Gold Forecast 2026: Antara Geopolitik Timur Tengah, Kebijakan Fed, dan Volatilitas Pasar – Apa yang Harus Diketahui Investor?
Tanggapan Panjang
1. Ringkasan Prediksi Ibrahim Assuaibi
Ibrahim Assuaibi, analis pasar komoditas, memproyeksikan bahwa pergerakan harga emas dunia selama satu pekan ke depan akan dipengaruhi oleh tiga pilar utama:
| Faktor | Dampak yang Diperkirakan |
|---|---|
| Geopolitik Timur Tengah | Peningkatan ketegangan (potensi serangan AS‑Israel ke Iran) → dorongan kuat ke permintaan safe‑haven → kenaikan harga emas. |
| Politik AS & Data Ekonomi | Laporan tenaga kerja Januari 2026 yang positif serta inflasi inti lebih rendah dari ekspektasi (2,4 % vs 2,5 %) → ekspektasi penurunan suku bunga Fed → emas yang biasanya menguat ketika suku bunga turun. |
| Kebijakan Fed | Penggantian Jerome Powell oleh Kevin Warsh pada Mei 2026 yang cenderung ‘dovish’ → kemungkinan kebijakan akomodatif → dukungan bagi harga emas. |
Berdasarkan analisis tersebut, ia menyoroti:
- Resistance pertama: US$ 5.134/oz (≈ Rp 3.000.000/gram).
- Resistance kedua: US$ 5.245/oz (≈ Rp 3.150.000/gram).
- Support pertama: US$ 4.947/oz.
- Support kedua: US$ 4.818/oz (≈ Rp 2.860.000/gram).
2. Mengapa Harga Emas Bisa Berfluktuasi Secara Drastis?
-
Geopolitik – Emas adalah “safe‑haven” klasik. Ketegangan di Timur Tengah (khususnya antara AS‑Israel‑Iran) meningkatkan ketidakpastian pasar, memicu aliran dana ke emas. Setiap eskalasi militer atau sanksi ekonomi baru dapat menambah tekanan beli.
-
Kebijakan Moneter AS – Harga emas memiliki korelasi negatif dengan suku bunga riil (suku bunga nominal dikurangi inflasi). Jika Fed menurunkan fed funds rate, biaya peluang memegang emas turun, sehingga permintaan naik. Kebijakan yang lebih longgar (atau sinyal “dovish”) biasanya mendorong emas ke level tertinggi.
-
Data Ekonomi Penting – Pertumbuhan lapangan kerja, inflasi inti, neraca perdagangan, atau data PMI dapat mengubah ekspektasi kebijakan Fed dalam hitungan menit. Pada contoh di atas, inflasi inti yang lebih rendah memicu spekulasi penurunan suku bunga.
-
Supply‑and‑Demand Fundamental – Penambangan emas secara global masih berkurang (beberapa tambang utama berada di zona “politically risky”), sedangkan permintaan fisik (perhiasan, investasi, cadangan bank sentral) tetap kuat. Selain itu, permintaan ETF emas terus meningkat, menambah tekanan beli di bursa spot.
3. Skenario Harga Emas di Kuartal 1‑2 2026
| Skenario | Katalis Utama | Pergerakan Harga (perkiraan) |
|---|---|---|
| Bullish (Optimis) | Eskalasi konflik di Timur Tengah + Fed menurunkan rate pada Q1 2026 | US$ 5.200‑5.350/oz (Rp 3.150.‑3.250.000/gram) |
| Neutral (Stabil) | Konflik beresolusi diplomatik, data pekerjaan kuat namun inflasi tetap tinggi | US$ 5.000‑5.150/oz (Rp 3.050‑3.120.000/gram) |
| Bearish (Pesimis) | Fed mempercepat kenaikan suku bunga (misalnya +25bps) + penurunan kembali tensi geopolitik | US$ 4.850‑4.950/oz (Rp 2.950‑3.000.000/gram) |
Kunci utama adalah memantau indicator berikut:
- Pernyataan resmi dari Pentagon & State Department terkait rencana operasi militer di Iran.
- Rilis data inflasi CPI & PCE, terutama core‑inflation.
- Minutes of the Federal Open Market Committee (FOMC) yang mengindikasikan sikap Kevin Warsh.
- Laporan produksi tambang emas utama (South Africa, China, Australia).
4. Implikasi bagi Investor di Indonesia
-
Diversifikasi Portofolio
- Menempatkan alokasi 5‑10 % dari total aset ke emas (baik bentuk fisik, ETF, atau kontrak berjangka) dapat menurunkan volatilitas keseluruhan portofolio, terutama bila terdapat eksposur besar pada ekuitas yang sensitif terhadap suku bunga (mis. teknologi, properti).
-
Strategi Entry‑Level
- Jika harga turun ke support pertama (US$ 4.947/oz ≈ Rp 2.860.000/gram) – ini menjadi peluang buy‑the‑dip bagi investor jangka menengah‑panjang.
- Jika harga menembus resistance pertama (US$ 5.134/oz ≈ Rp 3.000.000/gram) – pertimbangkan stop‑loss pada level support pertama atau set target profit di resistance kedua (US$ 5.245/oz).
-
Instrumen Pilihan
- Emas Fisik (batangan/loi) – cocok bagi mereka yang menginginkan kepemilikan nyata, meski penyimpanan dan biaya premi/discount harus diperhitungkan.
- ETF Emas (mis. GLD, IAU, atau ETF lokal seperti ETFS Gold) – likuid, bebas biaya penyimpanan, tetapi terpengaruh biaya manajerial.
- Kontrak Berjangka (Gold Futures) – untuk spekulan yang siap menanggung margin call, cocok bagi yang menguasai analisis teknikal dan manajemen risiko.
-
Pertimbangan Pajak & Regulator
- Di Indonesia, PPN tidak dikenakan pada pembelian emas fisik, namun PPH dapat berlaku pada penjualan bila dianggap sebagai transaksi spekulatif.
- ETF dan kontrak berjangka tunduk pada Pajak Penghasilan (PPh) final 0,1 % atas transaksi jual beli di bursa.
-
Risiko Valuta
- Karena harga emas dipatok dalam USD, fluktuasi Rupiah‑USD berperan penting. Depresiasi Rupiah akan meningkatkan nilai emas dalam rupiah, bahkan jika harga dalam USD stabil. Investor harus memperhatikan neraca perdagangan Indonesia serta kebijakan moneter BI (Bank Indonesia).
5. Rekomendasi Tindakan Praktis
| Tindakan | Waktu Pelaksanaan | Alasan |
|---|---|---|
| Pantau kalender ekonomi AS (FOMC, CPI, NFP) | Setiap rilis data (biasanya minggu depan) | Mengidentifikasi titik perubahan sentimen pasar. |
| Buat alert harga pada platform trading untuk level 4.947 oz, 5.134 oz, 5.245 oz | Saat ini | Mempermudah eksekusi cepat bila harga menembus level kunci. |
| Alokasikan 5‑7 % portofolio ke emas (bisa melalui ETF) | 1‑2 minggu ke depan | Menyerap potensi kenaikan harga sekaligus menyediakan “hedge” bila pasar ekuitas turun. |
| Evaluasi eksposur dolar (mis. hutang luar negeri, import) | Kuartal berikutnya | Mengurangi risiko gabungan antara pergerakan EUR/USD dan harga emas. |
| Menggunakan trailing stop pada posisi long | Saat posisi terbuka | Mengunci profit jika harga melaju naik, melindungi dari koreksi tiba‑tiba. |
6. Kesimpulan
- Faktor geopolitik (ketegangan AS‑Israel‑Iran) dan kebijakan Fed (potensi penurunan suku bunga di bawah kepemimpinan Kevin Warsh) menjadi pendorong utama bullish pada emas dalam beberapa minggu mendatang.
- Namun, support level di US$ 4.947/oz tetap menjadi zona risiko; penurunan di bawahnya dapat menandakan bearish backlash yang dipicu oleh data inflasi yang lebih tinggi atau pernyataan Fed yang “hawkish”.
- Bagi investor Indonesia, menyusun strategi entry‑exit berbasis level teknikal sambil menjaga diversifikasi aset (emas, saham, obligasi) akan memberikan keseimbangan antara upside potensial dan perlindungan terhadap volatilitas pasar global.
Dengan memadukan analisis fundamental (geopolitik, kebijakan moneter) dan analisis teknikal (resistance/support), investor dapat membuat keputusan yang lebih terinformasi dan mengoptimalkan alokasi dana di tengah ketidakpastian ekonomi глобал tahun 2026.
Semoga ulasan ini membantu Anda menilai peluang dan risiko pada pasar emas serta menyesuaikan strategi investasi pribadi.