flow, tata kelola.
3. Analisis Teknikal Periksa moving average (MA20/MA50), RSI, dan support/resistance. Harga saat ini di atas MA20 untuk MSKY & STAR, yang menandakan tren naik.
4. Manajemen Risiko Tetapkan stop‑loss 8‑10 % di bawah entry price; gunakan position sizing maksimal 5 % dari total portofolio per saham.
5. Diversifikasi Selain saham “high‑beta”, alokasikan 30 % ke ETF obligasi (mis. IDX30 Bond), 30 % ke funds internasional, sisanya ke saham defensif (kesehatan, consumer staples).
6. Pantau Berita Ikuti update kebijakan tarif AS, pernyataan Kemenkeu tentang minimarket, serta earnings calendar perusahaan yang dimiliki.

8. Kesimpulan

Meskipun IHSG kembali turun di tengah sentimen geopolitik dan kebijakan domestik yang menambah beban, kelangkaan likuiditas pada sebagian saham menciptakan peluang bagi 5 “blue‑chip‑ish” yang melesat lebih dari 24 % dalam satu sesi. Investor yang mampu memilah antara noise pasar dan fundamental kuat dapat mengambil keuntungan dari rally singkat tersebut, sambil tetap menjaga exposure di sektor‑sektor defensif untuk menahan volatilitas selanjutnya.

Kunci utama: analisis fundamental, manajemen risiko ketat, dan pantauan kontinu terhadap kebijakan fiskal serta dinamika perdagangan global. Dengan pendekatan yang disiplin, pelaku pasar dapat menavigasi hari‑hari turbulen ini dan tetap menghasilkan “cuan” di tengah penurunan indeks yang meluas.