Rupiah Terus Tergerus Dolar pada 6 Februari 2026: Dampak Sentimen Global, Kebijakan Fed, dan Ketegangan Geopolitik Terhadap Nilai Tukar Indonesia
Oleh: Admin |
Dipublikasikan: 6 February 2026
1. Ringkasan Peristiwa
- Kurs Rupiah pada pukul 09.04 WIB (spot) tercatat Rp 16.872/USD, melemah 30 poin (≈ 0,18 %) dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
- Indeks Dolar AS naik tipis menjadi 97,89 (+ 0,07 %).
- Pada hari Kamis (5 Feb), Rupiah ditutup di Rp 16.842/USD, melemah 65 poin.
- Faktor utama yang disebutkan: penguatan dolar, sentimen global yang menekan EM (Emerging Markets), ketegangan geopolitik di Timur Tengah, ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih hawkish, serta data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5 % YoY.
2. Analisis Faktor‑faktor Penggerak
2.1 Penguatan Dolar AS dan Sentimen Pasar Global
- Indeks Dolar masih berada di atas level 97, menandakan permintaan safe‑haven yang kuat di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter.
- Dolar yang lebih kuat secara otomatis menurunkan nilai tukar mata uang emerging market termasuk Rupiah, karena investor mengalihkan dana ke aset berdenominasi dolar yang dianggap lebih stabil.
2.2 Ketegangan Timur Tengah
- Negosiasi AS‑Iran tentang program nuklir masih belum menghasilkan kesepakatan.
- Setiap eskalasi di kawasan tersebut meningkatkan premi risiko bagi mata uang EM, memperparah tekanan pada Rupiah yang sudah berada pada zona rentang Rp 16.840‑16.900.
2.3 Kebijakan The Fed di Bawah Kepala Fed Warren Warsh
- Pasar FedWatch memperkirakan 46 % kemungkinan penurunan suku bunga pada Juni 2026, tetapi ekspektasi penurunan sudah menurun setelah Fed menjanjikan sikap lebih hawkish.
- Kebijakan lebih ketat (kenaikan suku bunga atau penurunan ekspektasi pemotongan) menambah tekanan pada aliran modal keluar dari pasar EM.
2.4 Kondisi Ekonomi Domestik
- Pertumbuhan GDP 2025: 5,11 % YoY, sedikit lebih tinggi dari 5,03 % YoY pada 2024.
- Meskipun angka ini masih menunjukkan ekonomi yang kuat, pertumbuhan yang “hanya” 5 % tidak dapat mengimbangi arus modal keluar yang dipicu oleh faktor eksternal.
- Fundamental domestik (inflasi, neraca perdagangan, cadangan devisa) tetap penting, namun dalam jangka pendek sentimen eksternal menguasai pergerakan nilai tukar.
2.5 Episode Politik Amerika‑China
- Kunjungan mantan presiden Trump ke China pada April 2026 menambah ketidakpastian tentang hubungan dagang, militer, dan keamanan (Taiwan).
- Meskipun tidak ada “gejolak” langsung di pasar, spekulasi tentang potensi konflik atau tarif baru memperkuat aversi risiko global.
3. Dampak Ekonomi Makro dan Mikro
| Area | Dampak Jangka Pendek | Dampak Jangka Menengah |
|---|---|---|
| Impor (terutama energi & bahan baku) | Biaya impor naik ≈ 0,5‑1 % per 1 % depresiasi | Tekanan inflasi dapat berkelanjutan jika depresiasi terus |
| Ekspor (komoditas, manufaktur) | Daya saing harga meningkat, tetapi margin tertekan oleh biaya produksi yang naik | Potensi peningkatan volume ekspor jika permintaan global tetap kuat |
| Inflasi | Risiko terlanjur naik karena biaya impor, terutama minyak & bahan kimia | Bank Indonesia mungkin menyesuaikan suku bunga kebijakan lebih cepat |
| Investasi asing | Aliran modal keluar (portfolio) meningkat, terutama pada aset berbasis dolar | Penurunan FDI dapat terjadi jika persepsi risiko tidak berubah |
| Keuangan domestik | Beban bunga pada hutang dolar meningkat bagi perusahaan | Kemungkinan refinancing lebih mahal, tekanan pada profitabilitas korporasi |
4. Kebijakan yang Dapat Diambil Pemerintah & Bank Indonesia
-
Intervensi Pasar Valuta
- Penjualan USD di pasar spot untuk menstabilkan nilai tukar pada level Rp 16.800‑16.850.
- Menggunakan swap atau forward contracts untuk mengurangi volatilitas spot.
-
Penguatan Cadangan Devisa
- Mempercepat divestasi aset strategis atau penjualan sekuritas berdenominasi dolar di neraca cadangan.
- Mengoptimalkan pendapatan ekspor komoditas melalui kontrak berjangka untuk mengunci harga.
-
Koordinasi Kebijakan Moneter – Fiskal
- Bank Indonesia dapat menyesuaikan BI Rate secara selektif, terutama jika inflasi bergerak ke atas 4,5 %–5 %.
- Pemerintah dapat menunda atau menyesuaikan penetapan subsidi energi untuk mengurangi beban fiskal dan menghindari tekanan inflasi.
-
Diversifikasi Ekspor & Nilai Tambah
- Mendorong industrialisasi hilir (misalnya, pengolahan nikel, kelapa sawit) sehingga nilai ekspor meningkat tanpa ketergantungan pada harga komoditas mentah.
- Memperluas pasar tujuan ke kawasan non‑AS (ASEAN+, Eropa) untuk mengurangi eksposur pada dolar.
-
Pengelolaan Risiko Geopolitik
- Menjalin perjanjian bilateral mengenai energi dan bahan baku dengan negara‑negara non‑AS yang lebih stabil secara politik.
- Memperkuat diplomasi ekonomi untuk menjaga aliran perdagangan meski dalam ketegangan Timur Tengah.
5. Outlook Nilai Tukar: Skenario 2026‑2027
| Skenario | Asumsi Utama | Rentang Kurs (USD) |
|---|---|---|
| Optimis | Fed menahan kenaikan suku bunga, konflik Timur Tengah mereda, pertumbuhan ekspor Indonesia > 6 % YoY | Rp 16.500 – 16.700 |
| Stabilisasi | Fed tetap hawkish namun tidak menaikkan suku bunga lagi, pasar menginternalisasi risiko, kebijakan moneter dalam negeri tetap akomodatif | Rp 16.700 – 16.850 |
| Pessimis | Pengetatan kebijakan Fed (kenaikan suku bunga), eskalasi geopolitik (mis. konflik di Timur Tengah), aliran modal keluar kuat | Rp 16.900 – 17.200 |
Catatan: Model di atas mengasumsikan CBDC (Central Bank Digital Rupiah) tidak memberikan dampak signifikan dalam jangka pendek, tetapi dapat menjadi alat stabilisasi jangka menengah jika diintegrasikan dengan kebijakan likuiditas.
6. Kesimpulan & Pandangan Penulis
- Rupiah berada pada tekanan berulang akibat sentimen global yang masih didominasi oleh penguatan dolar dan ketidakpastian geopolitik.
- Fundamental domestik (pertumbuhan > 5 %) tetap kuat, namun tidak cukup untuk menegas tekanan eksternal pada kurs saat ini.
- Kebijakan moneter The Fed akan menjadi “penentu utama” dalam beberapa bulan ke depan; sebuah kebijakan hawkish atau penurunan suku bunga lebih lambat akan terus memicu depresiasi Rupiah.
- Respons kebijakan yang cepat—intervensi pasar, penyesuaian suku bunga domestik bila perlu, serta diversifikasi struktural ekonomi—dapat mengurangi volatilitas dan melindungi konsumen serta pelaku usaha dari lonjakan inflasi.
Bagi investor dan pelaku usaha, rekomendasi utama adalah:
- Lindungi eksposur dolar melalui instrumen hedging (forward, option) bila memiliki hutang atau biaya impor dalam dolar.
- Pantau indikator Fed (FOMC minutes, Fed funds futures) serta data geopolitik (negosiasi AS‑Iran, situasi Taiwan) sebagai sinyal utama pergerakan Rupiah.
- Manfaatkan kesempatan ekspor yang muncul dari depresiasi (harga lebih kompetitif) sambil menyiapkan strategi biaya produksi yang tahan inflasi.
Dengan pendekatan multifaset—menggabungkan kebijakan makro, strategi korporasi, dan manajemen risiko—Indonesia dapat menavigasi fase volatilitas ini dan menjaga kestabilan nilai tukar serta pertumbuhan ekonomi ke depannya.