Gold Rush 2026: Mengapa Harga Emas Melejit Tajam di Tengah Data Ekonomi AS yang Lemah dan Kebijakan Tarif Baru Trump

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 21 February 2026

Tanggapan Panjang

1. Ringkasan Situasi Pasar

Pada Jumat, 20 Februari 2026, harga emas spot naik 1,8 % menjadi US$ 5.086,6 per ons, sementara kontrak berjangka April melesat 2,24 % ke US$ 5.109,21. Lonjakan ini bukan sekadar pergerakan harian biasa; ia mencerminkan konvergensi tiga faktor utama:

  1. Data GDP AS yang jauh di bawah ekspektasi – pertumbuhan tahunan kuartal IV hanya 1,4 % (annualized), jauh di bawah proyeksi 3 %.
  2. Inflasi inti yang tetap kuat – indeks PCE naik 0,4 % pada Desember (lebih tinggi dari perkiraan 0,3 %).
  3. Reaksi kebijakan perdagangan – Mahkamah Agung AS membatalkan tarif global luas Trump; presiden kemudian mengumumkan tarif 10 % selama 150 hari sebagai pengganti.

Kombinasi data ekonomi melemah, tekanan inflasi yang masih ada, dan ketidakpastian kebijakan perdagangan menciptakan lingkungan “risk‑off” yang tradisionalnya mengalirkan likuiditas ke aset safe‑haven seperti emas.


2. Mengapa Data Ekonomi AS Memicu Lonjakan Emas?

a. Perlambatan Pertumbuhan GDP

  • Pertumbuhan GDP yang rendah menurunkan ekspektasi pertumbuhan laba perusahaan, meningkatkan kecemasan tentang prospek profitabilitas sektor swasta.
  • Kebijakan moneter: Federal Reserve (The Fed) dipaksa menilai kembali jadwal pemotongan suku bunga. Dengan pertumbuhan melambat, investor memperkirakan pemotongan suku bunga lebih cepat atau lebih dalam – kondisi yang selalu menguntungkan emas karena menurunkan biaya peluang memegang logam mulia.

b. Inflasi yang Masih “Gigit”

  • PCE naik 0,4 %, menunjukkan bahwa tekanan harga konsumen belum lenyap. Selama periode inflasi, investor beralih ke aset yang tidak terdepresiasi nilai nominalnya, yaitu emas.
  • Ekspektasi inflasi jangka menengah tetap berada di atas target Fed (2 %). Bila Fed menahan atau menunda pemotongan suku bunga, emas tetap menjadi pelindung nilai yang menarik.

c. Sentimen Pasar & Volatilitas

  • Sentimen risk‑off sering kali dipicu oleh “dual‑shock” – pertumbuhan lemah + inflasi kuat. Ini menghasilkan pergeseran portofolio dari ekuitas berisiko tinggi ke aset “store of value”.

3. Dampak Kebijakan Tarif Trump: Apa Artinya untuk Emas?

a. Putusan Mahkamah Agung

  • Penolakan tarif global atas dasar International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) menandai kegagalan kebijakan “tarif tak terbatas” Trump. Keputusan ini memicu kegelisahan di antara investor yang melihat potensi kebijakan proteksionis sebagai ancaman bagi rantai pasokan global.

b. Respon Presiden Trump – Tarif 10 % Selama 150 Hari

  • Tarif sementara sebesar 10 % pada barang impor utama selama setengah tahun pertama menandakan ketegangan perdagangan berkelanjutan.
  • Implikasi untuk logam mulia:
    • Permintaan fisik: Peningkatan biaya impor barang konsumsi dapat meningkatkan permintaan logam mulia di pasar domestik sebagai alternatif nilai yang stabil.
    • Kurs dolar: Tarik-menarik kebijakan tarif biasanya menurunkan nilai dolar AS karena ekspektasi penurunan perdagangan dan pertumbuhan. Dolar yang lebih lemah secara otomatis meningkatkan harga emas yang dipatok dalam dolar.

c. Skenario Kebijakan Lanjutan

  • Jika Trump mencari dasar hukum lain (misalnya melalui National Emergencies Act atau peraturan kepabeanan khusus), volatilitas pasar dapat meningkat, memperkuat peran emas sebagai “asuransi”.
  • Kemungkinan kenaikan tarif lebih tinggi atau perluasan cakupan tarif dapat menambah tekanan pada suku bunga riil (tingkat suku bunga setelah inflasi). Suku bunga riil yang negatif meningkatkan daya tarik emas.

4. Reaksi Pasar Keuangan Lainnya

Aset Pergerakan 20‑Feb‑2026 Analisis Singkat
Silver (perak) +7,71 % → US$ 84,55/oz Perak biasanya bergerak searah dengan emas, namun lemaknya lebih sensitif pada sentimen industri. Kenaikan tajam menandakan spekulasi kuat.
Platinum +4,36 % → US$ 2.170,77/oz Kenaikan didorong oleh ekspektasi permintaan otomotif & energi bersih yang masih kuat meski ada tekanan perdagangan.
Palladium +3,58 % → US$ 1.754,41/oz Sektor otomotif (catalyst) masih menopang, walau volatilitas lebih rendah dibanding perak.
S&P 500 Naik (meski volatil) “Kegembiraan paruh pertama” setelah putusan Mahkamah Agung; investor menilai bahwa tarif baru tidak akan mengganggu laba perusahaan secara drastis dalam jangka pendek.
Dolar AS (DXY) Menurun ~0,6 % Penurunan nilai dolar mempermudah logam mulia menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

5. Implikasi Kebijakan Moneter Fed

  • Ekspektasi pemotongan suku bunga: Pasar memperkirakan dua kali pemotongan 25 bps, pertama pada Juni 2026. Jika pertumbuhan tetap lemah dan inflasi tetap di atas target, Fed dapat mempercepat siklus pelonggaran.
  • Suku bunga riil (nominal – inflasi) diperkirakan negatif dalam kuartal berikutnya, suatu kondisi yang historically meningkatkan permintaan emas.
  • Pernyataan Fed yang “cautiously optimistic” dapat menggerakkan pasar kembali ke aset berisiko; namun selama “ketidakpastian kebijakan tarif” masih tinggi, gold tetap menjadi safe‑haven utama.

6. Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Jenis Investor Rekomendasi Strategi Penjelasan
Investor institusional (funds, pension) Alokasikan 5‑10 % portofolio ke emas fisik atau ETF; pertimbangkan kontrak futures untuk hedging nilai mata uang. Diversifikasi cash‑equivalents pada aset yang tidak berkorelasi dengan ekuitas & obligasi.
Trader jangka pendek Manfaatkan volatilitas spot dengan opsi call/put atau strategi spread pada futures. Lonjakan 2‑3 % dalam satu hari menciptakan peluang arbitrase, tetapi perhatikan margin dan likuiditas.
Investor ritel Beli emas fisik (batang atau koin) atau ETF emas (mis. GLD, IAU). Pertahankan rasio 3‑5 % dari total aset. Simplicity, likuiditas, dan perlindungan nilai terhadap inflasi serta ketidakpastian geopolitik.
Pengelola risiko korporat Lakukan hedging eksposur mata uang dengan forward contracts atau currency options bila bisnis bergantung pada impor barang. Kenaikan tarif dapat memicu depresiasi dolar; hedging melindungi margin profit.

7. Outlook Jangka Menengah (3‑12 Bulan)

Faktor Skenario Optimis Skenario Moderat Skenario Negatif
Pertumbuhan GDP AS Membaik menjadi 2 % (annualized) pada Q1‑2026 Tetap di kisaran 1‑1,5 % Menurun <1 % (recession)
Inflasi PCE Turun ke 2,5 % (dari 3 % saat ini) Stabil di 3 % Meningkat >3,5 %
Tarif & Kebijakan Perdagangan Tarik kembali tarif setelah 150 hari, stabilitas Tarif 10 % tetap selama 150 hari, kemudian renegosiasi Perpanjangan tarif atau penambahan produk, meningkatkan volatilitas
Kebijakan Fed Pemotongan suku bunga pertama pada Juni, keduanya selesai pada Q4 Pemotongan pertama Juni, kedua ditunda ke akhir tahun Tidak ada pemotongan, suku bunga tetap atau naik bila inflasi melambung
Harga Emas Mempertahankan level US$ 5.100‑5.300, kemudian naik ke US$ 5.500‑6.000 jika resesi atau inflasi tinggi Stabil di kisaran US$ 5.100‑5.300 Penurunan jika dolar kuat kembali atau pasar ekuitas menguat tajam

Catatan: Gold biasanya berjalan berlawanan dengan dolar dan suku bunga riil. Pergerakan kebijakan tarif dapat memperpanjang ketidakpastian, menyokong harga emas di atas US$ 5.000 per ons selama setidaknya separuh tahun ke depan.


8. Penutup: Perspektif Historis

Sejak 1990‑an, setiap kali pertumbuhan ekonomi AS melambat bersamaan dengan inflasi yang masih menempel, logam mulia mencatat lonjakan harga yang signifikan (mis. 2008‑2009, 2011‑2012). Pola yang sama tampak kembali pada 2026:

  • Pertumbuhan lemah → ekspektasi pemotongan suku bunga.
  • Inflasi masih ada → penurunan daya beli mata uang.
  • Kebijakan proteksionis → ketidakpastian geopolitik dan nilai tukar.

Jika tren ini terus berlanjut, emas dapat menembus rekor baru pada 2027‑2028, terutama bila Fed harus menurunkan suku bunga secara agresif untuk menghindari resesi. Investor yang mengantisipasi skenario ini dengan menambah eksposur emas sebelum harga mencapai US$ 5.500 per ons akan berada pada posisi yang menguntungkan.


Kesimpulan:
Lonjakan harga emas pada 20 Februari 2026 merupakan hasil konvergensi data ekonomi AS yang melemah, inflasi yang masih berdaya, dan ketidakpastian kebijakan tarif yang dikeluarkan kembali oleh Presiden Trump. Selama kedua faktor makro (pertumbuhan rendah + inflasi tinggi) dan geopolitik (tarif) tetap ada, emas akan terus menjadi aset safe‑haven utama. Investor, baik institusional maupun ritel, sebaiknya meningkatkan alokasi emas secara terukur, sambil memantau perkembangan kebijakan Fed, keputusan pengadilan, serta data ekonomi selanjutnya untuk menyesuaikan strategi risk‑management mereka.