Dinamika Harga Emas Perhiasan dan Harga Antam 2026: Prospek Bullish Global, Peluang Investasi Emas, serta Implikasi pada Saham BUMI dan BBCA

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 13 February 2026

1. Pendahuluan

Pasar logam mulia kembali menjadi sorotan utama pada Kamis, 12 Februari 2026, setelah serangkaian data harga emas perhiasan, antam, dan prospek global yang cukup optimistis. Di sisi lain, pergerakan saham BUMI (sektor batubara) dan BBCA (perbankan) menambah dimensi risiko‑reward yang perlu diperhatikan investor ritel maupun institusi.

Artikel ini mengupas secara komprehensif:

  1. Trend harga emas perhiasan di pasar domestik – Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas.
  2. Pandangan bullish pada harga emas dunia – analisis David Wilson (BNP Paribas) serta faktor makro‑geopolitik yang memicu kenaikan rasio Emas‑Perak.
  3. Kinerja harga batangan Antam (ANTM) – rekam jejak 2026 dan implikasi bagi investor logam mulia.
  4. Prospek teknikal saham BUMI – level support/resistance, target jangka pendek, dan katalis fundamental.
  5. Faktor penurunan saham BBCA – selling pressure asing, sentimen pasar, serta langkah mitigasi untuk nasabah.

Setelah meninjau masing‑masing berita, kami menyajikan tanggapan panjang berupa analisis mendalam, rekomendasi alokasi aset, serta skenario risiko yang realistis untuk 2026‑2027.


2. Harga Emas Perhiasan: “Kokoh di Satu Pintu, Menurun Tipis di Pintu Lain”

Platform Harga per gram (Rp) Pergerakan 12‑Feb-2026
Raja Emas Indonesia 2 542 000 +0,15 %
Hartadinata Abadi 2 540 000 +0,10 %
Laku Emas 2 538 500 –0,05 %

2.1 Analisis Penyebab Divergensi

  1. Kebijakan Bea Masuk & Penyesuaian Pajak – Pemerintah kembali meninjau tarif impor emas (non‑teknis logam) yang dapat menurunkan biaya bagi importir Laku Emas, sementara Raja Emas dan Hartadinata yang beroperasi dengan persediaan domestik mengalami margin lebih stabil.
  2. Permintaan Musiman – Menjelang bulan Ramadan & Idul Fitri, konsumen meningkatkan pembelian perhiasan tradisional; hal ini memperkuat platform yang memiliki jaringan ritel luas (Raja Emas).
  3. Sentimen Pelaku Pasar – Data internal Laku Emas menunjukkan peningkatan penjualan online, tetapi kecepatan rotasi stok yang lebih tinggi menekan harga jual akhir.

2.2 Implikasi bagi Investor

  • Strategi Beli‑Akhir: Jika berencana menambah posisi logam mulia melalui perhiasan, sebaiknya manfaatkan penurunan tipis di Laku Emas sebagai “entry point” jangka pendek, sambil memantau harga Raja Emas sebagai acuan stabilitas.
  • Hedging: Mengingat volatilitas mikro, pertimbangkan kontrak forward atau ETF emas (mis. XAUETF) untuk melindungi nilai portofolio saat harga perhiasan bergerak melawan ekspektasi.

3. Prospek Bullish Emas Dunia: “Tancap Gas Menuju Level Akhir 2026”

3.1 Argumen David Wilson (BNP Paribas)

  • Target Harga Akhir 2026: US$ 2 150‑2 200 per ons (≈ Rp 35 000 000 per gram, asumsi kurs Rp 16 300/USD).
  • Rasio Emas‑Perak: Diproyeksikan naik menjadi 100‑110, menandakan permintaan “safe‑haven” lebih besar dibanding komoditas industri.
  • Pendorong Utama:
    • Inflasi Global yang Tertahan – Fed dan ECB masih menahan kebijakan suku bunga di level tinggi, menurunkan daya beli dolar dan meningkatkan permintaan aset riil.
    • Ketegangan Geopolitik – Konflik di timur Eropa & ketidakpastian di wilayah Indo‑Pasifik menambah permintaan lindung nilai.
    • Penurunan Produksi Tambang – Penutupan beberapa tambang di Afrika Selatan dan Australia (akibat regulasi lingkungan) mempersempit pasokan jangka menengah.

3.2 Dampak pada Pasar Domestik

  • Korelasi Harga Spot: Historis, setiap kenaikan $10 pada harga spot dunia menambah Rp 15 000‑20 000 pada harga emas per gram di Indonesia (setelah penyesuaian kurs).
  • Arus Modal: Kenaikan global akan menarik aliran dana ke produk fisik (batangan, perhiasan) serta produk derivatif (futures, options).

3.3 Rekomendasi

Produk Horizon Alokasi Ideal (Portofolio 100 %)
Batangan Antam (ANTM) 12‑24 bln 5‑7 % (nilai intrinsik + likuiditas)
ETF Emas Global (XAUETF) 6‑12 bln 3‑5 % (diversifikasi & kemudahan exit)
Perhiasan (Raja Emas) < 12 bln 2‑3 % (untuk tujuan konsumsi atau hadiah)
Futures Emas (CGM) < 6 bln 1‑2 % (hanya bagi investor yang menguasai margin)

4. Harga Batangan Antam (ANTM): “Kokoh, Naik 18 % Sejak Awal Tahun”

  • Harga 12‑Feb‑2026: Rp 2 945 000 / gram (↑ 18 % YoY).
  • Kenaikan YoY: Didorong oleh:
    • Kenaikan Harga Dunia: + 15 % pada harga USD/oz.
    • Kurs Rupiah: Stabil di Rp 16 300/USD (− 2 % terhadap tahun lalu).
    • Peningkatan Produksi Lokal: Antam mencatat output 80 ton pada Kuartal I‑II 2026, menyaingi biaya produksi kompetitor.

4.1 Analisis Risiko

Risiko Probabilitas Dampak Potensial
Penurunan harga dunia (≥ $1 800/oz) Sedang - 5 % hingga - 7 % pada harga Antam
Fluktuasi kurs (Rp > 16 800/USD) Tinggi - 3 % hingga - 4 % pada harga lokal
Gangguan pasokan (bencana tambang) Rendah Penurunan supply 5‑10 % → kenaikan harga lokal (positif)

4.2 Tindakan Investor

  • Jika Target Kenaikan > 15 %: Tambahkan posisi Antam via reksa dana logam mulia atau langsung beli batangan.
  • Jika risiko kurs meningkat: Pertimbangkan lindung nilai dengan kontrak forward dolar.

5. Saham BUMI (PT Bumi Resources Tbk): “Siap‑siap Tembus Level 278‑284”

5.1 Analisis Teknikal

  • Support kuat: Rp 260‑Rp 270 (area beli).
  • Resistance: Rp 278‑Rp 284 (target jangka dekat).
  • Indikator: RSI berada di 58 (tidak overbought), MACD menunjukkan bullish crossover pada 4‑minggu terakhir.

5.2 Fundamental Pendukung

  1. Kembalinya Permintaan Batubara Thermal di Asia – China dan India meningkatkan pangsa batubara untuk pembangkit listrik.
  2. Proyek Minyak & Gas di Papua – BUMI memperluas portofolio energi non‑batubara, memberi prospek diversifikasi.
  3. Restrukturisasi Utang 2025 – Penyelesaian restrukturisasi utang meningkatkan likuiditas dan menurunkan biaya modal.

5.3 Rekomendasi

  • Strategi “Buy‑the‑Dip”: Masuk pada level Rp 260‑270 dengan stop‑loss pada ₹ 250.
  • Target: Rp 284 dalam 3‑4 bulan, dengan potensi naik ke Rp 300 jika laporan kuartal Q1‑2026 mengungguli ekspektasi EPS (+ 10 %).

6. Saham BBCA (Bank Central Asia) : “Anjlok 1,68 % karena Selling Pressure Asing”

6.1 Faktor Penyebab

  • Penjualan oleh Investasi Asing (Foreign Institutional Investors – FII): Stockbit melaporkan net sell sebesar 1,2 miliar lembar pada sesi I.
  • Sentimen Rate‑Hike: Kekhawatiran akan kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) ke 6,5 % pada kuartal berikutnya menekan valuasi perbankan.
  • Likuiditas Pasar: Volume perdagangan menurun 18 % dibanding rata‑rata harian, memperparah volatilitas.

6.2 Dampak Jangka Pendek

  • Valuasi P/E: Turun menjadi 12,5x (dari 13,4x sebelumnya).
  • Dividen Yield: Masih menarik di 4,7 % (payout ratio 40 %).

6.3 Tindakan yang Disarankan

Langkah Kapan Rationale
Hold (jika sudah memiliki) 1‑3 bulan BBCA tetap memiliki fundamental kuat (ROE > 18 %, NPL < 1,5 %).
Cover Short Position Segera Jika memiliki short di BBCA, pertimbangkan penutupan karena volatilitas dapat berbalik dengan cepat pada data ekonomi berikutnya.
Buy on Pull‑back Jika harga ≤ Rp 7 200 Potensi rebound saat FII kembali masuk atau saat BI menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga.

7. Skenario Makro‑Ekonomi 2026‑2027 dan Dampaknya pada Portofolio Emas‑Saham

Skenario Kondisi Utama Implikasi pada Emas Implikasi pada Saham BUMI Implikasi pada Saham BBCA
Bullish Global (inflasi > 6 %, konflik geopolitik intens) Harga emas dunia > $2 200/oz, Rupiah stabil Emas + 10‑15 % (spot & batangan) BUMI + 7‑10 % (permintaan batubara meningkat) BBCA netral‑negatif (rate‑hike)
Stagnasi Ekonomi (inflasi turun menjadi 3‑4 %, pertumbuhan GDP < 3 %) Harga emas dunia 1.800‑1.900 oz, Rupiah menguat Emas - 5‑7 % (demand safe‑haven melemah) BUMI – 5 % (permintaan listrik turun) BBCA + 4‑5 % (margin banking stabil)
Geopolitik Tenang + Kebijakan Pro‑Investasi (BI 5,5 %, dolar lemah) Harga emas dunia 1.900‑2.000 oz, Rupiah menguat Emas + 2‑4 % (stabil) BUMI + 3 % (ekspekulasi energi terdiversifikasi) BBCA + 6‑8 % (profitabilitas naik)

Catatan: Investor sebaiknya menyesuaikan alokasi berdasarkan toleransi risiko pribadi serta horizon investasi.


8. Ringkasan Rekomendasi Strategis

Instrumen Alokasi (dalam portofolio 100 %) Entry Point Stop‑Loss / Target
Emas Batangan Antam 5‑7 % Rp 2 945 000/gram (12‑Feb) Stop loss pada Rp 2 800 000 (− 5 %)
ETF Emas Global 3‑5 % Harga XAUETF < US$ 170 Target US$ 190 (10‑12 % upside)
Saham BUMI 4‑6 % Rp 260‑270 SL Rp 250, TP Rp 284
Saham BBCA 6‑8 % (jika bullish) atau Hold Rp 7 200‑7 300 (jika pull‑back) TP Rp 7 800, SL Rp 7 000
USD/IDR Hedging (Forward) 2‑3 % Spot ≈ Rp 16 300 Sesuaikan dengan ekspektasi kurs akhir 2026

9. Penutup

Kombinasi faktor fundamental (inflasi, geopolitik, produksi tambang) dan teknikal (level support/resistance, indikator momentum) menjadikan 2026 tahun yang menantang sekaligus penuh peluang bagi investor Indonesia.

  • Emas masih dipandang sebagai “safe‑haven” utama, terutama mengingat prospek bullish dari analis global dan peningkatan permintaan domestik pada sektor perhiasan.
  • Antam menawarkan eksposur langsung dengan likuiditas tinggi dan harga yang terus naik stabil.
  • BUMI menonjol sebagai opsi “value‑play” di sektor energi tradisional, dengan potensi upside signifikan bila permintaan batubara kembali menguat.
  • BBCA memerlukan pemantauan ketat atas aliran FII dan kebijakan suku bunga; namun, fundamental perbankan tetap kuat untuk jangka menengah.

Investor yang dapat menyeimbangkan alokasi antara logam mulia dan ekuitas dengan strategi hedging terhadap risiko kurs akan berada pada posisi terbaik untuk memanfaatkan pergerakan pasar selama sisa tahun 2026 dan memasuki 2027.

Selalu periksa berita terbaru, perbaharui analisis Anda secara berkala, dan konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.