Top-Losers di Pasar Bullish: Mengapa 10 Saham Ini Tertimpa Penurunan Tajam di Tengah Kenaikan IHSG 3,5 %

Oleh: Admin | Dipublikasikan: 14 February 2026

1. Gambaran Umum Minggu Ini

Indikator Nilai Minggu Ini Perubahan vs. Minggu Lalu
IHSG 8.212,2 +3,49 %
Kapitalisasi Pasar Rp 14.889 triliun +3,83 %
Volume Transaksi Harian 45,24 M lembar +4,73 %
Frekuensi Transaksi Harian 2,74 juta kali +0,37 %
Nilai Transaksi Harian Rp 23,2 triliun ‑6,27 %
Net Selling Investor Asing (YTD) Rp 16,49 triliun
Net Selling Investor Asing (Hari Jumat) Rp 2,03 triliun

Meskipun indeks utama (IHSG) dan kapitalisasi pasar melaju positif, perkembangan nilai transaksi harian yang menurun 6,27 % serta net selling kuat dari investor asing mengisyaratkan adanya pergeseran sentimen yang belum sepenuhnya tercermin pada level indeks. Pada kondisi seperti ini, aksi koreksi pada saham‑saham tertentu menjadi wajar—terutama bila terdapat faktor fundamental atau teknikal yang lemah.


2. Daftar “Top‑Losers” dan Analisis Sektor

No Kode Nama Perusahaan Penurunan Harga Baru (Rp) Sektor Catatan Khusus
1 HILL PT Hillcon Tbk ‑33,3 % 80 Konstruksi/Property Penurunan tajam setelah laporan kuartal menunjukkan penurunan order proyek infrastruktur.
2 NATO PT Olympus Strategic Indonesia Tbk ‑24,4 % 680 Logistik & Infrastruktur Strategis Dampak penurunan volume kontrak pemerintah pasca‑rekontruksi kebijakan belanja publik.
3 SOTS PT Satria Mega Kencana Tbk ‑20,16 % 1.940 Real Estate & Properti Sentimen negatif pada pasar properti komersial, terutama di wilayah Jakarta Barat.
4 DEFI PT Danasupra Erapasific Tbk ‑14,4 % 160 Keuangan – Pembiayaan Margin laba menurun akibat kenaikan biaya dana dan penurunan penyaluran kredit.
5 LION PT Lion Metal Works Tbk ‑14,05 % 520 Manufaktur Logam Harga logam mentah turun global, mengurangi margin produksi.
6 HOMI PT Grand House Mulia Tbk ‑13,89 % 310 Property Development Proyek hunian menengah ke bawah mengalami penundaan izin.
7 IFII PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk ‑11,11 % 240 Industri Kayu & Fibreboard Penurunan permintaan di sektor konstruksi serta persaingan harga impor.
8 KJEN PT Krida Jaringan Nusantara Tbk ‑9,71 % 158 Infrastruktur Telekomunikasi Peluncuran jaringan 5G tertunda, menurunkan ekspektasi pendapatan.
9 BBSS PT Bumi Benowo Sukses Sejahtera Tbk ‑9,09 % 240 Agribisnis Harga komoditas pertanian melemah, menggerus profitabilitas.
10 AMOR PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk ‑7,89 % 350 Manajemen Aset Penurunan AUM (Assets Under Management) akibat outflow investor asing.

2.1. Pola Umum yang Muncul

  1. Ketergantungan pada kebijakan pemerintah – HILL, NATO, dan HOMI sangat terpengaruh oleh perubahan alokasi anggaran infrastruktur dan perizinan properti.
  2. Tekanan biaya produksi – LION dan IFII mengalami margin tertekan karena harga bahan baku (logam, pulp) menurun global, sementara biaya energi tetap tinggi.
  3. Sentimen sektor properti – Penurunan dalam SOTS, HOMI, dan IFII mencerminkan keengganan konsumen dan developer dalam menambah proyek baru di tengah ketidakpastian makro‑ekonomi.
  4. Arus keluar dana asing – AMOR dan DEFI menunjukkan dampak negatif dari outflow investasi asing; di saat investor institusional global menilai risiko “risk‑off”, aliran dana ke pasar emerging seperti Indonesia berkurang.

3. Mengapa Saham‑Saham Ini Jatuh Saat IHSG Naik?

  1. Rotasi Sektor

    • Kenaikan indeks biasanya dipicu oleh sektor‑sektor defensif (bank, konsumer, telekomunikasi). Investor beralih dana keluar dari saham-saham yang dianggap “over‑valued” atau “riskier” ke sektor yang lebih stabil.
  2. Pengambilan Keuntungan (Profit‑Taking)

    • Beberapa saham (mis. HILL, LION) mencatatkan rally sebelumnya. Pada minggu ini, trader yang memiliki posisi long mungkin menutup sebagian atau seluruh posisi untuk mengamankan profit, menurunkan tekanan beli.
  3. Tekanan Laporan Kuartal

    • Laporan keuangan Q1 2026 sebagian besar perusahaan belum dirilis. Ketidakpastian soal pendapatan dan laba menimbulkan penjualan defensif.
  4. Sentimen Makro‑ekonomi Negatif

    • Net selling investor asing sebesar Rp 2,03 triliun pada hari Jumat menandakan kekhawatiran terhadap kebijakan moneter global (pengetatan suku bunga Fed) yang menurunkan daya tarik pasar ekuitas emerging.

4. Dampak pada Portofolio Investor Ritel & Institusional

Tipe Investor Implikasi Langkah Tindakan
Ritel Potensi “buy‑the‑dip” pada saham fundamental kuat yang hanya tertekan karena sentimen umum. – Analisa fundamental (neraca, cash flow).
– Pertimbangkan menambah posisi pada HILL atau LION jika valuasi sudah wajar.
Institusional Mengurangi eksposur sektor konstruksi & logam; meningkatkan alokasi pada sektor keuangan, konsumen, atau energi terbarukan. – Rebalance portofolio
– Gunakan derivatif (futures/opsi) untuk hedging risiko sektor.
Foreign Investor Outflow dapat memperdalam tekanan pada saham-saham yang sudah lemah. – Fokus pada perusahaan dengan rasio leverage rendah dan arus kas stabil.

5. Rekomendasi Strategi Investasi ke Depan

  1. Pantau Kebijakan Pemerintah

    • Catatan: Proyek infrastruktur megah (Jalan Tol, Pelabuhan, Bandara) sedang berada dalam tahap perencanaan kembali. Pengumuman apapun akan berpengaruh besar pada HILL, NATO, dan HOMI.
  2. Analisis Teknikal pada Titik Support

    • HILL: Support kuat di sekitar Rp 70‑75. Jika harga menembus ke bawah, kemungkinan penurunan lebih lanjut.
    • LION: Tren menurun, namun RSI (Relative Strength Index) berada di wilayah oversold (≈30), memberi potensi rebound jangka pendek.
  3. Diversifikasi Sektor

    • Tambahkan exposure pada sektor konsumer staple, bank, dan teknologi finansial yang cenderung menahan penurunan pasar.
  4. Gunakan Instrumen Derivatif

    • Untuk melindungi posisi pada saham “high‑beta” (mis. HILL, SOTS), pertimbangkan protective put atau collar strategy.
  5. Fokus pada Perusahaan dengan Fundamental Kuat

    • Rasio Debt‑to‑Equity (D/E) di bawah 0,5, ROE di atas 15 % dan cash‑flow operasi positif merupakan filter yang dapat memisahkan aksi koreksi pasar dan penurunan fundamental.
  6. Perhatikan Sentimen Makro

    • Jika Fed terus menaikkan suku bunga, arus keluar dana asing dapat terus berlanjut. Sebaliknya, jika ada sinyal pelonggaran kebijakan moneter, pasar mungkin akan berbalik menjadi lebih bullish, memberi peluang masuk kembali ke saham‑saham yang telah dipukul.

6. Kesimpulan

  • Meskipun IHSG mencatat kenaikan tajam 3,5 %, pasar tidak homogen. Sepuluh saham di atas menjadi “top‑losers” karena faktor sektoral, fundamental lemah, dan tekanan luar (outflow asing).
  • Rotasi dana ke sektor defensif, profit‑taking, serta kekhawatiran makro‑ekonomi menjadi pendorong utama penurunan.
  • Bagi investor yang memiliki orientasi jangka panjang, penurunan ini bisa menjadi kesempatan buy‑the‑dip pada perusahaan dengan fundamentals solid.
  • Bagi investor yang lebih konservatif, menunggu konfirmasi rebound teknikal dan stabilitas kebijakan pemerintah sebelum menambah posisi merupakan langkah yang bijak.

Dengan menilai kebijakan publik, kinerja kuartal, serta sentimen global, investor dapat menavigasi fluktuasi ini secara lebih terukur, meminimalkan kerugian, dan mengejar peluang pertumbuhan di tengah market yang masih berada dalam fase bullish.


Semoga ulasan ini membantu Anda memahami dinamika pasar minggu ini dan merumuskan strategi investasi yang lebih terinformasi.