Rupiah Masih Sub-Valuasi: Implikasi Kebijakan Stabilitas Bank Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global dan Dinamika Fundamental Domestik

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 19 February 2026

1. Ringkasan Poin Kunci Artikel

No Pokok Informasi Penjelasan Singkat
1 Kondisi nilai tukar Pada 18 Feb 2026 rupiah = Rp 16.880/USD, melemah 0,56 % dibanding akhir Jan 2026.
2 Penilaian BI Rupiah masih berada pada level undervalued bila dibandingkan dengan fundamental Indonesia (inflasi rendah, imbal hasil menarik, prospek pertumbuhan positif).
3 Faktor tekanan jangka pendek Premium risiko global, ketidakpastian pasar keuangan, dan tingginya permintaan valas korporasi domestik.
4 Instrumen intervensi NDF (pasar luar negeri), spot & DNDF (pasar domestik) serta pembelian SBN di pasar sekunder.
5 Aliran modal asing Net inflow portofolio hingga 13 Feb 2026 = US$ 1,6 miliar, didorong oleh SRBI & SBN.
6 Pertumbuhan M0 Jan 2026: +11 % YoY, sedikit melambat dari Des 2025 (11,4 %). Didorong oleh uang kartal & giro bank BI.
7 Prospek BI optimis rupiah akan stabil‑menguat seiring kelanjutan kebijakan stabilisasi dan fundamental yang kuat.

2. Analisis Menyeluruh

2.1. Mengapa Rupiah Dikatakan “Undervalued”?

  1. Fundamental Ekonomi yang Kuat

    • Inflasi: Tetap dalam kisaran target 2‑4 %, menurunkan tekanan depresiasi.
    • Yield Obligasi: Imbal hasil SBN berada di level yang masih cukup menarik bagi investor internasional, menciptakan “risk‑free rate” domestik yang tinggi relatif terhadap negara emerging lain.
    • Pertumbuhan Ekonomi: Proyeksi IMF & World Bank 2026 menempatkan Indonesia pada pertumbuhan real >5 %, memberikan dasar permintaan domestik yang kuat.
  2. Kondisi Pasar Valas Global

    • Premium Risiko pada USD (mis. USD‑JPY, EUR‑USD) meningkat karena ketegangan geopolitik, kebijakan moneter AS yang ketat, dan volatilitas pasar ekuitas.
    • Sentimen “Flight to Safety” mendorong aliran modal ke aset berbasis dolar, menurunkan nilai tukar emerging market termasuk IDR.
  3. Perbandingan dengan Model PPP & Indeks Real Exchange Rate (RER)

    • Analisis Purchasing Power Parity (PPP) menunjukkan IDR sekitar 10‑12 % di bawah nilai “fundamental”.
    • RER yang dihitung berdasarkan indeks harga domestik vs. harga internasional mengindikasikan IDR berada pada zona “sub‑valued”.

Kesimpulan: Argumen undervaluasi bukan sekedar “perasaan”, melainkan didukung oleh data kuantitatif yang menggabungkan indikator fundamental mikro‑makro dan model valuasi eksternal.


2.2. Kebijakan Intervensi BI: Apa yang Dilakukan dan Bagaimana Efektivitasnya?

Instrumen Pasar Mekanisme Tujuan Catatan Efektivitas
NDF (Non‑Deliverable Forward) Pasar luar negeri (USD/IDR) Kontrak forward yang tidak melibatkan penyerahan fisik IDR, melainkan penyelesaian selisih nilai pada tanggal jatuh tempo. Mengurangi pressure jual spot IDR, menstabilkan forward curve. Efektivitas tinggi pada volatilitas jangka pendek, namun terbatas pada volume yang dapat dipertahankan tanpa menambah beban neraca devisa.
Spot & DNDF (Domestic NDF) Pasar domestik Transaksi spot berpasangan dengan penjualan/penawaran IDR secara langsung; DNDF mirip NDF namun di ranah domestik (bank‑to‑bank). Menjaga likuiditas pasar spot, menyeimbangkan supply‑demand IDR. Menurunkan volatilitas intraday; tetap terikat pada likuiditas likuiditas bank.
Pembelian SBN di pasar sekunder Pasar sekunder obligasi pemerintah BI membeli SBN yang diperdagangkan di bursa, meningkatkan permintaan dan menurunkan yield. Menyokong nilai tukar lewat kanal “portfolio‑flow”; menstimulasi aliran modal asing. Membantu mengurangi tekanan J-curve pada yields, tetapi dapat meningkatkan eksposur BI terhadap risiko suku‑bunga jangka menengah.
SRBI (Securitisation Rupiah Bank Indonesia) Pasar sekuritas Penjualan sekuritisasi obligasi pemerintah dalam rangka meningkatkan penawaran idr‑denominated assets. Membuka jalur investasi portofolio asing, meningkatkan demand untuk IDR. Dapat memperdalam basis investor institusional; tapi memerlukan transparansi dan likuiditas pasar yang tinggi.

2.2.1. Evaluasi Kelebihan & Kekurangan

  • Kelebihan

    • Intervensi multi‑channel (NDF + spot + DNDF + SBN) memberi fleksibilitas bagi BI untuk menyesuaikan intensitas sesuai kondisi pasar yang berubah‑ubah.
    • Pembelian SBN tidak hanya menstabilkan nilai tukar, tetapi juga mengurangi yield curve risk yang dapat menambah beban biaya pinjaman pemerintah.
  • Kekurangan / Risiko

    • Stok cadangan devisa terbatas: semakin intensif intervensi NDF, semakin cepat cadangan terpakai, yang pada akhirnya mengurangi ruang manuver di krisis mendadak.
    • Pasar obligasi yang belum cukup dalam (depth) dapat menyebabkan price impact tinggi saat BI membeli dalam volume besar, meningkatkan volatilitas yield.
    • Ketergantungan pada aliran portofolio: jika sentimen global berbalik (mis. oleh kenaikan suku bunga Fed), aliran US$ 1,6 miliar dapat berbalik menjadi outflow, memberi tekanan tambahan pada rupiah.

2.2.2. Saran Peningkatan Kebijakan

  1. Diversifikasi Instrumen Hedging

    • Menggunakan FX‑swap dan FX‑options bersifat non‑deliverable untuk menambah layer proteksi pada posisi spekulatif.
  2. Penguatan Pasar Obligasi Domestik

    • Menambah eligibilitas bagi investor institusional (mis. memperluas kriteria rating, meningkatkan transparansi reporting).
    • Memperkenalkan obligasi berjangka pendek (1‑2 tahun) yang dapat diperdagangkan aktif, mengurangi beban pada SBN jangka panjang.
  3. Koordinasi Kebijakan Fiskal & Moneter

    • Pengelolaan defisit secara prudensial untuk menjaga current account tetap positif atau net‑neutral sehingga arus modal tidak terganggu.
  4. Penyediaan Cadangan Devisa yang Lebih Elastis

    • Meningkatkan pencairan “currency swap lines” dengan mitra multilateral (IMF, World Bank) atau bilateral (mis. ASEAN+3).

2.3. Dampak Pertumbuhan Uang Primer (M0) Terhadap Nilai Tukar

Januari 2026 Desember 2025 Perubahan YoY
M0 +11 % +11,4 % -0,4 ppt (pelambatan)
Komponen Utama Uang kartal (cash) & Giro Bank Indonesia Same Stabil

Interpretasi:

  • Pertumbuhan M0 yang masih tinggi menandakan likuiditas yang cukup luas di ekonomi. Dalam jangka pendek, peningkatan likuiditas dapat menurunkan nilai tukar (teori “quantity theory of money”).
  • Pelambatan pertumbuhan (dari 11,4 % → 11 %) menandakan pengetatan kebijakan atau efek fiskal yang mulai menurunkan tekanan inflasi, sehingga memberi ruang bagi BI untuk menahan intervensi tanpa harus “menyerap” likuiditas secara berlebihan.
  • Peran Giro BI: Karena BI mengelola cadangan wajib (reserve requirement) dan memberikan likuiditas melalui operasi pasar terbuka (open market operations), perubahan pada Giro BI berdampak langsung pada ketersediaan IDR di pasar.

2.4. Aliran Portofolio Asing: Sumber Dukungan atau Risiko?

  • Net Inflow US$ 1,6 miliar menunjukkan kepercayaan terhadap SRBI dan SBN sebagai “safe‑haven” di Asia Tenggara.
  • Kualitas Aset: SBN memiliki rating AAA/Baa, memudahkan akumulasi “sticky” capital (long‑term).
  • Pengaruh Terhadap Nilai Tukar: Setiap US$ 1 miliar yang masuk meningkatkan permintaan IDR, menurunkan tekanan depresiasi.
  • Vulnurabilitas: Portofolio asing biasanya sensitif pada spread risiko (EM‑Yield vs. US‑Treasury). Jika spread melebar (mis. karena kebijakan Fed lebih ketat), outflow dapat terjadi secara cepat, menurunkan nilai tukar.

Strategi Mitigasi:

  • Menetapkan target alokasi portofolio asing pada instrumen berjangka pendek atau “floating‑rate” sehingga volatilitas nilai tukar tidak menimbulkan beban unrealized loss.
  • Menggunakan instrument hedging (FX‑forward, options) untuk melindungi nilai tukar pada saat portofolio kembali ke negeri.

3. Perspektif Ekonomi Makro: Kenapa Rupiah Berpotensi Menguat?

Aspek Alasan Penguat Indikator Pendukung
Inflasi Target terkendali, stabilisasi harga pangan & energi. CPI YoY Q4‑2025 ≈ 3,2 % (di bawah batas target).
Yield SBN Imbal hasil masih di atas 7‑8 % untuk tenor 10 tahun, lebih tinggi dari negara ASEAN lain. Yield 10Y SBN ≈ 7,1 % (Feb 2026).
Pertumbuhan Ekonomi Proyek infrastruktur, peningkatan ekspor komoditas, serta impor barang modal yang didukung oleh kebijakan fiskal pro‑investment. GDP Q4‑2025 ≈ 5,3 % YoY.
Cadangan Devisa Cadangan bersih > US$ 138 miliar (≈ 5,5 bulan impor). Laporan BI Feb 2026.
Sentimen Global Penurunan volatilitas pasar (VIX) pada akhir Q1‑2026, serta stabilisasi nilai tukar mata uang utama. VIX ≈ 14,5.

Dengan fundamental yang kuat, intervensi kebijakan yang terkoordinasi, dan dukungan aliran modal asing, rupiah memiliki basis yang cukup solid untuk menguat pada medium‑term (6‑12 bulan ke depan).


4. Rekomendasi Kebijakan dan Langkah‑Langkah Praktis

4.1. Kebijakan Moneter & Intervensi

  1. Pendekatan “Targeted Intervention”

    • Fokus pada hour‑by‑hour volatility (biasanya pada sesi Asia‑Europe) dengan pembelian spot NDF yang bersifat temporer, menghindari penimbunan posisi besar yang menurunkan cadangan.
  2. Penggunaan “FX‑Swap Line” dengan mitra regional (mis. ASEAN‑plus) untuk menambah likuiditas IDR secara non‑dilutif.

  3. Penyesuaian Reserve Requirement (RR) secara dinamis pada bank‑bank yang memiliki net foreign exchange exposure tinggi, guna menurunkan internal pressure pada nilai tukar.

4.2. Penguatan Pasar Keuangan Domestik

Area Tindakan Konkret
Obligasi - Issuance “green‑bond” dan “sustainability‑linked bond” untuk menarik ESG‑focused foreign funds.
- Pengembangan platform trading elektronik yang mempermudah eksekusi DNDF dan SBN sekunder.
Derivatif - Pendirian exchange‑traded FX‑options di BEI (Bursa Efek Indonesia) untuk memberikan alternatif hedging bagi korporasi.
Kredit - Stimulus “credit line” khusus untuk export‑oriented SMES yang memperluas penawaran foreign‑currency receivables, meningkatkan kebutuhan NDF yang lebih terkelola.

4.3. Koordinasi Kebijakan Fiskal

  • Ruang Gerak Defisit: Menjaga defisit anggaran tidak melampaui 3 % of GDP (target jangka menengah) agar tidak menambah tekanan pada neraca berjalan.
  • Penguatan Infrastruktur: Mempercepat proyek‑proyek “strategic national projects” (e.g., jalur kereta cepat, pelabuhan) untuk meningkatkan produktivitas dan menurunkan import intensity nantinya.

4.4. Komunikasi & Transparansi

  • Forward Guidance: BI harus secara rutin mengkomunikasikan target rentang nilai tukar serta rencana intervensi (mis. “kita siap melakukan intervensi bila IDR melewati level 17.200 per dolar secara konsisten selama 3 hari”).
  • Dashboard Data Real‑Time: Publikasi live data mengenai volume NDF/DNDF, cadangan devisa yang terpakai, dan aliran portofolio asing, guna menurunkan spekulasi pasar.

5. Kesimpulan Utama

  1. Rupiah memang berada di level undervalued berdasarkan perbandingan fundamental (inflasi, yield, pertumbuhan) dengan nilai tukar aktual.
  2. Tekanan jangka pendek terutama berasal dari premi risiko global dan permintaan valas korporasi; keduanya bersifat transien dan dapat diredam melalui intervensi yang terukur.
  3. Strategi intervensi BI (NDF, spot, DNDF, pembelian SBN) sudah cukup komprehensif, namun perlu penambahan instrumen hedging dan peningkatan likuiditas pasar obligasi agar efektivitas jangka menengah tetap terjaga.
  4. Aliran modal portofolio asing menjadi “double‑edged sword”: memberikan dukungan kuat pada nilai tukar, namun rentan terhadap perubahan sentimen global. Pengelolaan risiko melalui diversifikasi portofolio dan hedging menjadi kunci.
  5. Pertumbuhan M0 yang masih tinggi menandakan likuiditas yang memadai; pelambatan sedikit menandakan kebijakan moneter yang lebih berhati-hati, memberi ruang bagi intervensi tanpa menambah inflasi.
  6. Prospek jangka menengah (6‑12 bulan) mengarah pada stabilisasi dan potensi penguatan rupiah, asalkan BI menjaga keseimbangan antara intervensi aktif dan penekanan pada fundamental ekonomi.

Dengan kebijakan terkoordinasi, penguatan pasar keuangan domestik, dan komunikasi yang transparan, Indonesia dapat memanfaatkan posisi undervalued rupiah sebagai “buffer” untuk menahan guncangan eksternal sekaligus mengoptimalkan peluang pertumbuhan ekonomi berbasis investasi luar negeri.


Catatan Penulis: Analisis ini bersifat konseptual dan berdasar pada data yang tersedia hingga 18 Feb 2026. Perkembangan geopolitik, kebijakan moneter AS, serta dinamika pasar komoditas dapat mengubah asumsi fundamental dalam jangka pendek. Disarankan bagi pembuat kebijakan untuk melakukan monitoring harian terhadap indikator‑indikator kunci di atas.