10 Saham yang Terpuruk Lebih dari 40 %: Apa Penyebabnya dan Langkah Bijak bagi Investor di Tengah Turunnya IHSG 4,73 %

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 7 February 2026

1. Ringkasan Situasi Pasar

  • IHSG tercatat turun 4,73 % dalam seminggu terakhir (dari 8.329,606 menjadi 7.935,260).
  • Capitalisation pasar berkurang 4,69 % menjadi Rp 14.341 triliun (penurunan Rp 705 triliun).
  • Volume transaksi harian menurun 31,75 % (43,2 miliar lembar vs 63,3 miliar lembar sebelumnya).
  • Nilai transaksi harian menurun 43,45 % menjadi Rp 24,75 triliun.

Dalam kondisi tekanan ini, sepuluh saham tercatat sebagai top losers, masing‑masing melengkung lebih dari 40 % penurunan harga dalam seminggu.

No Kode Nama Perusahaan Penurunan Harga Akhir (Rp)
1 FILM PT MD Entertainment Tbk ‑55,3 % 6.475
2 SSTM PT Sunson Textile Manufacture Tbk ‑54,4 % 1.345
3 MORA PT Mora Telematika Indonesia Tbk ‑52,4 % 5.550
4 NSSS PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk ‑46,3 % 805
5 UNIQ PT Ulima Nitra Tbk ‑45,9 % 160
6 TRUE PT Triniti Dinamik Tbk ‑44,5 % 193
7 RMKO PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk ‑43,8 % 590
8 PADI PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk ‑41,7 % 85
9 PIPA PT Multi Makmur Lemindo Tbk ‑40,9 % 131
10 MINA PT Sanurhasta Mitra Tbk ‑40,2 % 226

2. Analisis Penyebab Penurunan Tajam

2.1 Faktor Makroekonomi

Faktor Dampak Langsung
Kenaikan suku bunga global (Fed, ECB) Mengurangi likuiditas, memperlambat aliran modal ke pasar emerging, termasuk Indonesia.
Ketidakpastian geopolitik (konflik di Eropa, ketegangan Asia) Menyebabkan “risk‑off” sentiment, investor mengalihkan dana ke safe‑haven (USD, emas).
Penurunan harga komoditas (minyak, nikel) Mengurangi ekspektasi laba bagi perusahaan konsumer, energi, dan bahan baku.
Data inflasi domestik yang masih tinggi Menyebabkan ekspektasi kenaikan BI Rate, menekan valuasi ekuitas.

2.2 Faktor Mikro (Spesifik Perusahaan)

Perusahaan Sektor Penyebab Penurunan Khusus
FILM Hiburan & Media Penurunan pendapatan produksi film pasca‑COVID, penurunan tiket bioskop, persaingan streaming lokal dan internasional.
SSTM Tekstil Harga kain global turun, tekanan biaya logistik, serta tingginya persediaan yang belum terjual.
MORA Telemetri & IoT Proyek pemerintah tertunda, siklus pembayaran B2B yang panjang, serta persaingan teknologi yang cepat.
NSSS Sawit Harga CPO turun, regulasi lingkungan ketat, serta laporan ESG yang menurunkan kepercayaan investor.
UNIQ Kimia khusus Fluktuasi harga bahan baku, masalah kapasitas produksi, dan penurunan order industri otomotif.
TRUE Teknologi & Infrastruktur Penurunan order infrastruktur telekom, persaingan harga layanan data, serta investasi R&D yang belum menghasilkan pendapatan.
RMKO Konstruksi Penurunan proyek infrastruktur publik, likuiditas kontraktor menurun, dan penurunan nilai tukar rupiah meningkatkan biaya impor.
PADI Sekuritas Volume perdagangan turun drastis (siklus pasar bearish), margin komisi tertekan, dan kebijakan regulasi fee yang lebih ketat.
PIPA Lemak nabati Penurunan permintaan industri makanan olahan, serta fluktuasi harga minyak kelapa sawit.
MINA Manufaktur umum Penurunan order industri, kendala rantai pasok logistik laut, serta margin laba yang tergerus biaya energi.

2.3 Dinamika Pasar Saham Lokal

  1. Likuiditas Menurun – Transaksi harian turun 31,75 % dan nilai transaksi turun 43,45 %. Sedikitnya likuiditas meningkatkan volatilitas dan memperbesar pergerakan harga pada saham-saham berkapitalisasi kecil‑menengah.
  2. Sentimen Investor Asing – Net sell‑off asing mencapai Rp 11,02 triliun pada tahun 2026, menunjukkan keengganan institusi luar negeri untuk menahan posisi di pasar yang “risk‑averse”.
  3. Pemindahan Dana ke Instrumen Pasar Uang – Pada masa ketidakpastian, aliran dana beralih ke deposito, obligasi pemerintah, atau reksa dana pasar uang, menurunkan permintaan saham secara umum.

3. Implikasi Bagi Investor

Kategori Investor Dampak dan Risiko
Retail (Individu) Potensi kerugian signifikan bila belum diversifikasi; risiko margin call pada akun yang menggunakan leverage.
Institusi (Dana Pensiun, REIT, dll.) Penurunan NAV, tekanan pada target return jangka menengah; perlu penyesuaian alokasi aset.
Investor Asing Nilai tukar dan kebijakan moneter Indonesia menjadi faktor utama dalam keputusan alokasi; keharusan menyiapkan strategi exit atau hedging.
Trader Harian Volatilitas tinggi memberikan peluang short‑term profit, namun juga risiko slippage yang tinggi.

4. Langkah‑Langkah Bijak yang Dapat Diambil

4.1 Re‑evaluasi Portofolio

  • Screening Fundamental: Fokus pada perusahaan yang memiliki cash‑flow positif, neraca sehat, dan rentang margin yang lebar.
  • Diversifikasi Sektoral: Hindari konsentrasi pada sektor yang sangat terpengaruh faktor eksternal (mis. energi, bahan mentah).
  • Posisi Cash: Tingkatkan proporsi cash atau instrumen pasar uang sebagai “buffer” bila volatilitas diperkirakan akan berlanjut.

4.2 Manajemen Risiko

Alat Cara Penggunaan
Stop‑Loss Order Tetapkan level stop yang rasional (mis. 15‑20 % di bawah harga beli) untuk melindungi modal.
Trailing Stop Memungkinkan mengunci profit jika harga mulai rebound, sambil tetap memberi ruang bagi pergerakan volatil.
Position Sizing Sesuaikan ukuran lot dengan volatilitas harian (mis. gunakan “ATR‑based sizing”).

4.3 Strategi Investasi Jangka Panjang

  1. Beli pada “Bottom” – Jika analisis fundamental tetap kuat (mis. FILM dengan aset konten yang masih bernilai), pertimbangkan akumulasi bertahap pada harga terdiskon.
  2. Dividend Yield – Pilih saham dengan yield stabil (>4 %) untuk menambah pendapatan selama masa turun.
  3. ESG & Regulator Compliance – Perusahaan yang sudah mematuhi regulasi lingkungan & sosial cenderung lebih tahan pada fluktuasi pasar.

4.4 Pantau Indikator Makro

  • BI Rate – Kenaikan atau penurunan suku bunga akan memengaruhi cost of capital.
  • Neraca Perdagangan – Ketimpangan impor‑ekspor dapat menambah tekanan pada rupiah.
  • Data Sentimen Investor Asing – Laporan kepemilikan saham asing (FKI) tiap minggu menjadi sinyal awal perubahan aliran dana.

4.5 Konsultasi dengan Ahli

  • Analis Riset: Mintalah laporan riset terkini mengenai saham‑saham yang berada di daftar top losers; seringkali ada catatan “recovery catalyst”.
  • Financial Planner: Jika portofolio Anda lebih besar dari Rp 500 juta, pertimbangkan review strategis tahunan dengan perencana keuangan.

5. Outlook Pasar ke Depan (Kira‑kira 3‑6 Bulan)

Skenario Keterangan
Best‑Case Stabilitas geopolitik, penurunan suku bunga global, serta rebound harga komoditas; IHSG dapat kembali ke zona 8.300‑8.500.
Base‑Case Kondisi “risk‑off” berlanjut selama 1‑2 kuartal, tetapi kebijakan stimulus fiskal domestik mulai terasa; IHSG stabil di antara 7.500‑8.000.
Worst‑Case Resesi global berkembang, tekanan pada rupiah, dan defisit neraca perdagangan yang melebar; IHSG dapat turun di bawah 7.000.

Dalam kebanyakan skenario, saham-saham dengan fundamental kuat akan menempuh proses rebound lebih cepat daripada spekulatif atau yang bergantung pada satu proyek besar. Investor yang bersikap patient dan disciplin dalam manajemen risiko akan lebih mampu mengatasi volatilitas ini.


6. Kesimpulan

  • Penurunan 10 saham lebih dari 40 % dalam satu minggu mencerminkan kombinasi faktor makro (global suku bunga, geopolitik, inflasi) dan kondisi mikro (kualitas fundamental, exposure sektor).
  • Likuiditas pasar menurun drastis, sehingga volatilitas menjadi lebih tajam; hal ini menuntut manajemen risiko yang ketat dan rekalkulasi alokasi aset.
  • Bagi investor yang memiliki horizon jangka panjang dan mengutamakan fundamental, aset yang kini “terpuruk” dapat menjadi peluang masuk dengan harga diskon, asalkan analisis fundamental mendukung.
  • Bagi trader atau investor dengan toleransi risiko rendah, strategi mengurangi eksposur, menambah cash, serta memanfaatkan stop‑loss menjadi pilihan yang lebih bijak.

Dengan mengawasi indikator makro, memperkuat diversifikasi, dan menjalankan disiplin manajemen risiko, investor dapat menavigasi fase turunnya pasar ini dan mempersiapkan diri untuk memanfaatkan potensi rebound ketika sentimen kembali menguat.


Semoga analisis ini membantu Anda menilai situasi pasar secara menyeluruh dan merumuskan langkah taktis yang tepat.