Saham RI Bangkit: IHSG Cetak Reli 4 Hari Beruntun, Tembus 5.900
Saham RI Bangkit: IHSG Cetak Reli 4 Hari Beruntun, Tembus 5.900
Jakarta, 7 Juli 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses mencatatkan reli penguatan selama empat hari perdagangan berturut-turut sejak awal Juli 2026, menembus level psikologis 5.900 dan menandai awal kuartal III yang positif di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Setelah melalui tekanan cukup berat di sepanjang Juni 2026 — di mana IHSG sempat ambles hingga ke level 5.472 — pasar akhirnya menemukan momentum kebangkitan. Membuka kuartal III, IHSG naik 0,92% pada 1 Juli 2026 ke 5.695, lalu ditutup hijau beruntun hingga Senin (6/7/2026) di level 5.916,07 — menguat 0,69% dalam sehari.
Katalis Reli: Asing Mulai Kembali?
Salah satu pendorong utama penguatan adalah kembalinya aliran modal asing. Pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp6,04 triliun — angka tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Meski secara akumulatif sepanjang pekan pertama Juli asing masih mencatatkan jual bersih Rp3,27 triliun, aksi beli di akhir pekan memberikan sinyal bahwa investor global mulai melirik kembali aset-aset Indonesia.
Sentimen positif juga datang dari bursa Asia yang mayoritas menguat, seiring meredanya kekhawatiran akan eskalasi ketegangan geopolitik global.
Suku Bunga Naik, Rupiah Tertekan
Namun, kondisi fundamental masih menyisakan tantangan. Bank Indonesia menaikkan BI Rate dua kali berturut-turut pada Juni 2026 — pertama ke 5,50% pada 9 Juni, lalu ke 5,75% pada 18 Juni 2026. Langkah agresif ini ditempuh untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus tertekan.
Pada awal Juli 2026, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.951 per dolar AS (1 Juli) dan melemah ke Rp 18.002 per dolar AS pada 6 Juli 2026 — mendekati level psikologis Rp 18.000 yang cukup dijaga ketat oleh otoritas moneter.
Meski demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis rupiah akan kembali stabil di kisaran Rp 16.200–Rp 16.800 per dolar AS mulai semester II 2026, didukung oleh fundamental ekonomi yang solid.
Inflasi Terjaga, Ekonomi Tumbuh 5,61%
Data makroekonomi masih memberikan optimisme. Inflasi Juni 2026 tercatat 3,34% secara tahunan (YoY) — masih dalam rentang sasaran BI 2,5%±1%. Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61% (YoY), menandakan denyut ekonomi domestik tetap kuat di tengah tekanan global.
Enam perusahaan baru juga dijadwalkan melantai di BEI melalui IPO pada bulan Juli 2026, menambah semarak pasar modal tanah air. Di sisi lain, BEI resmi mensuspensi 19 emiten berekuitas negatif mulai awal Juli — langkah pembersihan yang disambut positif oleh pelaku pasar karena meningkatkan kualitas emiten yang diperdagangkan.
Prospek ke Depan
Dengan level support di 5.695 dan resistance di 6.000, IHSG berada pada fase kritis. Jika mampu menembus dan bertahan di atas 6.000, bukan tidak mungkin indeks akan kembali menguji level tertingginya tahun ini. Namun, investor tetap perlu mencermati pergerakan rupiah, aliran dana asing, serta keputusan suku bunga BI berikutnya.
Bagi pelaku pasar, momen koreksi di tengah uptrend bisa menjadi peluang akumulasi — terutama pada saham-saham berfundamental kuat dengan valuasi menarik.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.