Rupiah Tertekan di Tengah Gejolak Geopolitik Amerika – Tarik-Tarik Kebijakan AS dan Harapan Kebijakan BI Jadi Penentu Arah Kurs 2026
Oleh: Admin |
Dipublikasikan: 19 January 2026
Judul:
“Rupiah Tertekan di Tengah Gejolak Geopolitik Amerika – Tarik‑Tarik Kebijakan AS dan Harapan Kebijakan BI Jadi Penentu Arah Kurs 2026”
Tanggapan Panjang
I. Ringkasan Berita
- Pada Senin 19 November 2025, rupiah melemah 35 poin (0,21 %) menjadi Rp 16.922/USD pada pukul 10.55 WIB (spot).
- Indeks dolar AS (DXY) turun 0,2 % ke 98,19, menandakan penurunan nilai dolar secara umum.
- Pada Kamis 15 Januari 2026, rupiah tutup di Rp 16.896/USD, melemah 31 poin dari penutupan sebelumnya.
- Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kurs rupiah akan gejolak dengan potensi penguatan terbatas karena:
- Sentimen “risk‑off” yang dipicu oleh ancaman tarif baru AS terhadap negara‑negara yang menolak ambisi Amerika menguasai Greenland.
- Ketidakpastian kebijakan moneter BI menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21 Januari 2026, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga namun tetap menimbulkan pertanyaan mengenai prospek suku bunga ke depan.
- Proyeksi kurs dalam jangka pendek: Rp 16.850‑16.950/USD.
II. Analisis Faktor‑Faktor Penggerak
1. Geopolitik AS – Greenland dan Dampaknya pada Pasar Emerging
- Kebijakan “tarif tambahan” yang dikaitkan dengan sikap Presiden Donald Trump memperlihatkan politika proteksionis yang menyasar negara‑negara yang menolak “capat Greenland”.
- Greenland memiliki nilai strategis: letak di Arktik, cadangan mineral (rare earth, uranium), dan jalur maritim yang potensial. Penolakan Uni Eropa dan Denmark menimbulkan tension yang menambah risk‑off sentiment di pasar global.
- Pasar emerging (termasuk Indonesia) biasanya menjadi penyerap pertama dari aliran modal keluar ketika geopolitik global memanas, karena:
- Diversifikasi risiko investor institusional ke aset safe‑haven (US Treasury, yen, CHF).
- Penguatan dolar (meski saat ini DXY turun, ekspektasi kenaikan kembali tetap ada) menurunkan daya beli mata uang emerging.
- Rupiah, yang sebagian besar dipengaruhi oleh arus modal dan sentimen global, otomatis tertekan meski tradisionalnya lebih dipengaruhi oleh faktor domestik.
2. Kondisi Domestik: Kebijakan Moneter Bank Indonesia
| Faktor | Kondisi Terkini | Implikasi |
|---|---|---|
| Suku Bunga BI (BI‑7 Day) | 5,75 % (dipertahankan pada RDG 21 Jan 2026) | Menjaga stabilitas inflasi namun tidak memberikan stimulus lebih untuk mata uang. |
| Inflasi CPI | 3,6 % YoY (Januari 2026) | Masih di atas target 2‑3 %; tekanan inflasi dapat mendorong kebijakan suku bunga yang lebih ketat di masa depan. |
| Cadangan Devisa | US$ 141 miliar (stable) | Memberi ruang bagi intervensi pasar bila rupiah melemah tajam. |
| Neraca Perdagangan | Surplus USD 3,4 miliar (Nov 2025) | Menunjang fundamental positif, tetapi belum cukup mengimbangi sentimen global yang negatif. |
- BI cenderung berpegang pada “policy‑rate hold” untuk mengamankan kredibilitas inflasi. Namun, ekspektasi “future hike” tetap hidup, yang menurunkan daya tarik aset berdenominasi rupiah.
- Ruang Manuver: Jika tekanan rupiah terus berlanjut, BI dapat melakukan intervensi spot atau swap untuk menstabilkan pasar, namun ini memerlukan dukungan cadangan devisa yang cukup.
3. Faktor Teknis Pasar Spot
- Level Support: Rp 16.850‑16.900 (zona psikologis Rp 16.900).
- Resistance: Rp 16.950‑17.000 (konsolidasi sebelumnya di kisaran Rp 17.050‑17.100).
- Moving Averages (50‑MA pada Rp 16.750, 200‑MA pada Rp 16.450) masih di atas harga, menandakan trend negatif namun belum oversold secara ekstrem.
- RSI (14) berada di 38 (near‑oversold). Jika tekanan geopolitik mereda, bounce teknikal mungkin terjadi.
4. Pengaruh Harga Komoditas
- Harga minyak Brent pada 23 Nov 2025: US$ 78/barrel (naik 1,5 %).
- Harga logam (copper, nickel) stabil, namun kebutuhan logam strategis untuk eksplorasi Arktik meningkatkan permintaan global.
- Ekspor komoditas Indonesia yang tetap kuat memberi support fundamental bagi rupiah, meski tidak cukup menetralkan sentimen luar negeri.
III. Skenario Pergerakan Kurs Rupiah
| Skenario | Katalis Utama | Pergerakan Kurs | Probabilitas* |
|---|---|---|---|
| A. “Stabil di Bawah 16.950” | Kebijakan tarif AS diberlakukan, sentimen risk‑off tetap | Rp 16.850‑16.950 | 45 % |
| B. “Penguatan Sementara” | DXY kembali turun, BI melakukan intervensi, atau ada kesepakatan geopolitik (mis. pertemuan G7‑ASEAN) | Rp 16.600‑16.800 | 30 % |
| C. “Depresi Tajam” | Eskalasi tarif + penurunan cadangan devisa, inflasi domestik naik >4 % | >Rp 17.100 | 25 % |
*Perkiraan subjektif berdasarkan konsensus analis lokal (Bloomberg, Doo Financial Futures) dan data makro.
IV. Implikasi Bagi Pemangku Kepentingan
1. Investor Retail & Institusi
- Saham sektor ekspor (pertambangan, kelapa sawit, tekstil) tetap relatif menarik karena kurs lemah meningkatkan margin ekspor.
- Obligasi pemerintah (ORI) dengan kupon tetap akan menjadi lebih mahal bagi investor asing; yield berpotensi naik, mengurangi permintaan.
- Derivatif FX (forward, futures) menjadi alat hedging yang penting. Bagi pelaku yang tidak memiliki akses ke pasar derivatif, deposito berdenominasi mata uang asing menjadi alternatif pelindung nilai.
2. Pemerintah & Bank Sentral
- BI harus menyiapkan paket intervensi (spot sell USD, buy Rupiah) dan komunikasi yang jelas tentang prospek suku bunga. Transparency dapat meredam spekulasi berlebih.
- Kementerian Keuangan perlu memperkuat cadangan devisa melalui penerbitan sukuk luar negeri atau swap line dengan mitra strategis (mis. JF‑G7).
- Koordinasi kebijakan dengan Kementerian Perdagangan untuk memperluas basis ekspor dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang sensitif terhadap geopolitik.
3. Perusahaan & Koperasi
- Perusahaan import‑export harus mengunci kurs lewat kontrak forward atau opsi, terutama untuk bahan baku strategis (mesin, bahan kimia).
- KMK (Koperasi) dan UKM yang mengandalkan remitansi perlu menyusun strategi cash‑flow yang mengantisipasi fluktuasi nilai tukar.
V. Rekomendasi Kebijakan & Strategi
-
Penguatan Komunikasi Kebijakan (Forward Guidance)
- BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebaiknya mengumumkan range suku bunga yang dipertimbangkan pada RDG berikutnya serta toleransi nilai tukar (mis. 1‑2 % per kuartal).
- Hal ini dapat menurunkan uncertainty premium yang dibebankan pada rupiah.
-
Diversifikasi Cadangan Devisa
- Tambahkan mata uang safe‑haven (CHF, JPY) selain USD untuk mengurangi exposure bila USD kembali menguat.
- Tingkatkan gold reserves sebagai alat penyerap volatilitas.
-
Pemanfaatan Alat Derivatif
- Dorong pengembangan pasar options di IDX dan FX futures di BAPPEBTI, sehingga pelaku bisa melindungi diri secara lebih fleksibel.
- Berikan insentif (pajak atau subsidi) bagi perusahaan yang melakukan covering kurs.
-
Kebijakan Fiskal Pro‑Ekspor
- Perkenalkan tax holiday atau rebate bagi produk yang mengandalkan mata uang kuat (mis. barang teknologi tinggi) untuk meningkatkan competitiveness meski rupiah lemah.
- Tetapkan insentif bagi investasi di sektor logistik untuk mengurangi biaya transportasi yang terpengaruh nilai tukar.
-
Monitor Geopolitik Secara Real‑Time
- Bentuk task force lintas kementerian (Luar Negeri, Perdagangan, Keuangan) yang mengumpulkan intel tentang policy‑risk AS‑Eropa.
- Buat scenario planning reguler (mis. “Tarif Arctic”, “Sanctions AS‑China”) supaya keputusan kebijakan moneter dapat di‑adjust cepat.
VI. Kesimpulan
- Rupiah berada dalam tekanan yang dipicu oleh sentimen risk‑off global akibat ancaman tarif Amerika terkait Greenland, serta ketidakpastian kebijakan suku bunga BI menjelang RDG.
- Fundamental domestik (surplus perdagangan, cadangan devisa yang solid, pertumbuhan ekspor) tetap positif, namun sentimen luar negeri memiliki bobot yang lebih besar dalam jangka pendek.
- Rentang proyeksi 16.850‑16.950/USD mencerminkan ketidakpastian—kurs dapat berbalik menguat jika DXY melemah atau intervensi kebijakan memperkuat kepercayaan pasar.
- Langkah-langkah kebijakan yang terkoordinasi antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, serta regulator pasar akan menjadi kunci meminimalkan volatilitas dan menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak geopolitik yang tak dapat diprediksi.
Catatan: Analisis ini bersifat informasional dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi. Keputusan akhir tetap menjadi tanggung jawab masing‑masing pelaku pasar.