Bank Danamon 2025: Laba Bersih Naik 14% dengan Peningkatan Intermediasi, Pendapatan Non-Bunga, dan Kualitas Aset yang Terjaga – Prospek Optimis Menuju 2026

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 19 February 2026

1. Ringkasan Kinerja 2025

Item Nilai FY 2025 YoY Keterangan
Laba Bersih (konsolidasian) Rp 4 triliun +14 % Pertumbuhan profitabilitas utama
Total Kredit & Trade Finance Rp 212,7 triliun +9 % Didorong oleh Enterprise Banking (+14 %), Consumer Banking (+10 %), SME (+7 %), Adira Finance (+2 %)
DPK (Deposito & Giro) Rp 176,9 triliun +16 % CASA naik 18 % menjadi Rp 75,2 triliun
Pendapatan Operasional Rp 21,6 triliun +5 % Non‑bunga +9 % (tresuri +64 %)
PPOP Rp 9,6 triliun +4 % Dipengaruhi penurunan biaya kredit –10 %
NIM 7,7 % Stabil pada level tinggi
LAR Coverage Ratio 54,9 % +560 bps Menunjukkan penambahan cadangan yang signifikan
LAR (Loan‑at‑Risk) 8,3 % –230 bps Penurunan NPL “risk‑weighted”
NPL Coverage Ratio 280,7 % Cadangan sangat memadai
NPL Bruto 1,7 % –20 bps Kualitas aset membaik

2. Analisis Penyebab Kinerja Positif

2.1. Intermediasi yang Lebih Kuat

  • Enterprise Banking menjadi motor utama pertumbuhan kredit (+14 %). Fokus pada korporasi menambah volume pinjaman berskala tinggi dengan spread bunga yang lebih menguntungkan.
  • Consumer Banking (tabungan, kartu kredit, pinjaman ritel) tumbuh 10 %, didorong peningkatan penetrasi digital dan program cross‑selling.
  • SME Banking +7 % menandakan pemulihan sektor UKM pasca‑pandemi, didukung kebijakan pemerintah untuk pembiayaan mikro‑kredit.
  • Adira Finance hanya tumbuh 2 %, mencerminkan fokus strategis Danamon pada bank inti dibandingkan pembiayaan konsumen berbasis motor.

2.2. Penghimpunan Dana yang Konsisten

  • DPK naik 16 % dengan CASA (+18 %) menjadi Rp 75,2 triliun, menurunkan biaya dana (cost of funds) dan meningkatkan margin bunga bersih.
  • Program “Digital Savings” dan integrasi open banking memperkuat basis tabungan, terutama di kalangan milenial.

2.3. Pendapatan Non‑Bunga yang Menyumbang

  • Pendapatan non‑bunga naik 9 % menjadi Rp 3,7 triliun; tresuri (+64 %) menjadi pendorong utama, menandakan keberhasilan platform treasury digital serta peningkatan fee‑based services (foreign exchange, custodial).
  • Diversifikasi ke layanan keuangan seperti wealth management, e‑payment, dan partnership fintech turut memperkaya top‑line.

2.4. Pengendalian Biaya Kredit

  • Biaya kredit turun 10 % YoY berkat penurunan NPL bruto (−20 bps menjadi 1,7 %).
  • Proses underwriting yang lebih ketat, penggunaan data‑analytics, dan penyesuaian pricing pada portofolio berisiko tinggi berkontribusi pada hasil ini.

2.5. Kualitas Aset yang Terjaga

  • LAR coverage naik 560 bps menjadi 54,9 % dan LAR turun menjadi 8,3 % (−230 bps).
  • NPL coverage ratio 280,7 % menunjukkan cadangan yang lebih dari cukup untuk menutupi potensi kerugian.
  • Kebijakan penjualan aset non‑strategis dan restrukturisasi kredit selektif menambah buffer kualitas aset.

3. Implikasi Strategis untuk 2026

  1. Fokus pada Digitalisasi & Ekosistem

    • Daisuke Ejima menekankan “solusi finansial terintegrasi”. Pengembangan API banking, platform pinjaman digital, dan kemitraan fintech (mis. e‑wallet, BNPL) dapat meningkatkan share of wallet.
  2. Peningkatan Pendapatan Fee‑Based

    • Pertumbuhan tresuri (64 %) mengindikasikan peluang besar di layanan treasury, kustodian, dan advisory. Memperluas layanan corporate banking, cash‑management, serta produk derivatif dapat meningkatkan margin non‑bunga.
  3. Optimalisasi CASA & Funding Diversifikasi

    • Target peningkatan CASA menjadi > 45 % dari total DPK pada akhir 2026 untuk menurunkan cost of funds lebih lanjut.
    • Penawaran produk simpanan berjangka dengan fitur digital reward dapat menarik segmen menengah‑atas.
  4. Manajemen Risiko yang Proaktif

    • Menjaga LAR di bawah 8 % dan NPL bruto di bawah 1,5 % menjadi kunci kredibilitas. Penggunaan AI untuk monitoring portofolio dan early‑warning system akan memperkuat kontrol risiko.
  5. Ekspansi Segmen SME & Consumer

    • Memanfaatkan program pemerintah (mis. Kredit Usaha Rakyat, digital‑SME lending) untuk memperluas basis nasabah ritel dan UKM.
  6. Kebijakan Dividen & Kapitalisasi

    • Dengan ROE yang diperkirakan tetap di atas 15 % (berdasarkan margin NIM 7,7 % dan biaya kredit yang turun), Danamon dapat mempertimbangkan peningkatan payout ratio hingga 40‑45 % atau melakukan share buy‑back untuk menambah nilai pemegang saham.

4. Penilaian Investor: Apakah Saham Danamon Layak Dibeli?

Aspek Analisis Outlook
Pertumbuhan Laba +14 % YoY, didorong oleh intermediasi kuat dan biaya kredit turun Berkelanjutan jika kualitas aset terjaga
Margin Bunga NIM 7,7 % – tinggi dibanding rata‑rata industri (~6,5 %) Stabil karena basis dana CASA yang kuat
Pendapatan Non‑Bunga Tresuri +64 % menunjukkan diversifikasi Potensi pertumbuhan signifikan jika platform treasury diperluas
Kualitas Aset LAR coverage 54,9 % & NPL 1,7 % (lebih baik pesaing) Keunggulan kompetitif di manajemen risiko
Valuasi PER 12‑13× (berdasarkan estimasi EPS 2025) – masih wajar mengingat potensi upside Dapat menjadi “value play” dalam sektor perbankan Indonesia
Risiko - Ketergantungan pada kredit korporat (Enterprise) yang sensitif terhadap siklus ekonomi
- Persaingan fintech yang intens
- Kebijakan suku bunga BI yang naik dapat menekan NIM dalam jangka pendek
Manajemen risiko dan digitalisasi menjadi kunci mitigasi

Kesimpulan: Dengan profitabilitas yang kuat, basis dana murah, dan kualitas aset yang terjaga, Bank Danamon (BDMN) layak dipertimbangkan sebagai saham “buy‑and‑hold” untuk investor institusional maupun ritel yang mengincar exposure ke sektor keuangan dengan profil risiko menengah‑tinggi.


5. Rekomendasi Tindakan

  1. Investor:

    • Tambah posisi pada BDMN dengan target entry di sekitar IDR 1 200‑1 250, mengingat potensi upside 12‑15 % dalam 12‑18 bulan.
    • Pantau indikator LAR & NPL secara berkala; jika keduanya tetap dalam zona aman, sinyal dukungan bagi harga saham.
  2. Manajemen Danamon:

    • Lanjutkan agresi pada pemasaran produk digital CASA dan layanan treasury.
    • Perkuat kerjasama dengan fintech untuk memperluas ekosistem pembayaran dan kredit konsumen.
    • Tetapkan target LAR ≤ 8 % dan NPL bruto ≤ 1,5 % pada akhir 2026.
  3. Regulator & Analis:

    • Verifikasi bahwa pencatatan LAR coverage ratio sudah sesuai dengan PRA (Prudential Regulation Authority) Indonesia.
    • Analisa lebih mendalam mengenai komposisi loan‑portfolio enterprise vs konsumer untuk menilai sensitivitas terhadap tekanan makroekonomi.

6. Penutup

Kinerja Bank Danamon 2025 menunjukkan keberhasilan strategi “intermediasi + pendapatan non‑bunga + kontrol risiko”. Penurunan biaya kredit, pertumbuhan CASA, serta diversifikasi pendapatan menjadi fondasi yang kuat untuk melanjutkan momentum di 2026. Jika manajemen dapat mengeksekusi rencana digitalisasi, memperkuat ekosistem layanan fee‑based, dan menjaga kualitas aset, Danamon berpotensi menjadi pemimpin sektor perbankan menengah‑atas di Indonesia, memberikan nilai tambah bagi pemegang saham serta kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.


Catatan: Semua angka di atas diambil dari siaran pers investor.id tanggal 19 Februari 2026 dan dihitung dengan asumsi tidak terjadi perubahan signifikan pada laporan keuangan tahunan yang belum dipublikasikan.