CPO Turun di BMD: Tekanan Ganda dari Pasar Global, Nilai Ringgit, dan Musiman Ramadan – Apa Selanjutnya untuk Produsen, Pedagang, dan Investor?

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 21 February 2026

Judul:

“CPO Turun di BMD: Tekanan Ganda dari Pasar Global, Nilai Ringgit, dan Musiman Ramadan – Apa Selanjutnya untuk Produsen, Pedagang, dan Investor?”


Tanggapan Panjang

1. Ringkasan Situasi Pasar (20 Feb 2026)

Kontrak Pergerakan Harga Akhir (RM/ton)
Maret -30 RM 4.063
April -27 RM 4.087
Mei -25 RM 4.092
Juni -20 RM 4.096
Juli -11 RM 4.100
Agustus -9 RM 4.099
  • Faktor utama penurunan:

    1. Harga kedelai (soybean oil) turun di CBOT, mengalihkan sebagian minat spekulatif ke komoditas lain.
    2. Penguatan Ringgit (RM) menurunkan daya saing CPO Malaysia di pasar internasional karena harga dalam USD menjadi relatif lebih mahal.
    3. Penutupan Bursa Dalian (China) selama libur Festival Musim Semi mengurangi likuiditas dan volume perdagangan lintas‑batas, memberi ruang bagi penjual untuk menurunkan harga.
  • Tekanan penawaran:

    • Pengiriman CPO turun 12,6 % (1–20 Feb vs periode yang sama Januari) – indikasi permintaan musiman lemah pada masa Ramadan‑Idulfitri.
    • Stok CPO Malaysia menurun 7,7 %, sementara produksi turun 13,8 %. Persediaan yang lebih tipis menahan penurunan harga lebih dalam, namun tidak cukup kuat untuk memicu rally harga signifikan.
  • Dukungan permintaan:

    • India meningkatkan impor CPO 51 % month‑to‑month pada Januari, menandakan titik balik bagi permintaan global.
    • Indonesia memperkuat sentimen positif lewat perjanjian dagang AS (tarif 19 % dibandingkan usulan 32 %). Potensi ekspor Indonesia yang lebih kompetitif dapat menambah tekanan beli pada pasar Asia Tenggara.

2. Analisis Penyebab Tekanan Ganda

Penyebab Dampak Langsung Dampak Tidak Langsung
Harga kedelai turun Aliansi spekulan beralih ke soybean oil (lebih murah) → penurunan likuiditas CPO Penurunan kepercayaan industri pengolahan yang menggunakan campuran (CPO + soybean oil)
Ringgit menguat Harga CPO dalam USD naik → export menjadi kurang kompetitif Penurunan margin eksportir, potensi penyesuaian strategi hedging
Libur pasar Dalian Likuiditas internasional berkurang → spread bid‑ask melebar Pelaku institusional menunda penempatan order, menunda penetapan harga yang lebih stabil
Musiman Ramadan/Idulfitri Penurunan pengiriman karena penutupan pabrik, pengalihan konsumsi ke produk non‑olah Penurunan volume fisik memperkecil basis permintaan yang dapat menggerakkan harga ke atas
Penurunan produksi Malaysia Penawaran berkurang = potensi penopangan harga Jika produksi tetap menurun, stok cadangan berkurang, meningkatkan volatilitas

Keseluruhan, cascading effect (efek berantai) tercipta: penurunan commodity lain → pergeseran aliran modal → penurunan kompetitivitas harga ekspor → penurunan aktivitas perdagangan fisik.


3. Implikasi bagi Pemangku Kepentingan

3.1 Produsen (Petani & Mill)

  • Margin kotor tertekan karena harga jual turun sementara biaya produksi (fertilizer, tenaga kerja, energi) tetap tinggi.
  • Kebutuhan hedging menjadi lebih krusial. Menggunakan kontrak berjangka atau opsi di BMD dapat “lock‑in” harga di level yang masih menguntungkan.
  • Diversifikasi produk (misal, produksi biodiesel, oleochemical) dapat menambah nilai pada turunan CPO yang kurang sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas mentah.

3.2 Eksportir & Pengirim Logistik

  • Penguatan Ringgit membuat biaya pengiriman dalam USD lebih mahal; mereka harus meninjau kembali struktur tarif atau mengalihkan beban ke pelanggan.
  • Penurunan volume pengiriman menandakan kebutuhan penyesuaian kapasitas kapal/mode transportasi, terutama menjelang libur besar di China.
  • Strategi pasar alternatif (misal, Timur Tengah, Eropa) dapat dipertimbangkan untuk mengurangi ketergantungan pada pasar China yang sedang “off‑season”.

3.3 Pedagang & Investor

  • Peluang perdagangan jangka pendek: penurunan harga diikuti oleh potensi rebound mingguan (+1,4 % secara teknikal) membuka peluang “buy‑the‑dip”.
  • Volatilitas meningkat: trader harus mengatur stop‑loss yang ketat, terutama mengingat spread yang lebar pada sesi Dalian tutup.
  • Investasi jangka panjang: faktor fundamental (penurunan produksi, stok berkurang, permintaan India meningkat, tarif AS lebih rendah) tetap bersifat bullish.

3.4 Pembuat Kebijakan (Kementerian Pertanian, BNM, BEI)

  • Stabilisasi nilai tukar: BNM dapat meninjau kebijakan intervensi untuk mencegah Ringgit menguat terlalu cepat yang dapat merugikan sektor ekspor.
  • Dukungan likuiditas pasar: Menggalakkan jalur perdagangan alternatif (mis. Bursa Futures di Singapura atau Chicago) untuk mengurangi ketergantungan pada BMD‑Dalian.
  • Insentif produksi: Subsidi pupuk atau insentif energi terbarukan dapat membantu petani menurunkan biaya produksi, menjaga margin meski harga CPO turun.

4. Proyeksi Harga dan Skenario 2026–2027

Skenario Asumsi Utama Perkiraan Harga (RM/ton) – Apr 2026 Catatan
Bullish - Produksi Malaysia kembali stabil di 4,5 Mt/yr
- Permintaan India tetap tinggi (+30 % YoY)
- Ringgit melemah sedikit terhadap USD
4.150 – 4.250 Harga dipengaruhi oleh tekanan beli kuat dari India & pemulihan ekspor Indonesia (tarif AS rendah).
Base‑case - Produksi sedikit menurun (‑5 % YoY)
- Stok menurun moderat (‑6 % YoY)
- Ringgit tetap menguat (‑1,5 % per kuartal)
4.080 – 4.130 Harga berfluktuasi di kisaran sempit, dengan volatilitas harian tinggi.
Bearish - Penguatan Ringgit berkelanjutan (‑3 % per kuartal)
- Penurunan produksi Malaysia >15 % karena cuaca buruk
- Penurunan impor India (dampak kebijakan proteksionis)
3.950 – 4.020 Tekanan penawaran menguat, tapi permintaan global melemah, berpotensi menurunkan harga di bawah RM 4 ton.

Probabilitas: Berdasarkan analisis historis dan faktor-faktor fundamental, skenario Base‑case memiliki kemungkinan terbesar (≈55 %). Skenario Bullish tetap realistis mengingat dukungan kuat dari India dan tarif AS yang kondusif, sementara Bearish memerlukan kombinasi faktor negatif yang lebih ekstrem.


5. Rekomendasi Praktis

Pihak Tindakan Prioritas Waktu Implementasi
Petani & Mill 1. Lakukan hedging 2-3 bulan ke depan menggunakan kontrak Maret‑April
2. Mulai uji coba produksi biodiesel/oleochemical
Segera (minggu‑1)
Eksportir 1. Negosiasikan kontrak penetapan harga (forward) dengan pembeli India/AS
2. Diversifikasi rute logistik (pelabuhan Batam, Penang)
2‑4 minggu
Pedagang 1. Pantau indikator teknikal (RSI <30, MACD bullish cross) untuk entry di level 4.05‑4.07 RM
2. Gunakan stop‑loss ≤ 3.95 RM untuk melindungi modal
Intraday‑harian
Investor Institusional 1. Alokasikan 5‑7 % portofolio ke kontrak CPO futures dengan tenor 6‑12 bulan
2. Pertimbangkan ETF terkait agrikultur Asia Tenggara
Kuartal 1‑2
Pembuat Kebijakan 1. Evaluasi kebijakan nilai tukar (intervensi Ringgit) bila penghargaan >2 % dalam 3 bulan ke depan
2. Tawarkan insentif energi terbarukan untuk mill
3‑6 bulan

6. Kesimpulan

Penurunan harga CPO pada 20 Feb 2026 merupakan manifestasi tekanan ganda: dinamika pasar komoditas global (kedua kedelai), kebijakan nilai tukar, serta faktor musiman yang menurunkan volume fisik. Meskipun begitu, fundamental jangka menengah masih mendukung harga – stok menipis, produksi tertekan, dan permintaan India serta potensi ekspor Indonesia yang lebih kompetitif.

Bagi semua pemangku kepentingan, kunci selama periode volatilitas ini adalah manajemen risiko yang disiplin (hedging, diversifikasi, dan monitoring likuiditas pasar). Kebijakan makro yang menyeimbangkan nilai tukar dan menyediakan dukungan produksi akan sangat membantu mengurangi dampak fluktuasi harga dan menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit Malaysia serta Asia Tenggara secara keseluruhan.


Ditulis oleh: Tim Analisis Pasar Komoditas, Investor.id – 20 Februari 2026

Tags Terkait