Rupiah Terus Melemah di Awal Februari 2026: Dampak Penurunan Outlook Moody’s, Ketidakpastian Politik, dan Gejolak Geopolitik
Tanggapan Panjang
1. Ringkasan Situasi Pasar
Pada sesi perdagangan Jumat, 6 Februari 2026, nilai tukar Rupiah (IDR) berakhir lebih lemah 34 poin terhadap Dolar AS (USD) pada kisaran Rp 16.842–Rp 16.876. Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi pada hari Senin (9 Februari 2026) dengan rentang perdagangan antara Rp 16.870‑Rp 16.920 dan potensi menembus Rp 17.000 pada pekan berikutnya. Ia menambahkan bahwa range mingguan dapat meluas hingga Rp 16.750‑Rp 17.200.
Dua pendorong utama melemahnya Rupiah saat ini adalah:
- Faktor Internal – Penurunan rating outlook Moody’s dari “stabil” menjadi “negatif”.
- Faktor Eksternal – Ketegangan geopolitik (meski mereda) antara AS‑Iran serta data pemutusan hubungan kerja (PHK) di AS yang menimbulkan ketidakpastian kebijakan moneter Fed.
2. Analisis Faktor Internal: Penurunan Outlook Moody’s
2.1. Apa Makna “Outlook Negatif”?
Moody’s mengubah outlook menjadi negative menandakan penurunan kualitas kredit yang diantisipasi dalam jangka menengah. Meskipun rating sovereign tetap A2, outlook negatif memperingatkan potensi downgrade bila kondisi ekonomi atau fiskal tidak membaik.
2.2. Penyebab Penurunan Outlook
- Kebijakan yang “sulit diprediksi”: Pemerintahan Prabowo belum memberikan kejelasan mengenai jalur fiskal, terutama dalam hal pengelolaan defisit anggaran dan target inflasi.
- Tata Kelola: Moody’s menyoroti ketidakpastian dalam pengelolaan utang, termasuk transparansi proyek infrastruktur dan penggunaan dana publik.
- Risiko Politik: Pergolakan di parlemen dan potensi perubahan kebijakan regulasi yang cepat dapat mengganggu kepercayaan investor.
2.3. Implikasi Bagi Rupiah
- Sentimen Investor: Outlook negatif meningkatkan risk premium yang diminta oleh investor asing, memicu arus keluar modal (capital outflow).
- Biaya Pinjaman: Pemerintah mungkin harus membayar spread yang lebih tinggi untuk memperoleh dana luar negeri, yang selanjutnya dapat menekan neraca perdagangan lewat beban bunga yang meningkat.
- Dukungan Kebijakan Moneter: Bank Indonesia (BI) akan berada di bawah tekanan untuk menjaga suku bunga agar tetap kompetitif, tetapi kenaikan suku bunga terlalu cepat dapat menurunkan pertumbuhan domestik.
3. Analisis Faktor Eksternal
3.1. Ketegangan AS‑Iran
Meskipun ketegangan di Timur Tengah mereda, pasar masih mengantisipasi potensi eskalasi kembali. Konflik di kawasan tersebut dapat mengganggu pasokan minyak, yang pada gilirannya memengaruhi harga komoditas global (termasuk energi). Indonesia, sebagai net importer minyak, akan mengalami defisit impor energi yang lebih besar, menambah beban pada current account dan menekan nilai tukar.
3.2. Data PHK di AS
Data layoffs (pemutusan hubungan kerja) di AS pada Januari 2026 menunjukkan penurunan tenaga kerja tercepat sejak Resesi 2009. Ini menandakan:
- Pertumbuhan ekonomi AS melambat, sehingga Federal Reserve (Fed) mungkin akan menahan atau bahkan menurunkan suku bunga.
- Namun, kehadiran Kebin Warsh (mantan gubernur Fed) sebagai kandidat kuat untuk Ketua Fed menimbulkan persepsi bahwa kebijakan Fed tidak terlalu dovish; pasar menilai Fed akan tetap ketat untuk mengekang inflasi.
Kedua faktor tersebut memperkuat risk‑off sentiment global, yang biasanya mendorong risk‑averse investors beralih ke aset safe‑haven (USD, Treasury, emas) dan mengurangi eksposur ke emerging market currencies termasuk Rupiah.
4. Dampak Terhadap Pasar dan Investor
| Aspek | Dampak Jangka Pendek | Dampak Jangka Panjang |
|---|---|---|
| Nilai Tukar (IDR/USD) | Penurunan hingga Rp 16.950‑Rp 17.200 (potensi “break” di Rp 17.000) | Jika outlook Moody’s tetap negatif & kebijakan fiskal tidak memadai, IDR dapat menguat di atas Rp 17.500 dalam 3‑6 bulan. |
| Pasar Obligasi | Yield tambahan pada obligasi pemerintah (lebih tinggi), menyebabkan price drop pada obligasi. | Penurunan rating dapat meningkatkan suku bunga obligasi pemerintah secara struktural. |
| Pasar Saham | Sektor ekspor (mineral, agribisnis) dapat terlindungi karena nilai tukar lemah meningkatkan daya saing. | Volatilitas tinggi dapat menurunkan likuiditas, terutama pada saham small‑cap yang sensitif terhadap arus modal asing. |
| Investor Asing | Pengurangan posisi di aset‑aset IDR‑denominated, potensi flight to quality. | Penurunan kepercayaan dapat menyebabkan divestasi besar‑besar jika pemerintah tidak menampilkan reformasi yang kredibel. |
5. Rekomendasi Kebijakan & Strategi Investasi
5.1. Bagi Pemerintah & Bank Indonesia
- Konsolidasi Fiskal – Tingkatkan transparansi penggunaan dana proyek infrastruktur, restrukturisasi utang daerah, dan pengetatan kontrol pengeluaran non‑produktif.
- Komunikasi yang Jelas – Sampaikan rencana kebijakan moneter serta target inflasi secara forward‑looking untuk mengurangi ketidakpastian pasar.
- Diversifikasi Cadangan Devisa – Tambahkan aset “safe‑haven” (emas, sukuk luar negeri) guna menurunkan eksposur ke USD saat tekanan eksternal meningkat.
- Penguatan Pasar Modal Domestik – Tingkatkan likuiditas pasar obligasi korporasi lokal untuk menawarkan alternatif investasi bagi investor asing yang enggan menahan eksposur USD.
5.2. Bagi Investor (Domestic & Institutional)
- Hedging: Gunakan instrumen derivatif (forward, futures, options) untuk melindungi eksposur nilai tukar, khususnya pada kontrak impor/ekspor.
- Portofolio Diversifikasi: Tambahkan aset‑aset berbasis komoditas (emas, logam dasar) serta sukuk yang memiliki yield relatif stabil.
- Fokus pada Sektor Ekspor: Perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam USD (minyak kelapa sawit, batu bara, tambang nikel) dapat memanfaatkan rupiah lemah untuk meningkatkan margin.
- Monitor Sentimen Moody’s: Ikuti perkembangan rating sovereign Indonesia; jika ada sinyal downgrade, pertimbangkan rebalancing ke aset yang kurang sensitif terhadap volatilitas mata uang.
6. Outlook 3‑6 Bulan ke Depan
- Jika Pemerintah melakukan aksi reformasi (penyusunan kebijakan fiskal yang lebih terukur, perbaikan tata kelola) dan Moody’s menurunkan kembali outlook menjadi stabil atau positif, Rupiah dapat menguat kembali ke kisaran Rp 16.650‑Rp 16.850.
- Jika ketegangan geopolitik kembali memuncak (mis., eskalasi militer di Timur Tengah) atau data ekonomi AS menunjukkan resesi lebih dalam, maka USD akan tetap safe‑haven, menekan Rupiah ke Rp 17.200‑Rp 17.500 atau lebih.
7. Kesimpulan
Penurunan nilai Rupiah pada awal Februari 2026 bukan sekadar reaksi pasar terhadap satu variabel. Kombinasi penurunan outlook Moody’s, ketidakpastian kebijakan fiskal domestik, dan dinamika geopolitik serta makroekonomi global bersinergi menciptakan sentimen risk‑off yang kuat.
Bagi otoritas, yang paling penting adalah menunjukkan komitmen pada tata kelola yang stabil dan komunikasi kebijakan yang transparan. Bagi pelaku pasar, strategi hedging, diversifikasi, dan pemantauan terus‑menerus terhadap pergerakan rating menjadi kunci untuk melindungi nilai portofolio di tengah ketidakpastian.
Jika langkah‑langkah kebijakan yang tepat diambil, Rupiah dapat kembali ke zona stabilitas dalam beberapa bulan ke depan; sebaliknya, kegagalan menanggapi faktor‑faktor internal maupun eksternal berpotensi memicu depresiasi yang lebih dalam, menambah beban pada inflasi dan biaya pembiayaan negara.
Catatan: Analisis di atas didasarkan pada data yang tersedia hingga 6 Februari 2026 dan dapat berubah seiring munculnya informasi baru (misalnya, keputusan Fed, perkembangan politik dalam negeri, atau perubahan rating Moody’s). Investor disarankan untuk selalu melakukan due diligence dan konsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.